Segumpal Daging Bernama Hati

1475 Words
Rumah itu masih sama. Sama seperti terakhir kali dia ingat. Kusam, tua, tidak terurus. Netranya kembali menatap penuh selidik sebelum memutuskan mengambil langkah. Dia sudah lama melakukan pencarian, tapi sampai sekarang hasilnya nihil. Dua wanita itu pergi tanpa jejak, satu-satunya yang berbeda adalah kekosongan yang menyelimutinya. Tidak ada kehidupan dalam rumah usang itu, membuat bibirnya kembali mengeluarkan u*****n kasar. Kemarahan yang dia rasakan semakin meggelegak memenuhi dadanya. Mata merahnya—akibat kurang tidur, berusaha memusatkan fokus pada bayangan samar yang berjalan tidak jauh dari depannya. Tanpa membuang waktu dia segera berlari, atau menyeret langkahnya. Dia kelelahan, kehabisan tenaga. “Tunggu!” teriaknya. Namun, orang yang dia harapkan akan mendengar teriakannya, tetap saja melajukan langkah. “Tunggu!” teriaknya kembali kali ini lebih keras dan kuat. Berhasil. Saat dia semakin dekat dua orang yang berjalan tidak jauh di depannya berhenti, menatapnya dengan tatapan bingung. Namun, justru dia yang lebih terkejut mendapati pasangan ibu dan anak itu bukan orang yang dia harapkan. “Pergi!” usirnya tanpa perasaan dan kembali berbalik. Langkahnya yang sempoyongan karena berusaha menahan rasa sakit yang menyerang lututnya kembali berjalan menyusuri gang-gang sempit yang menjadi perumahan para penduduk imigran. Disini banyak orang yang datang dari beberapa negara tetangga. Termasuk dirinya sendiri. “Dimana dua wanita kurang ajar itu?” gumamnya penuh benci. Baiklah, dia tidak akan menyerah. Dia pasti akan berhasil menemukannya, dan saat itu terjadi, dia bersumpah akan membuat mereka menyesal karena sudah melakukan ini padanya. *** Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakutuh…. Teruntuk kakakku tercinta Rabiah di tanahnya para Nabi. Apa kabar kak? Zain, Abi, dan Umi baik-baik saja disini. Kakak tahu sekarang disini sedang musim hujan? Hampir setiap malam hujan mengguyur kampung kita kak. Kakak pasti menyukainya seandainya ada disini. Aku ingat kakak selalu suka bermain hujan. Oh, iya, Zain sebentar lagi lulus SMA dan Abi meminta agar Zain mengikuti jejak kakak untuk kuliah disana. Apa itu ide yang bagus? Zain akan fikirkan matang-matang, meski Zain lebih suka disini. Perkuliahan di Indonesia juga tidak seburuk itu bukan? Hehe. Ini ngeles ceritanya lo kak, karena Zain suka hawa di kampung kita. Saat pagi buta, kita disambut suara kokok Ayam, dan juga derap langkah warga saat berjalan menuju mesjid. Menyenangkan bukan? Bayangkan saja, saat jutaan manusia terlelap, namun mereka yang teguh dengan iman Islamnya menyibak selimut, meninggalkan kesenangan duniawi dan bergegas menyiapkan diri untuk bertemu dengan Sang Penggenggam setiap Hati. Dingin yang membekukan tubuh nyatanya tidak menyurutkan langkah mereka sama sekali untuk tetap beribadah. Zain suka pemandangan dan suasana itu. Rabiah tersenyum lebar membaca E-mail adiknya. Dia dan Zain sering berlomba siapa yang lebih cepat bangun, dan yang kalah biasanya bertugas melakukan pekerjaan rumah. Ah, itu kenangan indah yang akan selalu dia rindukan. Dia rindu pulang ke kampung halaman. Rindu dingin dan sejuknya udara perkampungan tempatnya dibesarkan. Oh iya kak, Sebentar lagi kakak akan pulang bukan? Meskipun masih cukup lama, tapi setidaknya tidak sampai satu tahun lagi. Jangan lupa bawakan oleh-oleh buat Zain. Gimana cerita disana? Abi sama Umi titip peluk, cium sayang, katanya. Sebentar lagi Zain masuk kuliah. Yey, semester pertama rasanya menegangkan. Apa kakak merasa seperti ini juga saat memasuki bangku kuliah pertama kalinya? Zain yakin tidak. Kakak berani kuliah di tempat jauh saja sudah membuktikan kalau kakak orang yang kuat. Zain hanya mau memberitahu itu untuk saat ini. Ditunggu cerita barunya kak Biah. Salam sayang Keluarga tercinta Psstt : Abi sama umi nanya. Apa belum ada yang mengajak kakak ta’aruf? Matanya melebar membaca kalimat terakhir dari email yang dikirim kan adiknya. Ta'aruf? Sepertinya semua orang benar-benar kompak menggodanya mengenai pernikahan. Rabiah mengulum senyum, memutuskan membalas E-mail adiknya. Tangannya seketika lincah menekan tombol-tombol keyboard laptop-nya. Dia merindukan keluarganya, khususnya Abi, umi, dan adik bungsu dan satu-satunya- Zain. Dulu, saat masih kecil, Abi selalu suka menceritakan kisah para Nabi dan juga sahabat pada mereka. Kata Abi, biar kami tidak lupa dengan perjalanan yang dilakukan Rasulullah dan orang-orang saleh zaman dahulu dalam membela Islam. Ini membuat kami selalu ingat bagaimana beratnya perjuangan mereka dalam membela kebenaran. Bagaimana mungkin kita mengaku mencintai Rasul saat kita tidak tahu bagaimana sejarah hidup dan perjuangannya? Itu kata Abi-nya dulu saat dia bertanya kenapa mereka harus tahu perjalanan para Nabi-khususnya Rasulullah. Tidak mungkin kita mengaku cinta sementara kita tidak mengenal sosok yang kita cintai bukan? Itu yang selalu Abah katakan pada mereka berdua. Nasehat yang akan selalu dia ingat, guna dia terapkan pada anak-anaknya kelak. Dan tanpa diminta, fikirannya kembali melayang pada bocah kembar menggemaskan yang selalu bisa membuat orang-orang disekitarnya bahagia. Anak ceria yang selalu bisa menorehkan senyum di wajah siapa saja yang melihat kedua wajah mereka. Dia masih punya janji pada dua anak kecil itu untuk menceritakan kisah menarik bagi mereka, dan dia tahu kisah apa yang harus dia ceritakan. Ketukan di pintu membuyarkan lamunan Rabiah. Dia bergegas membukakan pintu. Wajah muram Aleesha menyambutnya. “Kenapa?” tanyanya bingung. “Apa kau sibuk?” tanya Aleesha sebelum mengambil tempat duduk diatas kasur Rabiah. Rabiah menggeleng. “Apa kau butuh sesuatu?” dia mengambil kursi kayu belajarnya dan duduk di depan Aleesha. Matanya menatap menyelidik saat melihat kecemasan yang tergambar di wajah sahabatnya. Apa yang terjadi? Apa ini berhubungan dengan sindrom pranikah? Biasanya calon mempelai suka mencemaskan hal-hal remeh dan t***k bengek pernikahan bukan? ”Sha…?” tanyanya lembut. “Aku takut….” Suaranya bergetar, membuat Rabiah seketika mengerutkan kening. “Takut?” “Entahlah, kecemasan ini sejak beberapa hari selalu menyusup Biah. Aku takut, pada ketakutanku sendiri. Pernikahan ini, entah bagaimana membuatku bimbang dan didera keraguan.” “Astaghfirullah. Istighfar Sha. Itu bisikan setan dan kamu tidak boleh menurutinya.” Rabiah sekarang berpindah tempat duduk. Dia mengambil posisi di samping Aleesha. “Aku tidak tahu, hanya saja beberapa hari terakhir kecemasan selalu saja menyelubung dalam diriku Biah. Aku…,” Rabiah memeluk Aleesha, mengusap punggungnya. Dia jarang melihat Aleesha seperti ini. Pembawaannya yang tenang dan dewasa, membuat sosoknya seperti kakak bagi mereka berdua. Apa mungkin ini sindrom menikah? Bukankah biasanya orang yang akan menikah selalu merasa cemas? “Kamu harus tenang, Sha. Semua akan baik-baik saja, Insha Allah, dan ingat, menikah itu perkara ibadah, menyempurnakan separuh agama. Setan akan berusaha menggoda dengan cara apapun, termasuk menanamkan rasa cemas dan juga ketakutan pada diri setiap orang yang akan menikah. Kau tahu tujuannya? Ini agar orang yang akan menikah tidak yakin dengan keputusan yang dia lakukan, hingga yang paling buruk ada yang membatalkan pernikahan hanya karena perkara sepele. Perbanyak istighfar dan selalu minta petunjuk pada Allah. Saat semua tera sulit kau tahu harus mengadu pada siapa bukan?” Rabiah tersenyum lembut saat melepaskan pelukannya. Menatap sahabatnya dengan tatapan seorang sahabat yang peduli. “Aku tidak meragukan kesalehan mas Zayyan, Biah. Tidak. Dia pemuda saleh yang selalu bisa menjaga pandangan. Hatiku berdesir bahkan sejak pertama kali kami bertemu. Dia orang yang baik. Meski tidak cukup lama mengenalnya aku memiliki keyakinan kalau dia bisa menjadi imam yang baik. Hanya saja…aku tidak tahu. Kecemasan ini membuatku seperti membatu. Gamang dengan diriku sendiri. Apa aku cukup baik untuknya? Keluarganya adalah orang-orang terhormat, dan ini membuatku merasa kami tidak sekufu.” Rabiah yang gemas, menowel hidung Aleesha, membuat gadis berambut panjang sebahu itu terperanjat. “Cemaslah saat keimanan dalam dirimu hilang. Takut lah jika rasa cinta pada Tuhan dan Rasulmu tidak lagi ada. Selama keduanya masih terpatri dengan baik dalam segumpal daging bernama hati, maka kau tidak perlu mencemaskan apapun. Kita tidak akan ditanya tentang berapa banyak uang yang kita hasilkan, pun kita tidak akan ditanya bagaimana pencapaian kita di dunia ini. Derajat seseorang ditentukan karena keimanan dan ketakwaannya. Hanya itu, bukan yang lainnya. Kenapa harus merasa minder saat hidup sederhana? Siapa yang tahu saat Allah memberikan kelebihan harta kita justru tidak lagi mengingatNya?” Aleesha menghambur dalam pelukan sahabatnya. Matanya berkaca-kaca. “Terima kasih. Nasehatmu menenangkanku. Aku mungkin terbuai dengan perkara harta ini, hingga melupakan harta terbaik adalah hati yang selalu mengingatNya.” Ucap Aleesha sesenggukan, menatap Rabiah penuh terima kasih. “Kau tahu? laki-laki yang mendapatkanmu benar-benar orang yang beruntung.” Lanjut Aleesha saat melepaskan pelukannya. “Aku harap, saat kau menikah, aku ada disana menyaksikan hari bahagiamu. Aku ingin menjadi saksi saat dua orang baik disatukan dalam ikatan pernikahan. Kau akan menjadi pengantin yang paling cantik.” Lanjutnya menatap wajah teduh menenangkan yang selalu saja menorehkan senyum yang berhasil membuat orang-orang disekitarnya merasa senang. Rabiah menghapus air mata dari wajah sahabatnya. “Dan hanya laki-laki terbaik yang bisa mendapatkan sahabatku ini.” Balasnya dengan senyum merekah. Rabiah dan Aleesha, dua sahabat yang dipertemukan oleh takdir. Salah satu karunia terbaik yang bisa didapatkan seseorang adalah memiliki sahabat yang saling mengingatkan, yang tidak hanya mengatakan hal-hal baik tentangmu, tapi juga tidak segan menegur saat kita melakukan kesalahan. Rabiah akan kehilangan sosok Aleesha saat dia menikah nanti. Mereka sudah seperti saudara di perantauan ini, dan mendapati kalau sahabatnya sebentar lagi tidak akan satu rumah dengan mereka, dia tidak bisa menepis rasa sedih yang tiba-tiba saja menyusup begitu halus dalam dadanya. Astaghfirullahaladzim Apa pernikahan bisa merubah seseorang?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD