Bab 3 - Rencana

1327 Words
Di sebuah ruangan berdinding kristal dengan nuansa biru muda, tengah duduk dua orang Lord tertinggi di seluruh penjuru Mottania. Siapa lagi kalau bukan Lord Giordani—pemimpin bagi kaum Mottarian, serta Lord Sinara—pemimpin bagi kaum Elves. Keduanya terlihat tengah bersantai ria sambil bersandar pada sofa empuk berwarna putih dengan ukiran khas furnitur Istana Kristal. Lord Giordani menegakkan tubuhnya untuk meraih secangkir teh yang sudah tersaji di atas meja. Ia menyeruputnya dengan perlahan, menikmati sensasi aroma wanginya yang menguar ke udara, serta rasa pahit dan manisnya yang berpadu padan dengan sempurna. Lord Sinara yang masih bersandar pada sofa dengan santainya, ia tertawa mengejek melihat apa yang barusan dilakukan oleh rekannya. Ia lalu ikut menegakkan tubuhnya—bukan, ia bukan ingin ikutan menyeruput cangkir teh miliknya seperti apa yang dilakukan Lord Giordani. Ia hanya ingin duduk tegak saja, sambil menatap Lord Giordani dengan usil. "Kau tidak meminum tehmu, Sinara?" tanya Lord Giordani basa-basi, lantaran merasa risih dengan tatapan Lord Sinara. "Kau bercanda? Kita di sini bukan untuk mengadakan pesta minum teh, kau tahu itu," sahut Lord Sinara seraya tersenyum menyindir. "Ya, memang. Kita di sini untuk membahas strategi melawan Glacio yang masih berkeliaran entah di mana. Tapi bukankah akan lebih baik jika kita sedikit bersantai membicarakannya? Supaya pikiran kita lebih rileks, sehingga kita dapat menemukan solusi terbaik." "Kau masih ingin terus bersantai di saat seperti ini?!" tukas Lord Sinara. Nada bicaranya agak meninggi, sepertinya ia agak jengkel dengan Lord Giordani yang terdengar terlalu menyepelekan situasi. "Ini sudah enam bulan kita hanya terus bersantai ria dan mengabaikannya. Apa itu masih belum cukup bagimu?" ucap Lord Sinara lagi. "Sadarlah Giordani, ini masalah serius. Bagaimana jika Glacio telah menyusun rencana untuk menghancurkan kita kembali seperti dulu? Kita harus segera segera bergerak mencegahnya. Setidaknya, kita harus berada selangkah lebih dulu darinya supaya kita bisa menghentikan apa pun itu yang sedang direncanakan olehnya." Lord Giordani menghembuskan napas pelan. Ia meletakkan cangkir tehnya kembali di atas meja. Kemudian ia menatap Lord Sinara serius. "Baiklah, tetapi apa rencanamu?" tanyanya. "Memangnya kau sudah punya rencana untuk menghancurkan sisa keberadaannya? Kau sudah tahu di mana dia berada saat ini?" Lord Giordani berhenti sejenak untuk melihat reaksi Lord Sinara. Tapi dia hanya diam, tak bisa menjawab semua pertanyaan itu. Atau lebih tepatnya, dia tidak punya jawaban. "Tidak. Sedikit pun kita tidak tahu di mana Glacio berkeliaran saat ini, terlebih dengan wujudnya yang hanya berupa bayang dingin, tak tampak oleh penglihatan kita," lanjut Lord Giordani. "Lantas bagaiman kita akan menghancurkannya jika kita saja masih belum tahu keberadaannya? Dan satu lagi, dengan wujudnya yang sekarang, bagaimana kita akan menangkapnya?" Lord Sinara terdiam. Ia berpikir keras. Ya, benar kata Lord Giordani, mereka memang sama sekali belum terpikirkan bagaimana cara menemukan keberadaan Lord Glacio terlebih soal cara menangkapnya. Rasanya tidak ada satu sihir pun di negeri ini yang bisa digunakan untuk menangkap sisa-sisa kehidupan Lord Glacio yang berupa bayang dingin. Itu terlalu mustahil. Tapi diam dan menunggu dia menyerang pun itu bukan keputusan bijak. Lord Sinara kemudian menghela napas dan mengusap wajahnya. "Tapi tetap saja kita harus segera bergerak, Giordani. Kita tidak boleh menunda-nundanya lagi." Lord Giordani mengangguk. "Aku mengerti, aku juga inginnya kita cepat-cepat bergerak. Tapi masalahnya saat ini otakku sedang benar-benar buntu. Sekeras apa pun aku memikirkannya, aku tetap tidak menemukan strategi yang mempuni untuk menemukan Glacio dan melenyapkannya. Ini terlalu sulit. Apa kau ada ide?" Lord Sinara melemparkan tubuhnya kembali ke sofa, ia berpikir keras. Tapi sekeras apa pun ia berpikir, idenya juga tetap buntu. Masalah ini seperti terlalu sulit untuk mereka pecahkan. Tapi kemudian, Lord Sinara menemukan sebuah ide. Eum, ide yang konyol sih sebenarnya. "Bagaimana kalau kita mengikuti jejak dinginnya?" celetuk Lord Sinara. "Sekarang Mottania sedang musim panas. Mungkin kita akan bisa membedakan udara sekitar dengan keberadaannya. Ingat, Glacio punya kutukan es. Raganya mungkin sudah melebur, tetapi jiwanya pasti masih meninggalkan jejak-jejak dingin dari sihirnya." Lord Giordani meneguk tehnya lagi sejenak, lalu kembali meletakkannya di atas meja. "Itu masuk akal." Ia menyetujui. "Tapi pertanyaannya, siapa yang akan kita kirim untuk menjelajah seluruh negeri demi menelusuri jejak-jejak dingin tersebut? Kurasa, kita tidak bisa mengirim orang sembarangan kalau hanya ini saja bekal pengetahuan yang kita punya." Sekali lagi, Lord Sinara berpikir keras. Betul, kalaupun mereka harus mengirim orang untuk menjalankan misi ini, orang itu haruslah cerdas dan tahu betul bagaimana rasa dari aura sihir Lord Glacio. Tapi siapa? Mereka berdua saja sang pemimpin tertinggi Mottania tidak terlalu familiar dengan aura sihir Lord Glacio, karena mereka tidak pernah melawannya secara langsung. Satu-satunya orang yang mengenal baik Lord Glacio hanyalah .... Lord Sinara langsung memandang tajam Lord Giordani. Dia ternyata juga sedang menatapnya, dengan tatapan yang penuh maksud. Sudah bisa ditebak, mereka sedang memikirkan nama yang sama. Lord Sinara sontak menggeleng tegas. "Tidak! Jika mereka yang ada dalam pikiranmu saat ini, aku tidak setuju!" "Tapi hanya mereka lah yang paling bisa menjalani misi ini, Sinara," ujar Lord Giordani seraya menatap teduh Lord Sinara. Bisa dibilang, ia sedang memohon persetujuannya. "Merekalah satu-satunya orang yang pernah melawan Glacio secara intens, mereka pasti sudah cukup hafal dengan aura sihirnya." Sekali lagi, Lord Sinara menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku bahkan baru bertemu dengan putriku, Giordani! Aku tidak bisa melepasnya ke dalam bahaya lagi! Tidak akan pernah!" Lord Giordani mendengus pelan. "Aku tahu ini kedengarannya jahat. Aident juga putraku, kau harus ingat itu." Lord Giordani masih berusaha membujuk. "Tapi coba dengar ini baik-baik ini, Sinara." Lord Sinara membuang wajah tidak peduli. Namun Lord Giordani tetap melanjutkan, "Glacio, dia dikalahkan oleh Aident dan Kisha hanya dalam satu kali pertarungan setelah bertahun-tahun dia menguasa di Mottania tetapi tidak ada yang sanggup melawannya. Sekarang dia pasti punya dendam khusus terhadap anak-anak kita. Dengan begitu, orang yang pertama kali akan menjadi incarannya kemungkinan besar adalah mereka. Maka mereka lah yang paling memiliki peluang besar untuk menemukan keberadaannya." "Jadi maksudmu, kau ingin menjadikan Aident dan Kisha sebagai umpan, begitu? Kau sungguh tega sekali, Giordani!" Lord Sinara mendelik tajam setengah marah. "Ya, memang. Aku adalah ayah yang buruk bagi putraku, yang rela mengirimnya terjun langsung ke medan perang hanya demi meraih kemenangan. Tapi inilah caraku mempertahankan kesejahteraan rakyat Mottania, Sinara. Aku seorang lord! Aku wajib mengutamakan kepentingan bersama walau harus mengesampingkan ego pribadiku. Lagi pula, aku percaya akan kemampuan putraku. Aident, dia adalah calon penerusku yang kemampuannya jauh lebih hebat dariku. Karena aku percaya, maka aku akan tetap mengirimnya untuk misi ini. Kumohon kau setuju lah, Sinara. Ini demi kelangsungan hidup rakyat Mottania di masa mendatang nanti." Lord Sinara menimbang-nimbang cemas. Ia bukannya tidak percaya akan kemampuan Kisha. Ia tahu betul kalau putrinya juga gadis yang kuat dan tidak manja. Hanya saja jika ia membiarkan Kisha menjalankan misi ini bersama Aident, dia malah akan mengacau dengan temperamennya yang buruk itu. Atau yang lebih parahnya lagi, dia bisa jadi akan terjerumus jebakan Lord Glacio. Lord Sinara tidak sanggup jika harus membayangkan Kisha kenapa-kenapa ketika dalam misi nanti. Mangkanya, kini lagi-lagi Lord Sinara menggeleng tidak setuju. "Aku takut terjadi sesuatu terhadap putriku. Aku masih belum bisa mempercayainya sebesar kau mempercayai Aident," ungkapnya. "Kalau begitu, kau percaya putraku?" tanya Lord Giordani tiba-tiba. Lord Sinara tentu saja mengangguk. Tidak ada seorang pun rakyat Mottania yang meragukan kehebatan dan kebijaksanaan Aident. Dia pria muda yang tangguh dan cerdas dalam mengambil keputusan. "Kalau begitu," ucap Lord Giordani lagi, "percayakan lah putrimu kepada putraku. Kau tahu betul bukan bagaimana luluhnya Kisha di hadapan Aident? Dia mungkin akan tetap keras kepala, tetapi kau harus ingat, hanya Aident lah satu-satunya orang yang bisa membuat Kisha mau memperlajari sejarah dan budaya kita." Sialnya, perkataan Lord Giordani barusan benar-benar tepat sasaran sehingga Lord Sinara tidak bisa membantah lagi. Kini, sepertinya ia memang harus menyetujui rencana ini. Benar kata Lord Giordani, Aident pasti akan membimbing Kisha sampai gadis itu benar-benar layak untuk menjalankan misi berat ini. Dan lagi, semua orang tahu betul seberapa besar rasa sayang Aident terhadap Kisha. Lord Sinara yakin, putrinya akan aman bersama sang pangeran mahkota. Setelah hembusan napas panjang nan dalam, akhirnya Lord Sinara pun mengangguk. "Baiklah, aku setuju." Mendengar itu, Lord Giordani tersenyum senang. "Keputusan bijak, Sinara." •••
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD