Keyakinan Hati

1428 Words
Tangannya lincah menulis dan mencoret-coret kertas di meja belajarnya. Sesekali buku tebal yang berada dipangkuan beralih tempat saat dia mengangkatnya. Udara dingin yang menusuk sama sekali tidak menyurutkan niatnya untuk terus menulis. Pukul dua belas malam. Dan dia masih berkutat dengan laptop dan juga buku belajarnya yang berserakan. Hembusan angin malam sesekali membuatnya mengigil, meski pemanas ruangan telah dinyalakan. Rabiah terpaksa begadang malam ini, karena dia memiliki kegiatan yang padat besok dan untuk mengejar ketinggalan dia harus menyiapkan materi pertanyaan sebelum kembali melakukan penelitian di perpustakaan. Ketukan di pintu kamar memecah konsentrasinya. Rabiah memandang jam di dinding kamarnya. Siapa yang belum tidur jam segini? Biasanya kedua sahabatnya itu sudah terlelap saat jarum jam menunjuk angka sepuluh, kecuali jika mereka memiliki tugas mendesak yang meminta segera diselesaikan. Rabiah bergegas membuka pintu kamarnya. “Aliyah?” sahutnya heran, membuka pintu kamarnya lebih lebar, membiarkan Aliyah masuk. “Apa kamu butuh sesuatu?” dia duduk menatap Aliyah yang terlihat gelisah. Ada apa? “Ada apa Aliyah?” lanjutnya saat melihat gadis itu hanya membisu, membuat tingkat kecemasannya meningkat. “’Kak….” “Ya?” balasnya lembut. Aliyah dengan bibir gemetar membuka suara. “Sepertinya bulan ini uang kontrakan Aliyah nunggak. Ayah di kampung masuk rumah sakit dan butuh biaya besar untuk melakukan operasi.” “Innalillah,” balas Rabiah terkejut. “Bagaimana keadaan Paman sekarang?” Aliyah menggeleng, kesedihan dari wajahnya terlihat jelas. Dia pasti ketakutan. Sendirian di negeri orang dan sekarang mendapat kabar yang membuat kecemasannya meningkat. Rabiah mendesah, memegang erat tangan Aliyah, mencoba menguatkannya. “Tidak usah fikirkan biaya kontrakan, kita pasti bisa mengatasinya, inshaAllah. Tapi yang lebih penting kamu harus kuat dan tetap berdoa. Yakin bahwa semua akan baik-baik saja.” ujarnya mencoba menenangkan. Selama ini Aliyah-adik kelasnya, selalu terlihat ceria. Dia-lah diantara mereka bertiga orang yang paling aktif dan sering mengeluarkan candaan, membuat Apartemen ini lebih hidup. Melihatnya seperti ini, sedih dan ketakutan, membuat hatinya merasa prihatin. Rabiah Mendekat dan memeluk adik tingkatnya. “Jangan takut. Kami, kakak dan juga Kak Aleesha akan membantu sebisa mungkin untuk bisa mengatasi semuanya. Kamu harus kuat. Ada amanah yang harus kamu jalankan disini. Belajar. Jangan biarkan kesedihan ini menyurutkan semangatmu.” ujarnya menguatkan. Isak tangis Aliyah seketika pecah, membuat Rabiah yang mendengarnya menjadi sesak. Dia pernah mengalami hal yang sama. Mendengar kabar kalau salah satu orang yang dia cintai sedang diuji dengan rasa sakit, sementara dia ribuan kiometer jauhnya, sungguh bisa mendatangkan berbagai pemikiran buruk padanya kala itu. Dia bertahan, karena percaya Allah sebaik-baik tempat bergantung. Tidak mudah hidup di negara orang dengan keterbatasan akses seperti ini—karena kedua orang tuanya tinggal di kampung pedalaman, tapi dia tidak ingin menyerah dengan keadaan. Banyak pengorbanan dan perjuangan yang mengiringi langkahnya, di samping itu ada amanah kedua orang tuanya yang mempercayakan dirinya untuk menimba ilmu disini. Rabiah mengelus-elus puncak kepala Aliyah, mencoba menenangkannya. Masalah ini harus dibicarakan dengan Aleesha. Mereka bukan hanya orang yang bertemu karena keadaan, sekarang disini, di perantauan ini, mereka adalah keluarga. Masalah satu orang di rumah ini adalah masalah bersama. La haula wala quwwata illa billahil aliyil adzim. ***** Rabiah terpaku menatap uang yang ada di ATM-nya. Ini mungkin cukup untuk membayar uang kontrakan mereka, tapi bagaimana dengan pengeluaran yang lainnya? Listrik, air, pemanas, dan belum lagi uang kuliah dan ujian yang sebentar lagi harus dia kumpulkan. Rabiah mendesah, mencoba berfikir positif. Pasti ada jalan. Selalu. Matanya menyipit saat melihat sosok yang terasa familiar. Bukankah dia mas Ghibran? Apa yang dia lakukan di sini? Lingkungan kampus sekarang mulai ramai meski jam baru menunjukkan pukul tujuh pagi. Aktifitas kampus ini memang dimulai pukul delapan tiga puluh, tapi ada beberapa orang yang memutuskan datang lebih awal sekedar untuk menikmati sarapan murah yang ditawarkan kantin kampus ataupun untuk menikmati pemandangan indah di pagi hari. Saat sinar keemasan perlahan mulai menunjukkan digdayanya dan membalut langit Mu’tah dengan keindahannya. Rabiah cepat-cepat memasukkan dompet kecilnya kedalam ransel, mencoba menghindar dari Ghibran. Dia tidak tahu apa yang membuat laki-laki itu berada disini sepagi ini. “Rabiah?” Rabiah baru berjalan beberapa langkah saat dia mendengar sapaan dari suara berat dan serak yang berasal dari belakangnya. “Mas Ghibran.” sahutnya canggung. Mereka berdiri dengan jarak beberapa langkah. Meski sekarang mereka tidak berduaan, karena beberapa mahasiswa terlihat berjalan diseputaran kampus, tetap saja ini membuatnya tidak nyaman. Mereka bukan mahram, dan demi menjaga hati dia lebih suka jika mereka menjauh. “Apa yang kamu lakukan disini, sepagi ini?” Sebenarnya ini pertanyaan basa-basi, karena tidak ada yang aneh datang sepagi ini ke kampus, tapi Rabiah tahu Mas Ghibran hanya mencoba membuka pembicaraan. “Ada yang harus di urus tadi, Mas.” Balasnya singkat. “Apa kamu sudah sarapan?” Rabiah menggeleng. Dia memang sengaja tidak sarapan, karena rencana awal hanya sebentar berada disini. “Belum Mas.” Jawabnya pelan. “Bagaimana kalau kita sarapan bersama? Kebetulan aku mau minta tolong jika kamu tidak keberatan? Hanya sebentar.” Tambah Ghibran cepat saat melihat keraguan Rabiah. Rabiah tampak berfikir. “Baiklah, tapi izinkan Rabiah sholat sebentar.” Pinta Rabiah, takut waktu berlalu dan dia lalai. “Silahkan, aku tunggu di kantin…” Ghibran kehilangan kata-kata. Dia tidak tahu Rabiah Fakultas apa. Jika dia membawanya ke kantin anak kedokteran mungkin akan membuat gadis itu tidak nyaman? “Kantin dekat masjid saja Mas.” Sambung Rabiah. Lebih aman untuk mereka berdua, karena pasti lebih terjaga jika disana. “Oke, aku tunggu disana kalau begitu.” Rabiah mengangguk sebelum melajukan langkah menuju mesjid kampus dengan kubah berwarna biru itu. Rabiah mulai mengambil wudhu sholat empat rokaaat sebelum kemudian memanjatkan doa. “Rabbi, penggenggam jiwa setiap makhluk, tempat sebaik-baik meminta pertolongan. PadaMu kusandarkan segala gundah, kupasrahkan segala urusan. Engkaulah penggenggam takdir terbaik hambaMu. Mudahkanlah urusan Hamba Ya Rabb, berikan jalan untuk