Enam bulan telah berlalu sejak musnahnya Lord Glacio. Kini Mottania terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya, kehidupan masyarakat tampak makmur dan damai. Sungguh ini adalah pemandangan paling mengesankan bagi Kisha setelah selama ini ia hanya melihat musim dingin penuh kesengsaraan sejak pertama kali menginjakkan kakinya di dunia ini.
Kisha menikmati betul segala pemandangan hutan dan pegunungan hijau yang menjadi latar, serta setiap bangunan yang mengisi penuh negeri ajaib ini. Mulai dari Istana Kristal yang berkilauan indah diterpa cahaya mentari, bangunan-bangunan rumah kecil dari kayu yang mulai tertata kembali, semuanya sungguh menakjubkan. Saat pertama kali ia berkeliling ketika salju meluntur, ia juga sempat melewati desa yang bangunannya terbuat dari gua. Ah, ia ingat ia pernah melihatnya sekali, hanya saja waktu itu tidak terlalu jelas lantaran ada tumpukan salju yang menghalangi. Ia bahkan hanya bisa melihat cerobong asapnya saja kala itu. Tapi kini berkat adanya sinar mentari yang menyinari, berbagai tanaman rambat tumbuh mengelilingi dinding luar gua-gua itu. Membuatnya terlihat cantik dan terkesan estetik, benar-benar peradaban bak surgawi.
Kini bisa dilihat dengan jelas kalau Mottania telah menjadi bumi huni yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
Akan tetapi, ada satu hal yang sebenarnya terasa memuakkan bagi gadis Elves berambut pirang pasir itu—Kisha. Ya, apalagi kalau bukan kedudukan baru yang disandangnya? Berkat fakta bahwa ia ternyata adalah sang putri dari lord pemimpin kaum Elves, ia jadi sering disibukkan oleh pendidikan formal maupun non formal di Kastil Elves. Mulai dari hal-hal sederhana seperti mempelajari ilmu-ilmu kaum Elves, sampai hal yang sulit yaitu pendidikan keputrian dan kepemimpinan.
Hal-hal semacam itu terbilang sulit bagi seorang Kisha. Bagaimana tidak, selama dua puluh tahun hidupnya telah ia habiskan dengan menjadi brandal pencuri di dunia manusia, juga pembenci akut terhadap sosialisasi. Ia tumbuh menjadi pribadi yang egois, tidak pernah mau mengalah untuk hal sekecil apa pun. Dan kini ia harus menjalani pendidikan keputrian dan kepemimpinan yang sarat akan sosialisasi, keanggunan serta kebijaksanaan? Yang benar saja! Itu bertolak belakang dengan aturan hidup yang telah ia terapkan selama ini.
Jika boleh jujur Kisha muak dengan hal-hal berbau politik yang sialnya wajib ia pelajari. Tapi walau begitu ia tidak menjadikannya alasan untuk bermalas-malasan. Ia tetap giat belajar dan seperti biasa, tidak pernah mau menyerah. Ya, itulah salah satu sisi egoismenya yang cukup positif. Eh, walau terkadang pelayan-pelayan yang mengajarinya dibuat hampir menyerah pada tingkahnya yang sangat menyebalkan sih. Untung saja mereka mau memaklumi karena melihat Kisha yang besar dengan sendirinya tanpa ada yang mendidik. Mereka bahkan masih berdecak kagum kalau mendengar pengakuan gadis itu yang berkata bahwa dirinya belajar membaca dengan cara diam-diam menyimak dan mencatat pelajaran dari luar jendela sekolah. Mereka bilang, itu tergolong salah satu langkah awal strategi kepemimpinan yang memukau.
Ah, omong-omong soal para pelayan yang kewalahan mendidik Kisha, ada satu orang yang mampu mengatasi gadis itu tanpa harus menggeram kesal. Ya, siapa lagi kalau bukan Aident—sang pangeran dari Istana Kristal yang dulunya selalu menjadi penyebab meluapnya emosi Kisha, tetapi kini telah berubah statusnya menjadi penyebab berdebarnya jantung gadis itu.
Seperti saat ini misalnya. Pria Mottarian dengan rambut putihnya yang mempesona itu tengah mendekatkan wajahnya pada wajah Kisha, memperjelas mata birunya yang mampu menghipnotis gadis manapun termasuk Kisha. Hah! Siang-siang bolong begini Aident sudah membuat jantungnya berpacu hebat saja. Tidak adil.
"A-apa yang ingin ... kau lakukan?" Kisha bertanya terbata. Ia berusaha keras untuk menahan wajahnya agar tidak memerah di hadapan Aident. Tapi jujur saja, rasanya sulit.
"Tentu saja untuk menepati janjiku," jawab Aident. Ia menyunggingkan senyum penuh maksud, lantas melanjutkan, "Aku ingin menghabisimu."
Kisha sontak terbelalak. "Di-di sini?!" Pasalnya mereka kini tengah berada di tengah-tengah padang rumput terbuka yang tentu saja tak jarang orang lewat. Aident pasti sudah gila.
Dan lebih gilanya lagi pria itu malah menyahut dengan sebuah anggukan.
Kisha meneguk salivanya. Debaran jantungnya mendadak berpacu lebih cepat dari sebelumnya, terlebih ketika Aident perlahan demi perlahan semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Kisha. Ya Tuhan, ia mau mati saja rasanya. Sungguh memalukan ia bertingkah seperti ini di hadapan Aident. Dan bukannya berlari menghindar, ia malah hanya sanggup memundurkan kepalanya terus-terusan hingga rumput terasa menggelitik lehernya. Dan kepalanya pun sudah tidak bisa mundur lagi. Ah, sial, sekarang ia terjebak dalam posisi tiduran di atas rumput dengan Aident berada tepat di atasnya.
Kini, debaran jantung Kisha sudah tidak karuan lagi, entah bagaimana ia menjabarkannya. Satu hal yang pasti, wajahnya terasa seperti terbakar. Panas sekali. Terlebih ketika ia melirik ke arah lain untuk melihat situasi sekitar dan ternyata menemukan ada banyak orang tengah menyaksikan adegan tak senonoh yang tengah ia dan Aident lakukan. Sungguh Kisha benar-benar mau mati saja rasanya! Ini sungguh memalukan!
Namun Kisha bisa apa? Ia terlalu lemah untuk melawan. Dan akhirnya, ia memutuskan untuk menyerah saja. Ia pasrah akan hal apa pun itu yang akan Aident lakukan padanya.
Ia kembali memejamkan mata, kali ini dengan lebih rileks. Dalam hatinya merutuk sebal pada Aident yang tidak tahu malu. Ia tidak habis pikir mengapa pria satu ini mau melakukan itu di tempat umum seperti ini. Coba saja jika sekarang mereka sedang ada di dunia manusia. Keduanya pasti sudah banyak yang mengerumuni sambil memegang kamera ponsel dan dipaksa mengulanginya lagi dari awal. Lalu setelah itu, rekaman mereka akan diunggah di media sosial dan menjadi viral.
Memalukaaan!!! Kisha menjerit dalam hati ketika membayangkan hal itu terjadi padanya. Akibatnya, sekarang ia malah jadi overthinking sendiri, jangan-jangan ada benda semacam itu juga di dunia kuno ini?!
Tapi baru saja Kisha hendak berontak dan membuka mulutnya untuk mengingatkan Aident akan bahaya itu, Aident sudah lebih dulu menerkamnya. Dilumatnya bibir Kisha dengan perlahan dan lembut, membuat gadis itu bungkam seketika. Rasa panik yang semula menguasai pikirannya kini ajaibnya mendadak tergantikan dengan perasaan desiran indah ketika ia menikmati sensasi yang diberikan Aident padanya. Kini Kisha merasa dunia seolah milik berdua. Ia tidak peduli lagi dengan suara cekikikan juga keterkejutan orang-orang yang melihat mereka. Ia menikmatinya. Sangat menikmatinya.
Perlahan, Kisha mulai membalas ciuman Aident. Tangannya juga mulai tergerak untuk melingkar di leher kekar Aident sambil mendorong sedikit kepalanya untuk lebih dekat lagi. Aident pun mengerti. Ia mulai menjulurkan lidahnya memasuki mulut Kisha yang terasa harum dan bermain-main di dalamnya. Kisha mengikuti gerakannya dengan liar. Kini, keduanya seolah terbakar di dalam lingkaran api yang panas tetapi terasa begitu nyaman. Baik Kisha maupun Aident, keduanya saling menggenggam tak mau melepaskan.
Setelah beberapa menit, akhirnya Aident menghentikan permainan bibirnya pada bibir Kisha. Mata birunya menatap bola mata Kisha yang juga berwarna biru, tatapannya begitu teduh nan menenangkan.
Kisha memandangi bibir basah Aident yang melengkung indah tepat di hadapannya. Melihat itu, sontak ia langsung menyadari apa yang baru saja ia lakukan pada pria ini. Ia pun langsung mengelap bibirnya dengan kasar dan memalingkan wajahnya ke arah lain. Sialnya, di sana ia malah mendapat sambutan menyebalkan dari orang-orang yang ternyata sedari tadi begitu asik menyaksikan pergulatan mereka. Sekarang wajah Kisha merah sempurna berkat kebodohannya.
"Sedang apa kalian?!" Ia berseru berlagak marah. Ya, untuk menutupi rasa malunya tentu saja. "Pergi sana!"
"Baiklah jika kalian butuh privasi," jawab salah satu dari mereka sambil berjalan menjauh. "Ah, irinya ...."
Wajah Kisha sontak menekuk malu mendengar itu.
"Ternyata kau cukup liar dalam berciuman. Apa kau pernah melakukannya dengan manusia?" tanya Aident tiba-tiba.
Kisha langsung melotot tak terima. "Tentu saja tidak!"
Aident tertawa. Wajah marah Kisha tak pernah gagal menjadi candu baginya.
"Berhenti tertawa!" seru gadis itu semakin marah. Namun tetap saja, dia tidak bisa menutupi rasa malu serta perasaan senangnya. Aident cukup sadar akan hal itu.
"Dasar bodoh!" Kisha memaki tiba-tiba, entah oleh sebab apa. Tapi ekspresinya seperti ingin mengatakan sesuatu. Aident pun menatapnya serius, juga memasang telinga baik-baik.
"Kenapa kau mau melakukannya di sini, dasar pria sinting!" Sekali lagi Kisha merutuk. Tapi anehnya wajahnya terlihat memerah malu. "Mengapa tidak di ...."
"Di?"
Kisha melanjutkan dengan suara sekecil semut, "Mengapa tidak di kamarmu atau kamarku saja? Di sini 'kan banyak orang."
Aident tersenyum jahil. Ia mulai mengerti maksudnya.
"Memangnya hanya berciuman saja harus di kamar? Atau jangan-jangan ... kau ingin lebih?"
Mata Kisha seketika melebar. Dan lihat pipinya, sudah merah seperti tomat.
"Apa?! Te-tentu saja tidak! Aku berkata begitu karena ucapanmu yang waktu itu tahu!"
"Yang mana?"
"Yang itu! Eh, anu ... yang kau bilang ingin ...."
"Ingin apa?" Aident terus menggoda. Padahal ia sudah tahu apa yang akan dikatakan gadis itu.
"K-kau bilang ... k-kau ingin ... menghabisiku!" tukas Kisha dengan wajah yang sudah genap merah sempurna. "Kupikir i-itu maksudnya ... eh, pokoknya begitu! Kau mengerti maksudku 'kan?!"
Aident menatapnya penuh maksud. Ia lantas kembali meniduri tubuh gadis itu. "Kau ingin melakukan lebih, ya?" tanyanya jahil.
"Ti-tidak!" jawab Kisha berbohong, lalu segera menyingkir dari dekapan Aident.
Aident tertawa kecil. Ia kemudian kembali menghampirinya dan memeluk pinggangnya dari belakang.
"Aku tidak akan melakukannya setelah menikahimu, tahu," tuturnya tulus.
"Oh. Bagus kalau begitu." Kisha tersenyum senang. "Itu artinya kau pria sejati, yang mencintaiku dengan tulus bukan karena kau menginginkan sesuatu dariku."
Aident melepaskan pelukannya. Ia membalikkan tubuh Kisha lalu menatapnya dengan pandangan jahil. Membuat gadis itu mengerutkan alisnya bingung, apalagi kira-kira yang ingin Aident lakukan padanya? Yang pasti, Kisha cukup yakin kalau Aident sebentar lagi pasti akan menggodanya lagi.
"Kau ...," gumamnya, "... tadinya kau sudah mau melakukan itu denganku, kan? Jujur saja."
Tuh, kan ..., batin Kisha sambil menghela napas lelah. Sial, kenapa dia peka sekali sih?
Ya, Aident memang cukup yakin kalau gadisnya ini tidak akan menolak permintaannya kalau seandainya ia menginginkannya saat ini. Dan kesadaran itu membuat wajah Kisha kembali merona, lagi-lagi ia enggan menjawab pertanyaan menyebalkan yang keluar dari mulut pria itu.
Kisha mulai berpikir, dari pada ia terus-terusan didesak untuk mengatakan hal memalukan itu, atau dari pada ia harus terus menerima godaan dari Aident, lebih baik ia pergi saja. Ia pun bergerak cepat. Kakinya segera berlari kencang menjauhi Aident, sementara pria itu yang masih belum puas kini hanya bisa ikut berlari mengejarnya.
"Kemari kau, dasar curang!" Ia berseru gemas seraya menyusul langkah Kisha. "Kau belum menjawab pertanyaanku!"
•••