Waktu berjalan dengan cepat, hingga tanpa terasa Wulan sudah memasuki tahun terakhirnya di sekolah. Hari-hari yang dijalani dengan dua peran sebagai gadis sekolahan dan pemuda tanggung anak jalanan, ternyata tak mengganggu prestasi si gadis yang memang cerdas dan rajin belajar.
Di terminal bayangan dekat pasar itu, Wulan juga sudah memiliki karier baru sebagai seorang kernet. Tentu saja kepercayaan para pengemudi untuk menyerahkan pembayaran angkutan umumnya pada si lelaki ceking itu, memiliki sebuah alasan yang berhubungan erat dengan pribadi Wulan sendiri.
Rata-rata sopir angkutan umum beranggapan bahwa ‘pemuda’ tersebut memiliki sebuah pembawaan yang menyenangkan. Tak hanya itu saja mereka memberikan nilai positif pada Wulan yang dikenal sebagai Wawang.
Selain hal tersebut, kejujuran si remaja adalah salah satu pertimbangan dari para sopir angkutan untuk sepenuhnya menyerahkan urusan transaksi dengan para penumpang. Karena itulah, jasanya banyak digunakan disana. Dan semuanya itu bisa terjadi oleh sebab keikhlasan hatinya yang tak pernah banyak berhitung mengenai upah.
Memang begitulah Wulan. Meskipun ia sudah beberapa lama hidup di kota, namun pembawaan serta sifat gotong-royong serta tolong menolong yang ada pada dirinya tidaklah hilang dengan perubahan gaya hidup saat itu. Dengan cekatan serta senang hati, remaja itupun tak pernah keberatan untuk membantu siapa saja yang membutuhkannya.
Dan karena selalu menunjukkan sikap yang sedemikian baik pada semua orang, tentu saja urusan rejeki bocah itu menjadi semakin dimudahkan. Rupiah demi rupiah, dengan derasnya mengalir ke saku Wawang.
Meskipun tak seberapa besar nominalnya, tetapi uang sebanyak itu sangatlah berarti bagi seorang anak yang berasal dari desa terpencil tersebut. Apalagi, sang paman yang sangat menyayangi itu juga selalu memberikan uang saku dan mencukupi semua kebutuhannya. Alhasil, pundi-pundi tabungan Wulan jadi terkumpul banyak akibat tak pernah sedikitpun dipergunakannya.
Jujur saja, baru sekali dalam seumur hidupnya Wulan melihat begitu banyaknya uang yang bisa dipegang serta dihitungnya setiap hari. Terlebih, uang tersebut adalah miliknya yang sah dan didapatkan dari hasil keringat serta kerja kerasnya.
Karena itulah, tak henti gadis itu bersyukur atas segala kemudahan serta karunia yang telah diberikan padanya. Sebab walaupun bertahun-tahun yang dijalani dulu selalu berada dalam kesusahan, pada akhirnya ia bisa mendapatkan kesempatan untuk memiliki kehidupan seperti anak remaja lainnya.
***
Untung tak dapat diraih, malang tak bisa ditolak. Demikian juga dengan takdir yang sudah digariskan oleh Sang Maha Pencipta, dimana tak seorangpun akan bisa mengindari setiap kehendak-Nya.
Pagi belum juga beranjak siang saat dua orang petugas kepolisian mendatangi rumah Sujiwo. Wulan yang masih bermalasan di hari Minggu sambil menunggu kedatangan sang paman yang tengah berolahraga pagi, tentu saja sangat terkejut dibuatnya. Terlebih saat ia mendengarkan penuturan salah satu dari aparat berseragam dinas tersebut.
Awalnya mereka menanyakan kebenaran alamat Sujiwo, lalu sedikit menggali keterangan terkait hubungan Wulan dengan lelaki tersebut. Walaupun terlihat sangat lembut dan berhati-hati saat bicara, hati sang gadis merasakan jika ada sesuatu yang tidak beres dengan kedatangan dua petugas yang sangat ramah itu.
Dan benar saja … bak halilintar membelah langit di siang hari, berita yang disampaikan dengan selembut apapun telah dengan seketika mengguncang perasaan gadis belia tersebut. Karena, dua polisi muda dari satuan lalu lintas itu telah menyampaikan sebuah berita terkait kecelakaan sang paman.
“Atas nama pihak Kepolisian Negara Republik Indonesia, Kami mengucapkan dukacita yang sangat mendalam kepada adik beserta keluarga yang ditinggalkan. Kami juga memohon maaf yang sebesar-besarnya, karena hanya bisa membantu untuk menuntaskan kasus kecelakaan ini sesuai dengan hukum yang berlaku. Secepatnya, pihak kepolisian dengan bantuan Rumah Sakit akan mengurus jenazah hingga tiba di rumah duka. Semoga, Saudari Wulan diberi ketabahan dan kesabaran untuk itu.” Dengan hikmad, juru bicara utusan dari kantor kepolisian tersebut menutup pembicaraan.
Tak terkira sedih hati Wulan dengan kepergian sang paman yang selama ini selalu berusaha memanjakan dirinya. Namun apalah daya, karena suratan nasib sudah berkata demikian. Setelah berbulan lamanya ia menemukan tempat untuk bermanja, dengan terpaksa kini ia harus kembali sendiri lagi.
---
Bahkan untuk menangis pun, Wulan sudah tidak memiliki hasrat sedikit juga. Perasaannya begitu kosong, hingga nyaris seperti robot yang tak memiliki emosi apapun saat itu. Yang terpikirkan olehnya, hanyalah bagaimana cara agar ia dapat memakamkan anggota keluarga terakhir yang tersisa dalam hidupnya.
Bantuan tetangga yang ternyata sudah menjadi tradisi di tempat tinggal sang paman, dengan segera datang tanpa perlu diundang atau dimintai pertolongan. Secara bergotong-royong, mereka berbagi tugas untuk menyiapkan tempat bagi peristirahatan terakhir Sujiwo.
Atas permintaan Wulan, satu orang dimintanya untuk memberi kabar pada teman-teman kerja sang paman di pangkalan angkutan umum dekat pasar. Beberapa lagi juga ia tugaskan agar menemani dirinya untuk menerima para pelayat.
Tak heran bila gadis semuda itu sudah bisa mengatur para tetangga untuk mempersiapkan apapun bagi kebutuhan pemakaman. Termasuk juga, persiapan kirim doa yang dengan tegas diputuskan untuk diadakan selama beberapa malam.
Hal tersebut, tentu saja tak lepas dari pengalaman Wulan pada saat ditinggalkan oleh sang Ibu yang rasanya belum begitu lama. Sebab itulah, si gadis remaja jadi mampu bertindak dengan taktis tanpa sempat meratap dan membiarkan semuanya menjadi kacau.
---
“Turut belasungkawa, Wulan …” demikian kata Opik setelah ia terburu-buru datang ke rumah Sujiwo, begitu ia menerima kabar mengejutkan itu.
“Terima kasih, Om,” jawab si gadis dengan nada sedih.
“Kamu yang sabar, ya … Om akan membantumu sebisa mungkin.”
“Iya, terima kasih,” jawab Wulan pada teman kerja pamannya itu.
Opik memang sering berkunjung ke rumah Sujiwo. Nampaknya, dua orang seprofesi itu memang memiliki ikatan pertemanan yang cukup dekat. Karena, si lelaki berbadan gempal tersebut memang kerap kali menghabiskan waktu dengan Sujiwo diluar pekerjaan.
Wulan sendiri sebenarnya sudah cukup curiga bahwa sebenarnya Opik sudah mengetahui tentang siapa dirinya yang setiap hari menyamar sebagai anak laki-laki. Namun karena pria itu tak pernah berucap apapun, gadis itu juga berpura-pura bodoh dengan melanjutkan apa yang sudah direncanakan oleh sang paman sebelumnya.
Meskipun alasan sang paman tentang syarat penyamarannya tak juga diketahui secara pasti, tetap saja Wulan mematuhi hal itu demi kebaikan bersama. Dan karena Opik sendiri seakan berpura-pura tidak tahu apa-apa, maka iapun akan bertindak seperti itu dengan mengikuti arus.
“Kau temuialah tamu-tamu pamanmu yang lain. Biar aku yang menemani pelayat dari tempat kerja dan teman-teman Mas Jiwo. Kalau ada yang menanyakan keberadaan Wawang, biar kujawab saja jika anak itu terkena razia trantib dan masuk panti rehabilitasi.” Demikian kata Opik yang seketika jadi menenangkan hati Wulan.
Mendengar penuturan itu, jelas sudah bagi si gadis bahwa Opik memang sudah mengetahui siapa Wawang itu sebenarnya. Tentu saja, itu tidaklah aneh. Sebab, bukankah lelaki itu adalah sahabat satu-satunya sang paman?
“Baiklah, Om. Terima kasih untuk bantuannya.”
“Ya … janganlah bersedih, semua memang sudah digariskan seperti ini. Percayalah, kau akan mampu melewati semuanya hingga bisa menggapai cita-citamu dengan sepenuh keberuntungan nanti.”
Penghiburan yang disampaikan oleh Opik, dengan seketika telah membangkitkan kembali semangat Wulan. Tentu saja ia bersedih dengan kehilangan anggota keluarga yang menyayanginya untuk kesekian kali itu, namun bukankah hidup akan terus berjalan? Dan nampaknya, meratapi nasib bukanlah sebuah solusi yang baik untuk menyikapi cobaan yang telah kembali menguji niat serta keberaniannya dalam menantang masa depan nanti. Karena itulah, gadis belia tersebut lebih memilih untuk terus berdiri dan melanjutkan perjuangan yang masih akan panjang dalam kehidupan selanjutnya.
---
Satu demi satu, para pelayat telah pergi meninggalkan pemakaman umum. Di depan pusara sang paman, kini nampak hanya tersisa seorang gadis cantik yang ditemani sesosok lelaki gempal di belakangnya.
Dengan khusuk, Wulan memanjatkan doa untuk mengantarkan arwah Sujiwo yang hanya boleh ia miliki dalam hitungan bulan saja. Dan di dalam suasana sepi seperti itu, barulah sang gadis merasakan kesunyian hati yang melingkupi dirinya.
Tanpa terasa, air mata Wulan menetes. Butiran itu membasahi bulu lentik si gadis cantik, lalu merembes dan mengalir membentuk garis basah pada pipinya. Isak lirih yang tersendat karena sesak dalam dadanya, terdengar begitu menyayat hati Opik yang berdiri terpekur dibelakangnya.
Bukan karena tak merasa kasihan, jika lelaki gempal itu hanya diam saja. Nampaknya ia memang sengaja berbuat seperti itu agar gadis belia yang baru saja kehilangan itu menjadi sedikit lega dengan tertumpahnya semua kesedihan.
Dan benar saja ... tak lama kemudian, gadis itu sudah seketika menghentikan tangis tanpa perlu dibujuk. Dengan tegar, disusutnya sisa airmata yang menggenang sambil mengeringkan wajah yang tadi sedemikian membasah dengan kedua telapak tangan mungilnya.
Sesaat setelah itu, ia membalikkan badan dan menghadap pada lelaki sahabat sang paman yang juga tampak membasah pada matanya. Pandangan Wulan langsung saja menghujam lembut pada pria tersebut.
Lalu senyumnya mengembang dengan tulus saat ia berkata dengan tenangnya, “Ikhlaskanlah Paman untuk beristirahat dengan tenang agar dipermudah jalannya untuk menemukan sebuah kedamaian abadi. Tadi aku sudah berdoa untuk menyampaikan sebuah pesan bagi Paman, bahwa aku akan mewujudkan keinginannya untuk sekolah setinggi mungkin dan meraih cita-cita yang selama ini aku idamkan. Setelah doaku selesai terucap, aku mendapatkan sekelebat bayangan yang menampakkan Paman sedang tersenyum sambil mengangguk senang. Aku tahu, ia juga sudah ikhlas meninggalkanku karena Paman sangat paham bila aku pasti akan baik-baik saja.”
Mendengar ketenangan yang sedemikian luar biasa dalam tutur lembut si gadis, lelaki tersebut begitu terperangah. Ia sama sekali tak menyangka jika Wulan sedemikian besarnya memiliki ketegaran hati yang begitu luar biasa.
“Om Opik akan merawatmu, Wulan. Jangan kau khawatirkan hidupmu nanti.”
“Ah … Om Opik tak usah merisaukan diriku. Aku ini adalah anak semesta … Bumi dan langit adalah saudara-saudaraku yang akan selalu menjaga sampai akhir perjalananku di dunia ini.” Tanpa sepenuhnya sadar, gadis itu kembali berucap.
Dan Opik yang mendengarkan kata-kata terakhir sang gadis, saat itu sudah tak tahu lagi harus menanggapi dengan jawaban yang seperti apa.
***