Berita Bahagia

1494 Words
Rabiah membaca buku tebal di tangannya penuh konsentrasi. Kipas dinding yang diletakkan tepat diatasnya menjadi penyejuk saat panas melanda ruangannya. Matanya sibuk membaca baris demi baris kalimat yang tertulis di buku tebalnya.Universitas Mu’tah tidak mengenal skripsi sebagai syarat kelulusan. Disini, jika ingin menyelesaikan pendidikan maka mahasisiwa akan mengikuti syamil atau ujian untuk bisa mendapat kata ‘LULUS’. Syarat untuk mengikuti ujian adalah mengumpulkan nilai standar yang di tetapkan kampus. Bagaimana jika nilai yang diinginkan kurang? Maka mahasiswa harus mengulang mata kuliah yang nilainya kurang sampai mencapai nilai standar yang ditentukan. Samar telinganya mendengar pintu apartemen yang dibuka. Jam sudah menunjukkan pukul tiga siang. Rabiah menengadah untuk melihat siapa yang telah pulang lebih dulu dari kampus. “Hai Aliyah. Bagaimana dengan kuliahmu?” sapanya, menghentikan sejenak aktifitas membacanya saat melihat Aliyah berjalan lengkap dengan abaya dan juga buku besar di tangan melintas didepan kamarnya yang tidak di tutup. “Alhamdulillah. Aliyah memutuskan untuk mengikuti jejak Kakak. Menggabungkan mata kuliah yang sulit dengan yang mudah, untuk mencegah kejatuhan nilai. Aliyah juga ingin bisa secepatnya menyelesaikan kuliah disini,” “Tidak usah buru-buru. Segala sesuatunya memiliki waktunya masing-masing. Selama kita sudah berusaha maksimal semua akan berjalan dengan baik. Apa Aleesha belum pulang?” Aliyah menggeleng. “Belum kak, Kak Aleesha sepertinya masih puya urusan,” “Apa dia memberi kabar?” Aliyah menggeleng. Rabiah menghentikan aktifitasnya, menatap keluar lewat jendela kamarnya. Ini tidak biasanya. Sahabatnya itu biasanya selalu menghubungi salah satu dari mereka jika pulang terlambat. Ini salah satu peraturan yang mereka buat guna mencegah terjadinya komunikasi satu arah. Agar tidak ada yang kehilangan dan meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan. Alunan lembut suara penyanyi cilik asal Lebanon yang diputar lewat smartphonenya berhasil mencuri fokus Rabiah. Lagu dengan judul Atouna El Toufole yang berarti ‘beri kami masa kecil’ ini menceritakan bagaimana perang berhasil merampas masa kecil mereka, anak-anak yang berada di wilayah konflik atau zona perang. Lagu ini sedikitnya menceritakan bagaimana penderitaan anak-anak yang tidak bisa merasakan kebebasan di negaranya sendiri akibat perang yang berkecamuk. Perang berhasil merampas masa kecil mereka, membuat mereka kehilangan banyak hal saat seharusnya mereka sedang sibuk bermain bersama dan belajar merangkai mimpi. Rabiah bersyukur lahir di negara dimana dia bisa menjalankan perintah agamanya tanpa merasa takut seseorang atau sekelompok orang tiba-tiba menodongkan senjata padanya atau yang lebih parah meluncurkan bom saat dia dan saudaranya yang lain tengah beribadah dengan khusyuk. Dia tidak bisa membayangkan, bagaimana jika seandainya dia tinggal di wilayah dengan konflik yang tidak berkesudahan seperti yang dialami saudaranya yang di Palestina atau Suriah? “Assalamu’alaikum,” Seruan dari pintu apartemen mereka menyentak Rabiah dari lamunannya, ia buru-buru menyapu sudut matanya. Aleesha terkadang suka mengejeknya sebagai orang yang cengeng hanya karena dia menangis saat mendengarkan sebuah lagu. “Wa’alaikumussaam warohmatulloh,” sahutnya dan berjalan keluar. Bersiap menginterogasi Aleesha. “MashaAllah cuaca diluar benar-benar membakar.” kata Aleesha begitu dia meletakkan sepatunya di rak dekat pintu masuk. “Apa kau sudah makan?” tanya Rabiah, sementara Aliyah yang sibuk memasak didapur menoleh sebentar sebelum melanjutkan kembali aktifitas memasaknya. Aleesha tersenyum lebar, membuat Rabiah sadar kalau sesuatu sedang terjadi. “Apa yang membuatmu tersenyum lebar seperti itu jika cuaca diluar seharusnya membuat siapapun kepayahan?” kedua alisnya terangkat, bersiap mengeluarkan rentetan pertanyaan. Bukannya membalas, Aleesha justru mengangkat kedua sudut mulutnya semakin tinggi. “Aku punya kabar gembira,” ujarnya semangat dengan mata berbinar. Dia terlihat tidak sabar, dan ini tidak luput dari perhatian Rabiah. Apa yang membuat sahabatnya ini begitu bersemangat? “Apa?” Aleesha membuang nafas, dan memejamkan mata sebelum mengatakan apapun yang ingin dia katakan. “Aku di khitbah!” pekiknya riang berhasil membuat mata Rabiah melebar, sementara Aliyah yang sedang memasak segera mematikan kompornya dan bergegas menuju ruang tengah mereka. Ini berita mengejutkan. Tidak. Ini berita heboh, dan dia tidak boleh melewatkannya. Rabiah menghambur dan memeluk Aleesha erat setelah pulih dari rasa terkejutnya “Alhamdulillah. MashaAllah. Barakallah sahabatku Aleesha,” gumam Rabiah dengan bibir gemetar sementara matanya sudah berkaca-kaca. “Ikuut,” seru Aliyah dan ikut mengalungkan diri pada Rabiah dan Aleesha. Mereka bertiga akhirnya berpelukan penuh rasa syukur dan juga bahagia. Sejenak suasana menjadi penuh haru, Rabiah bahkan merasa matanya memanas. Dia melepas pelukannya dan menatap Aleesha dengan menyipit. “Bagaimana bisa tiba-tiba seperti ini?” seingatnya Aleesha tidak pernah bercerita tentang laki-laki yang mengajaknya ta’aruf, namun sekarang dia justru menerima kabar kalau Aleesha di khitbah. Apa dia melewatkan sesuatu? Aleesha menunduk malu-malu. “Sebenarnya ini tidak buru-buru. Kami sudah melakukan ta’aruf satu bulan terakhir dan Alhamdulillah Allah mudahkan semuanya hingga kami setuju untuk melangkah ke tahap selanjutnya,” “Dan kau tidak menceritakannya pada kami?” gumam Rabiah terluka. Aleesha buru-buru melambaikan tangannya. “Bukan seperti itu Rabiah sayang. Awalnya aku tidak berniat melanjutkan hingga tahap akhir. Aku masih belum yakin dengan pernikahan saat sedang menyiapkan ujian, tapi kemudian jawaban kedua orang tuaku di kampung membuatku mantap menerima khitbahnya.” “Apa jawaban Bapak dan Ibu di kampung yang membuatmu yakin?” “Selalu libatkan Allah dalam setiap perjalananmu Nak, karena keputusan apapun yang akan kau ambil, selama ada Allah didalamnya, kau tidak akan pernah kecewa dan menyesal.” Gumam Aleesha menirukan kata-kata uminya. “Aku melakukan sholat istikharah, meminta petunjukNya, dan inilah yang terjadi,” lanjut Aleesha menjelaskan panjang lebar. Rabiah tersenyum, ikut bahagia mendengar kalimat sahabatnya. Inikah alasan kenapa beberapa hari terakhir ini sahabatnya selalu membahas pernikahan? “Apa dia sudah sesuai dengan kriteriamu?” tanya Rabiah iseng. Menetapkan kriteria dalam mencari pasangan tentu saja di bolehkan, selama yang menjadi dasar utama kita adalah agama dan kesolehannya. Rabiah jadi ingat nasehat salah satu gurunya. Jika ingin mencari pasangan maka pastikan kalian melihat bagaimana agamanya dan ketakwaannya pada Allah swt. Seseorang yang paham agama pasti tahu bagaimana memperlakukan wanita dengan baik. Sangat manusiawi memang jika seseorang memilih pasangan karena fisiknya terlebih dahulu, karena pada dasarnya manusia menyukai keindahan. Meski demikian, tolak ukur dalam memilih pasangan harusnya adalah agama, karena tujuan menikah adalah untuk menyempurnakan separuh agama. Jika pasangan kita justru membuat kita menjauh dari Allah, maka tidak akan ada keberkahan dalam pernikahan yang akan kita lalui. Menikah juga ibadah, dimana prakteknya membutuhkan proses belajar dan juga kesabaran seumur hidup. “Dia laki-laki yang bisa menjaga pandangan dan InshaAllah tahu agama,” “Alhamdulillah.” Sahut Rabiah lega. “Apa dia orang Indonesia?” Aliyah ikut nimbrung sementara ketiganya duduk di kursi sederhana di ruang tamu. Rabiah duduk di tengah dengan Aliyah dan Aleesha di sisi kiri dan kanannya. Aleesha mengangguk menanggapi pertanyaan Aliyah. Rabiah dan Aliyah bertukar pandang. “Mahasisiwa disini?” “Bukan. Dia sedang melakukan penelitian disini sekaligus mengunjungi saudaranya yang ada disini,” Rabiah mengerutkan kening. “Apa kami mengenalnya? Saudaranya itu?” Aleesha mengulum senyum sebelum menunduk dengan wajah malu. “Kak Sofiya,” balasnya pendek. Mata Rabiah melebar. “Kak Sofiya istrinya kak Alzam?” tanyanya memastikan. Aleesha lagi-lagi hanya menunduk meski wajahnya mulai memerah sekarang. Rabiah kembali memeluk Aleesha. Dia mengenal keluarga Kak Sofiya dengan baik. Ibunya si kecil Hasan itu adalah orang yang baik dan juga sholehah. Tutur katanya lemah lembut, dan sering menasehatinya tentang berbagai hal. “Sekarang aku yakin dengan pilihanmu. Mereka keluarga yang baik,” ucap Rabiah haru. Matanya lagi-lagi berkaca-kaca. Ah, dia mudah sekali menangis, tapi kali ini dia menangis bahagia, karena sahabatnya akhirnya akan menikah. “Kamu juga akan segera menemukan laki-laki yang baik Biah. Aku berdo’a untukmu.” Rabiah tersenyum lebar. “Bagaimana ceritanya kamu ta’aruf dengan saudaranya kak Sofiya?” Wajah Aleesha memerah, membuat Rabiah gemas melihatnya. “Cieee, yang malu. Bentar lagi ada yang punya misua nih,” goda Aliyah melihat sikap Aleesha. Sementara Aleesha yang digoda segera melayangkan tangannya pada Aliyah. “Auuu,” ringis Aliyah saat merasakan cubitan di pinggangnya, tidak begitu sakit, tapi lebih kepada membuatnya terkejut. “Makanya jangan suka iseng.” “Siapa yang iseng kakakkk. Kan benar, bentar lagi kakak bakal punya misua alias suami. Aduh, Aliyah gak bisa bayangin gimana pernikahan kakak nanti, pasti romantis. Bayangin aja nih ya. Jika sebelumnya tatap-tatapan aja gak dibolehin, tapi kalau udah nikah beeh, jangankan tatap-tatapan, pegangan tangan pun mendatangkan pahala yang bernilai kebaikan. Aliyah jadi iri deh,” Rabiah menggeleng melihat tingkah Aliyah. “Makanya nikah biar tahu gimana rasanya saat bermesraan namun mendatangkan pahala. Tidak ada lagi larangan saat ijab terucap. Yang sebelumnya haram menjadi ibadah yang mendatangkan pahala saat dua manusia disatukan dalam ikatan pernikahan. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” “Nah, kata-kata yang sama juga pas tuh buat Kak Rabiah,” Jleb Rabiah tidak menyangka jika kalimatnya justru membuatnya mati kutu. Rabiah melirik Aleesha yang berusaha menahan tawa mendengar ucapan adik tingkatnya itu. Menikah? Dia juga mau, masalahnya calonnya belum ada. Sejauh ini belum ada laki-laki yang cukup menarik untuknya. “Disuatu tempat, di belahan bumi Allah ini. Allah sudah menyiapkan seseorang untukmu, Biah. Percaya, dia akan datang diwaktu yang tepat.” Kalimat Aleesha membuat senyumnya mengembang. Aleesha selalu tahu bagaimana menenangkan kegundahan hatinya. Menikah? Dia percaya semua terjadi sebagaimana skenario Allah. Jodoh pasti akan menemukan jalannya jika memang sudah waktunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD