BAB 13 - Misteri Sujiwo

1679 Words
Biar bagaimana pun keadaannya, waktu akan terus saja berjalan tanpa mau perduli dengan apa yang menimpa seseorang didalam dunia ini. Begitu juga dengan Nawang Wulan, yang Ia pun sangat sadar mengenai hal seperti itu. Kehidupan akan terus berubah dengan dinamis, baik cepat ataupun lambat. Apalagi di jaman modern yang begitu cepat berkembang ini. Tak mungkin rasanya ia akan bersedia untuk menunggu seorang gadis papa meskipun hanya untuk sekedar menangisi nasibnya yang malang. Paham jika nasib pada masa depannya hanya bisa ditentukan dari upaya serta usahanya sendiri, si gadis belia telah dengan serta merta berusaha bangkit untuk mengejar impiannya kembali dengan semakin rajin belajar agar secepatnya bisa lulus sekolah. Hingga satu bulan berlalu, tak pernah sekalipun gadis itu mengunjungi pangkalan angkutan kota dimana dulu pamannya bekerja. Hanya saja, Opik selalu menyempatkan sesekali mampir ke rumah Sujiwo untuk menyerahkan sejumlah uang yang merupakan jatah bagi hasil dari sang paman. “Mas Jiwo adalah orang pertama yang mengurus tempat itu. Selama ini, dia pula yang merekrut orang untuk bersama bekerja disana. Termasuk juga aku, dialah yang mengajak pada awal keberadaan tempat itu menjadi pangkalan. Karena itulah, Pamanmu berhak menerima pembagian hasil ini,” demikian kata Opik saat Wulan mempertanyakan pemberian uang tersebut. Setelah itu, lelaki berwajah sangar yang baik hati tersebut menuturkan bahwa lazimnya dalam dunia mereka memang seperti itu. Walaupun rata-rata anggota mereka bukan dari kaum yang terpelajar, namun  semangat kebersamaan yang mereka junjung tinggi telah dengan semestinya melahirkan sebuah solidaritas bagi sesama anggota. “Secara resmi, memang tak ada satupun yang memiliki kartu tanda anggota. Kami hanya memiliki kesepakatan untuk bekerja bersama dalam satu rasa persaudaraan yang mengedepankan kesetiakawanan,” begitu terang sahabat paman Wulan. ---   Kunjungan demi kunjungan terus datang tanpa pernah sekalipun Opik menceritakan keseharian di tempat kerjanya. Juga, ia tak pernah sedikit juga menyinggung tentang ‘Wawang’ yang belum juga berniat menampakkan batang hidungnya ke pangkalan. Nampaknya, lelaki tersebut dengan bijaknya telah berusaha untuk menahan diri dan menunggu perkembangan selanjutnya dari keponakan Sujiwo. Sementara Wulan sendiri memang sudah berniat untuk menanti selama beberapa saat sebelum kembali menginjakkan kakinya pada tempat yang selama ini sudah membuat dirinya merasakan satu kerinduan. Rencana sang gadis sendiri, ia akan ‘bekerja’ lagi segera setelah  mengadakan peringatan 40 hari meninggalnya mendiang sang paman. Karena dara belia itu juga merasa bahwa menghabiskan waktu sepulang sekolah dengan sendirian saja selama siang hingga malam hari, ternyata sudah menjadi suatu hal yang sangat membosankan.  Tapi meskipun begitu, yang namanya Wulan tetaplah saja bisa menjadi seseorang yang tak pernah kekurangan ide untuk menghabiskan waktu dengan kegiatan positif. Ditengah kebosanannya, mendadak ia  teringat akan sebuah pesan dari Ki Jalitheng sebelum kepergiannya. Oleh sebab itulah, jadilah sekarang ia memanfaatkan waktu luangnya untuk kembali berlatih sesuai dengan apa yang sudah disampaikan lelaki tua baik hati tersebut. Tanpa mau membuang waktu lagi, kesendirian si gadis akhirnya menemukan satu hal untuk dilakukan dengan penuh konsentrasi tanpa terganggu oleh seorangpun. Dengan rajin serta penuh semangat, Wulan mulai kembali melakukan meditasi untuk melakukan latihan pernapasan seperti dulu. Dan ternyata tak hanya itu saja yang bisa dimanfaatkan sebagai pengisi harinya. Karena, kerinduan akan masa lalu juga telah membawa tubuh mungil itu menuju jalan-jalan pinggiran kota di setiap pagi dan sore untuk diajak berpetualang dengan berlari menyusuri sepanjang jalan pedesaan. Setiap pagi selepas subuh dan sore harinya, gadis remaja itu pergi ke daerah persawahan atau perkebunan dengan mengendarai skuter peninggalan sang paman. Sesampai di tempat tersebut, barulah ia melampiaskan semua kesedihan serta kegundahannya dalam wujud sebuah gemblengan bagi fisik yang telah sekian lama tertidur. Disusurinya tepian sungai dalam kejernihan airnya yang telah seketika membawa ingatannya kembali pada desa yang begitu ia rindukan. Dan disanalah, sebuah proses telah dimulai untuk  mematangkan sebuah pribadi yang sedang beranjak dewasa itu. Dengan kembali berlompatan, menyelam dan melakukan apa saja seperti dulu, adalah merupakan sebuah pengobat luka mujarab bagi sang gadis. Wulan menemukan ketenangannya kembali pada latihan fisik maupun jiwanya. Dan apa yang ia temukan pada hari-hari selanjutnya dalam kepasrahan mencoba menerima takdir, akhirnya telah dapat membuang jauh kerapuhan hatinya yang pernah sesaat ingin menyerah pada kerinduan untuk pulang kembali ke desa yang sangat ia cintai.      Lalu satu hal besar yang telah membuat gadis itu menjadi telah seketika mengurungkan niat untuk kembali ke asalnya, adalah disebabkan oleh satu kejutan yang sedemikian tak disangka sama sekali. Hal tersebut menemukan momen saat ia menyibukkan diri dengan membenahi barang-barang peninggalan Sujiwo. Wulan sedikit merasa heran saat ia menemukan beberapa benda  yang seolah memiliki sebuah keterkaitan dengan bermacam barang di padepokan silat Ki Jalitheng.  Sebatang bambu kuning kering yang masih menampakkan warna aslinya, telah ia temukan pada sebuah tempat tersembunyi di dalam lemari. Benda sepanjang lebih dari satu meter dalam bungkus kain putih itu, ternyata  terlihat mirip sekali dengan yang apa dimiliki oleh sang guru.   Tak hanya itu saja yang membuatnya mengerutkan kening. Sebab diantara tumpukan barang pribadi sang paman, Wulan juga menemukan sebuah ikat kepala wulung yang sangat identik dengan milik sang Aki padepokan. Penemuan terakhir, adalah kotak sebentuk kayu kasar yang akhirnya jadi mengingatkan Wulan  untuk segera membuka bungkusan yang diberikan lelaki tua tersebut sebelum keberangkatannya ke kota. Dan sontak, apa yang ia dapati telah langsung saja membuat dirinya malu bila harus kembali pulang sebelum benar-benar menjadi seorang manusia yang berhasil meraih cita-cita. Kotak kayu kecil dalam bungkus kusam yang ia terima dari sang guru, ternyata berisi sebuah perhiasan emas yang kira-kira memiliki total berat hampir satu ons saat ia bandingkan dengan kemasan bubuk kopi dirumahnya. Dan tentu saja, ia langsung menangkap bahwa pemberian tersebut telah dimaksudkan sebagai bekal untuknya dapat bersekolah dan menggapai keinginan sesuai cita-cita. ---   Tak terkira rasa haru yang dengan sesaknya seolah membucah dari dalam hati Wulan. Karena, sebuah pemberian yang sangat berarti itu, tentu saja akan dapat ia pergunakan untuk mencari beragam pengetahuan selanjutnya disaat ia sudah menyelesaikan sekolah menengah. Dan bagi gadis itu sendiri, pesan tersirat yang ia dapatkan dari bekal Ki Jalitheng; adalah sebuah doa, dukungan  serta pengharapan agar ia menggapai sukses di kemudian hari. Dan tentunya hal tersebut hanya memiliki satu arti, yaitu agar ia tak pernah menyerah untuk kembali pulang tanpa dapat menunjukkan sebuah kegemilangan di masa depannya.   Kemudian yang lebih besar artinya  pada petunjuk gurunya sebelum ia pergi, adalah satu tugas yang harus selalu dipikul oleh si gadis dalam petualangan dirinya dalam dunia modern yang akan menjadi tempat barunya.  Yaitu, untuk  menyebarkan ajaran falsafah kebaikan yang ia dapatkan dari perguruan dengan selalu  menegakkan keadilan serta kebenaran dimanapun Ia berada. Karena menolong yang lemah, adalah intisari amalan serta tujuan dari ilmu kanuragan yang diwariskan padanya.   Kemudian setelah menimbang serta berpikir dengan keras terkait hubungan sang paman dengan Ki Jalitheng maupun semua pesan tersirat yang pernah diamanatkan kepadanya, si gadis belia mulai mendapatkan sebuah kesimpulan seturut penalarannya sendiri. Sujiwo, adalah murid Ki Jalitheng, yang tentu saja ia tak mengetahuinya secara pasti. Karena selain Ki Jalitheng mungkin lupa memberitahu, bukankah ia masih terlalu kecil untuk memahami  masa-masa sang paman menjadi murid padepokan? Lalu kenyataan tentang kebaikan hati sang paman dalam berlaku adil pada anak buahnya, bisa saja hal tersebut memang sesuai tugas dari sang Aki agar Sujiwo selalu menegakkan keadilan. Dan bila semua memang begitu adanya, Wulan pun sudah bertekad  mengikuti jejak sang paman untuk selalu menebar kebaikan di dalam keramaian dunia modern ini.  ***   “Hei, Wawang … ngilang kemana aja, kamu?” demikian sapa seorang rekan di depan ‘markas’, saat si remaja periang  datang ke pangkalan pada siang itu. Sepulang sekolah, Wulan memang sudah berniat untuk mengisi siang hingga sorenya untuk kembali menjalani profesinya sebagai Wawang si pemuda cungkring. Dengan tutup kepala, rompi serta celana belel, ia telah siap untuk beraksi lagi sebagai seorang timer ataupun kernet angkutan umum. “Ha ha … kena razia, Mas … aku disuruh sekolah ketrampilan selama 30 hari di panti sosial. Setelah itu, dilepas lagi agar bisa menjual barang kerajinan yang dilatihkan padaku.” “Terus, disana kamu diajarin apa saja?” tanya orang tersebut dengan lebih lanjut. “Ya bikin keset, kemoceng, sapu, alat pel, menjahit, dan lain-lainnya.” “Kamu bisa? Hebat, dong …” “Ya enggak bisa, makanya aku kemari lagi … ha ha ha …” “Huh, dasar anak badung. Ya udah, sana masuk. Sudah makan?” “Belum, Mas …” “Coba temui Mas Opik, dia ada di dalam. Siapa tahu masih ada sisa nasi bungkus disana.” “Siap … aku masuk dulu.” Demikian jawab remaja itu dengan wajah ceria. ---     “Semenjak kepergian Mas Jiwo, sepertinya mereka seperti sudah berani menganggu kita lagi …” Kata-kata yang keluar dari bibir Opik mendadak terputus, ketika sudut matanya menangkap sebuah bayangan ramping yang mendadak muncul dari pintu samping gardu. Wawang datang, dan sepertinya lelaki itu tak menginginkan si anak remaja mendengar apa yang tengah mereka bahas. “Selamat sore, Om … selamat sore semuanya …” sapa si remaja bertubuh ramping itu dengan ceria. Namun sekilas pandangan matanya yang penuh tanya pada Opik, tak bisa menyembunyikan bahwa ia sudah terlanjur mendengar apa yang dikatakan oleh lelaki tersebut. “Hai … Wawang, kau sudah lulus rupanya … ha ha ha …” dengan berlagak wajar, Opik membalas sapaan sang anak buah yang telah sekian lama menghilang. “Iya, Om … aku sudah lulus dari semua kursus,” jawab Wawang dengan santainya. “Diajari apa saja di panti sana, Wang?” tanya seseorang yang lain disitu. “Wah, macam-macam ketrampilan, pokoknya … mulai dari menjahit, menganyam, bikin kemoceng dan lain-lainnya lagi …” dengan fasih, lelaki remaja gadungan itu mulai kembali bersandiwara. “Ha ha ha … bagus, dong … bisa usaha sendiri nantinya …” “Siap, Mas … mau ngumpulin modal dulu,” jawab Wawang lagi tak kurang akal. “Ha ha … kukira sudah sekalian diberi modal.” “Wah … kalau itu, nggak ada. Makanya aku bingung mau cari modal dimana. Mendingan kesini saja buat cari uang yang banyak, siapa tahu bisa dikumpulkan untuk modal usaha.” “Ahhh … ada-ada aja. Mana mungkin bisa dapat uang banyak disini … ha ha ha … ya sudah, aku tinggal dulu,” demikian lelaki yang satunya itu menanggapi sambil sekalian pamit untuk pergi keluar gardu. Tindakan orang tersebut, lalu diikuti dua rekan lainnya. ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD