Semua murid padepokan masih terdiam, termasuk juga dua asisten pelatih yang kini sedang memegangi beberapa bagian tubuhnya yang mulai terasa berdenyut sakit. Tentu saja, saat itu tak ada satupun yang berani menjawab tantangan tersebut.
“Ha ha ha … sudah kuduga akan demikian. Tak ada bedanya. Ha ha ha … guru pengecut, murid pasti akan jadi penakut. Jalitheng … percuma kau punya padepokan kalau hanya berisi anak-anak muda pengecut. Mendingan, bubarkan saja tempat ini …” demikian kata sang lelaki bertopeng. Namun yang mengherankan bagi Wulan, adalah sedikit nada getir dalam suara lelaki itu.
Mungkin karena Wulan satu-satunya gadis disitu, sehingga ia bisa lebih peka menangkap nada sumbang dalam suara si lelaki misterius. Atau, bisa jadi hal tersebut merupakan suatu kelebihan dalam diri si gadis belia untuk membaca orang dari nada suaranya.
Namun karena situasi yang sudah sedemikian membuat tak nyaman, gadis itu jadi tak memikirkan lebih lanjut tentang satu keanehan lagi yang bisa kembali ia tangkap. Tak terima dengan kesombongan lelaki tersebut, dengan gagahnya ia melangkah maju untuk mendekati manusia durjana yang sedang tertawa pongah itu.
“Jaga mulutmu! Tamu kurang ajar, bukannya memperkenalkan diri dengan datang baik-baik, malah membuat kekacauan disini!” bentak mulut mungil berbibir tipis itu dengan galaknya.
Mendengar sebuah bentakan suara seorang gadis yang sedemikian nyaringnya, pria bertopeng itu menengok dengan cepat ke sumbernya. Namun setelah melihat perwujudan dari sosok yang sudah berani mengeluarkan kalimat teguran itu, mendadak saja ia tertawa terbahak sambil berkata mengejek,
“Ha ha ha … hebaatt … gadis jaman sekarang, masih bau kencur sudah berani main bentak dengan tuan besarmu. Siapa kamu, murid tingkat berapa dan setinggi apa ilmumu hingga sedemikian jumawa di depanku …”
“Tutup mulutmu yang bau! Hei, laki-laki tua kurang ajar! Nonamu inilah yang akan menerima tantangan dari mulut besarmu. Bukan hanya untuk menghadapi tiga jurus ilmu pasaran darimu, tapi sekaligus akan membuatmu bertekuk lutut mencium telapak kakiku,” dengan sombong, Wulan mengejek habis pengacau yang datang malam itu.
Dan setelah kembali mendengar omongan begitu besar yang diucapkan secara terang-terangan oleh seorang gadis kurus kurang gizi, tentu saja sang tamu ahli berkelahi yang belum bisa dikalahkan itu menjadi bertambah emosi.
“Kurang ajar! Pantas saja, gurunya kurang ajar dan pengecut, muridnya pasti bermulut besar dan tak tahu adat. Biar saja, jangan salahkan kalau aku mewakili leluhurmu untuk menghajarmu agar kamu dan Jalitheng bisa menjadi manusia berbudi di masa depan.”
“Hi hi hi … aki-aki bau … jelas-jelas kamu yang tak tahu adat dengan mengganggu dan bikin onar di tempat orang. Biarkan nona besarmu ini yang akan mewakili buyutmu untuk menggebuk pinggulmu dengan bambu biar kapok dan tak lagi berani kurang ajar!”
“Dasar gadis bau kencur sombong! Berani-beraninya berkata seperti itu … murid Jalitheng tingkat ke berapakah kamu?” dengan hati panas dan penasaran, lelaki bertopeng itu kembali menanyakan status Wulan.
“Ha ha ha … kalau aku jadi murid Ki jalitheng, sudah semenjak tadi pantatmu akan kupukul menggelinding dari sini. Tapi percayalah, meskipun aku bukan murid pendekar besar Ki Jalitheng … aku tetap akan bisa memukulmu dengan bambu ini.” Dengan berani, Wulan mengacungkan bilah bambu yang ia pegang di tangan kanan.
Mendapatkan jawaban yang begitu pedas dan semakin sombong, tampaknya perut lelaki bertopeng dengan jubah hitam itu menjadi mulas. Penuh emosi, ia membentak,
“jangan main-main dengan kakekmu ini. Siapa dirimu?! Dan mengapa hanya kamu yang berani melawanku secara satu-satu?”
“Ha ha … Nonamu tidak main-main, Aki buluk. Nonamu ini, bahkan belum pantas untuk menjadi murid Pendekar besar Jalitheng. Aku hanyalah tukang memasak dan bersih-bersih di padepokan ini. Tapi tahukah kamu, Aki jelek? … gagang sapu ini pasti akan mampu menghadapi jurus-jurusmu yang ampuh. Tak perlu menantang sang maha guru sakti Aki Jalitheng … karena dengan melawan tukang masaknya saja, kamu akan cukup babak belur dibuatnya.” Demikian jawab Wulan dengan kata-kata yang pintar memanaskan perut sang tamu tak diundang.
---
“Kurang ajar! Sombong sekali kamu, anak bau kencur. Jangan banyak bacot, rasakan pukulan kakekmu ini … hiaaattt …”
Tak mampu menahan amarahnya lagi, sosok berpakaian gelap itu menerjang maju sambil melancarkan sebuah pukulan ke wajah Wulan. Namun dengan sangat lincahnya, si gadis menghindar ke arah kiri sambil mengayunkan tongkat bambunya untuk memukul tangan sang penyerang.
Sontak saja, lelaki bertopeng itu menarik tangannya dan urung untuk melancarkan pukulan. Sebab jika terlalu nekad untuk melanjutkan niatnya, justru malah ia yang akan rugi kena hantaman bambu pada pergelangan tangannya.
Merasa gagal pada jurus pertamanya, kini ia terlihat berhati-hati dalam menghadapi si gadis kecil yang ternyata sangat cerdik seperti ular. Sambil mengamati dengan tajam pergerakan musuhnya, tamu kurangajar itu mulai melakukan gerakan-gerakan pembuka bagi jurus kedua yang hendak dilancarkannya.
“Grrrr …. Haiiittt, awas, lihat serangan!” sambil menggeram, ia melompat kedepan seperti hendak menerkam nawang Wulan.
“Hiyaaa …” jerit si gadis sambil berjongkok dan menudingkan tongkatnya ke arah atas.
“Ehhhh … kurangajar!” teriak laki-laki itu yang kini mulai kehilangan keahlian untuk menyamarkan suaranya. Jurus kedua yang akan dilakukan, ternyata juga gagal total karena langsung mendapatkan sebuah ancaman tusukan tongkat pada tempat terlemah tanpa pertahanan; yaitu perutnya!
Mendengar hal tersebut, senyum tipis menghias wajah nakal gadis belia yang bahkan kini menjadi semakin jumawa. Sambil berkacak pinggang, gadis tersebut mendongakkan wajahnya untuk tertawa dan menyombongkan diri.
“Ha ha ha … Aki, sudahlah … kasihan sedikit dengan tulangmu yang tua itu. Menyerah sajalah, karena dua jurus andalanmu ternyata bisa kumentahkan dalam sekali gebrakan saja.”
“Kurang asem! Murid siapakah sebenarnya kamu? Belajar silat dimanakah kamu?” dengan kereng, lelaki tersebut mulai menggunakan suara samarannya lagi.
“Aih … mengapa kisanak bertanya seperti itu? hi hi hi …” dengan nakal, Wulan menggunakan sebutan ‘Kisanak’ untuk memanggil tamunya yang jauh lebih tua itu.
Tentu saja, hal tersebut adalah sebuah kesombongan atau sikap ugal-ugalan yang sengaja ditunjukkan Wulan untuk membuat pria bertopeng itu menjadi marah.
Dan benar saja,
“Sombong sekali kamu … hahhh, tak disangka anak murid Ki Jalitheng ternyata begitu pongah dan takabur,” dengan marah dan sambil menggerutu tak karuan, tamu tersebut melampiaskan kekesalannya.
“Eiitt … hati-hati kalau bicara. Sudah aku katakan tadi … aku bukanlah murid Ki Jalitheng.”
“Lalu, mengapa kau bisa sehebat itu melawanku?”
“Ah … terntyata kau mengakui kehebatan tukang sapu padepokan ini. Hi hi hi … ayo cepat berlutut dan menyembah ke empat penjuru untuk meminta maaf pada Ki Jalitheng. Karena, melawan tukang bersih-bersih yang hanya diberi satu dua ilmu tingkat rendahan saja sudah tak mampu.”
---
Kata-kata Wulan, adalah sebuah penghinaan bagi penyerang gelap dan sekaligus pujian tertinggi untuk sang guru di padepokan silat tersebut. Karena dengan mengartikan seorang ahli silat lain tak mampu melawan tukang bersih-bersih, hal itu sama saja dengan mengatakan bila kemampuan orang tersebut belumlah layak untuk dibandingkan dengan Ki Jalitheng.
Dan mendengar kata-kata terakhir yang diucapkan oleh si gadis belia, tak hanya pria bertopeng saja yang menjadi marah. Namun, semua murid yang berada disitu ternyata telah berubah menjadi kembali percaya diri.
Sejak awal mula Wulan berdiri menantang sang tamu, tak ada satupun dari semua teman-teman Wulan yang berani bersuara sedikitpun. Mereka terlalu takut dan juga sangat mengkhawatirkan kenekatan si gadis yang begitu sembrono menerima tantangan lelaki menyeramkan tersebut.
Namun saat pertarungan mulai berjalan, mendadak saja semua mata jadi melotot dengan mulut yang sulit dikatupkan. Hal itu terjadi, saat mereka melihat betapa lincahnya si gadis yang bahkan belum pernah sekalipun bersedia untuk belajar silat.
“Aku tak suka berkelahi.” Demikian selalu jawaban Wulan saat ada yang mengajaknya untuk turut berlatih.
Namun kenyataannya, bagaimana bisa gadis itu sedemikian ahli menggunakan sebatang bambu untuk mementahkan setiap serangan musuhnya?
Dan … mendadak saja, ada satu dua bocah yang kini berani membuka mulutnya,
“Ayo berlutut!”
“Ya, ayo minta maaf pada Ki Jalitheng …”
“Benar, kamu sudah kalah …”
Mendengar celoteh tak jelas yang kian lama bercerowetan semakin ngawur, laki-laki tersebut langsung menoleh ke arah segerombolan anak yang sedang berteriak-teriak sambil mencemooh.
“Diaamm!” bentaknya dengan keras, sehingga semua mulut langsung terkatup rapat karena sang pemilik yang spontan menjadi gentar kembali. Lalu, ia melanjutkan lagi untuk menggertak Nawang Wulan.
“Gadis sombong. Aku baru melancarkan dua jurus dari tiga yang dijanjikan kepadamu. Dan ketahuilah, jurus yang tadi hanyalah mainan bocah yang baru belajar silat. Sekarang, bersiaplah untuk menghadapi jurusku yang ketiga. Jika kau mampu menghadapinya … hmmm …”
“Hmmm … apa yang akan kau berikan jika aku mampu menghadapi jurusmu?”
“Baiklah … aku akan memberikan warisan ilmu silat tingkat tinggi kepadamu, jika kau bisa menghadapi jurus andalanku.” Dengan tegas, wajah bertopeng itu terdengar berjanji dengan sungguh-sungguh.
“Cuihhh … Ha ha ha … tipu daya buat anak kecil mau kau berikan padaku? Janji macam apa pula itu? Kalau sudah jelas jurus andalanmu bisa aku kalahkan, buat apa aku belajar silat darimu? Hi hi … Orang tua, kau pasti sedang bercanda.”
Dengan tawa penuh ceria dan tanpa kesombongan, gadis itu benar-benar tertawa dengan hatinya. Sebebnya, tentu saja ia merasa geli dengan kekonyolan orang misterius yang ada di hadapannya.
“Ha ha ha … ternyata, kamu tak hanya pandai. Tapi juga cerdik dan tak bisa ditipu. Baiklah … sekarang kita balik saja. Jika kau mampu aku kalahkan dengan satu jurus terakhir ini, maka mau tak mau kau harus bersedia untuk mempelajari satu dua jurus milikku. Bagaimana?” tanya si tamu yang nampaknya juga bukan orang bodoh.
---
Wulan menjadi sadar, bahwa dirinya kini sudah masuk kedalam jebakan kata-kata dari lelaki tua yang kini sedang ia hadapi. Untuk mundur, rasanya ia sudah merasa kepalang tanggung. Namun bila maju dan bisa dikalahkan oleh pria bertopeng itu, bukankah ia akan kena jebakan untuk mempelajari ilmu silat yang kurang disukainya?
Selagi masih menimbang untung ruginya, gadis itu seketika menjadi merah telinga saat mendengar sebuah suara yang begitu mengandung ejekan,
“He he he … kau takut, gadis kecil? Mana keberanianmu tadi? Apakah kau akan mundur saja karena takut kalah?”
“Aku tidak takut!” jawab Wulan dengan marah.
“Ah, iya … kau pasti takut. Lupa kalau bebarapa saat lalu kau menyombongkan kehebatan sang maha guru padepokan ini. Hmmm … tak kusangka …” terdengar dengus lelaki itu saat mengantung kalimatnya. Tentu saja, hal itu disengaja untuk memancing emosi si gadis yang masih mentah pengalaman.
“Apa? Siapa yang takut? Ayo, kita mulai saja. Tapi sebentar … apa hukumanmu bila kalah?” bentak gadis tersebut dengan nada mengkal.
“Hmm … tentu saja aku akan mengikutimu menjadi murid. He he …” jawab sang tamu dengan seenak udelnya.
“Cuihhh … tak sudi aku! Siapa juga yang mau diikuti setiap hari oleh aki-aki bau?” dengan kekesalan yang memuncak, Wulan mejyahut bicara musuhnya sambil membanting-banting kaki karena kesalnya.
“Ha ha ha … lalu, apa yang kamu mau?”
“Hmmm … sediakan makanan paling enak sehari tiga kali bagiku dan sahabatku itu.”
“Baik, itu masalah gampang. Itu saja?”
“Satu lagi …”
“Apa?”
“Sediakan makanan dengan tepat waktu, tapi jangan berani-beraninya kau perlihatkan wajah jelek dan badanmu yang bau itu di depanku.”
“Baiklah nona besar … aku akan memegang janji. Demikian juga dirimu … di depan semua teman-temanmu itu, kau sudah mengucap janji untuk bersedia menjadi muridku dan menerima satu dua jurus pelajaran silat dariku.”
“Hmmm … ya, aku berjanji. Dan jangan besar kepala dulu, karena aku juga belum kalah darimu …”
***