Sebuah Kehilangan

1222 Words
Jantungnya berdegup tidak normal, sementara perasaan cemas dan ketakutan tiba-tiba menguasainya. Bibir tipisnya berkali-kali mengucapkan istighfar saat melihat rumah beton sederhana didepannya lengang. Tidak ada balasan salam seperti yang selalu dia dengar setiap kali datang ke rumah ini. Tidak ada tawa renyah dan juga senyum lebar yang senantiasa menyambutnya setiap menginjakkan kaki di tempat ini. Hanya ada kekosongan dan juga keheningan yang entah bagaimana membuatnya takut. Seolah-olah dia mendatangi rumah yang sudah lama tidak di huni. Kemana si kecil Sarah dan Ibunya pergi? Sekali lagi, dia mencoba mengucapkan salam, berharap penghuninya sedang tidur atau tidak mendengar salam terakhir yang barusan dia ucapkan. Tapi sayang, tidak ada balasan. Netranya menjelajah sekitar, barang kali menemukan petunjuk mengenai keberadaan dua orang yang menjadi alasannya datang dan berbelanja jauh-jauh kemari. Sudah cukup lama sejak terakhir kali dia kesini, dan entah kenapa tiba-tiba dia merindukan gadis kecil itu. Gadis kecil berambut cokelat gelap yang selalu berlari dengan wajah sumringah menyambut kedatangannya. “Ada apa? apa kau kehilangan sesuatu?” Rabiah berjengit kaget sembari menyentuh dadanya. Dia berbalik, hanya untuk bertemu pandang dengan Ghibran yang menatapnya dengan raut penuh tanya. “Kenapa wajahmu terlihat cemas?” kembali Ghibran mengeluarkan pertanyaan saat melihat kebungkaman Rabiah. “Sarah dan Ibu tidak ada di rumah, Mas.” Ucapnya mencoba menahan agar suaranya tidak bergetar. Dia ketakutan. Takut sesuatu yang buruk terjadi pada dua wanita itu. Mereka pendatang di tempat ini, seharusnya tidak ada yang membuat mereka pergi jauh. Ghibran berjalan mendekat mendengar kekalutan dalam suara Rabiah. Langkahnya mendekati pintu rumah, memusatkan pendengarannya, dan beberapa saat kemudian menjauh. Tatapannya menyiratkan kebenaran dalam kalimat Rabiah. “Kamu benar. Tidak ada orang di rumah. Apa mereka biasanya suka pergi?” “Mereka hampir tidak pernah meninggalkan rumah ini Mas, kecuali Sarah yang harus menjajakan buah di pasar. Ibu selalu di rumah karena beliau sering sakit.” “Mungkin hari ini pengecualian?” Ghibran mencoba mengemukakan kemungkinan yang lain. Beberapa orang yang kebetulan melewati mereka, menatap keduanya sejenak meski kemudian mereka memilih mengabaikannya. Rabiah meragukan hal itu, dia cukup mengenal keluarga ini untuk hapal kebiasaannya. “Kapan terakhir kali Mas Ghibran kesini?” “Saat kita bertemu di tempat ini.” Balasnya terdengar menyesal. Seharusnya dia lebih sering menyempatkan waktu mengunjungi keluarga kecil ini, tapi lagi-lagi dia sibuk. “Itu berarti tidak ada yang mengunjungi mereka selama hampir satu bulan.” Gumam Rabiah lirih tapi masih bisa didengar Ghibran. “Apa ini sesuatu yang harus di cemaskan?” tanyanya pelan, melihat kepanikan di wajah Rabiah. Gadis itu bahkan tidak henti-hentinya mengedarkan pandangan keujung jalan, mungkin mengharapkan dua orang yang sama-sama mereka tunggu muncul. Dia tidak butuh peramal untuk tahu kalau gadis ini benar-benar cemas dengan keluarga kecil itu. “Mereka pendatang di tempat ini Mas, Rabiah tidak tahu tapi setiap kali datang ke tempat ini, Ibu selalu meminta untuk melihat apa ada yang mengikutiku atau tidak. Setiap kali aku bertanya Ibu hanya menjawab dengan senyuman.” Jelas Rabiah panjang lebar membuat Ghibran mengangguk. Ini menjelaskan ketakutan Rabiah. “Luka lebam di tubuhya juga bukan karena jatuh. Dia dipukuli.” Ucapnya setelah jeda beberapa saat. Dia tidak tahu kenapa dia menceritakan ini, mengikuti instingnya, sepertinya gadis ini layak tahu apa yang terjadi dengan wanita yang mereka tolong. Pernyataan yang membuat Rabiah terhenyak. Tidak ada satu pun yang sadar kalau mereka berdua masih berdiri di lorong sempit perumahan, membuat beberapa orang yang kebetulan berpapasan dengan mereka menatap tidak suka. “Apa Ibu tidak pernah cerita apapun tentang keluarganya?” lanjut Ghibran. Rabih menggeleng. “Tidak. Ibu tidak mau menceritakannya.” Balasnya sedih. Dia menunduk, untuk menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca. “Mungkin bukan tidak mau, hanya belum cukup berani. Kau tahu? menceritakan pengalaman yang tidak menyenangkan dibutuhkan lebih dari sekedar keberanian.” Rabiah mengangguk pelan. “Bagaimana kalau kita mencarinya?” lanjut Ghibran, saat melihat wajah Rabiah masih keruh. Usulan Ghibran berhasil membuat Rabiah mendongak. Wajah pucatnya seketika berwarna, membuat Ghibran memundurkan langkah karena kehilangan orientasi. Dia mengerjap sebelum kembali fokus pada Rabiah. “Mas tidak keberatan?” Ghibran berdehem. “Ya. Maksudku, tidak. Aku tidak keberatan. Ayo.” Ujarnya buru-buru berjalan ke tempat dimana mobilnya di parkir. “Ng…, Rabiah menggunakan bus saja, Mas.” “Kenapa?” tanyanya heran. Mas Ghibran tidak mungkin tidak tahu kalau berduaan di mobil tidak di perbolehkan bukan? Mungkin hanya lupa, batinnya mencoba berprasangka baik. “Biar peluang menemukan mereka lebih besar.” Ujarnya beralasan. Rabiah berjalan saat Ghibran mulai melajukan langkah. “Boleh aku tahu sejak kapan kamu mengenal Ibu Aminah dan Sarah?”Ghibran bertanya tanpa menoleh kebelakang. “Sekitar satu tahun yang lalu, Mas.” “Cukup lama. Apa kamu memang sering berkunjung ke rumah mereka? Mereka bercerita kalau kamu yang menemukan rumah itu dan membayar uang sewanya?” Seharusnya tidak ada yang tahu tentang hal ini. Bukan apa-apa. Dia tidak ingin menemukan dirinya merasa senang ketika ada yang tahu apa yang dia lakukan. Pujian sering kali melalaikan, tapi lebih sering lagi menghancurkan niat tulus seseorang. “Rabiah hanya membantu sekedarnya, Mas. Allah yang menolong mereka lewat perantara Rabiah.” “Kalau begitu kamu percaya Tuhan yang melakukan semua ini?” Pertanyaan yang membuat kedua alis Rabiah bertemu. Nada yang di gunakan mas Ghibran membuatnya mengernyit. Terdengar tidak suka, atau ini hanya perasaannya saja? “Tentu saja. Tidak ada yang luput dari penglihatanNya barang sekedip mata. Allah sebaik-baik pemberi dan juga sebaik-baik tempat meminta pertolongan.” Ghibran tersenyum, meski tahu Rabiah tidak akan bisa melihatnya. Sayangnya, dia tidak percaya dengan campur tangan Tuhan. Baginya, apa yang terjadi dan apa yang didapatkan seseorang tergantung bagaimana manusia itu bertindak. “Kamu orang yang religius bukan?” bisiknya lebih kepada dirinya sendiri. Dia tahu Rabiah tidak akan bisa mendengarnya. Perlahan, pandangannya mendongak, menatap awan yang bergumpal menumpuki lapisan langit. Perbedaan sungguh bisa membentang jarak hingga batas yang tidak bisa di tembus. Sekat yang membentang diantara dirinya dan Rabiah tidak akan pernah bisa dia lewati. Harusnya dia tahu itu, harusnya dia sadar. Bahwa menaruh hati pada seseorang seperti Rabiah hanya akan menawarkan satu akhir. Perpisahan. Kuncup hatinya layu bahkan sebelum sempat mekar. ****** Kau dimana? Sebentar lagi kita akan berkumpul. Pesan yang dibacanya seketika membuatnya mengumpat. Dia lupa, hari ini pertemuan dengan Alzam dan keluarganya. Alzam memintanya ikut terlibat dalam mempersiapkan pernikahan dan itu termasuk menjadi bagian dari iringan pengantin pria. Ghibran masih ingat bagaimana Alzam memintanya—nyaris memaksanya, agar bersedia ikut. Jika dia menolak, Alzam mengancam tidak akan hadir di pernikahannya kelak. Aku segera kesana Ghibran mengetik balasannya sebelum memasukkan kembali ponselnya. Pencariannya belum juga membuahkan hasil, entah dengan gadis bermata cokleat dengan tatapan teduh itu. Dia sudah mengendarai mobilnya lebih dari sejam untuk melihat barangkali dia menemukan keberadaan Ibu dan anak malang itu. ketulusan yang Rabiah perlihatkan berhasil menembus sudut hatinya yang terdalam. Gadis itu benar-bnar menyayangi Ibu Aminah dan putrinya Sarah dengan tulus, membuat kekagumannya pada gadis yang sering menundukkan pandangan itu semakin bertambah. “Apa yang kau fikirkan Ghibran.” Rutuknya sendiri berusaha mengenyahkan bayangan Rabiah dari fikirannya. Gadis itu berhak mendapatkan pendamping terbaik, seperti yang dikatakan Ibu Aminah. Dia sendiri hanya laki-laki dengan cangkang kosong. Rapuh tanpa kehidupan didalamnya. Dering telepon sekali lagi menginterupsi kegiatannya yang sedang mengendarai mobil dengan kecepatan dibawah rata-rata. Ghibran melihat dial si penelepon dan raut wajahnya seketika mengeras. Dia melempar ponselnya ke kursi penumpang, memutuskan mengabaikan bunyi telepon yang terus mengeluarkan bunyi yang mengganggu indra pendengaran. Kemarahan dalam wajahnya terlihat jelas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD