Rabiah sedang bermain dengan si kecil Hasan saat dilihatnya Kak Sofiya-Ibunya Hasan datang menghampiri mereka. Seulas senyum tergambar di wajah Rabiah begitu melihat wanita itu datang dengan kantong makanan. Kak Sofia selalu suka membawa makanan saat dia melakukan perjalanan, dan dia kelaparan.
“Apa Hasan rewel? Maaf ya, kakak lama. Mas Alzam tadi harus ke kampus dulu,” terangnya. Suaminya yang berprofesi sebagai asdos dan juga mahasiswa paskasarjana di kampus Mu’tah terkadang memang suka menghabiskan waktunya seharian disana. Seperti saat ini, mereka berangkat berdua, tapi akhirnya dia pulang sendirian.
Rabiah tersenyum, memeluk Hasan kecil dalam lengannya.
“Rabiah baik-baik saja Kak. Bagaimana perjalanannya?”
Sofia meletakkan kantong plastik berwarna putih di hadapan Rabiah.
“Ini kakak bawa oleh-oleh dari Amman.”
“Itu apa?”
“Falafel,”
Alhamdulillah. Kebetulan dia lapar belum makan dari tadi karena Hasan tidak bisa di lepaskan barang sekejap atau balita ini akan menangis.
“Kebetulan Rabiah lapar,” ucapnya jujur, mengintip kantong yang diserahkan padanya.
“Pasti kamu gak sempat makan ya? Maaf ya, kalau tidak mendesak kakak pasti akan membawa Hasan ke Amman bersama Mas Alzam, tapi kamu tahu sendiri, pekerjaan ini membutuhkan proses panjang dan ribet.”
“Rabiah memakluminya kak, dan Rabiah senang bisa menjaga si kecil Hasan. Semakin hari dia semakin menggemaskan.” seru Rabiah mencubit pipi tembem Hasan dengan lembut, membuat balita itu menjauhkan pipinya seketika. Rabiah yang melihatnya tidak bisa menahan tawanya, dan ini tidak luput dari pandangan Sofia.
“Hayoo, udah cocok nimang bayi kamu, Biah.” Goda Sofia melirik Rabiah yang sedang berusaha menenangkan Hasan yang meronta-ronta minta dilepaskan. Kedua tangan balita itu terjulur pada uminya yang masih sibuk membuka kantong belanjaannya.
Rabiah hanya mengulum senyum. “Kapan proses nazhor nya kak?” tanya Rabiah berdiri mendekati Sofia yang tangannya sekarang cekatan memasukkan bahan makanan dan juga buah-buahan segar ke dalam kulkas.
“Nanti ba’da ashar. Kamu juga datang ya, biar Aleesha ada teman yang mendampingi. Dia pasti gugup.”
“Insha Allah.” Balas Rabiah sebelum menyerahkan si kecil Hasan yang mulai rewel pada uminya.
“Orang tua Aleesha kapan datang kak?”
“Sepertinya nanti seminggu sebelum akad. Rencananya mereka akan menginap di rumah ini, sementara sepupu kakak akan menginap di rumah orang tua mas Alzam.”
Kepalanya kembali tertunduk, tidak memperhatikan saat Sofia menatapnya lekat. Ada ucapan tak tersirat yang terlihat di kedua bola matanya, sayangnya Rabiah sedang sibuk mengunyah makanannya hingga tidak memperhatikan sekitarnya.
“Kau tahu Biah. Orang yang mendapatkanmu benar-benar laki-laki yang beruntung.”
Rabiah yang sedang mengunyah makanannya berhenti dan menatap Sofiya.
“Maksudnya kak?”
Sofia menggeleng. “Bukan apa-apa. Semoga secepatnya kamu bertemu dengan pendamping hidup terbaik yang Allah siapkan. “
“Aamin yaa robbal’alamiin.” Balas Rabiah mengaminkan. Dia tidak terlalu menargetkan kapan menikah. Sekarang fokusnya hanya ingin kuliah dan belajar sebanyak mungkin, tapi do’a yang baik tidak boleh diabaikan. Allah yang tahu kapan waktu yang tepat untuk mengabulkan doa hambanya.
****
Ada sekitar tujuh orang yang sekarang duduk dilantai yang dilapisi karpet cokelat tua. Suasana terasa begitu sakral dan juga menyenangkan, meski Rabiah yakin ada yang gugup sekarang. Rabiah mengulum senyum melihat Aleesha yang terlihat cantik dengan abaya birunya, duduk dengan pandangan menunduk disampingnya. Hari ini adalah saat dimana pihak laki-laki dan perempuan bertemu untuk saling melihat. Nazhor diperbolehkan dalam islam dengan tujuan menimbulkan keinginan atau menambah keyakinan untuk melanjutkan dalam tahap selanjutnya. Nazhor hanya boleh dilakukan jika pihak laki-laki berkeyakinan kuat kalau lamarannya diterima.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” seorang laki-laki bersorban, berambut putih dengan janggut tipis membuka suara saat semua orang yang ada diruangan duduk dengan tenang.
Balasan salam terdengar dari setiap bibir yang hadir.
“Alhamdulliah, hari ini kita semua berkumpul di tempat yang inshaAllah penuh kebaikan ini untuk melanjutkan iktikad baik dari saudara Zayyan Bilal Albirru yang ingin mengutarakan maksud baiknya dengan mengkhitbah saudara Aleesha Khumairah. Nazhor dalam islam diperbolehkan, sebagaimana sabda Baginda Nabi ketika Al-Mughirah bin Syu’bah melamar seorang perempuan. Lihatlah dia! Sebab dengan itu—kemungkinan besar—kamu berdua akan dapat hidup bersama selamanya.”
“Pada hadist tersebut, Baginda Nabi memerintahkan Al-Mughirah bin Syu’bah agar melihat perempuan yang hendak ia lamar. Hal ini dimaksukan agar ia lebih mengetahui aspek fisik yang menjadikan cinta mereka berdua nantinya bisa berlangsung lama. Diantara aspek tersebut ialah kecantikan wajah, kesempurnaan anggota tubuh, warna kulit dan lain-lain.”
Rabiah mengintip lewat ekor matanya saat Aleesha menyapu sudut matanya. Sungguh, saat seseorang mendengarkan nasihat yang menyejukkan kalbu, itu bisa membuat hati siapapun menangis. Betapa islam memuliakan perempuan hingga mengatur sedemikian indah bagaimana tahapan dalam proses khitbah.
Semua mendengarkan dengan khidmat nasehat yang dituturkan dengan begitu lembut dan pelan salah satu guru Kak Alzam yang padanya dia sering meminta nasehat. Rabiah menghembuskan napas pelan, suasana ini berhasil membuat hatinya menghangat sekaligus diliputi rasa iri. Astagfirullah, batinnya saat sadar dia sudah terbuai dengan bisikan syetan. Jodoh tidak akan pernah salah jalan. Allah sebaik-baik pengharapan. Seharusnya dia ingat hal itu.
Astaghfirullahhaladzim, Astaghfirullahhaladzim
Selanjutnya, setelah acara selesai, semua orang yang duduk bercengkrama dan mengobrol santai tentang berbagai hal. Rabiah mencomot satu butir kurma dan mengunyahnya dengan perlahan.
“Ekhmmm, ciee yang bentar lagi mau nikah,” kembali Aliyah melemparkan godaannya pada Aleesha. Rabiah tersenyum saat Aliyah mengedipkan mata kearahnya. Isyarat untuk ikut menggoda Aleesha.
“Huss,” bisik Aleesha malu-malu.
“Kak Biah, muka Kak Aleesha blushing banget deh. Gak kebayang gimana nanti kalau udah sah pasti…, auuuu,” pekiknya mengaduh saat sebuah cubitan mendarat di pinggangnya. Tidak ada yang memperhatikan mereka, karena kak Alzam, kak Sofiya dan juga yang lainnya tengah sibuk berdiskusi.
“Makanya jangan suka iseng.”
Aliyah masih tampak meringis. “Lah, itukan udah jadi hukum alam. Calon pengantin menjadi target buliyyan yang menyenangkan untuk di goda,” Aliyah sumringah saat mengatakannya. Pandangannya kembali terarah pada Aleesha yang sejak tadi memilih untuk tidak mengubris godaan Aliyah. Dia tahu, adik satu rumah mereka ini memang tergolong suka usil. Anaknya aktif dan mudah tertawa.
“Ngomong-ngoong calon imam kakak ganteng loh. Aku baru lihat sekilas wuihh,” dengan semangat dia mengacungkan dua jempolnya berhasil membuat dua kakak satu kamarnya tertawa.
“Kakak juga bisa kenalin kamu sama yang lebih ganteng dari Mas Zayyan loh.”
“Ettsss, jangan dulu. Aliyah masih anak manis yang butuh buanyak belajar Kak. Nikahnya nanti deh, kalau udah lulus.”
Rabiah baru akan membuka suara saat melihat seseorang datang dengan setelah jasnya. Mas Ghibran? Apa yang dilakukan laki-laki ini disini? Apa kak Alzam yang mengundangnya?
Ghibran terlihat bertegur sapa bersama dengan Alzam dan beberapa orang lainnya, sebelum memilih duduk di samping suami Kak Sofiya. Sekilas, pandangan keduanya bertemu membuat Rabiah seketika menundukkan pandangan.
“Dia siapa?’ Aliyah bertanya melihat kedatangan Ghibran.
“Eh, bukannya dia laki-laki yang memberikan payungnya padamu?” lirih Aleesha menatap Rabiah terkejut.
Rabiah mengangguk.
“Apa yang dia lakukan disini?”
“Kak Alzam dan Mas Ghibran berteman. Dia donatur baru yang waktu itu kita tunggu.” jelas Rabiah menjawab kebingungan Aleesha.
Pernyataan Rabiah semakin membuat kening Aleesha mengerut.
“Darimana kau tahu?”
Deg
Rabiah belum pernah menceritakan pertemuannya dengan mas Ghibran dirumah Sarah.
“Biah…”
Jika Aleesha memanggilnya dengan nada seperti itu, maka pilihan yang dia miliki sekarang hanya satu-menceritakannya.
“Kami pernah bertemu.”
“Kapan?”
“Waktu aku lagi belanja di pasar tradisional untuk membeli stok makanan kita.” Balasnya pendek Dan mengalirlah cerita tentang pertemuan dan juga percakapan singkat yang pernah terjadi diantara mereka.
“Padahal waktu itu kita yakin kalau tidak akan pernah bertemu dengan laki-laki itu lagi.”
Rabiah tersenyum. Dia juga tidak menyangka akan bertemu lagi dengan laki-laki yang pernah memberikan payung cokelat padanya. Keyakinan yang langsung Allah jawab.