BAB 20 - Kembali Bertarung

1942 Words
“Hmmm … Sujiwo yang tertabrak mobil?” demikian orang tersebut bertanya. Nampaknya, ia sangat menganal Paman si Wulan. “Benar, itu ayah asuhku. Dan maksud kedatanganku kesini, adalah untuk bertemu dengan Bapak Ali Badri untuk membicarakan satu hal yang antara lain juga terkait itu.” “Apa urusannya kematian Sujiwo dengan Bos kami?” masih dengan heran, lelaki tersebut kembali bertanya. “Tentunya aku punya alasan kuat, hingga memberanikan diri untuk menghadap beliau.” “Tidak bisa!” “Tolonglah, aku ingin bertemu agar masalah ini tak berlarut dan merambat kemana-mana,” masih mencoba sabar, Wawang memohon dengan segala kerendahan hatinya. “Hei, dengarkan! Bos kami bukanlah orang sembarangan. Tak mudah bagi orang biasa untuk menemuinya. Pulanglah sebelum kami menjadi marah karena kekacauan yang kau timbulkan ini. Tapi … sebelum pergi, kau harus menerima hukuman terlebih dahulu agar lain waktu tak berani banyak tingkah lagi disini.” “Sebentar, sebentar … aku minta tolong baik-baik sedari tadi hingga malah diserang oleh kedua penjaga. Dan saat ini pun, aku masih mencoba meminta dengan sopan. Tapi lihatlah … dengan memalukan, kalian para orangtua malah hendak main keroyokan untuk memukul, mengusir dan menghukumku. Maaf, Bos … aku harus bisa bertemu dengan atasan kalian. Kalau ada yang harus kulakukan … apapun itu akan kulakukan agar bisa bertemu dengan beliau.” Sekali lagi, si remaja menunjukkan sikap yang demikian sopan sebagai seorang tamu. “Tidak bisa! Tak boleh … kecuali, hmmm … ada satu hal yang harus kau lakukan bila terus memaksa untuk bertemu bos kami.” “Apakah itu?” “Langkahi dulu tubuh kami, para penjaga keamanan disini!” “Benarkah kau akan mengijinkan kalau aku bisa mengalahkan kalian?” tanya Wawang dengan hati yang mulai kesal akibat dipaksa untuk berkelahi lagi. “Ha ha … kau berani?” “Aku tak akan mundur!” dingin, kali ini suara Wawang terdengar tanpa nada bercanda.  Walau begitu, ia terus mengamati dengan seksama satu demi satu dari orang-orang dihadapannya. “Bagus! Berarti, kau sendiri yang mencari masalah,” jawab lelaki yang nampaknya menjadi pimpinan keamanan itu. “Aku tak mencari masalah, aku hanya ingin bertemu dengan tuan rumah yang bernama Ali Badri. Dalam hal ini, kalian yang memaksaku untuk menggunakan cara apapun agar diperkenankan menemui beliau.” “Itu sama saja mencari masalah, karena kau tidak mau menuruti perintahku!” “Bahkan sebelum kalian bertanya pada beliau sendiri, apakah bersedia menemui atau tidak?” dengan masih kukuh, Wawang tetap saja menahan diri agar memperoleh ijin untuk menemui atasan mereka. “Itu bukan urusanmu ataupun urusanku. Karena tugas kami, adalah mengusir semua orang yang mencoba mengganggu tempat ini.” “Hmmm … kalian para orang tua, tapi begitu keras kepala tak mau mendengarkan orang muda berbicara baik-baik. Baiklah, siapa yang harus kulawan agar aku boleh bertemu dengan orang yang bernama Ali Badri?” menyerah, Wawang mengikuti kemauan orang-orang yang nampaknya sangat berdedikasi menjaga tempat tersebut. “Kau harus mengalahkan kami semua, baru boleh bertemu dengan bos kami.” Dengan tenang, laki-laki itu menjawab tanpa malu sedikitpun. “Keroyokan? Apakah kalian tidak malu menggerubuti seorang bocah? Ha ha … apa jadinya dengan nama besar Ali Badri yang ternyata hanya bisa memiara para pengecut untuk menjaga rumahnya?” dengan sengaja, Wawang mengejek para centeng yang nampaknya sulit sekali untuk dibodohi. “Terserah apa katamu. Kami tidak menawarkan pertandingan saat berhadapan denganmu. Kau lupa? Kami adalah para penjaga, dan bagi seorang pengacau sepertimu … tak bisa tidak harus diusir dengan semua kekuatan yang ada. Paham?” ---   Sekarang, si remaja menjadi paham jika para tukang pukul tersebut adalah orang-orang pilihan yang sangat berbeda dengan gerombolan yang ia hajar sore tadi. Terbukti, pimpinan penjaga terlihat sangat hati-hati agar tidak terpancing tantangannya untuk berduel secara satu persatu. Dan memang benar begitulah adanya, seperti dugaan Wawang. Para penjaga tempat tersebut, tampaknya memang tak perlu terlalu menjaga gengsi saat mengamankan tempat itu. Karena mandat yang mereka terima dari atasan, adalah mengawal agar usaha perjudian ilegal tidak terganggu oleh siapapun. Sebab itulah, siapapun pengacau yang datang pastilah akan diusir dengan cara apapun tanpa memandang tatanan dan etika terkait apapun. Menang, itulah tujuan mereka. Sehingga, melakukan pengeroyokan bahkan pada seorang  lemah, adalah satu hal yang dianggap sah dan wajar bagi mereka. Karena yang terpenting, adalah keberhasilan tugas dalam menjaga situasi agar tetap terkendali. Apalagi terbukti si bocah kurus yang terlihat lemah itu, dengan mudahnya sudah bisa merobohkan dua orang penjaga pintu utama. Walau tak melihat dengan mata kepala sendiri, nampaknya para jawara sudah bisa menghitung kemampuan sang pengacau cilik yang sedemikian tenang dan berani. Sebab, mereka menduga bahwa Wawang adalah merupakan seseorang yang memiliki isi dan kesanggupan bertarung dengan baik. Oleh karena itu, kehati-hatian adalah salah satu faktor yang harus diperhitungkan agar mereka tidak akan mendapatkan teguran keras dari atasan bila melakukan satu kesalahan fatal hingga bisa kebobolan. ---   Wawang yang kini mengerti bagaimana situasinya, dengan cerdik sudah bisa menduga. Yakni jika orang-orang yang harus ia lawan, pastilah memiliki kemampuan yang jauh lebih baik dibanding para preman picisan yang berkeliaran di jalan. Tapi terlanjur basah, ia sudah berniat untuk tak mundur selangkahpun demi melakukan satu hal untuk menyelamatkan Opik. “Baiklah … sebagai tamu, aku hanya sekedar mengikuti aturan main disini. Tapi sebelumnya, aku meminta maaf bila terjadi salah tangan dan mengakibatkan luka dari paman-paman sekalian yang sudah tua ini …” dengan gaya tengil, Wawang melemparkan sebuah strategi baru. Yakni, mengejek mereka sebagai para orang tua tak tahu diri yang akan ia hajar dengan mudahnya. Dan benar saja, gayung pun bersambut. Karena dengan spontan, wajah-wajah sangar di depannya langsung memerah gusar. Yang pertama, tentu saja karena dikatakan sebagai orang yang sudah tua. Dan hal kedua yang lebih membuat emosi, adalah sikap sepele si bocah yang seolah akan dengan mudah mengalahkan mereka. “Jaga bicaramu! Ayo hajar, hei … kalian berdua, tangkap dan ringkus bocah itu! kalau perlu, hajar saja biar dia tahu siapa kita ini.” Tak dapat menahan marah, si pemimpin langsung memerintahkan kedua anak buahnya untuk maju.    ---   Dan bagai harimau lapar lepas dari kandang, dua orang lelaki tegap langsung merangsek untuk melakukan serangan pada Wawang yang berdiri menunggu dengan waspada. “Haiiittt …” teriak lelaki pertama sambil melontarkan dengan cepat sebuah kepalan tangan pada wajah Wawang yang dianggapnya sangat sombong. Sigap, si bocah menangkis dengan menggunakan lengan kirinya sambil berkelit ke arah kanan. Setelah itu, ia mengayunkan tubuhnya untuk kembali ke kiri dan  melancarkan balasan dengan melayangkan sebuah pukulan dengan telapak tangan yang menyasar dagu. “Augh …” si penyerang mengeluh pendek, saat dengan  telak pukulan itu mendarat di bawah telinga kiri lawan. Tak ingin berlama-lama, Wawang menyusulkan sebuah serangan kembali selagi laki-laki tersebut masih terhuyung kehilangan setengah kesadarannya. Namun baru saja hendak mengayunkan kaki untuk membuat sebuah sapuan, mendadak saja orang kedua sudah menyerangnya dari samping. Tanpa bicara sepatah kata pun, penjaga yang lain langsung memukul mengarah pada kepala Wawang.   Untung saja, reflek yang cepat dan pandangan mata tajam si remaja telah membuat dirinya spontan mengurungkan serangan pada lelaki pertama. Dengan kekuatan penuh, Wawang menangkis hingga menimbulkan suara keras akibat bertemunya dua tangan berkekuatan penuh. “Plak!” Tak mau kehilangan momen seperti yang pertama tadi, langsung saja si remaja mengangkat kakinya untuk diungkitkan kesamping. Dess! “Hekk! Arggghh …” Tumit telapak kaki si bocah kerempeng, dengan tepat mendarat pada bagian yang ditaksir berada di sekitar ulu hati. Langsung saja, orang kedua terjengkang ke belakang dan memuntahkan cairan tubuhnya dalam keadaan berlutut di atas lantai beton. Setelah satu lawan terjungkal, Wawang langsung mengejar penjaga pertama yang tampaknya terlihat jerih untuk kembali menyerang. Namun saat melihat si pemuda belia mendekatinya, lelaki itupun nekad melawan kembali setelah mengambil sebuah benda dari pinggangnya. “Hiyaaaaa …” teriaknya keras sambil mengayunkan sebuah benda berkilau yang tergenggam pada tangannya. Tak mau ayal, Wawang menghindar dari sabetan benda tajam yang menyasar ke leher. Meski lelaki itu terlihat sudah dengan sekuat tenaga mengayun, namun dengan mudahnya si bocah belia mampu menghindar. Karena  serangan itu, nyatanya  masih terlalu lamban untuk ukuran mata terlatih si anak remaja yang sedemikian tajam.   Terlepas dari ancaman senjata berbahaya, dengan serta merta ia membalas. Tepat sasaran, lutut kiri si bocah langsung saja menghujam bawah perut sang penyerang yang seketika telah membuat ia terguling mulas saking sakitnya. Bersikap ksatria, Wawang bermaksud memberi kesempatan pada dua lawannya untuk bangkit dan membuat pilihan selanjutnya. Didasari oleh sifat welas asih yang selama ini memang selalu melekat padanya, tentu saja si bocah tak mau mencecar kedua orang yang sudah tak berdaya itu. Namun selagi ia baru saja berdiri tegak untuk menunggu perkembangan situasi, tiba-tiba saja ia menyadari jika dirinya sudah berada dalam kurungan sekian banyak orang yang tampak bersiaga dengan mempersenjatai diri. ---   Tak mau kecolongan! Demikian kira-kira alasan para penjaga setelah melihat dua orang lagi dapat dikalahkan dengan mudah oleh seorang pemuda kurus dan terlihat lemah. Karena merasa harus mempertaruhkan martabat dan nama besar sebagai jawara anak buah Ali Badri yang tersohor, tentu saja semua daya upaya apapun harus dilakukan agar bisa mengatasi gangguan yang kini semakin terlihat nyata. Semua dari mereka menduga jika jatuhnya penjaga pintu gerbang adalah merupakan kesalahan atas kecerobohan dua orang  itu sendiri. Hingga, seorang anak bau kencur yang masih mentah bisa dengan mudahnya menerobos untuk memasuki area tersebut. Namun dengan terjatuhnya kembali dua orang penjaga yang lain, tentu saja mereka jadi tak dapat mengganggap sepele lagi si bocah yang tadi sempat dipandang hanya dengan sebelah mata. Terlebih, bukankah anak muda tersebut sudah mengaku bila ia adalah merupakan anak asuh Sujiwo? Siapa tak kenal Sujiwo yang bahkan sepertinya juga sangat disegani oleh majikan mereka? Bahkan dalam kabar burung yang sempat beredar, Ali Badri sendiri dikatakan pernah dipecundangi oleh lelaki paruh baya sederhana tersebut di masa mudanya. Karena itulah, satu-satunya tempat tanpa pungutan pajak keamanan hanyalah di wilayah yang menjadi kekuasaan Sujiwo. Dengan kenyataan seperti itu, para centeng Ali Badri langsung saja mengerahkan segenap kekuatan agar bisa segera dapat melumpuhkan si bocah remaja yang nampak masih belum menyadari betapa berbahayanya mereka. Dan tanpa komando yang kentara, serangan serentak langsung saja dilancarkan dengan kompak layaknya orang-orang terlatih yang sudah biasa melakukan itu. Pipa besi, golok dan bermacam senjata, dengan secepat kilat langsung saja terarah menghujani si pemuda yang sepertinya masih terlena dengan kemenangan awal. Namun, bukanlah Wulan jika ia tak menangkap kesiur angin dari senjata-senjata yang dimaksudkan untuk seketika melumpuhkan dirinya. Dalam perubahan ujudnya sebagai Wawang, bisikan semesta telah memberikan isyarat tanda bahaya pada gadis cerdik yang seumur hidupnya telah terasah untuk membaca bisikan alam. Dengan bijak, seketika saja si anak bumi menanggapi peringatan tersebut. Dan tanpa perlu menengok kepala kearah manapun, ia mengangkat tangannya untuk dengan secepat kilat melepas benda panjang dari cangkongan di belakang punggungnya. Trang! Tak! Tuk! Tok! Dess!! “Ahhh …” “Aduh …” Demikian cepatnya, berturut-turut terdengar suara beradunya beberapa benda keras yang saling membentur. Kemudian, beberapa kali terdengar juga teriakan kesakitan setelah sebuah benda cukup keras memperdengarkan telah bertemu dengan semacam tempat empuk yang menjadi sasarannya. Setelah gerakan-gerakan cepat itu mereda dan kembali diam, maka terlihatlah wajah-wajah terkesiap yang sama sekali tak menduga jika serangan mereka akan berakhir dengan seperti itu. Sebab pemandangan yang ada di depan mata sekarang, adalah satu hal yang tak akan mudah bisa dipercaya bila mereka tak mengalaminya sendiri. ---   Wawang terlihat  berdiri tegak dengan tangan kanan menggenggam sebuah benda  panjang berbungkus kain, sementara beberapa orang pengeroyok juga nampak masih berdiri dengan wajah bengong karena harus kehilangan benda-benda yang tadinya mereka gunakan sebagai senjata. Lalu yang jadi lebih mengejutkan lagi … beberapa orang pengeroyok ternyata telah berjatuhan sambil memegangi bagian tubuh yang tadi sempat kena sambar benda panjang berbungkus kain dalam genggaman si pemuda belia. Bak patung manusia yang melingkar dengan seseorang berdiri ditengah-tengahnya, semuanya tak bergerak karena tertegun dengan akibat yang ditimbulkan dari gebrakan terakhir bentrokan serentak itu. ***          
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD