Situasi haru gembira masih setia menyelimuti rakyat sepenjuru Negeri Mottania. Tapi Kisha, sudah tiga hari ini ia terus murung dan jarang bicara. Mood-nya tidak bagus, membuat semua orang takut mendekatinya. Termasuk Aident.
Bagi Aident, seorang Kisha yang sedang bad mood adalah makhluk paling mengerikan dari segala makhluk mengerikan yang pernah dihadapinya. Ia sampai tidak berani menegur apalagi menyentuhnya, karena takut akan terkena tinju reflek gadis itu. Atau jangan-jangan ia malah akan langsung diburu oleh panah saktinya. Duh, jangan sampai deh.
Hah ... semua ini gara-gara Leo. Haruskah Aident menuntutnya bertanggung jawab untuk memperbaiki mood Kisha supaya hidupnya bisa tenteram sempurna kembali? Tapi tidak bisa sih. Bagaimanapun Leo juga berhak memutuskan untuk melakukan apa pun yang ingin dia lakukan. Aident tidak berhak memaksanya untuk membatalkan rencana hidup barunya yang tiga hari lalu dia sampaikan pada Kisha dan membuat gadis itu jadi murung seperti ini.
Ya, Leo telah membuat sebuah keputusan besar bahwa dia tidak akan tinggal bersama Kisha lagi di Kastil Elves. Dia bilang dia ingin pergi ke bukit salju yang ada di selatan Negeri Mottania, karena sejatinya memang di sanalah habitatnya yang sebenarnya.
Kisha tentu saja langsung membantah saat itu, "Apa?! Tidak boleh! Kau tidak boleh meninggalkanku!"
Namun kebulatan tekad Leo tidak main-main, dia begitu kukuh menegaskan keinginannya pada Kisha. Rasanya baru kali ini Aident melihat Leo menentang kehendak gadis yang sudah seperti induknya itu.
"Tapi aku harus, Kisha. Di sanalah habitatku yang sebenarnya. Bukan di sini, terlebih di dalam kastil beratap ini. Aku merasa tidak hidup di sini. Kumohon mengertilah."
Saat mendengar Leo mengatakan itu, sepertinya Kisha agak tersakiti. Aident dapat melihat dengan jelas raut kecewa yang tergambar di wajahnya ketika dia meninggalkan perdebatan begitu saja. Dan akhirnya Aident lah yang terpaksa berperan sebagai penengah di antara mereka.
"Aku akan membantu menjelaskan padanya. Kau tidak perlu khawatir," kata Aident saat itu sambil menepuk-nepuk punggung besar Leo.
Sebenarnya menjelaskan hal ini pada Kisha adalah tugas yang berat bagi Aident. Sungguh, sifat keras kepala dan tidak mau tahu gadis itu membuat Aident hampir menyerah memberikan penjelasan padanya. Tapi syukurlah tadi malam tiba-tiba saja dia mendapat mukjizat dan memutuskan untuk menerima keputusan Leo. Dengan syarat dia harus ikut mengantar kepergiannya ke bukit salju di selatan sana. Katanya sih supaya dia tahu tujuan kalau sewaktu-waktu dia rindu ingin bertemu sobat besarnya itu.
Dan kini, berakhirlah mereka bertiga di bukit salju tersebut. Bertarung melawan badai yang tengah menerjang serta hawa dingin yang membuat kulit terasa kebas.
Selama perjalanan tak jarang Aident dan Kisha merapatkan mantel mereka, atau menggosokkan tangan yang berlapis sarung tangan tebal untuk mendapatkan sedikit kehangatan. Kalau melihat cuaca seperti ini, rasanya mereka jadi teringat kembali pada masa-masa suram enam bulan lalu. Saat itu mereka benar-benar berjuang dalam melawan musim dingin abadi yang beberapa kali hampir membuat mereka mati kedinginan jika saja mereka tak punya tekad yang kuat untuk bertahan hidup. Momen itu terasa begitu menyakitkan kalau diingat lagi. Tapi setidaknya berkat pengalaman itu kini mereka jadi terbiasa dengan dinginnya badai salju.
Aident dan Kisha terus beriringan mendaki bukit demi mencapai sebuah gua besar yang sudah kelihatan dari tempat mereka berada saat sini. Leo sang harimau besar berbulu putih layaknya salju mengiringi langkah mereka dengan berjalan lebih dulu. Ya, dia lah yang memimpin perjalanan sedari awal. Langkahnya tampak begitu yakin, seolah dia sudah tahu betul lokasi ini. Aneh memang, dia seperti sudah pernah kesini sebelumnya padahal setahu Aident dia belum pernah. Mungkin ini insting dari seekor binatang yang mencium bau habitatnya.
Tiga puluh menit berselang, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Sejenak mereka mendengus panjang, merasa begitu lega lantaran akhirnya perjuangan mereka dalam pendakian membekukan ini telah membawa hasil. Tapi itu hanya sesaat. Karena sesaat berikutnya suasana sendu dan berat hati kembali menyelimuti Kisha juga Leo. Sementara Aident, lagi-lagi ia hanya bisa menjadi penonton dari adegan haru kedua bersaudara beda jenis ini. Mungkin ia harus bersiap untuk menjadi penengah lagi kalau-kalau terjadi cekcok di antara mereka.
"Kau yakin ingin tinggal di tempat sedingin ini?" tanya Kisha tiba-tiba, sepertinya dia mulai ragu lagi. Aident sudah menduganya. "Kau bisa mati kedinginan, Leo."
Aident tertawa pelan. Sengaja sih, ia ingin mencairkan suasana sebelum terjadi perdebatan sengit di antara mereka.
"Tentu saja tidak, dasar bodoh. Dia 'kan harimau salju, sudah kodratnya untuk hidup di peradaban bersalju," terang Aident.
"Tapi Leo berbeda, Aident!" Kisha berusaha menyergah, "Leo adalah harimau salju yang tumbuh besar di hutan tropis. Pasti dia sudah terbiasa dengan matahari. Iya 'kan, Leo?"
Mata kuning Leo menatap Kisha teduh.
"Begini, Kisha ...." Leo mulai memberi penjelasan yang sebenarnya sudah pernah ia katakan tiga hari lalu. Tapi sepertinya gadis ini lupa. Atau dia hanya pura-pura lupa supaya Leo mau membatalkan rencana hidup barunya ini. Apa pun itu, Leo ingin menegaskan kembali padanya supaya Kisha mau menerima keputusannya dengan lapang.
"... awalnya aku memang tidak menyadari hal ini. Tapi coba kau ingat-ingat lagi, bukankah aktivitasku saat di dunia manusia tidak bisa terlalu berat dan harus banyak makan? Jika tidak aku akan menjadi sangat lemah."
Kisha tertunduk diam. Dia kelihatan membenarkan apa yang dikatakan Leo barusan, tetapi enggan mengakuinya.
"Lalu setelah kita memasuki Mottania, tepatnya saat aku baru merasakan dinginnya salju, saat itu aku mulai menyadari kalau tubuhku terasa lebih segar jika berada di daerah bersalju. Itulah yang menjadi alasan mengapa aku cukup kuat untuk membawa kalian pergi menghindari kejaran para Orc dan Minotaur waktu itu," tambah Leo. Dia berhenti sejenak sebelum akhirnya kembali melanjutkan, "Sekarang kau mengerti maksudku bukan? Aku akan tumbuh jauh lebih kuat jika hidup di sini. Bersama dengan salju di sekelilingku. Inilah habitat asliku, Kisha."
"Tapi ... tapi kau tidak punya siapa pun di sini!" Kisha masih belum menyerah untuk mengelak. Kali ini bahkan ia sedikit memaksa, ia benar-benar tidak rela jika harus melepas Leo pergi. Ia belum siap hidup berjauhan dengannya. "Ayolah, kita kembali saja ya? Kujamin kau akan mendapat banyak makanan di kastil. Aku berjanji!"
Aident dan Leo sama-sama mendengus pelan menghadapi sikap keras kepala gadis itu.
"Kisha, sudahlah." Aident sekali lagi menyela, berusaha membujuknya. "Jika Leo merasa lebih nyaman di habitat aslinya, mengapa kau terus memaksanya untuk ikut denganmu? Biarkan saja dia. Aku yakin Leo akan menjadi jauh lebih baik dengan pilihannya. Lagi pula dia tidak akan melupakanmu, kok. Benar begitu bukan, Leo?"
Leo menyahut dengan auman kecil tanda setuju.
Namun Kisha tetap bersikukuh, "Masalahnya aku tidak melihat ada siapa pun atau makhluk apa pun yang tinggal di tempat ini, Aident. Lantas bagaimana Leo akan menjalani hidup nantinya? Dia juga butuh berburu dan bersosialisasi."
"Tenang saja, pasti masih ada rusa dan beruang salju di sekitar sini," elak Leo santai.
Sementara Kisha, dia sontak menggeleng panik begitu mendengar kata beruang salju disebut.
"Apa kau bercanda?! Kau lupa ya kalau kau tidak terlalu bersahabat dengan beruang jelek itu? Bisa-bisa kau yang akan menjadi santapannya kalau bertemu dengannya nanti."
"Duh, kau ini berlebihan sekali ya. Itu tidak akan terjadi, aku berani jamin. Pokoknya kau tenang saja. Aku akan sering main ke tempatmu kok nanti. Aku berjanji!"
Sepertinya itu adalah kalimat final Leo yang tak mampu Kisha debat lagi. Mau bagaimana, keputusannya sudah begitu bulat dan tak terbantahkan. Kisha pun kini hanya bisa tertunduk sedih.
Aident yang melihat wajah murungnya, ia menepuk bahunya berusaha menguatkan.
"Sudahlah, biarkan Leo menentukan pilihannya kali ini." Aident menasihati. "Jika kau memang menyayangi Leo, kau seharusnya bisa menghargai pilihannya. Bukan malah terus mencegahnya seperti ini. Kau tidak boleh egois, Kisha."
Kisha merasa tertampar mendengar kalimat terakhir Aident barusan.
Apa aku terlalu egois selama ini? batinnya. Ya, dipikir-pikir aku hanya sibuk memikirkan apa yang kuinginkan saja. Aku sama sekali tidak pernah mendengar apa yang Leo inginkan. Lantas, apa aku harus merelakannya menjalani kehidupan selayaknya harimau salju Mottania di tempat ini? Sejujurnya aku tidak rela. Tapi aku tidak mau terus-terusan menjadi egois dengan hanya memedulikan perasaanku saja. Sepertinya perkataan Aident benar. Aku harus menghargai keputusan Leo.
Kisha pun menarik napas dalam-dalam, lantas mengembuskannya panjang. Kemudian ia menatap Aident sekilas, habis itu beralih menatap Leo.
"Baiklah," putusnya akhirnya, "aku mengizinkanmu. Tapi ingat, kupegang janjimu untuk sering mengunjungiku."
Leo mengaum keras tanda merasa senang dengan persetujuan Kisha.
"Tentu saja, aku akan sering mengunjungimu," janjinya.
Kisha memeluk tubuh besar harimau putih itu dengan penuh kasih sayang. Rela atau pun tidak, tetap saja ia harus menerima keputusan Leo untuk tinggal di bukit salju ini.
"Aku menyayangimu, Leo."
Sekilas, rasa haru menyelimuti suasana, membuat Aident hampir saja menangis melihat kasih sayang antara dua makhluk beda jenis ini. Sungguh kasih sayang di antara mereka begitu luar biasa. Aident merasa salut, juga iri. Seandainya saja ia punya adik atau kakak, ia pasti akan bersikap protektif padanya seperti Kisha yang begitu protektif pada Leo.
Setelah beberapa saat terus terhanyut dalam suasana sendu ini, suara angin badai yang bertiup masuk ke dalam gua berhasil membangkitkan Aident kembali pada kenyataan. Ia pun langsung tersadar, sekarang sudah waktunya mereka pergi.
"Ehm, maaf menyela, teman-teman." Ia mengingatkan, kemudian pandangannya menatap serius pada Kisha. "Kita harus segera turun sekarang. Jangan sampai kita terjebak di tengah tumpukan salju yang semakin tebal hanya karena terlambat turun."
Sambil tertunduk sedih, Kisha mengangguk. Mata birunya kini menatap Leo sekali lagi, lantas memeluknya untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya ia meninggalkan gua dan turun ke bawah bersama Aident.
Andai saja Kisha tahu bahwa pertemuannya dengan Leo saat ini akan menjadi pertemuan terakhir mereka dalam keadaan baik-baik saja, ia pasti tidak akan pernah sekalipun mengizinkan harimau itu mengambil keputusan ini. Andai Kisha tahu bahwa suatu hal buruk akan menimpa Leo di kemudian hari, ia pasti akan memilih untuk menjadi egois selamanya.
Sayangnya dia tidak tahu. Sehingga bencana besar itu tidak bisa terelakkan.
•••