Almeera dan Aahil

1361 Words
“Bagaimana persiapan semuanya? Apa sudah selesai?” Rabiah bertanya disela-sela kesibukan Aleesha menata kamarnya. Lebih tepatnya merapikannya. “Tidak banyak yang harus disiapkan. Acara yang diselenggarakan sederhana Biah.” Balas Aleesha sibuk menyusun buku-buku tebalnya, memasukkannya dalam kardus “Apa kau mau pergi?” sambungnya melihat penampilan rapi Rabiah Rabiah mengangguk. “Hari ini aku ada jadwal mengajar dua anak kecil.” Kening Aleesha mengerut. “Anak kecil? Sejak kapan? Apa aku melewatkan sesuatu?” “Apa aku belum cerita? Keponakan Mas Ghibran membutuhkan guru dan dia meminta bantuanku.” “Kapan?” “Kemarin. Saat aku pergi ke kampus. Bagaimana keadaan ayah Aliyah? Apa sudah membaik?” Aleesha segera menghentikan kegiatannya. Wajahnya terlihat muram. “Ayahnya masih belum sadarkan diri. Dia butuh dukungan kita sekarang. Hanya kita keluarganya disini.” “Apa dia masih sering terlihat melamun?” “Tidak. Dia sudah mulai beraktifitas seperti biasanya, meski keceriaan yang selalu menghiasi rumah ini mulai menghilang.” Rabiah juga merasakannya. Anak itu ceria, selalu berhasil menghidupkan rumah ini. Kesibukan Aleesha dan juga dirinya terkadang membuat mereka abai dengan sekitar. Seharusnya tidak seperti itu. Sesibuk apapun, tidak lantas membuat kita menjadi pribadi yang mengurung diri dan lalai dengan sekitar. Rabiah beristighfar dalam hatinya. Sungguh dia masih harus banyak belajar. Adik tingkatnya itu mungkin butuh teman untuk mendengarkan, dan dia malah sibuk dengan urusannya sendiri. Astaghfirullahaladzim "InshaAllah, nanti setelah pulang kerja aku akan bicara dengannya." gumam Rabiah sebelum berlalu dan melanjutkan kegiatannya meninggalkan Aleesha yang sibuk dengan buku-bukunya yang berserakan. ***** Rabiah menatap jalanan yang lengang dari atas bus. Perjalanan menuju Al-Karak membutuhkan waktu kurang dari tiga puluh menit. Rabiah menikmati memandang mobil-mobil yang melintas sementara bibirnya lirih mengumamkan tasbih. Dulu, saat pertama kali menginjakkna kaki di Mu’tah dia didera kegamangan luar biasa. Menghabiskan masa kecil hingga remaja di desa terpencil, tidak lantas membuatnya tidak berani bermimpi. Dia sudah berazzam akan kuliah di tanah Arab, dan salah satu tujuannya adalah Mu’tah. Sejak mendengar guru mengajinya menceritakan perang Mu’tah, dia sudah ingin menginjakkan kaki disini, tidak hanya sekedar melihat, Allah mengijinkannya kuliah disini. Mungkin suatu saat dia harus menjelajah tempat ini. Dia terlalu sibuk belajar hingga tidak pernah meluangkan waktu sekedar untuk menikmati peninggalan-peninggalan kuno yang ada di Yordania. Dia ingin mengunjungi Jerash sekedar untuk melihat Gunung Nebo, tempat makam Nabi Musa berada, Desert Castles atau kastil gurun yang merupakan bangunan dengan arsitektur Islam yang sudah berdiri sejak abad ke-7, tepatnya ketika Bani Umayyah sedang berkuasa. Disana banyak ditemui karya-karya bercorak Isam, seperti relief, lukisan dan mosaik, dan yang tidak kalah penting, adalah mengunjungi gua Ashabul Kahfi yang berada di perkampungan Al-Rajib atau dalam Alqur’an dikenal dengan Al-Raqim. Dia belum pernah benr-benar jalan-jalan selama berada disini. Rabiah mengulum senyum. Semoga, suatu saat dia memiliki kesempatan mengunjungi setiap tempat yang bersejarah di Negara ini, mungkin bersama pasangan hidup akan lebih romantis. Astagfirullahaladzim, batinnya saat sadar sudah mulai berkhayal. Rabiah turun dari Bus setelah sampai di tempat tujuan. Dari sini, dia masih harus berjalan sekitar lima menit. Lelah? Tentu saja, tapi itu bagian dari perjalanan melakukan kebaikan. Rabiah masih ingat bagaimana permohonan Ghibran padanya. Meski awalnya dia menolak, namun saat Ghibran mengatakan kalau keluarga adiknya seorang mualaf, hatinya terenyuh. Adalah kewajiban setiap muslim untuk berbagi dan mengajarkan ilmu yang dia dapat. Ilmu tanpa amalan adalah sia-sia. Apa ini berarti mas Ghibran juga seorang mualaf? Batinnya bertanya. Rabiah menekan bel begitu sampai di rumah beton bertingkat dengan nuansa cerah. Tidak banyak tumbuhan yang bisa di kembangkan disini. Mengingat disini sumber air termasuk cukup sulit. Jadi tidak heran, jika memelihara bunga bukan sebuah kebutuhan. Pintu terbuka. Seorang wanita rambut sebahu memakai baju terusan sampai mata kaki menyambutnya dengan senyuman. “Rabiah?” Rabiah mengangguk. Ini pastilah adiknya Mas Ghibran, batin Rabiah. Dia melangkah masuk saat wanita itu menyuruhnya. Udara dingin seketika melingkupi tubuhnya yang panas. “Tidak heran Ghibran tersenyum saat menceritakanmu.” “Apa?” tanya Rabiah “Bukan apa-apa. Kenalkan namaku Aira. Ibu dari dua bocah yang akan kau ajari.” Aira mengulurkan tangan yang disambut Rabiah dengan segera. Keduanya tersenyum sebelum kemudian Aira berjalan menuju kamar yang letaknya paling ujung. Rabiah langsung tahu jika kamar ini milik anak-anaknya. Gambar mikckey mouse yang di tempelkan di dinding kamar adalah hal pertama yang menyambut mereka. "Mereka punya dua kamar. satunya ada di atas." terang Aira saat mereka mulai berjalan menuju kamar yang akan dia ajari. “Almeera, Aahil. Ayo disapa gurunya sayang.” Dua anak kecil yang sedang bertengkar dan memperebutkan sesuatu menoleh mendengar gumaman Aira. Kembar. Rabiah menyadarinya saat melihat kemiripan dan juga pembawaan keduanya. Dia tidak tahu kalau anak yang akan dia ajari adalah anak kembar. Ghibran tidak menceritakannya. “Ayo, kenalan sama gurunya dulu.” Anak perempuan yang memakai penutup kepala dari kain panjang mendekat pada Rabiah. “Hallo Auntie from Indonesia. I’m Almeera, the most beautiful daughter of my Mom.” Rabiah tertawa mendengarnya. Anak cerdas. Sepertinya Ghibran sudah menceritakan tentang dirinya, setidaknya sebagian kecil mengenai dirinya pada keluarga ini. “’Hallo Almeera. Nice meeting you Princess. “ Anak laki-laki yang tingginya sejajar dengan Almeera mendekat. Dia berdiri didepan menghalangi pandangan Almeera, membuat gadis kecil itu mengeluarkan protes. “Halo Mam. I’m Aahil.” Balasnya pendek penuh percaya diri, mencoba terdengar formal, membuat Rabiah terperangah. Namun kemudian dia tersenyum lebar. “Halo Aahil. I’m Rabiah.” “Apa aku bisa meninggalkan kalian?” tanya Aira membuat Rabiah mendongak. “Tidak apa Kak. Biar Rabiah yang melanjutkan dari sini.” “Apa kau tahu kalau aku dan Ghibran kembar?” melihat ekpsresi terkejut Rabiah, Aira mengulum senyum. “Keturunan.” selorohnya menunjuk dua bocah dihadapan mereka yang sekarang kembali bergumul. Rabiah tersenyum sebagai balasannya. Saat pintu menutup Rabiah kembali menatap dua bocah yang sibuk berebut mainan yang ada didepan keduanya. “Almeera, Aahiil, Siapa yang suka mendengarkan cerita? Kak Rabiah bisa mendongeng.” Dua anak kecil itu segera menghentikan pergumulan mereka. Almeera yang lebih dulu mendekat. “Auntie bisa mendongeng?” tanyanya antusias. “InshaAllah.” “InshaAllah artinya apa auntie?” “InshaAllah berarti jika Allah mengizinkan. Itu artinya kita melibatkan Allah dalam setiap keputusan yang kita ambil.” “Apa itu baik?” tanyanya polos. “Tentu saja sayang, itu mengingatkan kita kalau pembuat jalan hidup terbaik kita adalah Allah.” Almeera tampak mengangguk. Entah dia mengerti atau tidak. Aahil menyenggol Almeera membuat gadis itu terjatuh dan mengeluarkan tangisannya. Rabiah yang melihatnya bergegas menarik Almeera dalam dekapannya. Memeluk dan menenangkannya. Kenapa rasanya seperti mengurus anak sendiri? Fikirnya tiba-tiba. “Apa mereka bertengkar lagi?” Ghibran tiba-tiba bersuara membuat Rabiah berjengit kaget. “Maaf. Kebiasaan.” Gumama Ghibran terdengar malu. Rabiah menghela nafas untuk menormalkan detak jantungnya. “Tidak apa, Mas.” Ghibran sengaja membuka pintu kamar lebar-lebar agar Rabiah merasa nyaman. “Kali ini siapa yang mendorong duluan?” Pertanyaan yang membuat Rabiah kebingungan sekaligus takjub. Bagaimana Mas Ghibran tahu kalau Almeera menangis karena di dorong? “Itu kebiasaan mereka. Kapan pun salah satunya terlihat diam, maka yang satunya akan mencari keributan.” Tukas Ghibran menjawab pertanyaan tak terucap Rabiah. Dia mendekat dan membawa Aahil dalam gendongannya. “Almeera cengeng Uncle. Aahil tidak mendorongnya, hanya menggesernya.” Bocah enam tahun itu mencoba membela diri. Namun Ghibran yang sudah hafal dengan tingkah dua keponakannya hanya bisa tersenyum. “Aahil, dia adikmu. Kamu harus menjaganya.” “Kami hanya selisih tujuh menit.” Protes Almeera yang terlihat tidak suka disebut adik. Dia mengalungkan diri pada Rabiah menatap Aahil dengan marah. “Tetap saja, aku abangmu wee,” Aahil yang tidak mau kalah kembali menggoda adiknya. “Huaaaaa,” raung Almeera dengan suara cempreng yang berhasil membuat Ghibran memicingkan mata. Dia melepaskan Aahil, bermaksud mendekati keponakan perempuannya, namun didahului oleh Rabiah. “Sayang, kalau Almeera berhenti menangis Auntie akan menceritakan cerita yang menarik. Almeera mungkin akan suka mendengarnya.” Suara lembut Rabiah berhasil menghentikan tangis gadis dengan rambut coklet sebahu itu. “Dongeng? Hiks.” Tanyanya sesenggukan. Rabiah tersenyum. “Bukan dongeng. Auntie akan menceritakan cerita dengan kisah yang menakjubkan. Jika Almeera berhenti menangis Auntie akan menceritakannya.” Gadis kecil itu berusaha keras menahan sesenggukannya. Sementara disisi lain, hati Ghibran tanpa sadar berdesir melihat kelembutan dan juga kemampuan Rabiah dalam menangani anak kecil. Mata cokelat itu telah menyihirnya tanpa sanggup dia lawan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD