BAB 8 – Murid Baru Ki Jalitheng
Lelaki dalam jubah panjang warna gelap itu, hanya diam tanpa mau menanggapi kata-kata yang dilontarkan oleh si gadis belia. Nampaknya, ia sedang mempersiapkan diri untuk melancarkan sebuah jurus terakhir agar dapat menundukkan remaja bengal yang ternyata demikian nakal dan tangguh.
“Jangan banyak bicara, persiapkan dirimu baik-baik untuk mengahadapi jurus ketiga.”
Sang tamu tak diundang, nampaknya menjadi sangat serius setelah dua kali dipecundangi oleh Wulan. Hal itu, terlihat dari sikapnya yang hati-hati dan tak mau gegabah menganggap enteng musuhnya.
Melihat hal tersebut, Wulan merasa bahwa sikap main-mainnya tadi juga harus diakhiri. Sebab ia tahu, kesungguhan dari laki-laki yang ada dihadapannya itu bukanlah merupakan sebuah gertak sambal saja.
Kepalang basah karena sudah menerima tantangan yang disertai taruhan besar itu, gadis tersebut juga ikut mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menghadapi setiap kemungkinan apapun yang akan terjadi.
Tanpa sadar, Wulan segera melakukan satu gerakan yang dilakukannya dengan otomatis. Sang gadis memasang kuda-kuda, yang sebenarnya ia sendiri juga tak mengetahui apa kegunaannya. Karena, hal itu telah ia lakukan begitu saja tanpa pernah berlatih atau mempelajari sebelumnya.
“Kau bersiaplah, aku akan melancarkan serangan,” terdengar suara peringatan yang dilontarkan oleh lawannya.
Sang gadis hanya diam, ia masih berusaha berkonsentrasi dan mengingat apapun yang pernah dilihatnya terkait ilmu silat. Setelah beberapa saat berusaha fokus, dengan perlahan ia mengangkat tangan kanan yang masih memegang tongkat bambu.
Gerakannya benar-benar anggun dan begitu natural. Karena bagi semua yang hadir disitu; apa yang sedang dilakukan Wulan saat ini, seakan merupakan satu gerakan dari seorang ahli yang telah berlatih selama bertahun lamanya.
Tak hanya bagi rekan-rekannya yang berada disitu, karena bahkan lawan bertarungnya yang merupakan seorang ahli silat juga nampak terheran saat memandangi gerakan yang tengah diperlihatkan oleh si gadis. Karena dimatanya yang ahli, Ia benar-benar merasa seperti sedang menghadapi seorang lawan yang sepadan.
“Hei bocah! Dari mana kau belajar silat?” akhirnya, si lelaki bertopeng tak tahan untuk menanyakan sesuatu yang membuatnya heran.
“Hi hi hi … kau takut? Bahkan hanya dengan gayaku ini saja, kamu sudah menjadi jeri …” balas si gadis yang sudah menemukan kembali sifat isengnya.
“Banyak ngomong! Katakan saja siapa gurumu! Apakah Ki Jalitheng itu yang sudah menurunkan ilmu silat kepadamu?” tanya si lelaki dengan lebih mendesak.
“Baiklah kalau kamu memaksa. Dengar baik-baik … aku, si Wulan; belum pernah sekalipun belajar ilmu berkelahi. Karena aku tidak pernah suka untuk berkelahi. Dan sekali lagi aku tegaskan, Wulan tidak berbohong, apalagi kepada orang yang lebih tua.” Dengan tegas, gadis itu menjawab sambil juga memberikan penjelasan.
“Lalu, mengapa gerakanmu terlihat ringan dan luwes seperti itu? tak mungkin rasanya, kalau kau belum pernah belajar silat.” Dengan ragu-ragu, lelaki tua itu kembali menjawab.
“Terserah apa katamu. Yang penting, aku sudah berkata dengan apa adanya.”
---
Wulan memang tidak berbohong saat mengatakan hal itu. karena ia sendiri memang belum pernah sekalipun mempelajari ilmu beladiri dari siapapun. Bahkan sahabatnya yang tak pernah bosan mengajaknya berlatih, selama ini juga tak pernah ia gubris omongannya.
Namun dalam hati kecil Wulan, sebenarnya ia juga merasa heran dengan keadaannya saat itu. Dua orang cantrik padepokan yang sudah bertahun mengikuti Ki Jalitheng di tempat tersebut, dengan mudah sudah ditundukkan sampai jungkir balik oleh lawan mereka. Padahal, dua murid perguruan silat itu, seharusnya jauh lebih memiliki keahlian bertarung dibandingkan Wulan yang hanya gadis biasa saja.
Ketidaktahuan gadis belia tersebut, adalah sesuatu yang juga sangat alami. Karena, gadis itu sendiri tak pernah menyadari apa yang telah terjadi dengan tubuh serta jiwanya. Ia juga tidak akan pernah paham, jika kelebihannya itu adalah sesuatu yang merupakan hasil dari sebuah proses selama bertahun-tahun.
Kemampuan menahan napas saat ia menyelam, adalah salah satu wujud latihan untuk menghimpun hawa murni dalam jiwanya. Sehingga, baik aliran darah maupun tenaga murni yang ada dalam tubuhnya telah sedikit demi sedikit terbangkitkan sebagai hasil dari kebiasaannya itu.
Lalu dalam bidang latihan fisik, tentu saja kelenturan serta kekuatan otot sang gadis telah lebih dari cukup jika dibandingkan dengan latihan biasa dalam mempelajari ilmu bela diri. Karena, berlari pulang pergi untuk ke sekolah, menebang pohon, mencangkul, menjelajah hutan, dan membawa beban berat dengan tubuhnya … adalah sebuah latihan yang sangat keras bagi seorang remaja belia.
Tentu saja, keikhlasan serta kegembiraan si gadis dalam melakukan semua itu juga sangat mempengaruhi hasilnya. Karena justru latihan tanpa tendensi apapun selain untuk bertahan hidup dan bersenang-senang dalam keseharian itulah, yang dengan ajaib telah membentuk jiwa serta raga yang bersih dalam diri Nawang Wulan.
Dan … itulah salah satu hasil dari jerh payah sang gadis yang selama ini tak pernah sekalipun mengeluhkan keadaan. Sebab dengan besarnya rasa syukur yang ia miliki; makanan sehat apapun yang memasuki pencernaannya, dengan terus menerus juga mengambil peran dalam membentuk sebuah jiwa yang tenang serta raga yang sedemikian kuatnya.
---
“Halahhh … banyak rewel. Awas kalau kamu bohong!” dengan keras, lelaki bertopeng membentak.
“Aku tidak pernah bohong. Dan, buat apa juga aku perlu berbohong kepadamu? Hmm … katakan saja kalau takut.”
Melempar senyum manis yang seperti mengejek, dengan tenangnya si gadis membalas tuduhan sambil tetap mempertahankan kuda-kuda dan jurus pembuka ngawurnya itu.
“Banyak omong. Lihat serangan! Hiaattt …” tanpa mau melayani bicara lagi, lelaki berjubah gelap itu langsung membuka serangan.
Dengan cepat, tamu misterius tersebut menerjang ke depan sambil melancarkan pukulan dengan dua lengan yang maju bersamaan. Sementara si gadis, terlihat tersenyum tipis karena sudah menduga jika ia akan mendapatkan sebuah serangan dengan jurus yang sudah sering ia lihat.
Tak kalah cepat, Wulan menyabetkan tongkat bambunya untuk membabat tangan yang hendak mmemukul dadanya itu. Kemudian, dengan otomatis ia melangkah satu tindak ke arah kanan untuk mengantisipasi gerakan yang akan menyusul dari lawannya.
Wulan berbuat seperti itu hanya berdasarkan naluri saja, sebab dari jurus yang ia kenal dengan baik tersebut, ia yakin jika nantinya akan ada serangan susulan yang dilakukan untuk menghajar perut dengan menggunakan sikut.
Namun …
“Ahhh … curang!” demikian jerit Wulan saat mendadak saja ia jatuh terguling akibat sapuan kaki yang menggempur kuda-kudanya.
Tak terbayangkan sama sekali oleh si gadis, bila sang lawan telah bergulingan dengan cepatnya saat serangan pembuka gagal. Lalu tubuh yang rebah ke tanah tersebut, dengan kilat langsung menyapu kedua kakinya sehingga ia menjadi jatuh keatas tanah.
Tanpa mengenal kata takut, Wulan mencoba bangkit dari tanah. Namun, sebuah tendangan susulan telah mendarat di bagian pinggul dan membuat ia kembali bergulingan di tanah. Tak terima dengan hal tersebut, dengan seketika si gadis menjadi nekad.
Belajar dari lawannya, Wulan mencoba berguling sambil menyapu kuda-kuda lawannya yang spontan langsung melompat ke belakang. Disaat itulah, si gadis mengejar lawannya sambil terus mengicar kaki yang ia lihat telah menjadi kacau gerakannya.
Sebagai seorang ahli silat, lelaki tersebut menjadi sedikit gugup saat mendapatkan serangan ngawur yang telah lepas sepenuhnya drio semua teori beladiri. Tentu saja, lelaki bertopeng itu membutuhkan sedikit waktu untuk melihat apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh sang gadis.
Si orang misterius memang harus berhati-hati, karena gadis yang ia hadapi bukanlah seorang anak sembarangan. Meskipun Wulan tak pandai ilmu dasar silat, namun tenaga serta kelincahannya adalah satu hal yang tidak bisa dianggap enteng.
Gadis tersebut memiliki energi luar biasa yang telah menyatu dalam darah. Sehingga gerakan-gerakan yang ia lakukan disaat menghadapi pertarungan seperti itu, adalah sebuah kekuatan yang selayaknya ahli silat tingkat tinggi.
Hanya saja, dengan mudahnya gadis itu telah bisa dijatuhkan dalam satu kali gebrakan pada jurus ketiga. Hal tersebut bisa terjadi, adalah karena keadaan si gadis itu sendiri yang masih sangat miskin pengalaman. Lalu hal kedua yang membuat perlawanan Wulan menjadi sangat lemah, itu juga bisa terjadi akibat dari dikacaukannya jurus serangan yang semula seperti dikenal baik oleh Wulan.
---
“Roboh! Menyerahlah!” dengan bentakan keras, sang penyerang melentingkan tubuhnya ke atas, lalu kembali meluncur turun sambil memajukan kedua lengannya untuk melakukan cengkeraman pada si gadis yang masih terduduk di atas tanah.
“Ha ha ha … Ki Jalitheng! Nggak malu melawan anak-anak pakai jurus pamungkasnya! Hiyaaaattt … uh, aduh …” sembari mengatakan hal itu, Wulan berguling setelah ia menusukkan tongkat bambunya untuk menahan serangan dari atas.
Serangan ke arah tubuh Wulan meleset, tapi sang penyerang telah berhasil menangkap kedua kaki Wulan yang terlambat untuk diajaknya berguling. Setelah melepaskan cengkeramannya pada kaki sang gadis yang meringis sambil mengeluarkan kata-kata usil, pria tersebut membuka topengnya sambil tertawa,
“Ha ha ha … tak percuma setiap hari kamu membantu disini. Hmmm … anak pintar, tapi nakal. Kenapa kau tak mau berlatih, malah bertindak nakal dengan mencuri lihat ilmu silatku?” dengan tatapan menegur, pria misterius yang ternyata Ki Jalitheng adanya; kini berkacak pinggang sambil memandangi Wulan yang sudah mulai merangkak untuk bangkit.
---
Saat mengetahui bila si tamu lelaki bertopeng yang mendatangi padepokan itu adalah Ki Jalitheng, sontak saja semua muridnya jadi terlihat senang dan lega. Walaupun beberapa orang mendapatkan lebam karena pukulan dan tendangan, namun semua itu tidaklah menjadi masalah besar. Karena, tentu saja sebuah latihan beladiri akan selalu membuka peluang bagi cederanya beberapa bagian tubuh.
“Ih, nuduh … siapa juga yang mencuri lihat ilmu silat aki? Tiap kali latihan, bukankah itu dilakukan dengan terang-terangan? Bagaimana ceritanya aku dituduh mencuri lihat?” dengan sedikit ngotot, gadis itu memprotes tuduhan yang tak berdasar.
“Hmmm … pintar sekali kau menyangkal.”
“Habis, memang begitu adanya saat aku melihatmu latihan, Ki …”
“Baiklah, aku terima alasanmu. Jadi, apakah semenjak awal kau sudah mengenaliku?”
“Hi hi hi … hanya kira-kira saja. Pada awalnya, aku mulai curiga kalau itu kamu, Ki ... karena gerakan yang kau lakukan sepertinya itu, sepertinya sudah begitu aku hapal. Dan benar juga … bukankah jurus yang kau gunakan terakhir tadi adalah jurus macan putih menyergap kelinci?"
"Ha ha ha ... tak salah lagi, kamulah satu-satunya murid paling berbakat. Karena dengan hanya melihat saja, kau sudah bisa menghapalnya hingga mampu menghadapi seranganku." Demikian tanggap Ki Jalitheng dengan senangnya.
Namun, jawaban si gadis terdengar enteng dan tak perduli, “ingat, Ki … aku bukan muridmu. Lagipula aku tak mengenali jurus ketiga, hingga bisa kau jatuhkan dengan mudah.” Demikian ujar Wulan.
“Ha ha ha … itu bukan karena kamu tidak mengenalinya. Tapi, aku memang sengaja mencampur-aduk beberapa jurusku agar membuatmu bingung.”
“Pantas saja, Ki … gerakan pembukamu aku kenali, tapi serangannya menjadi begitu tak terduga sehingga aku bisa kena tipu.” Akhirnya, Wulan mengakui kehebatan Ki Jalitheng.
“Hmmm … memang begitulah seharusnya yang dilakukan orang saat bertanding. Jangan khawatir, tak lama lagi kamu juga bisa menjadi seorang ahli silat. Janji tetap janji, dan karena kau kalah … Hmmm, bersiaplah untuk kugembleng menjadi seorang wanita yang tangguh.” Dengan mantap, Ki Jalitheng menutup pembicaraan.
Mendengar kata-kata dari sang guru silat, Wulan hanya bisa diam. Karena seperti yang dikatakan Ki Jalitheng tadi, janji tetaplah janji. Dan, sebagai gadis yang selalu menjunjung tinggi ucapannya sendiri, Wulan sudah tidak bisa lagi menghindar untuk menjadi murid lelaki tua yang terlihat sangat menyayanginya itu.
***
Mulai saat itulah, Wulan diangkat menjadi satu-satunya murid perempuan Ki Jalitheng. Dan entah karena dia hanya satu-satunya wanita atau karena sebab lain, ternyata guru silat itu memberinya ilmu dengan cara yang berbeda.
“Aku tak akan mengajarkanmu jurus-jurus gerakan silat. Karena bagimu, yang terpenting hanyalah mengenal bagaimana cara mengambil sikap untuk membuat suatu gerakan membela diri atau menyerang.” Demikian kata Ki Jalitheng pada Nawang Wulan.
“Lalu, kau akan mengajarkan apa padaku, Ki?”
“Kelincahan dan juga pernapasan yang baik dan benar untuk menghimpun hawa murni dalam tubuhmu. Sedangkan untuk kekuatan fisik, aku rasa kau sudah lebih dari cukup memilikinya dibandingkan dengan orang biasa.”
“Baiklah, aku menurut saja apa katamu. Bagiku malah kebetulan, karena belajar gerakan-gerakan silat, rasanya aku pasti akan bosan.” Demikian jawab si gadis dengan santai.
“Aku juga merasa seperti itu. Karena itulah, kau akan mendapatkan pelajaran yang berbeda dengan saudara seperguruan lainnya.”
Mungkin Ki Jalitheng menganggap Wulan adalah seseorang yang berbeda dan sedemikian istimewa, sehingga dalam mengajarkan kepandaiannya pun ia juga memiliki cara yang sangat berbeda.
Hal itu, nampaknya lebih disebabkan oleh pengetahuan Ki Jalitheng sendiri saat bertarung dengan si gadis. Walaupun pada awalnya lelaki tua itu hanya ingin sekedar main-main saja, namun kenyataan saat menghadapi si gadis ternyata telah seketika membuktikan dugaannya.
Sebab sedari pertama ia melihat Wulan saat dirinya menjadi remaja, pandangan mata Ki Jalitheng yang tajam telah seketika bisa mengetahui bakat istimewa yang ada dalam diri si gadis yatim piatu. Oleh karena itulah, kini ia benar-benar ingin memberikan suatu ilmu yang berharga dan bisa dipergunakan sang gadis dalam menghadapi kerasnya hidup di masa depan.
Tentu saja yang dimaksud sebagai bekal kepandaian oleh Ki jalitheng, bukanlah semata-mata sebuah kekuatan fisik saja, melainkan juga kematangan jiwa serta mental yang disertai budi pekerti baik.
***