Pipi Kemerahan

1500 Words
Ghibran berjalan dengan senyum merekah di wajahnya yang memerah akibat terbakar matahari. Panas terik sama sekali tidak menyulitkannya. Beberapa orang yang melihatnya mengerut bingung. Heran, melihat raut wajahnya yang ceria ditengah terik yang membakar. Tentu saja seharusnya dia kepanasan, tapi suasana hatinya sedang baik sekarang, dan ini membuat cuaca panas serasa embun yang menyejukkan. Berlebihan? Sepertinya tidak, karena dia benar-benar tidak kepanasan sekarang. Atau ini karena suasana hatinya yang sedang baik? Langkahnya menyusuri lorong panjang menuju ruangan yang selalu dia gunakan sebagai tempat menghabiskan sisa hari. Di kampus ini, dia punya ruangan sendiri meski statusnya hanya sebagai dosen pengganti, tapi dia lebih suka menghabiskan waktu di ruangan sahabatnya Alzam. Seperti kebiasaannya sebelumnya—kebiasaan jelek, Ghibran membuka kenop pintu tanpa repot-repot mengetuknya. Alzam sedang sibuk berkutat dengan buku, kertas dan juga laptop diatas mejanya. “Apa kau sibuk?” Alzam mendongak, menatap Ghibran cukup lama. “Kenapa?” “Aku ingin mengajakmu minum kopi?” “Kau tahu? seharusnya kau mencari pendamping. Usiamu sudah lebih dair cukup Ghibran, dan aku bosan kau recoki setiap kali kau ingin pergi keluar.” “Aku tidak setua itu. Terima kasih.” “Aku tidak mengatakan kau tua, dan menikah tidak harus menunggu tua dulu. Kau tahu itu dokter yang baik hati.” Sindirnya membuat Ghibran tertawa. Ghibran menyampirkan jas hitam diatas lengannya yang memegang tas kerja. “Hentikan omong kosongmu itu. Ayo.” Sahutnya tanpa menunggu jawaban Alzam. Alzam yang melihatnya hanya bisa mendesah. Dia menatap mejanya lama, sebelum bergegas mengejar Ghibran. Keduanya sekali lagi menembus keramaian mahasiswa dalam perjalanan menuju parkir. “Aku fikir ada alasan yang masuk akal kenapa wajahmu terlihat ceria seperti itu? Apa kau baru melamar seseorang?” tanya Alzam yang sejak tadi memperhatikan wajah Ghibran yang berbeda dari biasanya. Ghibran tertawa mendengar guyonan Alzam. “Sejak kapan kau terobsesi dengan kisah cintaku, Alzam?”?” sahutnya enteng membuka pintu mobil, diikuti Alzam membuka pintu disebelahnya. “Sejak aku melihat wajahmu cengengesan seperti orang yang mendapat durian runtuh.” “Bisa dipastikan duriannya enak jika sampai ditunggui sampai runtuh.” Balasnya asal, membuat Alzam mendengus. “Jangan mengalihkan pembicaraan Tuan Ghibran Arfan Alhusayn.” Ghibran mengerling dengan mata berbinar. “Tidak heran banyak yang mengatakan kau orang yang kritis. Setiap kalimat yang kau ucapkan seperti perintah tak terbantahkan. Tahukah kau itu?” gumam Ghibran berusaha mengalihkan pembicaraan. “Apa kau tidak akan menceritakannya?” tanya Alzam masih belum menyerah. “Menceritakan apa?” “Penyebab senyum sejuta watt di wajahmu itu.” gumamnya berlebihan. “Aku baru bertemu keponakanku.” Jawabnya asal, dan ternyata berhasil. Alzam manggut-manggut mengerti dan tidak bertanya apapun lagi. “Bagaimana? Apa semuanya lancar?” liriknya sebelum kembali memusatkan perhatian pada jalanan. “Apa kau bertanya tentang rencana pernikahan sepupu istriku?” “Yup.” “InshaAllah, kurang dari sebulan, akad nikah akan dilangsungkan.” “Woa. Apa itu tidak terlalu buru-buru? Mereka sepertinya belum cukup saling mengenal?” Alzam menoleh. “Mereka sudah cukup saling mengenal Ghibran. Islam melarang pacaran. Haram.” “Aku tahu itu.” dengusnya. “Tapi berapa lama mereka apa istilah untuk…” “Maksudmu ta’aruf?” “Ya. Ta’aruf. Berapa lama mereka ta’aruf sebelum memutuskan menikah?” “Dua bulan? Istriku yang lebih tahu. Aku akan bertanya padanya jika kau penasaran.” Balas Alzam dengan senyum terkulum. Ghibran memutar mata. “Apa yang membuat mereka mantap melangsungkan pernikahan?” “Kemudahan dalam setiap proses, dan juga jawaban dari istikharah yang mereka lakukan?” Matanya menyipit menatap Ghibran. “Kenapa kau bertanya?” Ghibran tertawa. Rasanya hari ini dia banyak sekali tertawa sampai dia fikir mulutnya bisa saja kering. Mobil yang mereka kendarai berhenti saat lampu lalu lintas berubah warna. Ghibran menoleh. “Hanya penasaran. Betapa mudahnya bagi mereka untuk memantapkan diri.” Alzam yang mendengar nada Ghibran mengernyit. “Apa kau cemburu? Kalau iya, itu berarti kode untuk menemukan pasangan hidupmu. Cepetan gih, usia sudah tidak muda lagi bukan?” guyonan yang berhasil membuat keduanya terkekeh. “Mudah bagimu mengatakannya.” “Ghibran, yang kau butuhkan hanyalah keyakinan.” Ujar Alzam menekankan kata-katanya. Keyakinan? Itu yang tidak dia miliki. Entahlah, sampai sekarang dia belum menemukan seseorang yang berhasil membuatnya yakin dengan yang namanya komitmen. Apa ini karena dia belum menemukan orang yang tepat? “Sebaiknya kita ke rumahku saja.” Ghibran mengerut. “Kenapa?” “Karena aku ingin. Sekalian kita bisa membahas dana yang akan kita salurkan. Mereka mungkin sudah ada disana sekarang.” “Tiba-tiba?” “Tidak Ghibran, mereka memang sering berkumpul disana. Rabiah sering melakukan pertemuan di rumah, karena dekat dengan kampus dan dia dekat dengan Sofiyah.” Masuk akal, batin Ghibran sebelum memutar arah mobilnya. “Kau jatuh cinta.” Kalimat sederhana Alzam hampir saja membuat Ghibran kehilangan konsentrasi. Dia menatap Alzam dengan mata membelalak, sementara Alzam tersenyum lebar sebagai balasannya. Jatuh cinta? "Hanya itu alasan masuk akal atas senyum yang tidak pernah meninggalkan wajahmu itu." *** Alzam dan Ghibran turun dari mobil saat mereka sampai di tempat tujuan. Pandangan Ghibran seketika terpaku pada wajah Rabiah. Gadis itu sedang sibuk bermain dengan si kecil Hasan. Senyum kembali mengembang di sudut bibirnya. Gadis itu terlihat luar biasa nyaman saat bercengkrama dengan balita yang sekarang mulai merengek karena Rabiah menciumi wajahnya yang bulat. “Kenapa tertawa?” Pertanyaan Alzam seketika menariknya dari kegiatan diam-diamnya. Ghibran menggeleng sebagai jawabannya, dan berjalan mendahului Alzam, takut laki-laki itu akan merongrongnya dengan pertanyaan menyelidik. Biarlah senyum Rabiah saat menggendong Hasan menjadi rahasia kecilnya. Alzam mengecup puncak kepala istrinya saat mereka sudah berhadapan, membuat beberapa orang yang melihatnya memalingkan pandangan. Ini dua orang, mesra-mesraan tidak melihat keadaan, mungkin itu yang difikirkan teman-temannya yang jofisa(jomblo fii sabilillah) saat ini. “Bisa kita mulai?” ujar Ghibran membuka suara. Rabiah sekilas menatap Ghibran yang duduk disudut ruangan, tepat di samping Alzam. Dia sendiri duduk di apit Sofiyah, Aleesha, disamping kiri kanannya. “Bisa. Apa ada perkembangan baru?” Ghibran mengangguk. “Ada dua donatur baru lagi yang bergabung. Aku sudah mengumpulkan total dana yang terkumpul. Sekarang bagaimana kita akan menyalurkannya? Terjun langsung?” “Itu ide yang bagus, tapi untuk sekarang aku fikir cara terbaik adalah dengan menyalurkannya pada organisasi kemanusiaan yang sudah ada disana. Jika mereka amanah, kita bisa menyerahkan semuanya pada mereka. Bagaimana?” Rabiah menunduk untuk menyembunyikan kekecewaannya. Sudah sejak lama dia ingin mengunjungi tanah yang diberkahi itu. Melihat bagaimana kehidupan saudara-saudaranya disana, dan terjun langsung dalam memberikan bantuan yang bisa dia berikan bahkan jika hanya seulas senyum menguatkan. Mungkin sekarang belum waktunya, batinnya menghibur dan kembali mendongak, tepat saat itu Ghibran juga menatap kearahnya. Cess Pandangan keduanya bertemu, hanya beberapa detik, karena Rabiah segera membuang pandangan kearah lain. Mereka kembali berdiskusi hangat mengenai program bantuan yang akan di berikan pada Negara yang mengalami konflik karena perang tak berkesudahan. Ghibran tidak bisa menahan senyumnya saat semburat kemerahan perlahan menjalar di wajah putih Rabiah. Kenapa hatinya menghangat melihat ekspresi malu-malu Rabiah? Ghibran mengerjap, berusaha menepis fikirannya yang mulai melantur dan kembali fokus pada pembahasan mereka. *** “Uncle Ghibran!” Seru dua bocah berusia enam tahun menghambur ke pelukan Ghibran begitu sosoknya muncul didepan pintu rumah mereka. Keduanya segera mengalungkan tangan di leher laki-laki dengan senyum merekah itu saat tubuh tingginya menunduk. “Hallo, keponakan-keponakan Uncle yang cantik dan tampan.” Balas Ghibran sambil tertawa, membawa keduanya di lengan kekarnya. “Apa kalian sudah makan?” kedua bocah yang sekarang berada dalam gendongan Ghibran menganggguk, membuat Ghibran yang melihatnya pura-pura terlihat kecewa. “Kalian curang, tidak mau menunggu, Uncle.” “Uncle Ghibran lama, Almeera sama Aahil kan kelaparan.” Balas Aahil dengan bibir mengerucut yang terlihat lucu. “Benarkah?” “Betul. Uncle sekarang jarang main ke rumah.” Almeera yang menjawab. Dia merajuk. Ghibran yang melihatnya hanya bisa tertawa, gemas dengan tingkah kedua keponakannya. “Apa pekerjaanmu sudah selesai?” Ghibran menoleh pada Aira, yang datang dengan nampan di kedua tangannya. Bau masakan seketika menggoda aroma penciumannya. “Sudah. Apa hanya kalian bertiga yang ada disini? Farhan dimana?” “Sibuk.” Balas Aira pendek. “’Bagaimana? Apa kamu sudah berhasil menemukan guru untuk Almeera dan Aahil?” tanyanya langsung saat tangannya sibuk menata makanan diatas meja. Ghibran melepaskan kedua keponakannya sebelum menghampiri adiknya. “Sudah.” “Perempuan? Laki-laki?” “Perempuan.” “Namanya?” “Rabiah Qulaibah Nazifhah.” Aira menatap Ghibran penuh selidik. “Kenapa wajahmu seperti itu?” tanya Aira penasaran melihat perubahan wajah Ghibran saat menyebut nama orang yang akan mengajar anak-anaknya. Ghibran dan Aira saudara kembar, hanya selisih lima menit, membuat mereka terbiasa memanggil dengan nama masing-masing. “Bukan apa-apa.” kilahnya. “Apa dia cantik?” selidik Aira tidak menyerah. Ghibran tertawa. “Apa maksud pertanyaan itu?” “Karena aku tidak pernah melihat wajahmu seperti itu saat menyebut nama wanita. Dia pasti orang yang spesial.” Ghibran hanya mengangkat bahu sebagai balasannya, membuat Aira mendengus. “Apa dia sudah menikah?” Pertanyaan yang membuat mata Ghibran membulat sempurna. “Bukan seperti itu.” “Lalu apa masalahnya?” Wajah Ghibran mengeruh. “Karena aku dan dia berbeda.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD