BAB 11 - Awal Meniti Karier

1596 Words
Apa yang dikatakan oleh sang paman jika lelaki itu adalah merupakan calo ataupun timer angkutan kota, ternyata tidaklah sepenuhnya tepat. Karena yang dilihat oleh Wulan, adalah sesuatu yang berbeda dengan bayangan saat mereka akan berangkat ke tempat itu. Jika tadinya ia mengira jika sang paman hanya menjadi orang suruhan yang bisa diperintah kesana kemari, pada prakteknya malah sangat jauh dari gambaran tersebut. Karena yang ia lihat, adalah keberadaan sang paman yang bisa menjadi seorang bos dalam kelompok manusia yang bergelut dalam bidang pekerjaan kasar tersebut. “Kenalkan, anak baru yang mau bantu kita disini,” kata Sujiwo pada beberapa rekannya yang tengah berkumpul di sebuah gardu. Nampaknya, tempat tersebut seperti dimaksudkan menjadi sebuah markas bagi para pekerja disana. Mirip ruangan sebuah pos ronda, tapi memiliki sebuah meja kerja dimana terdapat satu kursi di belakangnya yang menjadi tempat duduk paman Wulan. “Oh, saudara bos?” tanya seseorang disana yang segera mengulurkan tangan pada Wulan sambil memperkenalkan diri, “aku Opik, anak buah Mas Jiwo.” “Bukan siapa-siapaku,” kata Sujiwo menjawab pertanyaan itu. “Wawang … he he … aku berkenalan dengan Bos Jiwo di jalan, lalu diajak kemari,” jawab Wulan dengan santai dalam gaya anak nakal broken home. “Ohh … anak gedongan yang minggat dari rumah? Ih, tangan kamu kurus begini … emang berani hidup di jalanan?” tanya lelaki yang bernama Opik itu sambil tetap menggenggam tangan Wulan. “Semoga bisa, Om … asal diperbolehkan, aku bisa bantu apapun.” “Ha ha … aku dipanggil Om. Tapi nggak papa, aku suka itu. Ya sudah, nanti bantu aku saja jadi timer. Kamu yang teriak-teriak. Sepertinya cocok, karena suara kamu cempreng kayak perempuan … ha ha … iya kan, Bos? Dia boleh bantu kita cari penumpang?” dengan gaya berkelekar yang tidak merendahkan, Opik mengakrabkan diri pada Wulan yang memperkenalkan diri dengan nama Wawang. “Boleh, biar saja dia belajar bagaimana kerasnya hidup di jalanan. Aku titip dia biar bisa cepat menyesuaikan diri. Bimbing dan lindungi kalau ada yang mengganggu. Kasihan, dia sudah tidak punya ayah dan ibu lagi.” Dengan sejujurnya, Sujiwo menitipkan sang keponakan kepada para preman yang ada di ruangan tersebut. “Siap, Boss …” jawab Opik dan beberapa orang lain. “Iya, benar … laki-laki itu harus berani hidup keras,” sambung yang lainnya lagi disitu. Semua yang berada di ruangan tersebut juga memperkenalkan diri, karena nampaknya juga mereka sedikit segan terhadap ‘Wawang’ yang merupakan titipan Bos mereka langsung.       ***   Mulai hari itu, Nawang Wulan memasuki sebuah babak baru dalam penggalan hidupnya. Pagi hari, ia berangkat ke sekolah seperti biasa sebagai seorang gadis. Setelah selesai mengikuti pelajaran, barulah sepulangnya ia menyusul Sujiwo ke sebuah pangkalan angkutan kota di dekat pasar. Sesuai pesan sang paman, ia selalu membawa pakaian ganti dan perlengkapan yang akan digunakan untuk merubah dirinya menjadi seorang anak laki-laki. Tentu saja, sebuah penutup kepala dan rompi atau jaket adalah perlengkapan wajib yang  tak boleh ketinggalan untuk selalu menyamarkan wajah serta penampilannya. Sampai ditempat yang dituju, biasanya sudah ada sebungkus nasi yang sudah disediakan oleh sang paman ataupun anak buah yang disuruhnya. Kemudian, dengan lahapnya ia langsung menghabiskan menu apapun yang dibelikan untuknya. Barulah setelah itu, ia terjun untuk membantu mengisi angkutan kota ataupun kendaraan penumpang umum apapun dengan penumpang sesuai dengan tujuannya. “Pasar besar, pasar besar, Mall, alun-alun, kampus …” dengan lantangnya ia berteriak karena energi baru sehabis bersantap siang. Meskipun merupakan sebuah dunia baru dan asing baginya, Wulan tak pernah mengeluh dengan keadaan yang seperti itu. Apalagi, ia malah menemukan suatu hal yeng membuat dirinya merasa bangga dengan sang paman. Beberapa kali, ia mendengar pembicaraan anak buah yang secara tak sengaja ditangkap telinganya. Dari hasil selentingan cerita itu, Wulan dapat menyimpulkan bahwa sang paman adalah seorang  pimpinan  yang adil dan selalu memperhatikan para anak buahnya. Karena itulah, beberapa orang yang tergabung dalam kelompok  tersebut merasa sangat senang berada dibawah lindungan Sujiwo. Sebab, lelaki bersahaja tersebut ternyata juga sangat disegani oleh kelompok-kelompok yang lain. ---   Sesuai perjanjiannya dengan sang paman, Wulan memang selalu menjadi seorang anak laki-laki di tempat itu. Dengan sifatnya yang memang tomboy semenjak kecil, tak sulit baginya untuk berlagak sebagai seorang remaja laki-laki nakal yang sedikit urakan. Meskipun pada awalnya banyak yang menggoda si gadis jika dirinya ‘seperti anak perempuan’, tentu saja Wulan hanya tertawa sambil cengar-cengir berlagak lugu. Tetapi karena ternyata Wulan sangat gesit dan selalu ringan tangan membantu, pada akhirnya kelompok lelaki kasar itu bisa menerimanya sebagai seorang anak yang mudah dimintai tolong untuk apapun. Di tempat kerja, sang paman tak pernah dengan sengaja memperhatikan atau mengistimewakan keponakannya. Bahkan, ia terkesan membiarkan saja Wulan untuk berbuat sesuka dan sekehendak hatinya. Sehingga, anak buahnya juga tak ada yang curiga bila Sujiwo memiliki sebuah hubungan yang sangat dekat dengan anak tanggung itu. Karena hal tersebut, apa yang terjadi dalam keseharian Wulan adalah sebuah kehidupan yang mengalir dengan wajar. Dan sebagai seorang anggota terbaru serta paling muda, dengan sendirinya ‘Wawang’ telah secara tak resmi menjadi suruhan para seniornya. Seperti yang terjadi hari itu, “Wawang, kau majukan angkot itu untuk menempati baris paling depan.” Demikian perintah seseorang. “Ha ha ha … aku dorong? Mana kuat, badan kerempeng ini mendorong sebuah angkot sendirian?” dengan cuek dan tak ketinggalan ketawa cerianya, Wulan menjawab dengan enteng. “Ha ha … aku lupa, kau belum bisa menyetir sedikitpun. Ya sudah, sini ikut aku!” demikian perintah lelaki gempal berwajah sangar tapi berhati baik itu. Dengan patuh, Wulan segera mengampiri si lelaki yang langsung mengajaknya menuju angkot yang dimaksud. Sampai disana, lelaki itu memerintahkan Wulan untuk duduk di kursi penumpang sementara ia sendiri menempatkan diri di belakang kemudi.    “Aku akan mengajarimu menjalankan gerobak ini. Ingat-ingat dengan baik, agar kamu cepat bisa mengemudi untuk membantu menata antrian angkot ini.” “Oke, siap,” jawab Wulan dengan wajah berseri. Lazimnya saat kendaraan umum tengah mencari penumpang di pangkalan, biasanya sang pengemudi mengambil kesempatan tersebut untuk sekedar istirahat atau makan dan minum di warung. Sehingga, tugas untuk membariskan kendaraan agar sesuai antrian akan jatuh pada para timer atau calo di tempat itu. Baru setelah angkutan tersebut terisi dengan penuh oleh para penumpang, saat itulah sang pengemudi akan dipanggil untuk menerima setoran uang dari ongkos yang sudah diambil oleh para timer. Tentunya, uang yang diserahkan pada pengemudi itu sudah diambil potongannya sesuai dengan kesepakatan upah bagi para calo atau disebut juga timer.     Dengan penuh perhatian, Wawang mendengarkan penjelasan Opik tentang bagaimana cara mengoperasikan kendaraan roda empat itu. Dan setelah beberapa kali diajak menggeser angkutan kota lainnya,  laki-laki itu memberikan perintah agar si pemuda gadungan tersebut mencobanya. “Kamu sudah paham?” “Sudah, Om.” “Baiklah, sekarang gantian kamu yang dibelakang kemudi.” “Eh, emang nggak papa?” “Asal hati-hati sesuai petunjukku tadi.” “Gimana kalau nanti nyenggol orang atau kendaraan lain?” tanya Wulan dengan tak percaya diri. “Aku akan mendampingimu. Bukankah kau sudah pandai memakai skuter Mas Jiwo? Itu kan pakai kopling juga. Bedanya, yang satu ada ditangan, sementara ini koplingnya di kaki. Santai saja, cara kerjanya sama persis.” Demikian lelaki baik itu membesarkan hati si gadis. Mendengar penuturan tersebut, Nawang menjadi sedikit percaya diri. Apalagi, Opik juga mendampinginya di kursi penumpang sebelah kemudi. Tentu saja, gadis belia itu menjadi sangat antusias. “Nah … itu bisa. Oke, lakukan dengan perlahan-lahan. Yak, putar stir ke kiri … balas kanan. Injak rem dengan pelan, lalu masukkan gigi mundur. Hmm … bagus, angkat kopling dengan perlahan … mundur, oke, belok kanan … balas … ya ya, berhenti … baiklah, sekarang kamu sudah bisa. Ha ha ha … mudah, bukan?” Lelaki itu  tertawa dengan puas saat anak buahnya bisa belajar mengemudi dengan cepat. “Ah, kan baru jalan berapa meter saja.” “Jangan sepelekan belajar yang hanya berapa meter itu. Menginjak gas, kopling dan cara memainkan perangkat tersebut dengan perlahan, itulah yang tersulit. Apalagi, sebentar saja kamu sudah bisa parkir. Itu hebat. Untuk belajar di jalanan, nanti hanya tinggal melatih diri dengan kebiasaan.”  Opik memberikan jawaban yang menyemangati. “Berarti aku sudah bisa?” “Hmmm … masih setengah bisa. Untuk maju mundur memarkir angkot pada tempatnya, tentu saja sudah bisa. Tapi itu harus terus dilatih. Kalau sudah biasa nanti, kapan-kapan akan kuajari menyetir di jalanan biar bisa menggantikan sopir asli yang sedang malas narik.” “Oh, jadi sopir tembak?” “Nah, itu kau tahu. Lumayan kalau bisa jadi itu. Kau bisa dapat tambahan uang saku.” “Siap, Om. Terima kasih.” Wulan langsung menyahuti dengan senang. ---   Mulai saat itulah, Wulan menjadi seorang anak yang ‘cukup penting’ di tempat tersebut. Hal itu bisa terjadi, oleh karena para ‘senior’ yang sudah terlalu malas untuk sekedar memaju-mundurkan kendaraan dalam mengatur posisi ngetemnya. Dasarnya bocah rajin dan ringan membantu, tentu saja si anak lelaki gadungan telah langsung bisa mengambil peran sebagai tukang geser angkot. Tak hanya itu saja kegiatan si anak di tempat tersebut. Sebab para pengemudi angkutan umum  yang menjadi bersimpati dan merasa sayang pada anak itu,  dengan murah hatinya selalu memberi persenan tersendiri bagi Wulan. Beberapa orang juga sering mengajak gadis tersebut untuk menjadi kernet yang akan diajak berputar jalur untuk membantu menarik angkot. Karena ‘perkembangan karir’ yang semakin baik itulah, Wulan yang dikenal dengan nama Wawang telah semakin bisa membantu sang paman dalam mencari uang tambahan. Namun meskipun si gadis sudah bisa mendapatkan uang yang cukup lumayan, sang paman tentu saja tak pernah mau menerima sedikit pun pemberian dari Wulan. Sujiwo hanya berpesan pada keponakannya, agar sedini mungkin gadis itu bisa mengumpulkan uang untuk kebutuhan kelak di kemudian hari. ***       
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD