Kenapa Harus Dia?

1387 Words
“Halo, Kak. Kenalkan, namaku Tania.” Seorang gadis, memiliki potongan rambut panjang cokelat dengan senyum penuh semangat mengulurkan tangan padanya. Rabiah menyambut uluran tangan didepannya dengan senyum terkulum, meski perasaan was-was menggelayutinya. Perempuan bernama Tania ini, adalah calon penghuni apartemen mereka. Penampilannya yang sedikit nyentrik membuat keningnya berkerut, namun dia tidak ingin berfikiran buruk. Penampilan terkadang bisa menipu bukan? Dia menatap Aliyah lewat sudut matanya, namun gadis itu sedang sibuk menatap dinding rumah mereka. Sejak kapan dinding rumah ini menjadi menarik? Penampilan Tania yang datang dengan rambut panjang tergerai yang hanya di tutupi kain panjang secara asal, berhasil menimbulkan ras penasaran dalam dirinya. Dia tidak ingin memberikan penilaian yang menghakimi jika belum mengenal gadis ini. “Aliyah bilang, kau butuh tempat tinggal baru?” tanyanya membuka pembicaraan. Mereka bertiga berjalan menuju ruang tamu yang diisi beberapa kursi kayu sederhana. Rabiah duduk di ujung, sementara Aliyah dan Tania duduk bersama di kursi panjang yang menghadap kearahnya. “Betul.” Balas Tania menjentikkan jari tepat didepan Rabiah, membuatnya terkesiap. “Tempat tinggalku yang lama membosankan. Peraturannya tidak masuk akal, membuatku bosan setengah mati.” Keluhnya menatap Rabiah dengan bibri mengerucut. Sesaat, Rabiah merasa kalau dia sedang berhadapan dengan anak kecil yang merajuk. Rabiah menatap Aliyah dengan alis terangkat, namun lagi-lagi gadis itu memilih pura-pura tertarik dengan furniture rumah mereka. Rabiah kembali fokus pada calon penghuni rumah mereka. Dia harus memastikan kalau gadis ini tidak akan memberikan pengaruh buruk pada penghuni gedung ini, khususnya mereka berdua. “Peraturan seperti apa yang kau maksud Tania?” Tania mengibas rambut panjangnya ke samping. “Jam malam. Semua penghuni apartemenku yang lama membuat peraturan dimana tidak boleh keluar setelah jam Sembilan, dan di larang membawa teman laki-laki. Konyol sekali. Apa urusannya jika kau membawa teman, dan peraturan malam? bukankah kehidupan yang sebenarnya dimulai saat malam semakin larut?” Rabiah batuk untuk menyamarkan kekagetannya. Darimana Aliyah mendapatkan gadis ini? Dia tidak bermaksud menilai buruk siapapun yang ingin tinggal disini, tapi apa gadis ini tidak tahu kalau peraturan yang tidak dia suka juga berlaku di apartemen ini? “Apa kau tahu, kalau kami memiliki peraturan seperti itu juga?” Tanyanya. Mungkin Aliyah lupa menjelaskan detail ini, batinnya mencoba berbaik sangka. Semua penghuni bangunan ini adalah mahasiswa atau orang yang sudah berkeluarga. Ketenangan dan lingkungan yang saling menghargai adalah motto yang mereka emban selama ini, dan Rabiah tidak ingin membuat kekacauan dengan mendatangkan orang yang bisa membuat ketenangan apartemen ini terganggu. “Aku tahu.” balas Tania pendek. Matanya masih menjelajahi ruang tamu yang menjadi tempat diskusi mereka. Teh yang dicampur madu menjadi hidangan pengisi suasana perbincangan mereka. “Lantas, kenapa….?” Aku bisa menahan keduanya, selama tempat ini menawarkan fasilitas yang mendukung. Kau tahu? ini tempat yang strategis sekali. Akses dari tempat ini begitu mudah dan aku ingin menghemat pengeluaran sesedikit mungkin. Saaat ini prioritsku adalah belajar.” “Bagaimana dengan jam malam? Maaf, kami disini memberlakukan jam malam juga. Tidak ada yang boleh keluar diatas jam Sembilan malam kecuali keadaan mendesak, dan setiap penghuni apartemen ini diharuskan memberikan laporan jika pulang terlambat. Bersama siapa dan sedang melakukan apa. Apa itu tidak masalah?” dia harus menjelaskan ini sedetil mungkin. Peraturan ini adalah disiplin tak terbantahkan. Mereka sudah menjalankannya sejak menginjakkan kaki di Negara ini. “Lebih berat dari tempat ku yang lama.” Komentar Tania untuk sesaat terlihat kecewa. “Tidak masalah. Aku menyukainya.” Sambungnya sama cepatnya saat dia mengeluh, berhasil mengejutkan Aliyah dan Rabiah. Mereka sempat berfikir kalau Tania mungkin akan keberatan dengan peraturan yang mereka buat. “Kau yakin?” Rabiah ingin memastikan sebelum benar-benar menerima penghuni baru rumah ini. Tania mengangguk yakin. “Apa aku bisa membawa abarang-barangku sekarang? Semuanya ada dibawah.” “Dibawah?” “Aku sudah mengemas semua barang-barangku.” Rabiah tidak bisa menyembunyikan kekagumannya. Kepercayaan diri gadis ini patut diacungi jempol. “Kak Rabiah yakin menerimanya?” Aliyah berbisik setelah Tania menghilang dibalik pintu. “Kakak tidak tahu, tapi sepertinaya dia tidak buruk. sSemoga saja dia bisa betah dengan keadaan apartemen ini Aliyah.” Gumamnya penuh harap.   ****** Ghibran mondar-mandir diruangannya sejak beberapa saat yang lalu. Ini kebiasaan yang dia lakukan saat sedang berfikir keras atau bisa dikatakan ketik otaknya tidak bisa istirahat. Langkahnya yang bergema terdengar nyaring mengisi kekosongan ruangan persegi yang banyak dihiasi buku-buku tebal di dinding ruangannya. “Apa yang harus kulakukan?” Gumamnya sendiri sementara kakinya tidak pernah berhenti berjalan. Netranya menatap benda persegi yang diletakkan diatas meja. “Alzam mungkin bisa membantuku bukan?” Dia memiringkan kepala, terlihat berfikir keras. Dia menarik napas panjang sebelum meraih benda pipih berwarna hitam yang dia letakkan diatas meja. “Alzam,” serunya tanpa basa-basi lewat telepon genggamnya. “Ada yang ingin kubicarakan. Apa kau punya waktu? Ya, sekarang. Ini mendesak.” Ghibran mematikan telepon setelah pembicaraan mereka selesai. Dia meraih jas birunya sebelum berlalu meninggalkan ruangannya.   ****** “Apa yang begitu mendesak sampai wajahmu begitu kusut Ghibran?” Alzam menatap sahabatnya penuh selidik. Saat ini keduanya ada dikantin dekat tempat tinggal Alzam. Senja yang emembungkus langit mulai menampkakan diri, mengirimkan ketenangan pada jiwanya yang gelisah. “Ada apa Ghibran? Kau membuatku cemas dengan wajahmu itu. Seakan-akan dunia akan runtuh.” Ghibran tidak tertawa mendengarnya. Sejujurnya itulah yang dia rasakan sekarang. Kalimat yang akan dia ucapkan ini mungkin akan membuat dunianya dan dunia siapapun yang mendengarnya runtuh. Dia sudah memikirkan ini matang-matang, berdebat dengan dirinya sendiri. Perbedaan antara dia dengan Rabiah hanya bisa diselesaikan dengan satu solusi. “Aku menyukai Rabiah.” Tuturnya dalam satu tarikan nafas. Mengucapkan kalimat itu adalah beban terberat yang pernah dia rasakan. Pundaknya seperti ditimbun pasir ribuan ton, dan dadanya seperti di himpit batu besar. Ghibran tidak sanggup melihat reaksi Alzam. Mungkin saja sahabatnya ini berfikir kalau ucapannya hanya angin lalu, mengingat ini pertama kalinya dia menunjukkan ketertarikan pada lawan jenis. “Kau apa?” Ghibran mengumpulkan keberaniannya. Dia menatap Alzam tepat dimatanya. “Aku menyukai Rabiah.” Gumamnya kali ini terdengar lebih jelas dan yakin. Dia tidak berkedip saat mengucapkannya. “Kau menyukai Rabiah?” “Kenapa? Apa itu hal yang mustahil?” ujarnya terluka melihat reaksi tidak percaya Alzam. “Bukan seperti itu Ghibran.” Ujar Azam buru-buru. “Kau tahukan? Perbedaan kalian itu seperti langit dan bumi. Aku tidak bermaksud menyakitimu dengan mengatakan ini, hanya saja kau harusnya tahu seperti apa laki-laki yang diinginkan Rabiah.” Ghibran memalingkan wajahnya begitu mendengar penjelasan Alzam. “Aku tahu, tapi hatiku tidak tahu itu Alzam. Aku tidak bisa mencegah meski aku ingin. Perasaan ini…aku tidak ingin membuat semuanya semakin rumit mengingat jurang lebar yang membentang diantara kami.” “Apa kau sudah mengatakan tentang dirimu yang sebenarnya apda Rabiah?” Ghibran menggeleng. “Kenapa? Apa kau tidak punya keberanian?” pertanyaan Alzam terdengar menyudutkan tapi yang dikatakannya benar. Jika untuk masalah seperti ini saja Ghibran tidak berani jujur, bagaimana mungkin dia menyatakan perasaan pada sahabat istrinya itu? “Aku bermaksud mengatakannya.” Ungkapnya jujur. Dia memang ingin mengatakannnya pada Rabiah saat perjumpaan mereka selanjutnya. “Kapan?” kedua alis Azam terangkat. “Secepatnya.” “Tidak ada kebaikan dalam menunda. Cepat atau lambat Rabiah pasti akan tahu hal ini. Aku tidak mengerti alasanmu menyembunyikan ini dari Rabiah, tapi aku tahu kau apasti sudah memikirkan semuanya dengan matang.” Alzam bisa melihat kegundahan sahabatnya, dan dia memakluminya. Perkara hati…sungguh tidak ada yang bisa menebaknya. “Apa yang kau inginkan Ghibran?” lanjutnya. Apa yang dia inginkan? Pandangannya menerawang menatap gumpalan awan yang menari-nari bersama senja. “Apa itu hal yang mustahil? Hidup bersamanya?” tanyanya lebih kepada dirinya sendiri meski Alzam bisa mendengarnya. Harapan yang ebeberapa wakty terakhir menyususp menemani hari-harinya, hilang timbul seiring dengan keinginan dan kenyataan yang melintas dihadapannya. “Kau yang tahu jawaban atas pertanyaan itu Ghibran. Yang harus kau lakukan adalah mengatakan kebenarannya pada Rabiah, setelah itu kau akan tahu apa yang harus dilakukan.” Apa dia benar-benar akan menemukan jawabannya? Senyum malu-malu Rabiah perlahan mengisi kepalanya, memenuhi setiap aliran darahnya. Membuatnya mangap kehabisan udara. “Katakan padanya Ghibran, hanya setelah itu kamu akan tahu langkah yang harus kamu lakukan. Setiap tindakan akan membuka peluang baru. Aku sungguh berharap yang terbaik untukmu.” Alzam menepuk pundah  Gghibran, mencoba menguatkannya. Dia tidak pernah melihat Ghibran sekacau sekarang. Kenapa sahabatnya ini harus jatuh cinta pada Rabiah? Diantara jutaan manusia, Ghibran justru menyukai seseorang yang terasa mustahil untuk didapatkan. Apa Ghibran tidak menyadari ini? atau dia mengabaikannya selama ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD