Karena Dia Menyukaimu

2936 Words
Sebenarnya apa yang terjadi dengannya? Kenapa hatinya seakan memberontak ingin melepaskan semua perih? Apa ini hal yang salah untuk dilakukan? Apa ini teguran karena dia sudah melayangkan angan-angan bersama seseorang yang belum tentu jodohnya? Rabiah mengusap ujung matanya, berusaha mencegah air mata semakin menggenang dikedua pelupuk matanya. Kenyataan kalau mas Ghibran seorang ateis telah mengaburkan semua angannya. Astaghfirullohaladzim, batinnya berkali-kali. Dia tidak boleh larut dalam perasaan ini. Rabiah menatap rumah beton bercat putih dihadapannya dengan perasaan bimbang. Dia ragu ingin melanjutkan langkah. Apa sebaiknya dia tidak usah datang? Tapi perasaan pribadi tidak seharusnya membuat tanggung jawab yang dia emban berpengaruh bukan? Mas Ghibran dan keluarga Aira tidak ada hubungannya dengan perasaannya. Bismillah, batinnya menguatkan sebelum menekan bel. Rabiah sadar tangannya gemetar, namun dia segera menyembunyikannya dibalik lengan jubah panjangnya. “Rabiah…?” Rabiah memaksakan senyumnya. “Kak Aira.” “Ayo masuk. Kakak fikir hari ini tidak ada jadwal mengajarmu?” Apa? Rabiah berhenti. Mencerna kalimat Aira. Jadwal mengajar hari ini tidak ada? Bagaimana bisa? Bukankah…? Tunggu! Ini hari ahad. Jadwal mengajar dengan si kembar tidak ada. Rabiah meringis begitu menyadari kecerobohannya. “Maaf kak, Rabiah fikir…” ujarnya menyesal. Aira mengibas tangannya. “Tidak masalah Biah. Mbak justru senang kamu datang hari ini. Kapan lagi kamu ke rumah ini dalam rangka kunjungan?” sahut Aira ramah, menarik tangan Rabiah ke ruang tamu. “Ghibran juga ada disini, sebentar lagi dia akan ke rumah sakit.” Aira terus berceloteh tanpa sadar wajah Rabiah semakin pucat sekarang. “Apa kamu baik-baik saja?” Aira berhenti, mencermati wajah Rabiah yang terlihat pucat. “Tanganmu dingin, dan wajahmu pucat Biah.” Ucap Aira cemas. “Rabiah baik-baik saja, mungkin karena tadi kena panas makanya pucat kak.” Ujarnya beralasan, meski dia tahu pasti penyebab tangan dinginnya bukan karena cuaca. Tubuhnya sudah beradaptasi dengan cuaca Jordan. “Ghibran, coba kamu cek Rabiah. Wajahnya pucat dan tangannya dingin sekali.” Rabiah menyentak tangannya, cukup keras, membuat Aira terkejut. “Maaf kak.” Ujarnya gugup tidak berani menoleh pada sosok yang duduk tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Kerongkongannya tiba-tiba seperti ditimbun gumpalan batu sementara matanya tanpa diminta terasa panas. Dia tidak boleh lama-lama di tempat ini. “Sebaiknya Rabiah pulang sekarang.” Tukasnya buru-buru. “Jangan. Kakak tidak ridha kamu pulang sebelum Ghibran memeriksa keadaanmu Biah. Kakak akan cemas jika kamu pergi dengan kondisi sekarang.” Aira menatap Ghibran kesal karena tiba-tiba berubah menjadi patung. “Apa kamu akan terus duduk disana Ghibran?” sebelah alisnya terangkat. “Mungkin Rabiah sakit.” Rabiah membuang muka saat sadar Ghibran menatapnya. Derap langkah yang semakin mendekat membuat keadaan jantung Rabiah berdetak tidak normal. Dia berkali-kali beristighfar, untuk mencegah dirinya kabur saat ini juga. “Apa kamu keberatan duduk disini?” ucapan tiba-tiba Ghibran hampir saja membuat Rabiah melompat, dan ini tidak luput dai pengamatan Ghibran. Lucu saat melihat wajah terkejut Rabiah. Dia mungkin akan tertawa jika keadaan lebih mendukung. Rabiah duduk di kursi yang di tunjuk Ghibran. “Sekarang tatap mataku. Aku perlu memeriksanya.” Apa? Rabiah menelan ludah. Ini pasti bercandakan? “Biah…” suara lembut Ghibran kembali menyentaknya dari lamunannya yang melantur. Rabiah menarik nafas dalam-dalam sebelum benar-benar melakukan perintah Ghibran. Ini pertama kalinya dia benar-benar menatap wajah Ghibran. Laki-laki ini hari ini berpenampilan formal. Celana panjang dipadukan kemeja lengan panjang yang digulung sampai siku. Rabiah menahan nefas, sementara tangannya mengepal erat saat Ghibran menatap wajahnya. “Sekarang kita akan memeriksa tekanan darahmu.” “Rabiah baik-baik saja, Mas. Mungkin hanya kurang tidur.” Balasnya cepat ingin segera mengakhiri situasi aneh ini. “Tapi aku ingin memastikan kamu baik-baik saja Biah. Tolong, biarkan aku memeriksa keadaanmu.” Bisiknya penuh permohonan membuat Rabiah terpaku di tempat, tanpa sadar mengangguk. Aira yang melihatnya melipat kening. Ada yang aneh, batinnya. Dia tahu sesuatu pasti terjadi. Kegugupan Rabiah, dan kekakuan Ghibran membuatnya paham kalau dua orang didepannya ini merahasiakan sesuatu darinya. “Apa yang terjadi disini?” Pelukan di pinggangnya membuat Aira mendongak. “Mas Farhan.” Farhan mengecup puncak kepala istrinya. “Apa dia guru yang mengajar si kembar?” Aira mengangguk. “Iya, Mas. Rabiah wanita yang sangat baik.” “Dia kenal dengan Ghibran?” Pertanyaan yang membuat Aira sekarang benar-benar memusatkan perhatian pada suaminya. “Kenapa mas bertanya seperti itu?” Farhan menunjuk dua orang yang sedang sibuk di kursi ruang tamu dengan mulutnya. “Apa kamu tidak lihat? Keduanya bertindak aneh sekali. Yang satu gugup dan satunya terlihat kikuk.” “Mas juga melihatnya ya?” “Apa yang terjadi?” Aira mengangkat bahu. “Tidak tahu, Ghibran belum cerita Mas,” “Sepertinya aku tahu apa yang terjadi disana.” “Aku tahu apa yang kamu fikirkan mas, karena aku juga memikirkan hal yang sama.” “Tentu saja istriku yang psikolog bisa membaca situasi aneh disana dengan baik.” Puji Farhan kembali mencium puncak kepala istrinya, sementara lengannya bergelut manja di perut istrinya. “Justru itu yang membuatku khawatir Mas.” Bisiknya lirih. Ini pertama kalinya Ghibran menunjukkan ketertarikan pada lawan jenis, dan saat itu terjadi jurang lebar membentang diantara keduanya. “Apa ini sehubungan dengan Ghibran yang ateis?” Aira mengangguk sedih. “Jangan takut, jika mereka jodoh Allah yang akan membuka jalan bagi keduanya. Apa kamu percaya, jodoh sudah tertulis jauh sebelum seseorang dilahirkan kedunia.” terang Farhan menenangkan istrinya. “Apa ini berarti mereka berdua tidak jodoh?” “Apa yang membuatmu berfikir seperti itu?” Farhan memutar badan Aira agar dia bisa menatap wajah istrinya. “Karena perbedaan keduanya. Tidak mungkin mereka bersatu dengan perbedaan seperti itu Mas.” “Betul, tapi kamu melupakan satu hal.” Aira mengernyit. Apa? “Allah Maha membolak-balikkan hati manusia sayang. Kamu tidak tahu, kapan hidayah menyentuh hati seseorang. Apa kamu lupa? Kamu bahkan mengingkari ini saat pertemuan pertama kita, tapi sekarang…?” Aira tertawa pelan saat ingat pertemuan pertamanya dengan suaminya Farhan. Adu mulut sampai sumpah serapah pernah dia layangkan, namun seperti yang dikatakan suaminya. Saat hidayah menyentuh hati seseorang batu yang keras pun bisa hancur dengan mudah. Apa mungkin ini akan terjadi pada Ghibran? Di sungguh berharap cahaya islam akan memeluk Ghibran. “Kamu benar Mas. Mungkin takdir lain sedang menanti mereka diujung jalan.” Ucapnya pelan menatap dua sejoli didepannya penuh kasih. Dia sungguh berharap akhir yang baik akan terjadi pada keduanya. “Jangan lupa berdoa. Kekuatan doa bisa mengguncang langit sayang.” “InshaAllah Mas. Aira akan selalu berdoa untuk Ghibran. Semoga suatu saat hatinya terbuka dan dia bisa melihat cahaya islam masuk dalam dadanya.” “Aamiin yaa robbal’alamiin.” Balas Farhan ikut mendoakan. Aira segera melepaskan pelukan suaminya saat sadar Rabiah berjalan kearahnya. “Sepertinya Rabiah pulang saja kak.” “Apa kamu tidak mau makan dulu? Sebentar saja. Ghibran sebentar lagi akan pergi.” Ucapnya keceplosan berhasil mendapat pelototan tajam dari kembarannya, sementara suaminya disisi lain berusaha menahan tawa. Dasar! Maksudnya kan baik dengan mengatakan hal itu, agar Rabiah tidak merasa canggung. Meskipun kenyataannya Ghibran tidak mengatakan kapan akan berangkat, tapi dia hanya ingin menghabiskan waktu dengan Rabiah. Gadis dengan tutur bahasa yang lembut ini selalu menyenangkan diajak mengobrol dan mereka belum pernah benar-benar mengobrol. Hanya sesekali saat si kembar selesai mengaji. “Kita bisa berangkat bersama Ghibran. Mas juga ingin pergi ke mini market terdekat.” Aira mengulum senyum mendengarnya. Suaminya ternyata bisa diajak kerja sama, batinnya riang. Ghibran menoleh pada pasangan suami istri yang memasang wajah polos tak berdosanya. Dia tahu kalau pasangan aneh ini sedang merencanakan sesuatu. “Baiklah,” putusnya, sadar dia tidak punya pilihan lain. Dia sebenarnya masih ingin melihat Rabiah, karena sadar setelah pernyataannya kemarin, gadis itu akan menghindarinya. Terbukti hari ini saat mereka akhirnya bertemu Rabiah seperti ingin menjauh. Rasa dingin menjalar di tubuhnya saat menyadari betapa berbedanya keadan mereka sekarang. Dia ingin memanfaatkan setiap kesempatan yang ada. Dia sudah cukup bahagia hanya dengan melihat tatapan teduh itu, meski sekarang ada yang berubah. Rabiah enggan berdekatan dengannya. Kenyataan ini meninggalkan rasa sakit yang belum pernah dia rasakan. ****** “Apa kamu sudah pernah bertemu dengan mas Farhan?” Aira membuka pembicaraan saat hanya mereka berdua yang ada di ruangan. Si kembar sedang sibuk bergelayut dengan mainan yang baru dibelikan ayah mereka. Sementara Ghibran dan Farhan sudah melongos pergi. “Belum Mbak,” jawab Rabiah jujur. “Dia laki-laki yang menyelamatkanku, Biah.” Terang Aira tanpa menatap Rabiah, pada hal wajah Rabiah tampak terkejut saat mendengarnya. Aira membuka kursi dan menarik Rabiah agar duduk diatasnya. “Aku bukan orang baik-baik.” Sambungnya tersenyum tipis. “Aku suka melakukan hal konyol yang bisa disebut sebagai kenakalan remaja, dan mas Farhan yang saat itu sedang menyelesaikan perkuliahannya bertemu denganku yang tidak sadarkan diri karena pengaruh alkohol.” “Dan sejak saat itu mbak sama kak Farhan dekat?” tebaknya. Aira tertawa mendengarnya. “Tidak. Sebaliknya, aku mengeluarkan sumpah serapah yang bisa saja membuat siapapun yang mendengarnya tersulut emosi, tapi kau tahu apa yang dilakukan mas Farhan?” kenangan tentang pertemuan awal mereka kembali berkelebat dalam memorinya. Itu kenangan indah sekaligus buruk yang pernah dia alami dalam satu waktu. Kenangan yang akan selalu bersemayam dalam d**a dan juga otaknya. “Dia hanya melipat kedua tangannya dan terus mendengarkan ocehanku. Tersenyum tipis tanpa sekalipun membantah.” Rabiah membelalak mendengarnya. Merasa terharu mendengar kisah pertemuan Aira dengan suaminya. “Sungguh?” bisiknya tidak percaya. Aira tersenyum mengangguk. “Kau tidak akan percaya Biah. Bagaimana wajahnya saat melihat kemarahanku. Mungkin dia berfikir aku remaja bodoh yang hanya bisa menghamburkan uang orang tuanya.” “Tapi Biah bisa simpulkan kalau Kak Farhan benar-benar luar biasa menghadapi kakak yang maaf waktu itu masih di pengaruhi alkohol.” “Kau benar. Itu justru yang membuatku kebingungan sekaligus semakin marah. Siapa yang tidak tersinggung saat kemarahan yang kita luapkan justru dibalas dengan senyuman?” Aira mendekat. Matanya menjelajah memastikan hanya mereka berdua yang bisa mendengar apa yang dia katakan. “Saat itu aku berfikir kalau mas Farhan orang gila.” Kikiknya geli kembali ke posisi awalnya. Dia mengangsurkan buah yang dikupas ke depan Rabiah. “Makan Biah. Buah tidak akan membuat gemuk.” Candanya berhasil membuat Rabiah tertawa. “Bagaimana ceritanya kakak dan kak Farhan menikah? Mengingat….” “Karakter kami yang bertolak belakang?” tebak Aira membuat Rabiah salah tingkah. “Jangan sungkan. Aku senang bercerita padamu Biah. Aku merasa memiliki teman.” “Terima kasih.” “Sama-sama. Kau tadi bertanya bagaimana ceritanya kami sampai menikah?” Rabiah mengangguk sementara mulutnya mulai aktif mengunyah buah segar yang di kupas Aira untuknya. “Pertemuan pertama kami tidak meninggalkan kesan apa-apa selain kemarahan dan juga reaksi aneh mas Farhan. Kami tidak pernah bertemu lagi untuk waktu yang lama sejak dia menemukanku tidak sadarkan diri.” “Waw,” komentar Rabiah tanpa sadar dan segera menutup mulutnya saat melihat reaksi Aira. “Aku tahu, aneh bukan?” bisiknya. Aira sekarang duduk di kursi di depan Rabiah. Keduanya terhalang meja besar dari kayu yang dilapisi kain bercorak Bunga berwarna biru. “Pertemuan kami selanjutnya, aku semakin parah Biah.” Wajah Aira terlihat muram namun dia segera menepisnya. “Aku kehilangan kontrol atas diriku, dan saat semua hampir berakhir dengan buruk, sekali lagi dia datang mengulurkan tangan padaku. Sejak saat itu segalanya perlahan mulai berubah.” “Kakak dan Kak Farhan menikah setelah itu?” Aira menggeleng. “Tidak. Perjalanan menuju ikatan sakral itu masih ditempuh dengan perjuangan penuh air mata Biah. Aku hampir menyerah saat itu, berfikir kalau memiliki Mas Farhan adalah anugerah yang terlalu indah untuk bisa kumiliki, tapi kita tidak pernah tahu kuasa Allah bukan?” Aira menatap Rabiah yang kembali mengangguk mendengar kalimat terakhirnya. “Saat ujian kembali menerpa hidupku, aku memutuskan untuk menyerah, tapi mas Farhan datang mengulurkan tangan dengan wajah penuh senyum. Sejak saat itu, aku tahu duniaku sempurna saat bersamanya.” “MashaAllah.” Gumam Rabiah tidak bisa menahan kekagumannya. Matanya bahkan berkaca-kaca membuat Aira yang melihatnya tertawa pelan. “Apa kisah cinta kami begitu menyentuh Biah?” kekehnya. “Itu kisah yang luar biasa Kak.” Rabiah menyapu sudut mulunya, terlihat malu dengan dirinya sendiri. “Tapi berakhir indah. Rabiah senang mendengarnya.” Aira mengangguk. “Saat kau berhasil bertemu dengan orang yang tepat, maka Allah sendiri yang akan membuka jalan untuk menyatukan kalian.” “Butuh keyakinan kuat untuk melewatinya ya Kak,” celutuknya. “Tentu, tapi selama kita percaya bukankah Allah sendiri yang akan memberikan jalan? Kau tahu? aku mengeluarkan caci maki pada Mas Farhan pada pertemuan pertama kami. Aku membencinya dengan segenap hatiku, padahal waktu itu kami belum saling mengenal. Satu-satunya alasan kebencianku adalah karena dia muslim yang taat.” Buah segar yang berada dalam genggaman mengambang. “Maksud kakak?” “Aku seorang ateis Biah, saat pertama kali bertemu dengan Mas Farhan. Persis seperti yang diyakini Ghibran sekarang. Kau bisa bayangkan betapa bencinya aku pada Mas Farhan saat itu? tapi dia justru membalasnya dengan senyuman.” Kenangnya penuh sayang, berhasil menimbulkan rasa iri pada diri Rabiah. Astghfirullohalazdim. “Keluarga besar kami memiliki kebebasan dalam menganut kepercayaan. Ayah kami bahkan tidak pernah mengajarkan tentang agama apapun pada kami. Dia menuntut kami mencarinya sendiri. dia tidak melarang selama itu bukan islam.” “Kenapa Mbak?” Aira mengangkat bahu. “Mungkin karena kebencian pada Ibu kami. Ibu muslim yang taat, memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi. Perjalanan menuju Palestina berakhir dengan menghilangnya nyawa Ibu. Sejak saat itu, ayah membenci segala hal yang berbau Islam, karena bagi ayah, islamlah yang membuat ibu kami pergi untuk selamanya.” Ini menjelaskan kebencian ayah mereka pada dirinya. “Kau benar, itulah kenapa ayah terlihat membencimu saat itu. Dia masih menyalahkan islam atas kepergian Ibu kami,” “Apa ayah mbak islam?” tanyanay hati-hati, takut menyinggung perasaan Aira. “Dulunya, tapi sekarang tidak. Aku ingin bertanya sesuatu kalau boleh?” Rabiah mengangguk. “Apa Ghibran sudah memberitahumu kalau dia…,” “Seorang ateis?” sambung Rabiah melihat keengganan Aira untuk melanjutkan. “Dia sudah memberitahumu?” “Beberapa waktu lalu.” “Itu menejelaskan keanehan kalian.” Obrolan panjang ini semakin menarik. Niat awal untuk pulang terlupakan ketika pembicaraan keduanya semakin serius. “Aku tahu apa yang kau rasakan Biah, dan aku tidak akan ikut campur masalah kalian. Kalian cukup dewasa untuk bisa mengambil keputusan sendiri.” Inikah alasan kenapa kak Aira menceritakan kisah hidupnya pada dirinya? Untuk membuatnya berfikiran terbuka? Atau agar dia memberikan kesempatan pada Mas Ghibran? Sejak pernyataan mas Ghibran di kantin kampus, dia memang memutuskan untuk menjauhkan diri dari Mas Ghibran. Menghindari tempat yang bisa membuka kesempatan bagi mereka untuk bertemu. Seperti saat ini, dia yang ceroboh kembali bertemu dengan mas Ghibran justru disaat dia tengah berusaha keras untuk menghindarinya. Memberikan kesempatan pada mas Ghibran? Apa dia bisa melakukannya? Perkara hati dan hidayah tidak bisa diputuskan hanya dengan logika dan mengikuti perasaan bukan? “Mbak gak minta kamu menunggu Ghibran, Biah. Mbak tahu, perkara hidayah adalah keputusan-Nya. Kita hanya bisa mendoakan. Mbak gak punya maksud apa-apa dengan menceritakan ini padamu. Tidak. Mbak hanya ingin kamu bisa menerima Ghibran seperti sekarang. Dia ateis. Itu kenyataan, tapi Mbak harap itu tidak membuat penilaianmu menjadi kabur terhadapnya. Percayalah Biah. Dia laki-laki yang baik. Apapun yang dia lakukan murni karena dia benar-benar ingin melakukannya, bukan karena unsur paksaan atau desakan orang lain.” “Rabiah tidak mungkin menerima Mas Ghibran jika kenyataannya seperti ini Mbak.” Ujarnya tegas. Rasa tertarik pada manusia tidak boleh mengaburkan penilaiannya. b***k laki-laki muslim lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Itu jelas dalam Alqur’an dan dia tidak akan melakukan tawar menawar jika sudah berhubungan dengan agama. Perkara hati…Rabiah menelan ludah. Jika harus jujur, maka kebaikan mas Ghibran lah yang membuat keteguhannya goyah. Hatinya lemah saat melihat ketulusan mas Ghibran dalam membantu orang lain. Betapa mudah hatinya luluh. Kenapa harus mas Ghibran saat banyak ikhwan baik dan soleh yang menawarkan ta’aruf dengannya? Apa ini yang disebut ujian perasaan? Karena ketika kita dihadapkan pada dua pilihan yang bertentangan bukankah kecenderungan untuk memilih yang lebih menarik hati biasanya lebih besar? Semoga saja dia bisa membuat keputusan yang benar. “Tentu saja Biah. Mbak gak minta kamu menerima mas Ghibran.” Ujar Aira geli sendiri melihat reaksi Rabiah. “Maksud Mbak adalah, jangan kaku seperti tadi. Apa kau tahu? mas Farhan yang baru pertama kali melihat kalian berdua menyadari keanehan interaksi kalian. Satunya kaku, satunya kikuk. Kami berusaha keras agar tidak tertawa demi menjaga perasaan kalian.” Terangnya saat mengingat interaksi aneh Ghibran dan Rabiah. Wajah Rabiah memerah mendengarnya. Tentu saja dia menghindar saat sadar mas Ghibran berada dekat dengannya. Kegugupan dan rasa malu menguasainya, jadi satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah menghindar bukan? “Apa sejelas itu kak?” gumamnya malu sendiri. Aira mengangguk antusias. Senyumnya melebar kala melihat semburat kemerahan muncul di wajah Rabiah. “Kalau bukan karena mas Farhan, aku mungkin sudah tertawa keras sejak tadi Biah. Tapi apa kamu baik-baik saja?” “Kenapa kakak bertanya seperti itu?” “Karena Mbak tahu kamu terkejut mendengar pernyataan Ghibran.” “Apa mas Ghibran memang selalu menyembunyikan identitasnya yang seorang ateis?” tanyanya berusaha mengenyahkan perasaan tidak enak yang menyusup dalam dadanya. Ateis? Kata itu masih terdengar aneh bahkan bagi dirinya sendiri. “Mbak kurang tahu. Kamu harus bertanya sendiri pada orangnya Biah, yang bisa Mbak katakan adalah Ghibran orang yang tertutup. Dia bukan orang yang suka membicarakan kehidupan dirinya. Jika kamu tidak bertanya, dia tidak akan pernah mengatakan apapun.” “Apa yang membuat Mas Ghibran berterus terang pada Biah Kak?” tanyanya tidak mengerti. Kali ini tatapan Aira berubah. Kedua matanya mengisyaratkan sebuah kenyataan yang langsung menghantam Rabiah, membuatnya menyesal karena bertanya. “Kamu tidak tahu?” Hening. Rabiah terdiam dengan bibir kelu. Sementara Aira menatapnya lekat. Tidak ada penghakiman disana, murni hanya tatapan seorang kakak pada adiknya. “Karena dia menyukaimu, Biah.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD