Rumah berhalaman luas dengan pagar tembok yang mengelilingi itu memiliki akses pintu gerbang besi sebagai jalan utama untuk masuk. Disanalah, Wawang menghentikan skuternya setelah menemukan posisi parkir yang tak mengganggu pengguna jalan lain untuk masuk maupun keluar dari tempat tersebut.
Segera setelah angkot di belakangnya berhenti, bocah remaja itu memberi isyarat pada rekan-rekan yang berada di dalamnya untuk menunggu tanpa keluar dari kendaraan seperti yang sudah direncanakan. Yakin bila semua sudah paham langkah selanjutnya, iapun segera melangkah untuk mendekati area bangunan tersebut.
Tepat dibelakang gerbang, ia melihat sebuah bangunan kecil semacam pos penjagaan yang didalamnya terdapat dua orang laki-laki berseragam kemeja safari berwarna gelap. Tentu saja, kedatangan Wawang dan satu buah kendaraan lain telah seketika menarik perhatian dari sekuriti tersebut.
Lalu saat mengetahui kedatangan sosok sedikit mencurigakan yang mendekat ke arah pintu utama, salah satu dari penjaga langsung bergegas menyambut dari balik gerbang jeruji besi. Dan dengan tatapan curiga yang tak perlu disembunyikan, langsung saja orang tersebut bertanya dalam nada yang sama sekali tidak ramah,
“Siapa kamu?”
“Selamat malam, saya bernama Wawang.” Berusaha tetap menjaga sopan-santun, remaja jangkung dan kurus yang mencangklong sebuah bungkusan panjang di punggung itu menyapa dan memperkenalkan diri.
“Ada perlu apa?” tanya si penjaga tanpa mengindahkan sapaan sopan dari sang tamu.
“Maafkan bila saya mengganggu. Maksud kedatangan malam ini, saya ingin bertemu dengan Bapak Bos Ali Badri.” Tanpa terpengaruh pertanyaan yang semakin bernada ketus, Wawang tetap mengedepankan adat seseorang yang lazimnya akan bertamu.
“Kamu siapa?”
“Sudah saya jawab tadi, nama saya Wawang.”
“Aku sudah dengar, tapi Wawang itu siapa? Menteri, Gubernur, atau ketua RT?” kali ini, nada suara sang sekuriti sudah berubah seperti melempar sebuah ejekan.
“Ah, bapak ini ada-ada saja … mosok ada orang semuda saya yang sudah bisa jadi Gubernur? Hi hi … untuk menjabat ketua RT saja, saya kurang tua, Pak … lebih pantas kalau bapak saja yang jadi ketua RT-nya … he he …”
Tak bisa tidak, keusilan bocah yang satu ini selalu saja akan keluar jika ia merasa telah menjumpai satu hal konyol dari lawan bicaranya. Dan jika sudah begitu, pastilah si Wulan asli akan segera muncul tak lama lagi beserta semua kenakalan serta sifat isengnya.
“Hei, jangan kurangajar! Aku bertanya baik-baik, jawab yang benar!”
Dengan galak, penjaga yang merupakan preman berseragam itu langsung membentak dengan tak kira-kira. Dan hal tersebut, langsung saja menarik perhatian seorang penjaga lainnya yang masih duduk di dalam pos.
“Ada apa ini?” tanya pria yang satunya lagi. Kali ini, langsung menampakkan diri adalah sosok bertubuh lebih kekar dari sebelumnya.
“Selamat malam, Bapak … entahlah, saya hanya menjawab pertanyaan dari Bapak ketua RT ini … eh, maaf … dari teman bapak ini. Tapi tak tahu mengapa, beliau malah memarahi saya.”
“Kurang ajar! Berani-beraninya kamu mengganggu kami. Anak siapa kamu? Pergi!”
“Tentu saja anak ayah dan ibuku,” jawab Wawang yang dengan seketika telah langsung menjadi berduka saat teringat pada kedua orangtua yang sudah meninggal dunia. Dan bila sudah seperti itu, bahkan untuk mati pun remaja itu sudah tak memiliki kata takut lagi.
“Aku tak mau pergi sebelum bertemu dengan orang tua yang bernama Ali Badri!” demikian sambung bocah kerempeng itu dengan tegas.
“Kurang ajar! Memangnya kamu siapa? Berani-beraninya memanggil bos kami dengan hanya menggunakan nama saja. Pergi! Atau, kamu akan aku hajar sampai babak belur dan tinggal nama saja!” dengan wajah garang karena kemarahan yang sudah mulai memuncak, penjaga pertama yang menemui Wawang langsung saja meraih pentungan di pinggangnya untuk diacungkan pada sang tamu remaja.
“Percuma, Pak RT … pentung diacung-acungin seperti itu, tapi ngumpet di balik pager. Emang mau menghajar dengan cara apa? Pakai remote control? Hi hi hi …” sambil tertawa kecil, si anak iseng langsung melemparkan tantangan karena hatinya yang sudah terlanjur masygul karena telah diingatkan pada kedua orangtuanya.
“B*d*bah! Anak tak tahu dikasihani! Awas, jangan lari kalau aku keluar nanti,” bergegas, lelaki berkata demikian sambil langsung membuka kuci gerbang dengan penuh emosi yang sudah menyesakkan dadanya.
Hal itulah yang memang diharapkan oleh Wawang sang remaja pintar. Ia tahu, tak akan mungkin baginya untuk dengan mudah dibukakan pintu gerbang tanpa sebuah alasan yang sangat penting. Si penjaga pastinya akan mengabaikan permintaan untuk bertemu dengan Ali Badri, walau bagaimanapun ia dengan sopan memohon atau minta pertolongan.
Bagian dari skenario tersebut memang sudah diantisipasi sebelumnya oleh si remaja cerdik bagai kancil. Karena itulah … sengaja memancing kemarahan sang penjaga agar mereka mau membuka pintu gerbang dan keluar menghampirinya, adalah satu siasat jitu yang akan memudahkannya memasuki area tersebut.
---
“B*d*bah! Bocah kecil kurangajar, kunyuk kecil yang tak pernah dihajar adat oleh orangtua! Anak siapa kau, hingga sedemikian berani berlagak disini …”
Dengan kemarahan yang kurang pas untuk ditumpahkan pada seorang anak ingusan, lelaki berbadan kekar itu menghambur keluar pintu sambil mengayunkan pentungannya untuk memukul kepala si bocah. Tentunya, benda sekeras itu akan dengan fatalnya melukai secara serius jika mengenai kepala walaupun hanya dalam sekali pukul.
Wawang yang kembali merasa tak nyaman karena kata-kata si penjaga sudah menyinggung kedua orangtuanya lagi, dengan entengnya menghindari gebukan yang dilihatnya terasa sangat lamban. Lalu, sebuah pelampiasan rasa tersinggung telah dengan serta merta mengayunkan kaki si remaja untuk dengan telaknya bersarang di bagian rahang si lelaki garang.
Dess! Bruk!
“Hekk, Owhhh …” singkat, bibirnya mengeluarkan keluhan pendek yang berujung dengan jatuhnya tubuh ke atas beton keras.
Melihat rekannya dapat dilumpuhkan dalam sekali gebrakan, langsung saja sebuah serangan datang dari lelaki satunya yang tadi mengikuti keluar di belakang penjaga pertama.
“Syaitan cilik! Kau apakan temanku. Ciaattt …” Murka, lelaki kedua langsung menyerang tanpa berpikir dan melihat akibat yang telah terjadi pada ulah temannya yang sok garang.
Dengan telengas, satu orang tersisa langsung saja mengayunkan pentungan dengan membabi-buta. Lelaki tersebut memiliki badan yang lebih besar, namun yang tengah diserang juga mempunyai tubuh sama tinggi meskipun berbobot setengah ukuran sang penyerang.
Tentu saja, nasib yang sama segera saja ditemui oleh orang kedua. Bagai membentur batu karang, ayunan tangan itu tertangkis dengan sebelah tangan mungil sehingga membuat pemukul tongkat pemukul yang dipegangnya terlepas.
Wawang yang dengan lincah sudah menunduk untuk menyelinap mendekati tubuh lawan, dengan serentak langsung saja mendaratkan sebuah kepalan tangan keras yang tertuju pada ulu hati.
“Hek …” tanpa mendapatkan kesempatan untuk mengaduh, penyerang kedua langsung jatuh lemas dengan napas yang terlalu susah untuk diambilnya.
---
Wawang mundur dua langkah untuk memberikan tempat bagi penyerangnya agar dapat mendelosor dengan nyaman dalam hilangnya kesadarannya. Namun saat ia hendak kembali maju mendekati pintu gerbang yang sudah terbuka … tiba-tiba saja,
“Tolooonggg …” terdengar sebuah teriakan dari penjaga pertama yang rupanya sudah bisa bangkit dari alam tak sadar akibat tendangan pada dagu.
Tunggang langgang, lelaki kekar yang sempat terlihat garang itu lari menuju samping rumah utama yang berupa sebuah bangunan besar tanpa jendela. Dengan berteriak bagai kalap ketakutan, ia terus meminta pertolongan sambil memberitahu jika markas meraka tengah diserang.
“Tolooongg … kita diserang, kita diserang …” demikian teriakan yang terdengar sebelum ia memasuki sebuah pintu besar dalam bangunan tersebut.
Melihat perkembangan kondisi saat itu, Wawang segera berteriak pada beberapa rekannya yang satu persatu sedang mendekati tempatnya berdiri.
“Aku akan mengejarnya. Kalian masuk, tapi harus langsung mencari tempat persembunyian. Ingat! Jangan menampakkan diri, biarkan aku menjalankan misi ini sesuai rencana. Yayan, jangan lupa untuk merekam apapun yang terjadi, terlebih nanti saat Ali Badri keluar. Mengerti?”
“Kami mengerti. Kau berhati-hatilah!”
“Baik. Tetaplah tak menampakkan diri sampai nanti Om Opik muncul.”
“Siap.”
Setelah kembali memberikan beberapa detil penting agar rekan-rekannya tak menjadi gegabah bertindak sendiri, dengan beraninya Wawang melangkah memasuki pintu gerbang untuk menemukan sang pemimpin preman di kota tersebut.
---
Di depan matanya, sebuah rumah besar bergaya modern nampak megah berdiri dengan halaman luas yang membentang hingga pintu halaman. Sebentar mengamati, barulah Wawang menjadi sadar terkait fungsi bangunan besar yang mirip sasana olahraga di sebelah kiri rumah.
Dengan jitu Ia langsung menebak, bahwa sesuatu yang mirip gudang beratap tinggi tanpa jendela yang di sekelilingnya itu tak lain adalah arena judi ilegal milik Ali Badri. Karena kendaraan-kendaraan yang banyak terparkir di halaman, adalah sebuah bukti jika didalamnya terdapat banyak pengunjung.
Dan dugaan tersebut, tak lama kemudian diperkuat dengan terbukanya pintu besar pada bangunan mirip gudang yang terang benderang itu. Karena bersamaan dengan itu, Wawang melihat beberapa orang berhamburan menuju ke arah dirinya yang masih berdiri di depan rumah utama.
“Itu anaknya!” demikian teriak seseorang.
“Hei … siapa dia?” terdengar suara yang lainnya lagi.
Namun teriakan-teriakan itu segera terhenti, saat mereka berada dalam jarak cukup dekat untuk melihat penampilan ‘sang pengacau’ seperti yang disebutkan oleh si penjaga. Selusin orang yang keluar dari bangunan tanpa jendela itu, mendadak tertegun dengan heran ketika menemukan seorang bocah yang tengah berdiri menunggu dengan tenangnya.
“Dia, penyerangnya?” tanya seseorang pada si penjaga yang tadi sempat jatuh kelenger.
“Iya, bocah kurangajar ini yang sudah memukuli kami berdua hingga jatuh.”
“Ah, apa benar begitu? Hei, bocah … benarkah yang dikatakan orang ini?” dengan menyisakan rasa sangsi, orang tersebut bertanya pada si penjaga dan langsung mengalihkan pertanyaan pada Wawang yang masih berdiri dengan tenang tanpa rasa takut sedikitpun.
“Kurang benar, Om … aku berniat datang secara baik-baik untuk diijinkan bertemu dengan tuan rumah yang bernama Bapak Ali Badri. Tapi, para penjaga malah berniat memukuliku dengan pentungan. Jadi, kurasa bukanlah aku yang memukuli mereka.” Demikian jawab Wawang.
“Jangan bohong! Kalau dia tidak dipukul, mengapa bisa jatuh? Dan kudengar, penjaga satunya malah belum terlihat bangkit dari siuman.”
“Oh … mungkin pentungan mereka berbalik dan mental memukul kepala sendiri. Atau … bisa saja kedua orang itu saling pukul dengan benda tadi hingga sama-sama pingsan.” Santai, begitulah si gadis penyamar menunjukkan sifat iseng yang akan sulit hilang jika ia sudah sebal dan kesal.
Sebab bagi si bocah remaja, ia merasa jika urusannya yang sedemikian sederhana malah dibuat rumit oleh sekelompok lelaki kasar yang menghalanginya untuk bertemu dengan sang tuan. Sementara, waktu juga terus berjalan tanpa ada tanda sedikitpun mengenai kabar berita Opik dan Edi Best.
Sebab itu jugalah, Wawang segera ingin cepat dapat bertemu dengan orang yang merupakan penguasa para preman di kota tersebut, agar bisa secepatnya bisa ia mintai tolong untuk menemukan keberadaan tangan kanannya yang bernama Edi best.
Namun karena orang-orang yang merupakan para penjaga tempat perjudian itu terus saja mempersulit, mungkin saja waktu yang terbuang malah akan membuat celaka Opik yang masih disandera. Jika demikian keadaannya, mau tak mau si bocah iseng harus segera menyelesaikan urusan birokrasi dengan cepat agar bisa berhadapan langsung dengan tuan rumah.
“Tak mungkin bisa begitu! Mereka ini sudah biasa menggunakan benda-benda tersebut, bagaimana ceritanya bisa memukul teman sendiri? Sekarang jangan main-main lagi, katakan dengan benar dan jujur tentang siapa kamu sebenarnya.” Dengan wajah mengkal karena jawaban yang berbelit, lelaki itu mencoba mendapatkan informasi tentang si bocah.
“Baiklah, Om … seperti yang kukatakan tadi, namaku adalah Wawang, anak asuh dari Paman Sujiwo yang belum lama ini meninggal.” Dengan terus terang, si remaja mulai membuka pembicaraan dengan benar.
***