Rasa Sakit

1469 Words
Sakit. Dia tidak pernah ingat rasa sakit seperti ini. Rasanya sesak bahkan hanya untuk sekedar bernafas. Nanar matanya menatap punggung Rabiah yang perlahan menjauh hingga menyisakan titik hitam dalam pelupuk matanya. Dia bisa melihat kalau Rabiah menunduk saat berjalan. Apa dia juga menangis? Apa dia sudah membuat wanita dengan pandangan teduh itu terluka? Ghibran menundukkan pandangan agar orang-orang tidak melihat matanya yang berkaca-kaca. Hari ini, seperti yang dia bayangkan dan juga takutkan telah terjadi. Rabiah berlari menjauh seperti yang selama ini dia takutkan. Kenyataan itu telah meleburkan semua harap yang pernah hinggap dalam dadanya. Menyisakan kekosongan dan juga rasa hampa. Makanan yang tersaji diatas meja terasa hambar, bahkan lidahnya terasa kelu ketika dia menenggak cairan berwarna hijau itu, hanya untuk sekedar melegakan tenggorokannya yang tiba-tiba terasa menyakitkan. “Apa dia menolakmu?” Ghibran memejamkan mata, berusaha menekan emosi yang tiba-tiba memenuhi darahnya. Sekarang…satu-satunya yang dia inginkan adalah ketenangan. Ghibran mengacuhkan suara dari balik punggungnya. Dia mengeluarkan uang dan menyerahkannya pada pelayan yang segera menghampiri begitu dia panggil. “Kau mau kemana?” Ghibran terus melajukan jalan, nyaris berlari agar tidak mendengar suara yang terus mengusik ketenangannya. Kenapa laki-laki ini tidak pernah membiarkannya hidup tenang? “Jangan tertipu. Wanita itu hanya pura-pura jual mahal. Saat kamu mengejarnya Ghibran, ayah yakin dia akan tertawa penuh kemenangan.” Ghibran berhenti, dia menatap ayahnya dengan marah. “Apa ayah tidak punya urursan lain selain merecoki Ghibran?” balasnya datar dan kembali melajukan langkah. “Kenapa wajahmu kusut seperti itu hanya karena wanita Indonesia itu? Ayah tidak menemukan apapun yang spesial darinya Ghibran.” Keningnya berlipat demi mendengar pernyataan ayahnya. “Apa ayah sudah menyelidikinya?” geramnya menahan amarah yang tiba-tiba memenuhi tubuhnya. Ayah Ghibran tersenyum, tidak terpengaruh dengan kemarahan Ghibran. “Tentu ayah harus memeriksa seperti apa wanita yang membuatmu tergila-gila Ghibran. Apa yang membuatmu tertarik pada wanita itu Ghibran?” “Itu bukan urusan ayah.” Sahutnya ketus. “Apa kau mau ayah kenalkan pada salah satu anak teman ayah?” “Tolong jangan mengusik Ghibran hari ini Ayah. Ghibran butuh ketenangan." tukasnya dingin. Tatapannya yang datar harusnya membuat siapapun yang melihatnya memundurkan langkah, tapi hal itu tidak pernah berlaku pada ayahnya. Gejolak yang memenuhi dadanya mungkin akan membuatnya kehilangan kontrol. Ghibran memutuskan pergi sebelum dia mengatakan kalimat yang akan membuatnya menyesal. Rabiah…. Apa perbedaan memang selalu menyisakan perpisahan? Kenapa bunga hati ini layu bahkan sebelum kuncupnya muncul? Ghibran menaikkan kecepatan mobilnya hingga menyentuh angka seratus. Wajah Rabiah yang berusaha menahan tangis kembali mengacaukan fikirannya. Dia tidak pernah ingin melihat dan membuat wanita lembut itu menangis, tapi lihatlah? sekarang justru dialah penyebab utama Rabiah bersedih. Apa mungkin Rabiah juga menyukainya? Hanya itu alasan masuk akal kenapa pernyataannya membuat Rabiah terluka bukan? Ghibran mendial nomor sahabatnya yang sudah dia hapal diluar kepala. “Alzam aku ingin bicara.” Gumamnya tanpa basa-basi begitu Alzam menerima panggilan teleponnya. Dia tahu Alzam pasti curiga sekarang. Tapi dia tidak punya waktu untuk menjelaskannya sekarang. Tidak dengan suasana hatinya yang seperti ini. “Apa kita bisa bertemu sekarang?” tanyanya memohon. Matanya setengah terpejam, menunggu dengan gamang. “Baik, kita bertemu di tempat biasa.” Putusnya sebelum mematikan telepon. Berbalik arah dan melaju menuju tempat yang mereka janjikan. ****** “Asataga Ghibran, apa yang terjadi?” Alzam buru-buru berdiri dari kursinya begitu melihat kedatangan Ghibran. Tatapannya yang menyelidik membuat Ghibran sedikit jengah tapi dia memutuskan untuk mengabaikannya. Saat ini, ada yang jauh lebih penting daripada sekedar mencemaskan wajahnya yang pasti terlihat mengerikan sekarang. “Apa sesuatu yang buruk baru saja terjadi? Aku tidak pernah melihatmu sekacau ini sebelumnya.” Alzam terus merongrongnya dengan pertanyaan bertubi-tubi, menatapnya dengan cemas. Ghibran mengambil tempat duduk didepan Alzam. “Aku sudah mengatakannya Alzam.” jelasnya tanpa basa-basi. “Mengatakannya? Mengatakan apa?” Alzam terlihat kebingungan dengan pernyataan tiba-tiba Ghibran. “Aku sudah melakukan seperti yang kau sarankan.” Sedetik wajah Alzam masih terlihat bingung, namun saat informasi mulai memasuki kepalanya, wajahnya membulat tidak percaya. “Maksudmu pada Rabiah? Tentang kamu yang seorang ateis?” Ghibran mengangguk. “Dan seperti yang selama ini kutakutkan, dia melarikan diri begitu mengetahuinya Alzam.” Desahnya lelah. “Kapan?” “Barusaja.” Alzam bersandar di punggung kursi kayunya. Kedua tangannya terlipat didepan d**a. “Itu menjelaskan penyebab wajahmu yang kacau.” “Apa sejelas itu?” Alzam mengangguk. “Sangat buruk bukan?” Ghibran memalingkan wajah. Memandangi daun yang beterbangan tersapu angin rasanya lebih menyenangkan dibanding menjawab pertanyaan Alzam. “Ya.” Balasnya pendek masih tanpa menatap sahabatnya. “Aku pesan nasi goreng, kentang goreng dan jus orange.” Alzam menyebutkan pesanannya pada waiters yang menghampiri meja mereka. “Aku harap kamu tidak keberatan Ghibran. Aku memesan makanan untukmu.” “Aku bahkan tidak ingin makan sekarang.” Alzam memajukan badannya, agar bisa melihat Ghibran lebih dekat. “Bisa kau ceritakan seperti apa kejadiaannya? Apa dia terlihat marah atau biasa saja?” “Aku lebih suka jika dia marah atau sejenisnya, tapi sebaliknya. Dia hanya melarikan langkah dengan wajah menunduk. Aku membuatnya menangis Alzam.” Bisiknya pedih. Kerongkongannya tercekat saat mengingat bagaimana terkejutnya Rabiah mendengar kebenaran yang selama ini dia sembunyikan. “Dia terluka karena dia menaruh harap padamu Ghibran. Ini pertama kalinya aku mendengar Rabiah tertarik pada seseorang. Jika saja dia bersikap seperti biasa, semuanya mungkin lebih mudah.” “Aku membuatnya menangis.” “Ya, karena kau menyembunyikan kebenaran darinya Ghibran.” Balasnya telak membuat Ghibran menundukkan wajah. Matanya yang kecil terlihat hilang saat dia berusaha menyembunyikan air matanya. “Kenapa kau melakukan itu? Apa kau sengaja menyembunyikan identitasmu selama ini?” ini yang tidak dimengertinya. Bukankah Ghibran tahu kalau wanita seperti Rabiah pasti akan mencari pendamping hidup yang sholeh? Kenapa Ghibran mau mengambil resiko ini saat dia tahu seperti apa akhir dari kisah mereka berdua? Dan Rabiah…apa yang membuatnya menyukai Ghibran masih bisa dia terima. Siapapun bisa jatuh cinta pada Ghibran. Laki-laki ini luar biasa baik pada siapapun, dan ini bukan hanya karena wajahnya. Ghibran orang yang mudah mengulurkan tangan, membantu siapapun yang bisa dia tolong. Inilah awal mula persahabatan mereka. Ketika awal perkuliahan, Alzam yang tidak tahu kalau Ghibran seorang ateis meminta Ghibran bergabung diorganisasi kemanusiaan yang mereka ikuti meski mereka berbeda fakultas. Ghibran menerimanya saat itu juga, tanpa banyak bertanya. sejak itulah segalanya dimulai. Perlahan dia tahu kalau Ghibran memiliki prinsip hidup yang terbilang aneh baginya. Ghibran tidak percaya pada Tuhan, dan ketika dia bertanya alasannya, jawabannya hanya satu. “karena aku tidak percaya pada kehidupan sesudah mati Alzam. Itu teori yang aneh. Aku percaya, ketika seseorang mati, maka dia benar-benar mati. Selesai.” Jawaban yang cukup membuatnya terpatung seperti orang bodoh. Hari itu dia tahu, betapa mahalnya harga sebuah hidayah. Meski kau memiliki dunia dalam genggamanmu, saat hidayah tidak juga menyentuh kalbumu, maka hanya soal waktu sebelum semuanya sirna tersapu angin. Hilang tak bersisa. Tenggelam dalam pusaran bernama waktu. “Kau tahu sejak awal aku bukan orang yang gamblang bukan? Aku tidak suka membahas masalah ketuhanan Alzam. Itu privasi. Hak perogatif setiap individu. Aku tidak bermaksud menyembunyikan hal ini dari Rabiah pada awalnya,” Ghibran berhenti, mencoba menguatkan diri. “Tapi kemudian, saat tatapan teduh itu berhasil mengambil kesadaranku, aku sadar kalau aku tidak ingin dia tahu kebenaran tentang diriku. Aku bermain-main dengan takdir Alzam.” Bisiknya tercekat. “Kau tahu sejak awal seperti apa akhirnya bukan?” Ghibran terlihat enggan menjawabnya. “Tapi kau tidak tahu kalau tindakanmu juga melukai Rabiah.” Sambung Alzam saat melihat Ghibran tidak menjawabnya. “Sekarang, apa yang harus kulakukan Alzam? Aku mungkin telah menyakiti Rabiah.”ujarnya putus asa. Dia mengusap wajah dengan kedua tangannya. “Minta maaf. Tidak ada pilihan lain bagimu Ghibran. Kau dan Rabiah berbeda. Seperti langit dan bumi.” “Apa itu mustahil?” “Jika kau berhasil menyatukan air dan api maka aku akan katakan kalau itu tidak mustahil.” Jawaban telak Alzam membuat dadanya semakin perih. Seperti inilah akhirnya. Dia dan Rabiah tidak akan pernah bisa bersama, selama keduanya berbeda prinsip hidup. “Aku tidak pernah berfikir kalau prinsip hidup yang diyakini seseorang bisa membuat jarak sedemikian lebarnya.” Ujarnya nelangsa. “Dalam agama kami, islam bukan hanya sekedar prinsip hidup Ghibran. Itu kompas, dan juga pegangan yang kami genggam erat. Seperti memegang cahaya dalam menembus kegelapan. Kau bisa bayangkan betapa pentingnya itu dalam kehidupan? Kami tidak mungkin menukarnya hanya karena cinta pada dunia, saat ada kehidupan lain yang menunggu pertanggung jawaban kami.” Tandasnya bersungguh-sungguh, membuat kedua alis Ghibran terangkat. “Tidak ada tawar menawar?” Alzam menggeleng tegas. “Tidak. Kami tidak mungkin menukarnya dengan apapun Ghibran. Cahaya islam yang kami genggam erat tidak mungkin kami lepaskan hanya karena gemerlap dunia yang menipu. Tapi aku bisa memberikan satu solusi yang bisa membuat kemustahilan kalian menjadi sebuah kemungkinan.” Ghibran menatap Alzam lekat. Cahaya yang sempat padam dari matanya kini kembali. Apa? Tanyanya tanpa suara. “Kamu memeluk islam.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD