Selepas kegiatan belajar-mengajar usai, kini tiba jam pulang.
"Aha ... akhirnya, dunia yang membosankan ini selesai juga!" Ucap Fidelio bersuara cukup lantang di tengah banyaknya siswa-siswi berlalu lalang keluar kelas secara beriringan.
Sedangkan Benhard masih fokus terhadap buku yang sedang dibacanya. Maka, Fidelio mendekat sesudah menata alat tulis kedalam tas penampung buku-bukunya.
"Ben, udah selesai oi fokus amat kamu, keburu di tutup ruangan ini, keluar yuk" Ajaknya.
Fokus benhard tercabik, dia menolah-noleh ruang kelas mulai sepi meski masih terdapat siswa bergerombol di salahsatu meja.
"Oh, oke." Dia lekas menata alat tulisnya kedalam tas, setelahnya beranjak berdiri.
"Yuk, PB." Melangkah lebih dulu, sedangkan Fidelio malah masih berdiri di tempat yang sama.
"Nah, kenapa malah bengong disitu Fid," Tanya Benhard menghentikan langkahnya sejenak saat melihat sang sahabat bengong.
"Anu__" Terbata.
"Anu?" Polos Benhard mengangkat satu alisnya.
"Kantin kayaknya udah deh tutup Ben," Jawabnya.
"Kantin, memang kenapa kalau kantin tutup?" Benhard tampak bingung.
"Bukannya kamu mau cari sosis bakar?" Jawab Fidelio dengan sejuta kepolosannya.
"Hah?" Kejut Benhard lantas tertawa "Hahaha"
"Kok kamu malah ketawa sik," Gerutu Fidelio merasa sang sahabat mengejeknya.
"Polos jangan keterlaluan Fid, nanti lama-lama jadi plontos kamu." Ejek Benhard.
"Aissh, sue!" Fidelio memayunkan bibirnya.
"Tuh bibir masih kurang panjang Fid, udah ayo kita PB" Melangkah mendekat, meraih lengannya kemudian menariknya keluar kelas.
"At, at, at, aw aw, jangan di tarik-tarik Ben, ish ... Emang PB itu apaan sik!" Tanya Fidelio semasih lengannya di tarik oleh Benhard.
"PB itu ... Pulang Bareng sahabatku yang cantik ..." Jelas Benhard.
"Oh ... " Fidelio mengangguk-anggukkan kepalanya, lantas melotot. "Apa barusan yang kamu bilang?" Menyadari dikatakan cantik oleh sang sahabat.
Benhard langsung melepaskan lengannya, kuda-kuda hendak lari.
"Oi, jangan kabur sialan!" seru Fidelio kala Benhard langsung lari sembari tawa terbahak penuh ejek "Hahaha, aku tunggu kamu di depan gerbang!"
"Sial! numpang gratis, ngejek pula, huh!" Gerutu Fidelio diiringi senyum lantaran hal-hal seperti ini lah yang dia rindukan.
__
Lantas berlalu kini Fidelio berhenti tepat didepan Benhard yang berdiri sendirian-menunggunya.
"Kuy, naik" ajak-nya tangan mengulur ke belakang-menepuk jok.
Bugh! Bugh!
"Gak bawa helm kah?" Tanya Benhard semasih naik.
"Males lah, pengap. Berat Pula rasa kepalaku"
"Dasar,"
"Udah belum?" Tanya Fidelio selepas Benhard duduk dengan nyaman di belakangnya.
"Udah" Singkat Benhard.
"Yaudah turun," Canda Fidelio.
"Oke." Benhard hendak beranjak turun.
"Oit, oit, astaga ... becanda kali." Fidelio menge-gas motornya.
Brumm ...
"Hidup ini tidak semuanya bisa jadi candaan Fid." Ucap Benhard penuh keseriusan.
"Ya, ya, ya, oke oke ... Sorry, Hehehe" Fidelio nyaris lupa bahwasanya sang sahabat memang bersifat demikian, dibilang gampang ya gampang dibilang susah ya susah, lebih tepatnya gampang-gampang susah begitulah sifat dan karakter Benhard, jika tidak bisa menyeimbangkan sikap dan menangguhkan hati, bakal tak akan betah menghadapinya.
"Dasar lengus" Lirih Fidelio tapi terekam jelas di telinga Benhard.
Maka ...
Plak!
Kepalanya di timpuk langsung oleh Benhard. "Ngomong apa kamu hah?"
"Enggak, hehe"
"Udah cepat jalan, terik banget ni ...!"
"Iya, iya pangeran muda!" Ketus Fidelio perlahan memacu kendaraannya.
Semasih berkendara sejauh kurang lebih 700 Meter dari lokasi sekolahan Motor jenis Scorpio yang di kendarai oleh Fidelio itu tiba-tiba mati.
Jrug! Jrug! Jrug!
"Nah, nah, nah, kenapa pula ini motor?" Gumam Fidelio-menepi.
"Ada apa Fid?"
"Gak tau,"
Mereka pun turun sejenak.
"Kehabisan bensin kah?" Tanya Benhard menolah-noleh "Di depan sana ada Pom kayaknya, Fid."
"Bukan Ben, bensin masih Full kok" Fidelio jongkok sembari melihat ke bagian mesinnya, sementara Benhard masih berdiri di belakangnya sembari memperkecil matanya akibat silau-siang itu sangat terik.
"Lalu kenapa kira-kira mati?" Benhard masih sambil menolah-noleh mencari keberadaan bengkel terdekat, barang kali terlihat tapi kebetulan tidak ada.
"Motor ini emang jarang aku pakek Ben, biasanya di pakek sama om-ku. Sopir biasa jemput lagi break, pulkam." Jelas Fidelio masih fokus mengotak-atik bagian mesinnya lantas dilihatnya bensin menetes pada bagian mesin.
"Duh, kok bensinnya banjir begini ya?" Gumamnya.
"Motor lama kah?" Tanya Benhard kurang paham tentang jenis motor keluaran terbaru ataupun lama.
"Belum lama-lama amat sih, paling lima bulan pakai"
"Oh ..."
Beberapa menit Fidelio otak-atik dan coba menghidupkan mesin, masih tak menyala-nyala.
"Aih, sialan!" Gumam Fidelio saat kakinya pegal berulangkali coba menghidupkan mesin dari kick starter. Keringat pun sudah tampak bercucuran di dahinya.
"Bisa gak Fid, sinih biar ku coba" Ucap Benhard hendak mencobanya.
"Tidak usah Ben, biar aku aja." Cegah Fidelio.
"Kenapa emangnya?" Benhard antusias, meraih sesuatu sejenak dari kantong celananya kemudian menyodorkan itu di depannya.
"Nih, ambillah." Sebuah sapu tangan.
"Em ..." Fidelio ragu.
"Udah ambil, tenang aja belum aku pakai kok, nih"
Fidelio masih diam saja-menatap kedua bola matanya, akhirnya tangan Benhard mengulur ke keningnya-menyeka keringatnya perlahan.
Fidelio terpaku, bahkan bagaikan drama yang di putar lambat saat adegan itu berlangsung. Entah mengapa tiba-tiba degup Jantung Benhard terpacu kencang, bahkan kedua matanya tak berpaling dari bibir sexy berwarna merah jambu sedikit coklat milik sang sahabatnya itu.
Begitupun Fidelio, sesama berdetak kencang degup jantungnya, tak henti dia menatap mata Benhard. Namun, tak lama Benhard lakukan, dia menyadari tak seharusnya degup jantungnya terpacu tak teratur seperti ini pada sang sahabatnya sendiri.
'Ah, apa yang kupikirkan?'
Maka, lekas dia raih lengannya kemudian menaruh langsung sapu tangan itu. "Aiihh nih, kamu pakek aja sendiri!"
Lamunan Fidelio tercabik, "Ish, siapa juga yang nyuruh kamu lakuin?"
Lantas Benhard mencoba untuk pertama kalinya menghidupkan motor melalui kick starter (Mengengkol) seperti ini.
Jlug! Jlug!
Baru dua kali dia engkol, tiba-tiba ...
Blugh!
"Aarggh!" Serunya kesakitan kala gagal mengengkol berujung engkolan itu melukai kakinya sendiri.
"Ben, astaga tuh kan ... Aku bilang juga apa, udah gak usahlah. Kita cari bengkel aja." Ucap Fidelio.
Sementara Benhard masih meringis kesakitan.
"Kamu gak papa?" Fidelio tampak cemas.
"Hum"
"Dasar anak emas." Ejek Fidelio.
"Terus aja ejek terus ... lama-lama aku Bogem juga kamu!" Ketus Benhard.
"Hehe, ampun. Sorry-Sorry ... yuk lah." Ajak Fidelio beralih-memegang setang hendak dia dorong motor itu.
"Oh ya Ben, kalau kamu mau naik taksi, gak papa. Biar aku kebengkel sendiri aja." Ucap Fidelio semasih mereka berjalan bersama.
"Kalau aku minat naik taksi, udah dari Zaman purba aku naik taksi, Fid." Jawab Benhard yang kini berjalan di belakangnya sembari membantu mendorong motornya.
"Liat dinosaurus dong?" Ucap Fidelio.
"Maksudnya?" Benhard tak mengerti.
"Katanya hidup di jaman purba?"
"Sialan,"
"Hahaha"
Tersirat senyum ceria diantara keduanya. Lantas semasih terus melangkah tiba-tiba ada sebuah kendaraan roda dua jenis Moge menepi didepan mereka membuat langkah mereka terhenti.
Yang mengendarainya tentunya seorang laki-laki mengenakkan jaket kulit warna hitam lengkap dengan pelindung kepala hingga tak tampak seperti apa parasnya serta celana yang di pakai tampak seperti mereka berdua, (Celana dari seragam sekolah)
Benhard dan Fidelio masih diam mematung, sementara laki-laki itu turun dari atas motor-mendekat ke mereka.
Sesampainya berdiri tepat tak jauh dari mereka, dia lepaskan pelindung kepala secara perlahan.
Maka ...
"Hai," Ucap dia tersenyum lantas di balas senyum langsung oleh Benhard, tapi tidak demikian dengan Fidelio.
'Sial, kenapa dia datang sih!' Batinnya kesal, lantaran pemuda itu adalah Zevano-kekasihnya Benhard.
"Van, kok ... tumben?" Sapa Benhard mendekat.
"Iya Ben, tadi di jalan sana ada Razia polisi, aku lupa bawa Sim lalu aku putar-putar, akhirnya lewat sini," jelas Zevano lantas menoleh Fidelio dan menoleh lagi ke Benhard.
"Kalian lagi pulang bareng kah?"
Benhard mengangguk, sementara Fidelio diam seribu bahasa.
"Lalu ini ... kenapa ..." Zevano menelunjuk ke arah motor, lantas di sahut langsung oleh Benhard.
"Ini ... kebetulan mogok, Van."
Tanpa kata lagi, Zevano melangkah mendekat ke arah motor Fidelio-Jongkok ke arah mesinnya.
"Ka-kamu ... mau ngapain?" Tanya Fidelio terbata akibat menahan kesal.
Namun, tak di mengerti oleh Zevano, lantas dia oper alih paksa hendak mencoba menghidupkannya.
"Eh," kejut Fidelio semasih Zevano oper alih secara barbar.
Satu, dua, tiga kali Zevano mencobanya masih belum menyala lantas dia tengok bagian mesinnya lagi.
"Ah ... Karburatornya kotor dan pengapiannya gak beres ini mah, Kamu bawa alat serep gak, atau tisu?" Tanya-nya.
"Tisu?" Singkat Fidelio sebatas menggeleng. Lantas Zevano beranjak ke arah motornya sendiri mengambil alat serep di Bagasi. Setelahnya kembali lagi ke motor Fidelio.
Berdiri sejenak melihat sapu tangan di genggaman Fidelio, maka dia langsung ambil paksa.
"Eh, it-itu ..." Kejut Fidelio saat sapu tangan pemberian Benhard di ambil paksa lantas digunakan untuk membersihkan karburator oleh Zevano.
"Kenapa? Sapu tangan cewek kamu kah?" Basa-basi Zevano saat Sapu tangan itu sudah dia pakai untuk menyeka karburator.
Kurang dari lima menit Zevano mengotak-atik, dia coba kembali menghidupkannya.
Dan ...
Brum ... Brum ...
Motor pun berhasil menyala. Benhard senyum penuh bangga terhadap keahlian sang kekasihnya sementara Fidelio masih diam seribu bahasa.
Zevano menata kembali beberapa alat serepnya, sesudahnya berdiri lagi sembari menggelengkan kepala menatap Fidelio.
Mendekat Fidelio, lantas sedikit berbisik ditelinganya "Jadi laki-laki jangan hanya pandai merawat wajah saja, men ..." Ucapnya penuh sindir lantaran melihat paras Fidelio memang lebih dominan cantik alias laki-laki cantik.
"Cih," Fidelio memutar bola matanya.
"Tidak ingin berterima kasih padaku kah?" Ucap Zevano secara khasnya diiringi menyerigai.
Didalam batin Fidelio berkata 'Cih, kagak sudi amat, yang minta kamu ngidupin motor aku juga siapa?'
Namun belah bibirnya terbuka, hanya sebatas berucap "Iya, terima kasih."
Sedangkan Benhard hanya senyum menyaksikan itu, setelahnya dia mendekat Zevano, berbincang sejenak berjarak tak begitu jauh dari Fidelio.
"Yaudah oke." Kalimat jawaban Benhard saat Zevano mengajaknya pergi lantaran dia memang beberapa hari tak jumpa dengan kekasihnya ini.
Benhard menoleh pada Fidelio. sejenak "Fid, aku pergi sama Zevano dulu ya" Pamitnya tanpa merasa yang tidak-tidak meski sebelumnya dia yang sangat antusias ingin pulang bareng Fidelio.
"Oh, yasudah." Sebatas kalimat itu yang Fidelio jawab lantaran mencegah pun tak mungkin baginya.
Berat hati, tentu berat. Lantaran momen seperti ini sangatlah jarang. Di hari-hari sebelumnya Benhard memang kerapkali pulang dan berangkat sekolah di antar oleh sopir pribadinya.
"Kami jalan dulu kawan, ingat-ingat kata-kataku tadi," Sindir Zevano pada Fidelio tak ayal membuat Benhard tanda tanya.
"Ada apa Van?" Lantaran dia tak mendengar kalimat apa yang Zevano katakan pada Fidelio tadi.
"Ah, enggak kok. Yuk kita jalan, aku tak rela sinar matahari merusak kulit pacarku ini," Ajaknya penuh goda seraya meraih lengannya menuju ke motornya.
"Cih, lebay."
"Dih, kok lebay, ya enggak dong, aku beneran tau ..." Goda Zevano.
"Lebay!"
__
Selepas mereka berjalan pergi, Fidelio masih berdiri di tempat yang sama sembari melihat kepergian mereka.
Sakit, itu pasti. Sedih ...? Tapi mau gimana lagi?
"Hufff ... Ku akui, aku memang tidak bisa sempurna di matamu Ben," keluhnya saat tak bisa menyalakan mesin motornya sejak tadi, malah digantikan oleh Zevano dengan mudahnya.
Sedikit menyesali, andai dia bisa sepandai Zevano dalam bidang teknik, mungkin saat ini Benhard masih bersamanya.
"Huff ... Bodoh! Bodoh! Dasar motor Bodoh! kenapa kamu gak nurut sama pemilik sih!"
Kesal, merasa motornya tak bisa di ajak kompromi, lantas dia tendang-tendang motornya sendiri bagai seorang pengidap depresi.
Brak! Brak! brak!
"At, atah atah, kakiku aw, aw, aw, Bangke! dasar motor sialan!" Omelnya saat Kakinya menendang terlampau keras!