setiap kesulitan yang datang, dan semoga hati senantiasa bersabar atas ujian yang menerpa. Kugantungkan harapanku padaMu Ya Allah, karena aku tahu aku tidak pernah kecewa dalam meminta kepadaMu. Rabbana atinaa fiddunya hasanah wafil akhoroti hasanatawwaqina azdabannar.” Tutupnya menyelesaikan munajatNya dengan hati yang lebih tenang dan damai. *** Rabiah yang sudah sampai di kantin, mengedarkan pandangan, mencari sosok yang mungkin menunggunya di tempat ini. Dia tercenung saat melihat Ghibran masih duduk tanpa memesan apapun. Apa laki-laki itu menunggunya? Rabiah berjalan pelan, menghampiri laki-laki yang sibuk mengedarkan pandangan, seolah kantin ini tempat yang menarik. “Maaf, membuat Mas Ghibran menunggu lama.” Gumamnya menyesal, begitu tiba di meja tempat Ghibran menunggunya. Ghibran tersenyum. “Tidak masalah. Kamu mau pesan apa?” ujarnya setelah melihat Rabiah mengambil tempat duduk didepannya. Ada banyak mahasiswa yang sudah berdatangan. Membuat suasana mendadak ramai. Saat rabiah menyebutkan pesanannya, laki-laki itu malah berdiri, membuatnya heran. “Biar aku yang ambil. Kamu lihat? Ada cukup banyak orang di jam seperti ini.” Gumamnya menjawab pertanyaan tak terucap Rabiah. Laki-laki itu melenggang pergi menembus keramaian untuk mengambilkan makanan yang mereka pesan. “Silahkan.” Seru Ghibran meletakkan pesanan di atas meja mereka beberapa saat kemudian. Rabiah tersenyum, menerima makanannya. Ghibran yang melihatnya tidak bisa menahan senyumnya. Gadis ini pemalu. Terlihat dari bahasa tubuhnya. Padahal kantin ini cukup ramai atau ini yang membuatnya tidak nyaman? Ghibran menggeleng. Anak rohis seperti Rabiah pastilah tidak asing dengan suasana ramai seperti ini. Mereka makan dalam hening. Hanya ada suara sendok yang beradu dengan garpu yang mengisi keheningan diantara mereka. “Mas, mau minta tolong apa?” Rabiah membuka suara saat mereka sudah menyelesaikan sarapan. “Apa kamu bisa mengajar anak-anak?” Pertanyaan yang mengundang kebingungan pada Rabiah. “Kenapa Mas?” tanyanya balik. “Keponakanku, dua orang, usia mereka enam tahun, ingin belajar mengaji. Kedua orang tuanya meminta bantuanku untuk mencari guru mengaji bagi mereka berdua.” “Kenapa bukan Mas Ghibran yang mengajarinya?” celutuknya tanpa bisa menahan diri. Ghibran tersenyum. “Aku tidak bisa.” Profesi dokter yang digelutinya pastilah menyita banyak waktu, fikir Rabiah. “Dan kedua orang tuanya?” Ghibran memalingkan pandangan, membuat Rabiah merasa tidak enak. “Maaf, bukan bermaksud ikut campur, hanya saja, saat usia seperti itu, peran orang tua amat penting dalam proses tumbuh kembang mereka. Akan sangat bagus jika Ibunya yang pertama kali mengajari mereka.” Balasnya tidak enak hati. “Aku tahu, tapi ibunya tidak bisa. Bagaimana? Apa kamu bisa melakukannya?” tanya Ghibran penuh harap. Rabiah membisu. Apa dia terima saja? Mungkin pekerjaan ini bisa membantu keuangannya yang sedang menipis? “Kenapa aku, mas?” tanya Rabiah kemudian. Mereka bahkan baru bertemu beberapa kali dan itu bisa di hitung jari. Apa yang membuat laki-laki ini mempercayakan kedua keponakannya padanya? “Insting.” Tukas Ghibran. Insting? “Aku percaya, kamu orang yang tepat untuk ini Rabiah. Aku yakin, bahkan sejak pertama melihatmu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD