Kenyataan Pahit

1355 Words
“Ng…Apa sebaiknya Aliyah mencari tempat duduk terpisah?” bisiknya saat melihat Ghibran sedang antri membeli makanan. “Tidak usah. Kamu sudah seperti keluarga bagi kakak. Jika kamu tidak keberatan, kakak lebih suka jika kamu disini.” “Aliyah tidak keberatan sama sekali. Hanya saja, takutnya kakak nanti tidak nyaman. Sepertinya kak Ghibran ingin mengatakan hal penting.” “Justru itu, kakak butuh kamu disini. Siapa lagi yang bisa mencairkan suasana jika bukan adik kakak yang menggemaskan ini.” canda Rabiah tersenyum lebar menatap Aliyah. “Ouh, jadi ceritanya Aliyah jadi kipas disini. Siapa tahu ada yang butuh udara segar, seperti itu?” balas Aliyah tidak mau kalah. Rabiah mengangkat telunjuknya ke mulut. “Mas Ghibran sudah datang.” Bisiknya mengingatkan saat melihat Aliyah membuka mulut. “Makanannya sebentar lagi akan datang. Apa kalian sudah lapar?” Ghibran bertanya begitu mengambil kursi didepan Rabiah. “Alhamdulillah belum Mas.” Balas Rabiah. “Mas mau bilang apa?” “Apa kalian sibuk? Aku takut jika ini mengganggu aktifitas kalian.” Ghibran menatap Rabiah dan Aliyah bergantian. Kantin kampus tidak seramai biasanya, karena sarapan pagi di tempat ini bukan pilihan utama bagi anak kos. “Tidak mas, inshaAllah.” Ghibran terlihat gugup, dia bahkan duduk gelisah di kursinya membuat Rabiah mengernyit tidak paham sementara Aliyah disampingnya senyum-senyum sendiri. “Apa kalian keberatan jika aku bicara setelah sarapan?” “Apa ini hal yang mendesak?” Mendesak tidak, tapi penting iya, batin Ghibran bimbang. Dia tahu cepat atau lambat situasi seperti ini akan dia hadapi. Dia pernah membayangkan hal ini, dan tidak ada satupun yang membuatnya tenang. Rabiah harus tahu, hanya setelah itu dia tahu langkah apa yang harus dia ambil. “Boleh aku tahu tipe laki-laki idaman kamu seperti apa?” Rabiah terpaku, mulutnya terkunci mendengar pertanyaan Ghibran. Suara batuk samar-samar mengisi keheningan aneh yang menyelimuti mereka bertiga. “Ini diminum dulu.” Rabiah menyodorkan air putih pada Aliyah yang diterima gadis itu dengan cengiran. Tentu saja dia tidak tersedak, dia hanya sedang menggoda Kak Rabiah. Benarkan? Kak Ghibran pasti mau lamar kak Rabiah, batinnya penuh semangat. “Tipe laki-laki idaman Rabiah?” tanyanya setelah diam cukup lama. Jangan ditanya bagaimana keadaan hatinya sekarang. Tangannya bahkan gemetar dan dia harus meremas tepi abayanya agar tidak kelihatan. “Iya. Aku perlu tahu, Biah.” Ujar Ghibran lekat. Deg Rabiah menelan ludahnya sebelum benar-benar menjawab. Bismillah, batinnya sebelum memberanikan diri menjawab. “Yang agamanya baik, tutur katanya lemah lembut, dan bisa menjadi imam bagi keluarga, Mas.” Dia tidak tahu kenapa Mas Ghibran tiba-tiba bertanya hal ini padanya. Apa ini seperti yang dikatakan Aliyah? Pemikiran ini membuat hatinya menghangat dan dia takut mas Ghibran mungkin akan menyadari perubahan wajahnya. Mungkin saja ini jawaban atas doa-doanya selama ini. Tapi wajah Ghibran justru mengeruh mendengarnya, membuat Rabiah kebingungan. Aliyah yang duduk disampingnya juga ikut menyimak. Jika diawal wajahnya terlihat antusias, sekarang dia ikut kebingungan melihat perubahan wajah Ghibran. Makanan yang baru tersaji diatas meja terasa hambar. Suasana mendadak berubah. Rabiah menahan diri untuk tidak bertanya lebih lanjut, sebagai gantinya dia mengambil jus dan menyeruputnya. Lidahnya bahkan tidak benar-benar merasakan apa yang dia minum. “Ada yang ingin aku kasih tahu sama kamu Biah,” ucap Ghibran nyaris berbisik. Namun wajahnya yang terlihat kacau membuat ucapannya terdengar cukup jelas. Suasana ramai yang seharusnya menulikan pendengaran justru membuat hening pada diri Rabiah. Dia bisa mendengar suara Ghibran sejernih suara air. “Aku tahu setelah ini, kamu mungkin akan mengambil langkah atau bahkan berbalik arah, hanya saja aku perlu tahu jawabanmu Biah.” “Maksud Mas?” “Aku ateis.” Satu kalimat, dua kata tapi sanggup meruntuhkan semua pertahanan Rabiah. Dia merasa ada orang yang menghantam batu besar diatas kepalanya. Dadanya tiba-tiba sesak dan matanya, matanya terasa panas, seolah ada yang mendesak ingin mengeluarkan diri. Ateis? Dia kembali mengeja kata itu dalam otaknya. Berusaha mengumpulkan informasi tentang arti kata itu. Ateis? Mas Ghibran Ateis? Tapi bagaimana bisa? Memorinya kembali berkelebatan. Sejak awal perjumpaan mereka sampai dengan sekarang. Dia baru sadar, diawal perjumpaan mereka saat dia mengucapkan salam, mas Ghibran tidak membalasnya. Waktu itu dia fikir Mas Ghibran hanya tidak mendengarnya, tapi setelah difikir-fikir. Pertemuan dengan mas Ghibran saat datang ke rumah Sarah juga seharusnya menjadi penjelasan bagi dirinya. Hanya saja, dia abai, dia lengah. Bukankah waktu datang ke rumah si kecil Sarah mas Ghibran juga tidak mengucapkan salam? Dan diatas segalanya, dia belum pernah melihat mas Ghibran sholat. Kenapa dia mengabaikan semua ini? kenapa hal sepenting itu luput dari pengamatannya? Apa yang terjadi dengannya? Rabiah mengepal tangannya dengan kuat-kuat, mencegah dirinya yang sepertinya ingin jatuh. Ini buruk. Amat sangat buruk. Mas Ghibran ateis? Dia bahkan tidak pernah punya pemikiran tentang hal itu. “Rabiah…?” Dia butuh berfikir. Informasi ini membuat pemikirannya kacau. “A…aku…aku harus pergi Mas.” Ujarnya terbata-bata dan tanpa kata melarikan langkah. “Kak Biah,” teriak Aliyah mengejarnya, namun Rabiah mengabaikannya. Sungguh saat ini bukan hanya hatinya yang remuk dan tak berbentuk tapi fikiran dan tubuhnya juga tidak baik-baik saja sekarang. Dia butuh menenangkan diri. “Apa kakak baik-baik saja?” suara Aliyah yang ngos-ngosan bertanya khawatir saat melihat wajah pucat Rabiah. “Kakak baik-baik saja. Kakak mau pulang, apa kamu mau ikut?” tanyanya dan dia sadar suaranya bergetar sekarang. Aliyah mengangguk cepat-cepat. Dia tahu kalau kak Rabiah butuh waktu untuk menenangkan diri sekarang, tapi dia juga tahu, saat seperti ini kak Biah butuh teman. Bersama mereka akhirnya berjalan menyusuri tangga dengan Rabiah yang terus menundukkan pandangan. Aliyah yang melihatnya berjalan didepan mencegah Rabiah menabrak orang. “Apa kakak masih mau ke rumah kak Sofiya atau….” Rabiah menggeleng lemah. “Kita pulang saja, kakak ingin istirahat.” Aliyah mengambil tangan Rabiah dan menggenggamnya. “Ayo kita pulang kak.” Sepanjang perjalanan Rabiah hanya diam, meski fikirannya bekerja. Terik matahari tidak lagi jadi masalah untuknya. Dia kepanasan, dan ini bukan karena cuaca. Fikirannya kacau. Kenyataan ini menamparnya begitu telak. Seharusnya dia tidak pernah membiarkan perasaan ini berkembang, tapi… “Tidak apa jika kakak mau menangis. Aliyah ada disini kak.” Dengan lembut mengelus punggung tangan Rabiah, berusaha menenangkannya. “Terima kasih.” Balas Rabiah, namun dia tidak ingin menangis. Dia harus kuat. Perasaan ini, dia harus menguburnya sebelum semakin larut didalamnya. Padahal keinginan untuk berjumpa dengan Kak Sofiya karena ingin meminta pendapatnya. Dia ingin tahu sosok Ghibran seperti apa. Jika laki-laki itu orang yang baik agamanya dia ingin mengutarakan keinginan untuk mengajak ta’aruf. Ya, itulah niat awal kenapa dia ingin bertemu kak Sofiyah. Dia tidak perlu malu jika ingin mengajak seseorang dalam kebaikan, karena larut dalam perasaan hanya akan membawa pada kemaksiatan. Itu berarti satu pintu dosa terbuka untuknya, dengan membuat langkah mengajak ta'aruf dia ingin membuat hubungan mereka menjadi ikatan yang diridhai Allah dan dianjurkan agamanya. Namun kenyataan yang baru saja dia dapatkan mengaburkan semua angan yang sempat terbesit dalam hatinya. Pupus sudah harapannya tersapu angin tanpa meninggalkan jejak. Ateis? Mas Ghibran tidak percaya adanya Tuhan? Apa yang lebih buruk dari itu? Tidak ada. “Kau tahu siapa orang yang paling menyedihkan di dunia ini Aliyah?” gumamnya muram menatap jalanan yang hanya dilalui satu dua kendaraan. Suaranya seperti tersapu angin. Lirih dan menyedihkan. Aliyah menoleh mendengarnya. “Dialah orang yang hatinya tertutup dari kebenaran. Itu menyedihkan sekali.” Sambungnya lirih masih tanpa menatap Aliyah. Aliyah terdiam. Ya, saat seseorang buta dengan kebenaran, sungguh hatinya hanya akan diisi dengan kekosongan yang hampa. Tidak memiliki tujuan dan arah yang ingin diikuti. Miskin bisa diatasi dengan giat bekerja dan berusaha. Penyakit bisa disembuhkan saat kita yakin bahwa Allah tidak akan memberikan rasa sakit kecuali disertai dengan obatnya. Tapi saat hati tertutup dari kebenaran tentang keberadaan Tuhan? Apalagi yang tersisa? Dunia hanya akan menjadi tempat bernafas dan menghabiskan usia. Itu menyedihkan. Seperti orang yang tersesat namun saat dia menemukan kompas, dia justru buta dengan kegunaannya. Maniknya menatap Kak Rabiah tanpa sepengetahuannya. Gadis itu sedang berusaha menahan tangisnya. Bahunya bergetar, matanya berkaca-kaca, meski tidak ada air mata yang keluar. Apa mungkin kak Rabiah menyukai kak Ghibran? Mungkin inilah alasan kenapa sepertinya kak Rabiah terlihat syok menerima kenyataan yang dilemparkan kak Ghibran pada mereka. Kenapa orang berpendidikan seperti kak Ghibran tidak percaya adanya Tuhan? Batinnya tidak habis fikir. Itu aneh sekali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD