Melamar?

1473 Words
“Ya Allah, Aku tidak ingin menaruh hati pada seseorang yang tidak Engkau takdirkan sebagai pendamping hidupku, tapi aku lemah. Jiwa ini rapuh Ya Rabb. Allah yang Maha membolak-balikkan hati manusia, perasaan ini aku pasrahkan padaMu. Jika dia adalah imam yang engkau takdirkan untukkku, bukakan jalan bagi kami berdua untuk melangkah menyempurnakan separuh agama, tapi jika dia bukan orang yang tepat untuk dunia dan akhiratku Ya Rabbi, putuskanlah perkara ini dengan putusan yang baik. Ya Allah, aku mohon tetapkanlah hatiku, wahai zat yang berkuasa atas hatiku.” Air mata meleleh di kedua sisi wajah Rabiah kala mencurahkan segala gundah yang selama ini menyesakkan dadanya. Dia tidak ingin perasaan ini membuatnya lalai dari mengingat Allah, tapi dia lemah. Terkadang perasaan itu menyusup begitu halus, mengisi setiap selongsong hatinya, menaburkan wangi yang samar dia kenal sebagai perasaan suka pada lawan jenis. Dimalam ini, saat sebagian manusia bergelut dengan selimut tebalnya, disinilah dia. Berdoa, bermunajat, berharap perasaan ini pada akhirnya menemukan muaranya, dan jika tidak, semoga dia bisa segera dipertemukan dengan sosok yang akan dia sebut sebagai pendamping hidup. Rabiah memandang langit bertabur bintang yang cahayanya mulai meredup, sementara rembulan tenggelaam dibalik pekatnya awan hitam. Bibirnya menyunggingkan senyum. Kuasa Allah meliputi segala hal. Ada harap yang bersemayam dalam dadanya, tapi dia tidak ingin larut didalamnya. Jika mereka ditakdirkan bersama, Allah akan membukakan jalan bagi mereka berdua. “Semoga kamu juga bermunajat disepertiga malam ini Mas,” bisiknya lirih menatap langit yang menyelimuti malam.   ***** Rabiah sedang merapikan tempat tidurnya saat mendengar ketukan di pintu kamarnya. Kenop pintu yang perlahan terbuka menmpilkan wajah Aliyah yang cemberut. “Kenapa Al?” “Sarah belum bangun kak,” pekiknya menggelengkan kepala. “Apa dia gak sholat ya?”  “Huss, kita tidak boleh berprasangka buruk. Mungkin saja dia sedang tidak sholat?” “Iya sih Kak, tapi sekarang sudah hampir jam tujuh pagi tapi dia belum juga membuka mata. Aliyah tidak suka jika ada orang yang tidur sampai pagi beranjak panas.” Gerutunya membuat Rabiah tersenyum. Kerudung pink yang membalut kepalanya membuatnya terlihat menggemaskan. Rabiah merasa seperti dia sedang menasehati adiknya sendiri. “’Ya sudah, nanti kita bicarakan, sekalian tugas-tugas yang harus dikerjakan selama kita tinggal di bawah satu atap.” Tuturnya mencoba menenangkan. Biasanya, hal-hal seperti ini Aleesha yang selalu mengambil alih. Tusukan samar yang menyentuh sudut hatinya kembali datang saat mengignat Aleesha. Dia merindukan sahabatnya itu. Rabiah menggeleng, berusaha menepis duka yang hanya akan membuat matanya kembali memerah. “Kakak mau kemana?” tanya Aliyah saat melihat Rabiah merapikan buku-buku tebals ebelum emmasukkannya ke ransel hitam diatas tempat tidur. “Kampus. Mau ikut? Sekalian nanti ke rumah kak Sofiya.” “Boleh Juga, Aliyah juga mau ke kampus. Apa kakak punya keperluan dengan kak Sofiya?” “Ada yang harus kakak bicarakan dengan kak Sofi. Kamu bisa ikut jika tidak punya kegiatan.” Tawarnya yang langsung diangguki setuju oleh Aliyah. “Ya sudah, kakak siap-siap dulu. InshaAllah kita berangkat sepuluh menit lagi. Kita sarapan di kampus saja.” Aliyah nyengir lebar sebelum berlalu dari pintu kamar Rabiah. “Nah gini kan seru kak Biah. Sekali-kali makan diluar.” Gumamnya riang meloncat-loncar kecil di ruang tamu mereka. Rabiah yang melihatnya hanya bisa menggelengkna kepala. Dia masih harus siap-siap. Hari ini ada sesuatu yang ingin dia bicarakan dengan Kak Sofiya. Semoga setelah berdiskusi dengan wanita yang sudah dia anggap seperti kakak itu, dia akan menemukan solusi atas gundah yang melandanya.   ***** “Seharusnya kak Aleesha sebentar lagi juga selesai ujian bukan?” gumam Aliyah sedih. Matanya mengelilingi lautan manusia yang emmenuhi kampus besar mereka. Kenangan saat mereka bertiga berjalan menyusuri kampus dan melakukan berbagai kegiatan yang diadakan organisasi yang emereka ikuti kembali memenuhi kepalanya. Rasanya baru kemarin dia melihat kak Aleesha menikah dan bulan madu. Sekarang…senyum penuh keibuan itu tidak akan pernah dia lihat lagi. “Istighfar Aliyah. Kakak tahu kamu bersedih, tapi kita juga tidak boleh larut seperti ini. Saat kenangan tentangnya ahadir meenuhi dadamu, ingat untuk mendoakannya dalam setiap sujudmu. Setidaknya kita masih bisa melakukan itu bukan? “Rabiah menatap Aliyah lembut. “Kita juga pasti akan mati Aliyah, yang membedakannya hanyalah masalah waktu.” “Siapa yang sangka ya kak, Kak Aleesha yang baru saja menikah akan pergi secepat itu.” mata Aliyah berkaca-kaca saat mengucapkannya membuat beberapa orang yang melihat mereka mengernyit. “Kematian tidak menunggu kita siap atau tua Al, itulah kenapa ada yang mengatakan cukuplah kematian sebagai nasehat, agar kita ingat bahwa setiap yang bernyawa akan mati dan setiap orang akan dimintai pertanggung jawabannya saat hidup di dunia.” “Dan aku masih sibuk dengan urrusan dunia, padahal tidak ada jaminan kalau aku masih hidup sampai besok kak.” “Selama ada keinginan untuk memeprbaiki diri maka pintu kebaikan akan selalu terbuka lebar, inshaAllah. Sekarang lebih baik kita fokus menyelesaikan amanah yang diembankan pada kita. Belajar dan berusaha menjadi orang yang bermanfaat.” Aliyah menautkan jarinya pada tangan Rabiah. “Aku senang mengenal kakak di tempat ini. Nasihat kakak selalu menenangkan seperti kak Aleesha.” ujarnya terharu. Dengan gemas Rabiah memukul pelan ujung kepala Aliyah. “Kakak merasakan hal yang sama. Sekarang apa bisa kita  ke kantin? Kakak lapar dan belum makan.” “Siaap!” Tawa renyahnya menjadi jawaban atas keantusiasan Aliyah. “Yuk!” ujarnya menarik tangan adik kelasnya. Tas punggung disampirkan disebelah bahu, sementara buku tebal di pegang tangannya yang bebas. Tingginya dan Aliyah hanya selisih beberapa senti, meski begitu orang-orang sering berfikir kalau dia adik tingkat Aliyah jika keebtulan mereka jalan bersama hanya karena tubuhnya yeng lebih mungil jika tidak bisa dikatakan pendek. “Kapan kita ke rumah Kak Sofiya?” “Selesai sarapan, kakak akan ke ruang dosen setelah selesai kita langsung meluncur kesana. Bagaimaan denganmu? Apa hari ini tidak ada mata kuliah?” Aliyah menggeleng. “Aliyah hanya ingin menemani kakak. Bosan di rumah. Hitung-hitung cari udara segar.” “Mungkin kita memang harus jalan-jalan. Kita tidak pernah benar-benar keluar sekedar untuk menikamti pemandangan yang ditawarkan Jordan. Ada tmpat tertentu yang ingin kau kunjungi Al?”mata Aliyah berbinar mendengar pertanyaan Rabiah. “Kakak serius?” pekiknya heboh dan langsung menutup mulut saat sadar mereka berada di lingkungan kampus. “Aliyah…” tegur Rabiah. “Upss, maaf. Habisnya Aliyah terlalu senang, jadi tidak sadar keadaan.” Kekehnya geli. “Jadi bagaaimana? Ada?” “Petra!” cetusnya cepat. “Bagus. Kakak juga ingin mengunjungi tempat itu. Kita mungkin bisa berangkat dalam seminggu ini, InshaAllah.” “Apa kita perlu mengajak Kak Sarah?” “Tentu saja. Kita tidak boleh meembuatnya meerasa diasingkan.” “Semoga saja Sarah menolak.” Gumamnya ebrharap. “Kenapa seperti itu?” Aliyah nyengir, menampilkan barisan gigi putihnya yang rapi. “Gak nyaman. Kakak kan tahu, Aliyah tidak bisa akrab jika belum benar-benar kenal dengan orangnya.” “Padahal diantara kita bertiga kamu yang paling aktif, Al.” bisik Rabiah tidak habis fikir. “Rabiah…..” Rabiah dan Aliyah sama-sama menoleh. Ghibran berjalan mendekat kearah mereka, membuat Rabiah seketika diselimut kegugupan. Wajahnya pasti memerah sekarang. Semoga saja Mas Ghibran tidak menyadarinya. “Apa kamu ada waktu?” tanya Ghibran saat dia sudah berdiri di hadapan Rabiah. “Kenapa mas?” “Ada yang ingin kubicarakan. Penting.” Rabiah tidak meragukannya. Karena nada dan juga raut wajah yang ditunjukkan Ghibran menjelaskan kalau ada hal mendesak yangg ingin laki-laki ini bicarakan dengannya. “Bagaimana kalau di kantin? Kebetulan aku dan Aliyah mau sarapan disana?” tawarnya. Ghibran terlihat bimbang sesaat, namun kemudian dia mengangguk. “Kantin kedengarannya cukup bagus.” Ucapnya setuju. Mereka bertiga berjalan dengan Rabiah dan Aliyah memimpin di depan. “Wajah kak Ghibran kok serius banget ya Kak,” celutuk Aliyah pelan agar Ghibran tidak bisa mendengarnya. “Mungkin ada hal mendesak yang perlu dibahas.” “Apa?” Rabiah gemas ingin mencubit hidung Aliyah. “Kenapa tidak kamu tanya sendiri pada orangnya?” tantangnya dengan satu alis terangkat. Aliyah seketika bergidik. “Gak deh kak. Terima aksih. Aura kak Ghibran membuat Aliyah mudur.” “Kenapa? Apa Mas Ghibran menakutkan?” “Tentu saja tidak kak,” balasnya cepat. Dia melirik ke belakang memastikan Ghibran masih aman dari jangkauan pendengaran mereka. “Aura yang dikeluarkan kak Ghibran berhasil membuat siapapun yang melihatnya menjadi segan. Diam, misterius, dan terlebih lagi pembawaannya sepertinya serius.” “Jadi beberapa pertemuan berhasil memebuatmu menilainya ya.” Goda Rabiah. Aliyah menggaruk ujung kepalanya yang dibalut kerudung instan. “Gak juga sih kak. Pokkonya gitu deh, Kak Ghibran membuat Aliyah sungkan melihatnya. Tapi Aliyah penasaran, apa yang membuat kak Ghibran memasang wajah seperti dunia akan runtuh? Apa masalah yang begitu memebebaninya sampai dia membutuhkan kak Rabiah untuk medengarnya?” Rabiah emgnanggkat bahu. Aliyah tiba-tiba menghentikan langkahnya, menatap Rabiah dengan mata terbuka lebar, sangat lebar. “Jangan-jangan…” “Jangan-jangan apa?” sahut Rabiah geregetan. Aliyah mengangkat tangannya ke mulut. “Apa kak Ghibran datang mau melamar kak Rabiah?” bisiknya antara terkejut dan tidak percaya. Apa? melamar?  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD