BAB 10 - Paman Sujiwo

1645 Words
Tempat yang mereka tuju, bukanlah sebuah kota metropolitan besar dengan segala keramaian yang tak penah mati. Namun meskipun hanya merupakan ibu kota sebuah karesidenan, kemeriahan tempat itu telah dengan seketika membuat mulut sang bocah kampung menjadi ternganga. “Ramai sekali, Paman. Apakah aku tidak akan kesulitan saat pergi ke sekolah dan harus menyeberangi jalan raya itu?” “Nanti kamu akan terbiasa. Paman akan mengantar jemputmu untuk beberapa saat, hingga kau berani berangkat dan pulang sendiri.” “Jauhkah letak sekolahku? Apakah Paman tidak capek kalau harus mengantar jemput aku?” tanya kembali si gadis belia saat mereka masih berada di atas bus antar kota. Tentu saja, Wulan sedang membayangkan jarak serta kondisi medan yang setiap hari ditempuhnya saat masih bersekolah di kampung. “Paman punya sebuah skuter, nanti kamu akan aku antar menggunakan itu,” jawab pamannya dengan sabar. “Skuter? Apakah itu?” “Sepeda motor, Nak … hanya saja, memiliki roda yang lebih kecil dibanding milik Pak Lurah itu.” “Ah … Paman hebat. Di kampung, yang punya sepeda motor hanya beberapa orang saja. Di sini malah Paman punya barang seperti itu.” “Ha ha … kamu lucu. Sepeda motor Paman, hanyalah barang antik yang sering mogok. Kalau kamu mau, nanti akan Paman ajari untuk mengendarai itu,” jawab sang Paman sambil tertawa lebar. “Oh, bisakah aku? Sedangkan naik sepeda saja, aku belum pernah.” Dengan sedikit bingung, Wulan mengatakan keraguannya. “Kamu pasti bisa. Paman tahu, kamu anak yang cerdas dan gigih. Percayalah, kamu akan jadi mahir bila Paman yang mengajari.” “Oh, betapa senangnya aku. Terima kasih, Paman. Hi hi … Bayu pasti akan terkejut kalau tahu aku sudah bisa mengendarai sepeda motor.” ***  Hari-hari berlalu, dan baru pada saat itulah Wulan benar-benar bisa merasakan bagaimana dimanja oleh seseorang yang selalu bisa mencukupi serta melindunginya. Meskipun hanya menempati sebuah rumah petak di tengah kampung dengan satu kamar kecil, dengan pintarnya sang Paman telah menyulap tempat itu menjadi sebuah hunian yang cukup nyaman bagi si gadis. Menggunakan bahan ala kadarnya, paman Wulan yang bernama Sujiwo telah membuat satu ruang sendiri untuknya tidur. Sementara kamar lama yang lebih layak, dengan senang hati telah ia berikan sebagai tempat pribadi Wulan. Setiap pagi, sang paman mengantar Wulan untuk pergi ke sebuah sekolah negeri yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Setelah itu, Sujiwo pergi untuk bekerja yang bagi keponakannya sendiri malah belum jelas sebagai apa. Siang harinya, paman yang sangat menyayangi keponakannya itu sudah menunggu di gerbang sekolah. Dengan sebuah skuter butut tempo dulu, ia memboncengkan si gadis belia untuk membeli makan siang yang langsung mereka santap di sebuah warung. Sujiwo juga tak lupa dengan janjinya untuk mengajari Wulan mengendarai sepeda motor bututnya itu. Bahkan setelah gadis tersebut mahir mengoperasikannya, sang paman juga mengajari untuk merawat atau mengatasi permasalahan dikala kendaraan tersebut mogok atau ngambek saat diajak berjalan. ---   “Sebenarnya, Paman bekerja dimana?” tanya Wulan pada suatu ketika, saat ia sudah tinggal selama beberapa bulan di tempat tersebut. “Hmm … aku hanya bisa bekerja kasar, Wul …” jawab sang paman tanpa memberitahukan jenis pekerjaan yang sedang ditanyakan. “Jangan berkecil hati, Paman … asalkan halal, semua pasti akan cukup mengenyangkan perut dan mencukupi kebutuhan yang biasa saja.” Dengan bijak, gadis lugu itu mencoba membesarkan hati sang paman. “Iya … semenjak ada kamu, Paman jadi berpikir untuk mencari rejeki dengan benar,” jawab lelaki itu dengan singkat. “Apa pekerjaan Paman?” tak kapok, gadis itu kembali bertanya. “Hmmm … Paman tidak sekolah, makanya hanya bisa mendapatkan pekerjaan kasar yang membutuhkan otot. Makanya, kamu sekolah yang pintar agar bisa mendapatkan pekerjaan yang baik,” jawab pamannya dengan sungguh-sungguh. “Wulan pasti akan selalu belajar agar bisa terus naik kelas dan cepat lulus. Kalau sudah besar nanti, biar aku saja yang bekerja. Nanti, Paman istirahat saja kalau sudah merasa capek dengan kerja kasar.” Lugu, gadis itu melontarkan gagasan yang begitu menyentuh. “Terima kasih, Nak … iya, Paman senang dengan adanya kamu yang menemani disini. Kalau sakit atau sedang tidak bisa bekerja, sekarang tak lagi kuatir karena ada kamu yang menemani.” “Ah … harusnya paman menikah, biar ada yang menemani.” Dengan sok tahu, Wulan kembali berceramah. “Mana ada wanita yang mau dengan pengangguran seperti Paman ini?” “Loh, bukankah Paman bekerja?” “Bagi Paman, itu merupakan pekerjaan. Tapi untuk sebagian orang dari keluarga baik, mereka akan menganggap paman hanya layaknya preman saja.” “Preman? Maksud Paman, tukang peras yang meminta uang?” dengan mata membelalak, Wulan mengulangi kata sang paman untuk mencari penjelasan lebih lanjut. “Bukannya paman minta uang dengan begitu saja, Nak … paman bekerja dengan mencarikan penumpang bagi angkot yang mangkal. Nama pekerjaan paman, adalah timer.” “Timer? Apa itu? Aku belum pernah mendengarnya.” Dengan heran, gadis itu kembali bertanya. Tentu saja, ia merasa sangat asing dengan nama profesi yang disebutkan oleh sang paman. “Ya seperti yang aku katakan tadi. Seperti yang kau lihat di terminal bus waktu itu, paman bertugas untuk mencari penumpang angkot sebagai calo. Setelah kendaraan terisi penuh, barulah paman dapat menerima upah sebagai tanda jasa pekerjaan tersebut.” “Ohhh … seperti ituu …” lucu, karena bibir Wulan terlihat monyong saat mengucapkan kata-katanya. Lalu ia melanjutkan, “Paman, aku ingin ikut dan melihat bagaimana pekerjaan disana. Siapa tahu, aku bisa membantu sepulang dari sekolah.” “Husshh … nggak boleh. Dunia disana keras, Nak. Semuanya laki-laki kasar, tak pantas untuk seorang gadis sepertimu berada disana.” “Pamaann … tapi aku pengin. Aku tidak takut dengan dunia keras itu. Lebih keras mana dengan duniaku dulu? Mencangkul, menebang kayu, mencari rumput …, Paman pasti tahu betapa berat pekerjaan itu.” Dengan kukuh, Wulan mengajukan permintaan itu dalam raut wajah manja yang tak bisa ditolak oleh sang paman.   Dan akhirnya, Paman yang menyayangi Wulan itu tak bisa lagi menolak permohonan sang keponakan. Namun, ia mengajukan sebuah syarat, “kau boleh ikut, tapi harus berdandan seperti anak laki-laki. Tak ada seorangpun yang boleh tahu jika kamu ini perempuan. Lalu satu lagi … jangan katakan pada seorangpun jika kau ini keponakanku. ” Tegas, sang paman memberikan ultimatum. “Baiklah … berdandan seperti Paman, bukan? Celana jins, jaket jins dan penutup kepala. Aku bisa … asalkaaannn …” sambil menyeringai nakal, anak gadis yang mulai manja itu menggantung kata-katanya. “Iya, besok akan Paman carikan baju dan celana butut untuk kau pakai.” ***   Hari Minggu, Wulan sudah bersiap untuk pergi mengikuti Sujiwo ke tempat kerjanya. Sambil tertawa-tawa kecil, ia mematut-matut wajah serta penampilannya di depan cermin dalam kamarnya. Tak lama kemudian, gadis yang sudah menyelesaikan dandanannya itu keluar untuk menemui sang paman yang sudah menunggunya. “Ha ha … untung saja potongan rambut kamu pendek. Hmm … sebentar, pakai topi ini dan kuncir  rambutmu lalu masukkan ke dalamnya.” Demikian perintah sang paman sambil memberikan sebuah topi rimba pada sang keponakan. Dengan bantuan pamannya, akhirnya Wulan telah sukses menjelma sebagai seorang pemuda dalam penyamarannya. Tubuh yang kerempeng, nampak berbalut sebuah jaket jins tanpa lengan hingga tak menonjolkan bagian dadanya yang mulai tumbuh mengkal. Selain itu, badannya yang kini mulai bertumbuh jangkung juga telah semakin menyamarkan penampilan. “Tinggal sedikit  mengotori wajahmu agar tak terlalu nampak mulus, lalu semua akan sempurna. Pakai alat make-up yang Paman beli itu, cari yang berwarna coklat agar kamu pantas menjadi anak jalanan. He he …” dengan antusias, Sujiwo mulai memberi masukan terkait detil penyamaran wajah si Wulan. Semenjak awal Sujiwo memang sudah menegaskan bila tempat yang akan mereka tuju nanti, bukanlah merupakan sebuah area yang cocok untuk seorang anak gadis. Apalagi, Wulan adalah sesosok wanita muda yang cukup cantik dengan tubuh putih yang kini sudah mulai menampakkan pesonanya. Karena itulah, lelaki tersebut menyatakan kesediaannya mengajak sang keponakan jika Wulan mau menyamar menjadi seorang anak lelaki jalanan terlantar. Singkat kata, nantinya Sujiwo akan mengatakan pada teman-temannya jika lelaki muda yang dibawanya itu adalah seorang anak terlantar yang ia temukan untuk membatu pekerjaan di pangkalan kendaraan angkutan kota. ---   “Ingat, jangan katakan pada siapapun, bahwa kamu adalah keponakanku. Apalagi sampai ada yang mengetahui jika kamu adalah seorang gadis,” demikian pesan sang paman kepada keponakannya. “Mengapa harus begitu?” “Kau akan tahu sendiri pada waktunya nanti. Yang jelas, tempat kerja paman nanti bukanlah lingkungan yang baik untuk anak perempuan. Mereka semua tak ada yang mengenal sopan. Memang ada yang baik, tapi pasti akan kalah dengan orang kasar serta berangasan lainnya.” “Bagaimana nanti kalau  ditanya tentang  asal-usulku?” “Bilang saja, kau pergi dari rumah untuk menjadi anak jalanan.” “Baiklah, Paman. Apapun akan kulakukan untuk membantumu.” “Sebenarnya, itu tak perlu kau lakukan. Paman masih kuat dan bisa bekerja sendiri jika hanya untuk mencukupi kebutuhan kita berdua,” kata sang paman dengan tegas. “Seperti yang sudah kukatakan kemarin, aku ini sudah terbiasa bekerja sepulang sekolah, Paman. Tapi karena disini tak ada hutan dan sungai untuk tempatku mencari uang ... di tempat paman bekerja pun, bukanlah masalah bagiku untuk sekedar membantu mencari nafkah.” “Ah, Wulan … kamu memang keras kepala.” Dengan sedikit masygul, pamannya mencoba tersenyum saat menyampaikan teguran  halus pada sang keponakan. “Bukannya aku tak menurut apa kata Paman. Aku hanya sekedar ingin membantu saja. Apapun akan kulakukan untuk menemani Paman hingga sore hari kita bisa pulang bersama. Di rumah sendiri, rasanya juga tidak enak.” Dengan pintarnya, anak gadis itu kembali menyampaikan sebuah alasan yang masuk akal. “Terserah apa maumu. Asal kamu ingat saja semua yang sudah Paman pesankan padamu. Selalu hati-hati, dan jangan pernah mengaku sebagai saudara, kerabat, apalagi keponakan langsung paman. Karena itu akan menjadi satu hal yang cukup berbahaya bagimu.” “Baiklah, Paman. Aku menurut, meskipun belum bisa mengetahui alasan Paman yang sebenarnya.” Demikian jawab Wulan kembali dengan patuh. “Tentang hal itu, suatu saat nanti kau akan tahu dengan sendirinya,” jawab Sujiwo singkat. ***      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD