Ghibran meneliti satu persatu buku yang akan dia bawa, dan setelah memastikan semua sudah siap dan sesuai, dia memasukkannya ke tas ransel yang selalu dia bawa kemana-mana. Pandangannya menyusuri apartemen besarnya. Sunyi. Dia sebenarnya lebih suka berbagi tempat tinggal dengan mahasiswa lain, namun mengingat dia hanya sebentar di Mu’tah, Ghibran mengurungkan niatnya. Dia tidak ingin membuat susah orang yang tinggal dengannya dengan mencari teman satu rumah begitu dia pergi.
Ghibran mengambil ponselnya saat mendengar nada deringnya berbunyi.
“Halo, kenapa Alzam?” gumamnya melalui ujung telepon. Tangannya yang hendak mengambil air minum terhenti saat mendengar balasan dari seberang telepon.
“Kapan?” tanyanya memastikan.
“Aku tidak bisa Alzam. Bukan tidak mau. Itu berbeda. Kau tahukan? Aku hanya sebentar disini untuk melakukan penelitian sekaligus kunjungan.” Ghibran memejamkan mata, terlihat lelah dengan pembicaraan mereka. Di tahu, pada akhirnya dia akan kalah. Alzam sahabatnya selalu bisa menemukan cara untuk membujuknya.
“Hanya dua bulan?” tanyanya hanya untuk lebih memastikan.
“Baik. Akan aku lakukan. Apa kau puas sekarang?” dengusnya kesal meski senyum masih bermain di wajahnya. Ghibran mematikan sambungan telepon begitu pembicaraan mereka berakhir. Dia masih harus ke suatu tempat. Hari ini dia ada jadwal mengunjungi salah satu keluarga yang sejak kemarin membuatnya penasaran.
Sebagian besar keluarganya tinggal di kota ini, meskipun di Jepang dia juga memiliki keluarga. Ghibran memiliki darah Jepang, Arab dari ayahnya, dan Indonesia, dari ibunya, meski gen ditubuhnya lebih condong ke ayahnya. Dia menghabiskan masa kecil dan remajanya di Yordania tepatnya di Mu’tah sementara ke Jepang untuk melanjutkan kuliahnya. Indonesia? Dia belum pernah mengunjungi negara itu, karena sampai sekarang negara itu masih terasa asing baginya, dan yang lebih penting dia tidak punya alasan untuk mengunjungi negara beriklim tropis itu.
Ghibran menatap jam tangannya dan bergegas keluar apartemen. Udara panas langsung menyambutnya begitu keluar dari pintu. Apartemennya langsung terhubung dengan jalan besar, sehingga panorama kendaraan melintas adalah hal biasa yang menghiasi hari-harinya. Tangannya segera meraih payung dan memakainya. Senyumnya mengembang begitu teringat dengan insiden payung yang dia alami. Gadis pemalu itu lebih banyak menundukkan pandangan saat mereka berjumpa dan dia tidak tahu alasannya.
Ghibran menggeleng dan segera melajukan mobilnya. Gadis itu berhasil mencuri fokusnya saat dia memiliki begitu banyak aktifitas untuk dilakukan. Dia berusaha mengenyahkan bayangan Rabiah dari fikirannya. Dia dan gadis itu tidak akan pernah bertemu di jalan yang sama. Dia tahu itu bahkan sejak awal pertemuan mereka.
*****
“Kapan ujiannya dilakukan Rabiah?”
Rabiah menoleh menatap istri Syekh yang mengajar di kampusnya dengan penuh hormat. Saat ini mereka sedang berada di mesjid kampus yang bernama Al-Hussein, duduk setelah selesai menyelesaikan satu juz bacaan Alqur’annya. Istri Syekh yang bernama Ibu Halimah ini sedang menunggu suaminya menyelesaikan sholatnya. Mereka dekat, karena Rabiah sering meminta nasihat atau pendapat tentang suatu hal pada wanita dengan senyum menenangkan ini.
“Beberapa bulan lagi Umi. Rabiah harus memastikan nilai yang diinginkan kampus mencukupi untuk mengikuti ujian kelulusan.”
Wanita yang mengenakan abaya hitam dan jilbab senada itu tersenyum menatap Rabiah.
“Ibu ragu nilaimu kurang Nak. Kau anak yang cerdas dan ibu tahu hal itu. Andai Ibu punya anak laki-laki akan ibu jodohkan denganmu.”
Rabiah tertawa pelan, hanya membuka sedikit mulutnya tanpa mengeluarkan suara yang mengundang minat bukan mahramnya.
“Bagaimana kabar Aisyah, Bu?” Aisyah adalah nama putri Syekh yang mengajar di kampusnya, dan wanita yang duduk di hadapannya ini adalah istrinya. Aisyah seusia dengannya, namun gadis itu lebih memilih kuliah di Jordan University yang letaknya di Amman.
“Sebentar lagi dia ujian. Bagaimana? Ada niat untuk melanjutkan pendidikan disini? Atau mungkin kamu tertarik di UJ untuk magister?”
Rabiah terdiam. Kembali teringat dengan pesan uminya. Dia ingin melanjutkan kuliah setidaknya sampai S2 disini, tapi Umi keberatan dengan keinginannya.
“Rabiah rencananya mau pulang Bu, setelah menyelesaikan kuliah disini.” ujarnya dengan wajah keruh.
Wanita itu tersenyum, sepertinya memahami pergelutan Rabiah. “Kenapa? Ada yang mengganggumu?”
Rabiah menunduk berusaha menyembunyikan kegelisahannya.
“Umi meminta Rabiah untuk pulang, agar bisa mengajar di pondok. Umi melarang Rabiah melanjutkan studi disini Bu.” akhirnya dia bisa mengungkapkan kegelisahannya sejak beberapa hari terakhir.
“Bukankah kemuliaan ilmu terletak pada manfaatnya, Biah? Ilmu itu memanggil amal, jika ia memenuhi panggilan itu (maka itu baik). Namun jika tidak maka ia (ilmu) akan pergi. Kau harus ingat Nak, Ilmu yang kau dapatkan disini harus kau amalkan, jika tidak maka ia akan sia-sia. Dimanapun kamu berada, proses belajar dan menuntut ilmu tidak akan pernah hilang. Sama saja, di bumi manapun kau belajar keberkahan ilmu hanya terletak pada manfaat yang kau berikan. Jangan sampai hanya karena kau tidak menyukai sesuatu lantas membuat hatimu enggan untuk mempelajarinya.”
Nasehat yang didengarnya begitu menyejukkan hatinya. Matanya berkaca-kaca. Dia selalu suka ketika dinasehati. Ini berarti proses agar dia bisa menjadi orang yang lebih baik. Bersyukurlah jika ada yang menasehati kalian karena itu berarti dia menyayangi kalian. Itu yang selalu dia tanamkan ketika mendengar orang menasehatinya. Ini mengingatkannya agar selalu berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.
“Apa Rabiah sudah cukup baik untuk mengajar anak-anak Bu?”
“Kamu meragukan dirimu sendiri Rabiah?”
“Rabiah takut Bu….”
“Itu bagus Nak. Ketakutan membuat kita lebih berhati-hati, selama kau tidak ragu pada dirimu sendiri itu sudah cukup. Berpegang pada keyakinan akan menghilangkan keraguan. Teruslah belajar karena hidup adalah prsoses pembelajaran untuk perbaikan diri, dan jangan lupa selalu libatkan Allah dalam setiap langkah yang kita ambil.”
Rabiah mencium tangan wanita yang duduk berhadapan dengannya penuh takjim. Dia sering ke rumah keluarga yang selalu menyambutnya dengan tangan terbuka ini untuk mendapatkan satu dua nasehat yang bisa menyejukkan hatinya, kala dia diselimuti kegamangan. Seperti saat ini.
“Terima kasih Bu, untuk nasehat berharganya,” gumam Rabiah penuh syukur. Dia mendongak, menampilkan senyum lebar yang bisa menyejukkan hati siapapun yang melihatnya.
“Kau anak yang baik Nak. Ibu tahu itu dengan baik.” wanita Itu mengelus kepala Rabiah dan menciumnya dengan sayang. Rabiah salah satu murid suaminya yang berprestasi. Aktif dalam organisasi dan juga kegiatan sosial namun tidak menghalanginya dalam menuntut ilmu sebanyak mungkin. Dia mengagumi gadis Indonesia ini. Wajah kemayu yang selalu tersenyum dan tidak pernah ia lihat marah.
*****
Ghibran menatap Alzam kesal. Sahabatnya ini benar-benar berhasil mengacaukan jadwalnya.
“Kau selalu suka berbuat seenaknya bukan?”
Alzam tertawa. “Hanya memanfaatkan peluang yang ada.”
“Kau tahu aku sibuk, dan kedatanganku kesini hanya untuk kunjungan dan juga latihan.” ujar Ghibran mencoba mengingatkan barang kali sahabatnya ini lupa.
“Kamu masih bisa melakukannya sembari menjadi tamu dosen di kampus kita Ghibran,”
Ghibran mendecak kesal. “Kenapa harus aku?”
“Kau memenuhi semua kriteria yang kami butuhkan. Alumni Mu’tah, sedang melanjutkan studi magister di Jepang, lulusan kedokteran, aktif dalam kegiatan sosial dan juga…,”
“Apa kau tidak berlebihan? Itu terdengar seperti ejekan daripada pujian bagiku,” dengus Ghibran kesal.
Alzam mengangkat bahu. “Kau yang tanya.”
Ghibran tiba-tiba teringat sesuatu. “Apa kau mengenal gadis bernama Rabiah? Dia sepertinya satu organisasi denganmu?”
Alzam yang sedang menyeruput minumannya menatap Ghibran lekat.
“Siapa yang tidak mengenalnya? Dia mahasiswa beasiswa dengan segudang prestasi. Banyak yang ingin mengenalnya lebih jauh, tapi sepertinya Rabiah belum tertarik.”
“Darimana kau tahu?”
“Istriku adalah sahabatnya, dan banyak ikhwan yang meminta bantuanku agar bisa lebih dekat dengannya, tapi entah kenapa dia hanya menanggapinya dengan diam.”
Ghibran memegang dagunya yang sudah ditumbuhi bulu-bulu halus, terlihat seperti sedang berfikir. Dia bukan gadis biasa. Rabiah ternyata idaman para ikhwan di kampus ini. Retinanya melirik Alzam yang sibuk dengan minumannya. Ada pertanyaan yang ingin sekali dia ajukan, tapi mungkin ini bukan saat yang tepat. Tidak, ketika dia baru mengenal gadis Indonesia itu.
“Ngomong-ngomong, kenapa kau bertanya?”
Ghibran menatap Alzam. “Aku bertemu dengannya di suatu tempat, dan itu membuatku penasaran.”
Alzam mencoba membaca raut wajah Ghibran. “Kau bukan orang yang gampang tertarik dengan orang lain Ghibran, kecuali jika itu berhubungan dengan kemanusiaan. Apa ini?” tanyanya penuh selidik.
Ghibran mengibas tangannya. “Bukan apa-apa, seperti yang kukatakan, hanya penasaran.”
“Hanya penasaran? Kau tahu kan? Kau dan dia….”
Ghibran memutar matanya jengah. “Aku tahu Alzam. Aku dan dia bagai langit dan bumi. Aku hanya penasaran karena sepertinya dia aktif dalam kegiatan amal,”
“Dia gadis yang pemberani. Apa kau tahu? Saat terjadi pergolakan di tanah Palestina dia mengajukan diri untuk ikut sebagai relawan disana?”
Pupil mata Ghibran melebar mendengarnya.
“’Dia orang yang punya misi dan pendirian yang teguh. Istriku sering memuji dan membicarakannya.”
Pembicaraan ini malah semakin menimbulkan rasa penasaran Ghibran pada sosok Rabiah. Dia tertarik ingin mengenal gadis itu lebih dekat. Apa itu mungkin? Mengingat ada jurang lebar yang terbentang antara dia dengan gadis itu.