Disaat semua diam dalam posisi dan pikiran masing-masing, tiba-tiba saja terdengar sebuah suara berintonasi berat dari seorang laki-laki.
“Semua berhenti!”
Bentakan tersebut tak terdengar terlalu keras, namun dua patah kata yang terucap itu seperti memancarkan sebuah sugesti karena wibawanya.
Sontak, belasan pasang mata langsung mengarah ke arah sumber suara tersebut. Dan tanpa disadari oleh orang-orang yang sebelumnya masih sibuk bertikai, nampaklah tiga sosok tubuh sudah berdiri tepat di depan pintu rumah utama.
Dua pria kekar yang mengapit seseorang bertubuh lebih kecil, nampak demikian perkasa karena penampilan tegap dan gagah yang dipamerkannya. Sementara di tengahnya, terlihat seorang pria berumur enampuluh tahunan dengan tubuh tak begitu tinggi nampak angker menatap wajah-wajah yang sebelumnya masih terbengong setelah melihat hasil akhir perkelahian.
Lelaki tua tersebut maju beberapa tindak hingga sampai ujung anak tangga yang menuju halaman. Sampai di bibir teras, lelaki itu kemudian mulai berbicara yang ia tujukan pada seseorang.
Tanpa memperdulikan apa yang tengah terjadi, ia langsung bertanya dengan suara yang cukup terdengar nyaring.
“Anak muda, siapakah sebenarnya dirimu?” tanya orang itu pada Wawang yang berada di depannya sejauh belasan meter.
“Namaku Wawang.”
“Aku sudah mendengarnya tadi. Yang aku ingin tahu … benarkah kau merupakan anak asuh dari Sujiwo?” tanya lelaki itu sekali lagi.
“Benar, Bapak … saya adalah anak asuh dari Paman Sujiwo. Maafkan atas kelancangan saya membuat keributan di tempat ini.” Dengan nada sopan, Wawang menjawab pertanyaan yang tidak mengandung nada permusuhan itu.
Entah mengapa, sang remaja tak merasakan sedikitpin antipati saat lelaki yang diduga merupakan sang tuan rumah itu menanyakan tentang dirinya. Karena meskipun wajah orang tersebut tak terlihat mengandung senyum sedikitpun, namun tetap saja ketenangan dan nada bijaknya terdengar nyaman di telinga.
“Hmm … kau memang sudah menimbulkan keributan disini. Jika benar katamu bahwa kau merupakan anak asuh Sujiwo, apakah benda yang kau pegang itu adalah miliknya?”
“Benar sekali, Bapak …” jawab si pemuda belia dengan tetap sopan.
“Ya … jadi tak salah dugaanku. Lalu apa maksud kedatanganmu, hingga sedari tadi kau berteriak akan bertemu orang yang bernama Ali Badri?”
“Aku akan mengadukan beberapa masalah, dan hal tersebut akan kusampaikan pada beliau yang bersangkutan.” Demikian tegas si bocah karena belum paham pasti terkait orang yang ia cari.
“Kalau begitu, kemarilah … kita bicara di teras sana agar lebih nyaman berbincang.”
“Mohon maaf, siapakah Bapak ini adanya?” tanya kembali Wawang untuk memastikan.
“Akulah orang yang kau cari. Perkenalkan, namaku Ali Badri. Dan karena kau sudah menjadi tamuku, panggil saja aku dengan sebutan Tetua, rasanya risih bila ada orang yang memanggilku dengan sebutan yang begitu terhormat seperti tadi.”
“Kalau begitu, baiklah. Tetua … sekali lagi aku memohon maaf bila menganggu waktumu dengan satu dua perkara yang akan kusampaikan nanti.”
“Tak masalah. Kurasa, kau cukup berharga untuk bertemu denganku. Semuda ini sudah memiliki keberanian, pastilah akan pantas bila aku ajak bicara.”
“Terima kasih atas penghormatan ini. Tapi sebelum kita berbincang, bolehkah aku mengajukan satu permintaan terlebih dahulu?”
“Katakan saja …”
“Emm … saya datang ke tempat ini dengan diantarkan oleh beberapa orang teman yang merupakan anak buah Om Opik. Bo-bolehkah mereka ikut masuk ke halaman ini?”
“Maksudmu, menemani masuk? Kau takut untuk berbicara denganku sendirian saja? Di mana mereka?”
“Bukan menemaniku bicara, Tetua … tapi, ijinkan mereka untuk keluar dari persembunyian.”
“Bersembunyi? Apa maksud mereka?”
“Maafkan … mereka memaksa untuk mengikuti kemari. Sementara aku sebenarnya hanya ingin sendirian saja menemuimu. Berhubung mereka tetap tak mau membiarkan aku pergi tanpa teman, akhirnya kuijinkan ikut dengan perjanjian untuk tidak mencampuri urusanku di sini.”
“Bukan untuk membuat kegaduhan di sini beramai-ramai?” tanya Ali Badri dengan muka menyelidik.
“Tak ada maksud seperti itu, Tetua … mereka hanya ingin bersikap solider saja, karena semua ini juga berhubungan dengan mata pencaharian mereka.”
“Ohhh … baiklah, kita bicarakan itu nanti. Suruh mereka keluar biar bergabung dengan orang-orangku di sana.”
“Baik, terima kasih …”
Usai menjawab, Wawang berbalik untuk menghadap pada deretan mobil terparkir yang diperkirakan menjadi tempat persembunyian rekan-rekannya. Setelah sejenak mengamati, bocah belia itu segera mendekatkan jemari pada mulutnya sendiri, lalu membuat sebuah gerakan sedemikian rupa untuk menjepit bibirnya dengan menggunakan ibu jari dan telunjuk.
“Suiittt …” sebuah siulan keras terdengar melengking dari bibir si anak muda.
Tak lama kemudian, nampak bermunculan beberapa sosok yang menyembul dari balik kendaraan-kendaraan yang terparkir di halaman. Setelah genap menghitung jumlah, Wawang memberikan perintah dengan sebuah lambaian tangan agar mereka mendekat.
“Tunggulah disini, sementara aku akan berbicara dengan Tetua Ali Badri disana …” demikian kata si bocah pada rekan-rekannya yang masih tampak terbengong dengan situasi terkini. Tentu saja mereka heran, karena bocah semuda itu telah dianggap sebagai tamu kehormatan oleh sang tuan rumah yang begitu ditakuti karena keangkeran namanya.
“Jangan ada yang mengganggu. Mereka semua adalah tamu-tamuku …” demikian Ali Badri selanjutnya menambahkan dengan memberi perintah pada anak buahnya. Dan tentu saja, hal tersebut telah semakin membuat rekan-rekan Wawang bertambah bingung.
***
“Baiklah … apa yang ingin kau bicarakan denganku?” demikian tanya si lelaki berusia enampuluhan tahun itu setelah mereka duduk berhadapan dengan sebuah meja yang terpajang diantara keduanya. Kedua pengawal lelaki tersebut, nampak berdiri di belakang sang majikan dengan mengambil jarak yang agak jauh.
“Tetua … sekali lagi aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas semua kekurangajaran yang telah dilakukan. Semua ini adalah merupakan merupakan inisiatif diriku sendiri yang merasa mendapat sebuah ketidakadilan dari orang yang dikenal sebagai anak buah Tetua. Karena itulah, aku menghadapmu untuk meminta sebuah keadilan.”
“Sekali lagi, aku memaafkan kedatanganmu ini. Jujur saja, aku malah merasa sangat salut dengan dirimu, karena jarang sekali ada anak muda yang memiliki kemampuan dan juga nyali sebesar dirimu ini. Untuk itulah, aku bersedia duduk satu meja dengamu dan menganggap dirimu sebagai seorang tamu yang sepangkat dan sederajat untuk mewakili Sujiwo sebagai ayah asuhmu.” Demikian, Ali Badri menjawab dengan bijak.
---
Mendengar tutur kata yang sedemikian ramah serta terbuka, Wawang menjadi bertambah lega. Karena ternyata, ia memang tidak salah dalam melakukan penilaian terhadap orang tersebut semenjak bertemu pertama kali tadi.
Kemudian, iapun menghubungkan kaitan seorang Ali Badri yang dianggap sebagai kepala preman di kota tersebut dengan cerita-cerita sehubungan dengannya yang beredar tanpa sumber yang jelas.
Orang-orang mengatakan, jika laki-laki yang ada dihadapannya itu adalah merupakan sosok jagoan yang ditakuti karena kemampuannya bertarung. Karena memang belum pernah satupun orang yang bisa mengalahkannya kecuali Paman Sujiwo, maka Ali Badri pun telah dianggap menjadi seorang pimpinan yang melindungi semua manusia dalam dunia gelap di kota tersebut.
Akhirnya, terciptalah berbagai cerita tentang kekejaman ataupun kesaktian dan betapa berkuasanya seorang manusia bernama Ali Badri di kota itu. Bahkan dengan hebatnya dikisahkan pula, jika tak ada satupun tempat usaha atau kegiatan menghasilkan uang di tempat manapun yang tidak memberi setoran pajak keamanan kepadanya.
Namun apa yang sudah pernah didengar oleh Wawang, adalah suatu hal yang jauh berbeda dengan berbagai rumor diluaran sana. Sebab bagi si bocah belia, Ali Badri sendiri adalah seseorang yang bisa menghargai orang lain dalam batasan serta aturannya sendiri.
Contohnya adalah seperti saat ini, dimana seorang lelaki tua telah dengan senang hati menyediakan diri untuk menemui satu anak remaja ingusan hanya karena ia mampu mengalahkan beberapa orang saja.
Karena tentu saja, mengusir Wawang dari tempat itu dengan suatu cara adalah hal yang akan dengan mudah dilakukan. Mengingat, Ali Badri sendiri pasti masih banyak memiliki anak buah yang bisa diandalkannya untuk mengatasi gangguan kecil tersebut.
Namun, ternyata disitulah letak keistimewaan dari sifat bijaksananya seorang Ali Badri yang meminta untuk dipanggil dengan sebutan ‘Tetua’ saja. Karena tanpa mau menggunakan kekerasan untuk mengusir Wawang, ia malah menerimanya sebagai seorang tamu setelah merasa cukup untuk menguji kemampuannya.
---
“Apa yang kau maksudkan dengan meminta keadilan padaku?” tanya lelaki itu dengan wajah yang menyiratkan simpati.
“Semua ini menyangkut seseorang yang bernama Edi Best, anak buah dari Tetua …” jawab Wawang untuk memulai pembicaraan seriusnya.
“Hmm … Edi … sebentar, aku akan meluruskan satu hal. Edi Best, memang berada dalam lindunganku karena satu dan beberapa hal. Namun untuk dikatakan sebagai anak buah langsung, hal tersebut sama sekali tidak benar. Teruskan ceritamu …” demikian jawab Ali Badri dengan nada tegas.
“Oh, baiklah … kalau seperti itu kenyataannya, malah akan menjadi sebuah kebetulan. Dengan demikian, aku akan menceritakan ini hanya sebatas agar anda mengerti permasalahan yang ada. Dengan begiitu, apapun yang akan terjadi nantinya adalah atas sepengetahuanmu. Dan jika diperbolehkan, kami para rekan Opik juga akan meminta sebuah pertolongan dari Tetua yang tentunya akan menjadi semacam perlindungan juga bagi kami.”
“Ceritakan saja masalahnya, lalu katakan apa maksudmu dengan jelas, karena aku tak pandai berkata-kata dengan berbelit.” Laki-laki itu kembali menegaskan agar pembicaraan dapat dilakukan dengan lebih singkat dan sederhana.
Setelah beberapa saat menyusun kata yang hendak ia ucapkan agar tak menjadikan salah paham, akhirnya Wawang kembali berbicara.
“Begini, Tetua … semenjak meninggalnya Paman Sujiwo, Edi Best dan kawan-kawannya sudah langsung saja mengusik tempat kami mencari nafkah …”
“Dan apakah kamu salah satu dari orang yang bekerja di tempat itu?”
“Ya, aku merupakan salah satu timer dan juga kernet serta sopir tembak untuk sesekali.”
“Lalu apa yang dilakukan oleh Edi di tempat tersebut?”
“Pada awalnya, mereka hanya seperti tak mengindahkan serta menghormati tempat kami bekerja. Orang itu bersama segenap komplotannya, dengan terang-terangan mengganggu keberadaan para penumpang. Baik itu pencopet, tukang palak maupun aksi kejahatan lain, semua dilakukan agar tempat kami menjadi tidak aman.”
“Dan kalian tak ada yang berusaha melawan?”
“Semula, semua hanya diam hingga sampai akhirnya harus mau membayar uang keamanan pada Edi Best.”
“Mengapa bisa begitu?” tanya Ali Badri dengan heran.
“Apakah mereka bukan suruhanmu?”
“Aku tak pernah mengijinkan siapapun mengganggu tempat Sujiwo, hal itu adalah sebuah perjanjian yang sudah kusepakati dengan ayah asuhmu.”
“Berarti mereka berbohong. Karena, orang-orang tersebut selalu mengatakan bila mereka meminta uang dan mencari masalah disana dengan mengatasnamakan sebagai anak buah dari Ali Badri. Kasarnya, mereka melakukan semua itu atas suruhan Tetua langsung.”
“Benarkah tuduhanmu itu? Kamu tidak bohong?”
“Memang seperti itulah adanya, aku hanya bicara sebenarnya saja. Sebab itulah, kami tak melakukan perlawanan dengan alasan karena memandang nama Ali Badri sebagai seorang tokoh dan sesepuh yang disegani.”
“Oh, begitu … lalu, apa dasar yang membuatmu dan kawan-kawan datang kemari padaku? Bukankah itu sama saja dengan menantangku?” lelaki tua itu kembali bertanya untuk menguji.
“Aku belum selesai bercerita, Tetua.”
“Lanjutkan kalau begitu …”
---
Mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan duduk permasalahan, Wawang pun menceritakan semua rentetan kejadiannya. Dengan runtut, ia menceritakan insiden sore tadi dengan kelompok pencopet hingga akhirnya terjadi sebuah bentrok dengannya.
Lalu yang tak ketinggalan, ia juga menceritakan kedatangan enam orang anak buah Edi Best yang tiba-tiba saja mencari Wawang dan Opik di pangkalan. Dan untuk melengkapinya, tak ketinggalan juga dikisahkan bagaimana ia mendapatkan kabar saat pimpinan pangkalan pengganti Sujiwo itu diambil paksa oleh Edi Best beserta kawanannya.
“Dan sekarang, kami sedang mencari keberadaan seorang rekan yang bernama Opik. Karena tak tahu harus mencari kemana, akhirnya aku mendapatkan ide untuk mengadu kepadamu.”
“Lalu, apa alasanmu sebenarnya hingga hal tersebut kau hubung-hubungkan denganku?”
“Sangat sederhana, Tetua … Bila anda tidak terlibat, pastilah akan dengan tangan terbuka menerima kami untuk mendengarkan pengaduan sekaligus memanggil orang yang bernama Edi Best agar berani menemuiku.”
“Kau berani menantang dia?”
“Mau tak mau, aku harus berani agar bisa menegakkan keadilan bagi rekan-rekan dan juga ayah asuhku. Sebab salah satu orang yang dibawa Edi Best bersama Om Opik, adalah saksi yang mengetahui perbuatan kejinya kepada paman Sujiwo.”
“Apa yang kau maksud dengan perbuatan keji yang dilakukan oleh Edi Best?”
***