Mulai saat itu … dengan bimbingan gurunya, Wulan mulai mempelajari ilmu yang bermanfaat bagi kebugaran tubuhnya. Dari yang semula hanya melakukan olah fisik secara asal saja, semua menjadi lebih terpola dan memiliki ukuran setelah mendapatkan banyak petunjuk dari Ki Jalitheng.
Yang unik dari apa yang diistilahkan sebagai guru dan murid itu, adalah keseharian Wulan yang kini menjadi sedikit berubah. Sebab gadis yang biasanya hanya sendirian atau bersama Bayu saat melakukan aktifitasnya, kini selalu saja ditemani oleh Ki Jalitheng yang dengan sabar mengikutinya.
Tapi, tentu saja hal tersebut tidak berarti jika sang guru hanya sebatas menemaninya bermain saja tanpa arti. Sebab diantara kegiatan fisik Wulan saat mencari ikan disungai atau memasuki hutan untuk mencari berbagai kebutuhan, sebenarnya Ki Jalitheng tengah menyisipikan sedikit demi sedikit ilmu yang ia miliki untuk dipelajari oleh si gadis belia.
Meskipun terlihat sepele dan tak jauh beda dengan kegiatan biasa si gadis, tapi ternyata hal itu tidaklah sesederhana yang dilihat oleh orang lain maupun Wulan sendiri. Misalkan saja dalam melakukan gerakan melompat. Jika dulu sang gadis hanya melakukan secara ala kadarnya berdasar keberanian saja, sekarang hal itu menjadi satu hal yang bermanfaat besar baginya.
Batu-batu gunung yang tersebar di sepanjang sungai, dengan pintarnya telah disulap oleh Ki Jalitheng menjadi semacam kelengkapan berlatih. Nampaknya memang hanya seperti bermain saja, saat Wulan pertama kali diajak untuk melakukan hal itu. Tapi sebenarnya, justru disitulah letak kepintaran sang guru dalam menarik minat berlatih gadis tersebut.
Dengan bersama bermain saling berkejaran diantara bebatuan, Ki Jalitheng juga mengajarkan bagaimana cara Wulan untuk mengatur pernapasannya agar tidak menjadi cepat lelah. Sehingga, iapun telah sekaligus menggembleng dengan sedikit demi sedikit agar si gadis belia memiliki tubuh yang semakin lincah dan bugar.
Tak hanya itu saja. Dalam bidang menyelam yang menjadi kegemaran Wulan, ternyata juga tak luput dari polesan Ki Jalitheng untuk menyusupkan ilmu pernapasan sebagai penghimpun hawa murni agar bisa selalu membersihkan aliran darah sang gadis. Sehingga, tentu saja akan membuat Wulan menjadi salah seorang wanita yang memiliki daya serta kekuatan lebih dibandingkan orang biasa.
Layaknya teman sepermainan, hari-hari dijalani dengan melakukan kegiatan bersama yang bermanfaat. Bersama pemuda Bayu yang tak mau ketinggalan untuk turut berlatih, si orang tua menemani dengan tekun dan tak pernah lelah memberikan semua yang terbaik.
Hingga beberapa bulan berikutnya, satu peristiwa penting terjadi. Dan pada titik itulah, semua kedamaian serta kegembiraan hidup sang gadis telah berubah dengan seketika. Karena perpisahan dengan desa beserta seluruh isinya yang sangat menyayangi si anak semesta, mau tak mau harus merubah jalan hidup Wulan.
***
“Wulan …” sambut seseorang yang keluar dari pintu rumahnya.
“Paman…” dengan sedikit berteriak, si gadis belia membalas sapa sambil menghambur mendekati pria berjaket jins yang sudah menunggu di dalam rumahnya.
“Ahh … Paman pangling, kau sudah segini besarnya,” dengan penuh sayang, lelaki tigapuluh tahunan itu memeluk tubuh kerempeng sang gadis belia.
“Iya, Paman pasti pangling. Berapa tahun Paman tidak ketemu aku? Oh, iya … Ibu sudah meninggal beberapa bulan yang lalu.” Dengan rentetan pertanyaan dan cerita, Wulan memberondong lelaki yang ternyata adalah sang paman kandung.
“Aku sudah mendengar berita itu. Karena itulah, Paman segera kesini setelah tahu bila ibumu sudah wafat. Maafkan aku, Wulan … Paman benar-benar tidak bisa datang saat kau membutuhkan.”
Menyusul air mata yang berlinang, lelaki itu menunduk sambil mengatakan penyesalannya. Ia menatap wajah si gadis dengan wajah yang penuh dengan kedukaan mendalam.
“Jangan bersedih, Paman. Aku baik-baik saja. Seluruh kampung, adalah merupakan saudara yang selalu menjagaku dan siap memberi pertolongan apapun.” Sambil mengulas senyum, gadis itu malah mencoba menghibur adik ibunya yang terlihat sangat bersedih.
Kemudian sang gadis kembali berkata, seolah penghiburan yang tadi belum cukup untuk membuat hati sang paman lega, “Aku percaya, paman pasti akan datang bila tak ada satu halangan besar yang menimpa. Ah, aku tak pernah lupa … paman selalu pulang kemari setiap bulan untuk memberiku buku, pakaian serta makanan.”
“Iya, Wulan … aku pasti akan datang kalau tak menemukan halangan. Kamu keponakanku satu-satunya, dan kau tahu … Paman selalu sayang kepadamu.”
“Iya, Paman … aku tahu itu. Yuk, kita masuk. Kebetulan aku dapat ikan sungai yang gemuk-gemuk. Nanti akan aku masak dengan istimewa untuk menyambut kedatangan Paman. Bukankah Paman akan menginap?”
“Iya, Paman akan menginap selama beberapa hari.”
“Bagus, aku senang bila ada Paman di rumah ini.”
---
Namun ternyata, kedatangan sang Paman ke rumah Wulan memiliki sebuah niat yang lebih daripada hanya sekedar berkunjung saja. Selama beberapa hari berkumpul, sang Paman mencoba mengajaknya bicara untuk membujuk sang gadis agar bersedia tinggal bersamanya di kota.
“Paman memang tak punya apa-apa, bahkan tempat tempat tinggal di kota juga hanya merupakan rumah petak yang berada di tengah kampung. Tapi sebagai keluarga satu-satunya, sudah menjadi kewajibanku untuk merawat serta membesarkanmu. Untuk itu, paman berjanji akan selalu menjaga serta memberikan yang terbaik sebagai bekal masa depanmu.”
Demikianlah, sang paman membujuk disertai janjinya untuk mencukupi semua kebutuhan hidup Wulan serta juga memberikan apapun yang diinginkannya sebatas kemampuan yang ada.
Karena memang merupakan saudara kandung satu-satunya yang berhak atas hidup sang gadis yang belum menginjak dewasa, mau tak mau Wulan pun harus menuruti kehendak sang paman. Apalagi, ia paham jika pamannya itu memang selalu menyayangi sang ibu dan juga dirinya. Hanya saja, hubungan mereka memang sempat terputus selama beberapa tahun karena suatu hal.
Akhirnya diputuskan segera bahwa Wulan akan pergi meninggalkan kampung tercinta untuk mengikuti sang paman, demi menggapai masa depan yang ia harapkan. Tentu saja, perpisahan itu dengan segera langsung membuat Bayu Santoso menjadi bersedih karena kehilangan.
Remaja lelaki yang selalu menempel pada Wulan bagai kembaran berbeda ayah dan ibu, melepas kepergian sahabatnya itu dengan sangat berduka. Ia bahkan mengucap janji, bahwa di satu masa kelak, dirinya akan pergi untuk mencari dan menemukan Wulan.
Sementara sang gadis yang berpamitan secara khusus kepada Ki Jalitheng, malam itu mendapatkan berbagai bekal wejangan dan nasehat yang kelak akan berguna di masa depannya,
“Selalu berhati-hati dalam melangkah dan memutuskan sesuatu, Cu … ah, Wulan … kamu ini sudah aku anggap sebagai cucuku sendiri. Terus terang saja, aku merasa menyesal karena belum bisa memberimu bekal yang cukup dalam latihan tempo hari.” Demikian kata Ki Jalitheng kepada Wulan.
“Terima kasih untuk semua yang sudah kau berikan padaku, Ki. Bagiku, apa yang kuterima darimu selama ini, rasanya sudah lebih dari cukup,” jawab si gadis dengan bersungguh-sungguh.
“Sebenarnya, itu belumlah cukup. Karena ada beberapa hal lagi yang akan kuberikan padamu. Tapi … biarlah semua terjadi sesuai dengan kehendak Yang Di Atas. Hanya nasehatku ini saja yang harus kau dengar … berlatihlah dengan tekun meskipun tanpa diriku. Yang terpenting, pernapasan itu jangan pernah kau lupakan langkah-langkahnya. Teruslah berlatih, karena hal tersebut akan banyak membantumu di kemudian hari.”
“Baiklah, Ki … aku akan selalu mengingat kata-katamu.”
“Baguslah kalau begitu. Hmmm … ada satu lagi yang akan kuberikan padamu. Sebentar, tunggulah di sini.” Demikian Ki Jalitheng mengatakan sambil bangkit untuk memasuki kamarnya.
Tak berapa lama, ia kembali keluar sambil membawa sebuah bungkusan yang ia genggam dalam telapak tangannya. Di depan Wulan, lelaki tersebut membuka kain pembungkus, dan tenyata didalamnya terdapat sebentuk kotak kayu kasar yang berukuran sebesar bungkus rokok.
“Bawalah ini sebagai bekalmu. Tapi ingatlah akan satu hal yang akan kukatakan kepadamu. Dan aku mau, kamu benar-benar berjanji untuk mengingat apa yang menjadi pesanku ini. Sanggupkah kamu?”
“Selama aku mampu, aku akan menyanggupi itu, Ki …” jawab Wulan dengan tegas.
“Apakah kau mau berjanji dengan sungguh-sungguh?”
“Aku berjanji untuk menuruti pesanmu, Ki …”
“Baiklah, aku percaya padamu. Dengarkan baik-baik … aku memberikan kotak ini kepadamu sebagai bekal masa depanmu nanti. Namun, aku berpesan agar tak ada seorangpun yang boleh mengetahui keberadaan benda ini. Bahkan untuk dirimu sendiri, aku meminta agar kau tak mempergunakannya sebelum benar-benar merasa terjepit dan tak berdaya oleh keadaan. Kamu paham?”
“Apa maksud Aki dengan keadaan tak berdaya?”
“Maksudku, bukalah kotak itu disaat kamu sudah benar-benar tak menemukan jalan serta pertolongan lagi dalam hidupmu kelak. Simpanlah baik-baik dan jangan katakan pada siapapun tentang benda yang akan kuberikan ini. Aku rasa, bentuk bungkusan yang tidak bagus ini malah tidak akan mencolok perhatian dari pandangan mata orang lain.”
***
Beberapa hari kemudian, berangkatlah Wulan pergi ke kota dengan diiringi lambaian tangan hampir setengah jumlah penduduk kampung. Doa-doa terucap, agar semoga sang gadis selalu mendapatkan rahmat dan perlindungan dari Sang Maha Kuasa.
Beberapa orang juga mengatakan, bahwa sang gadis boleh kapanpun kembali ke kampung itu bila tidak betah dengan kehidupan di kota. Bahkan sang kepala desa, terlihat memberikan uang saku kepada Wulan untuk bekal selama perjalanan.
Dengan sedih, Bayu mengucap kata perpisahan. Iapun menyuruh Wulan agar berjanji untuk memberi kabar jika gadis itu sudah tiba di kota sana. Tak lupa, harapannya agar sang gadis bisa sesekali berkunjung juga ia sampaikan. Karena bagi si pemuda itu sendiri, desanya pasti akan menjadi berbeda dengan perginya seorang anak perempuan kecil asuhan sang semesta.
Tak dapa dipungkiri … kepergian Nawang Wulan, adalah kehilangan terbesar bagi penduduk desa yang selama ini sangat menyayangi gadis kecil itu.
***