B-1, Episode 6

1160 Words
Fidelio meringis kesakitan usai menendang-nendang motornya sendiri itu, lantas menyadari begitu terik sang mentari menyengat permukaan kulitnya. "Uuhh, alangkah panas sangat sih cuaca hari ini!" menyeka keringat sejenak di dahinya. "Dasar Cowok sialan, huh!" Teringat sapu tangan pemberian Benhard di ambil paksa oleh Zevano yang sudah digunakan untuk membersihkan karburator motornya tadi. Tak lama ia berkutat, segera melanjutkan perjalanannya hendak pulang. Namun, baru saja tubuhnya naik ke atas kendaraannya kedua matanya tertuju ke arah mobil pribadi jenis Avanza berwarna hitam berhenti tak jauh darinya disusul seorang siswi berseragam sekolah sama seperti dirinya di balut switter berwarna Navy tampak ia kenali. "It-itu ... bukannya Visca? kenapa dia berhenti di situ?" penuh tanda tanya lantaran tak lama Vicsa turun, mobil yang dinaiki dia tadi lekas pergi lagi. Fidelio pacu pelan kuda besinya menuju ke dia sejenak, "Hei Vis," Sapa-nya berhenti tepat didepan Visca. "Eh, Hei ka-kamu ... anak IPA bukan?" Sapa balik Visca sedikit paham meski tak begitu kenal dengan pemuda terdekat Benhard ini, lantaran mereka berbeda kelas. "Hu um, kamu kenapa berdiri sendirian disini?" Basa-basi Fidelio. "Oh, ini ... aku lagi nunggu taksi." Singkatnya. "Loh, Bu-bukannya mobil tadi ..." Fidelio hendak bertanya lebih, tapi langsung di jawab oleh Visca. "Oh tadi sopirku mau jemput kakakku ke bandara dulu, udah di tungguin dari tadi lagian juga lewat jalur berbalik. Jadinya aku bilang mau naik taksi aja." Jelasnya. "Oh ... gitu" Fidelio mengangguk-anggukkan kepalanya "Yaudah pulang bareng aku aja yuk," "Em ..." Visca masih ragu "Terima kasih, tapi ... kayaknya Gak usah deh aku nunggu taksi aja." Jawabnya. "Kamu gak biasa naik motor kah, atau ... karena motorku bukan Ninja maupun Ducati?" Canda Fidelio. "Ih, Bu-bukan begitu maksudku," "Yaudahlah ... kuy, naik." Antusias Fidelio. Akhirnya Visca terima ajakan dia, lekas Fidelio pacu kendaraannya sesuai tujuan yang dia tuju. Semasih berkendara dia memiliki siasat tertentu. "Sepulang ini kamu ada kegiatan apa Vis, sibuk gak?" Tanya-nya. "Enggak sih, aku lagi gak ada les" "Gimana kalau kita main ke taman bentar cari angin," ajak Fidelio. Visca masih diam saja hingga sekian detik. "Gimana, kamu mau gak, diam berarti tanda mau Oke?" Fidelio lekas menuju jalur sesuai ke lokasi taman yang hendak dia tuju. ____ #Next #Benhard Selepas mereka pergi dari Fidelio tadi, Zevano pacu kencang kendaraannya cenderung ugal-ugalan di jalanan. Ngooeeeng ...! "Van, kenapa kamu kayak di kejar-kejar ibles naik motornya begini sih!" Benhard sedikit teriak lantaran bising suara kendaraan yang berlalu-lalang. "Biar kulit pacarku gak gosong tersengat matahari." "Cih, hati-hati Van, pelanin dikit gih, keselamatan lebih penting." Pinta Benhard lagi. Tapi, Zevano malah bertingkah semakin memainkan gas-nya. Bruum ... Brum ... Diiringi tawa terbahak "Hahaha" "Zevano!" "Iya sayang ... Kenapa kamu memanggil namaku, apakah kamu takut? hahaha" Benhard tak menjawabnya. "Makanya tangan kamu siniin gih, pegangan pinggangku biar mesra ..." Goda Zevano. "Males!" "Cih, ngambek kah?" "Menepi saja sekarang." Pinta Benhard. "Hah?" Kejut Zevano. "Aku bilang menepi, atau aku loncat sekarang!" "Buset, aiyayaya aku nepi sekarang." Akhirnya Zevano menurutinya. Selepas menepi Benhard langsung turun, "Kamu lanjutkan sendiri aja," memasang seraut wajah muram. "Maksudnya?" Zevano tak paham. "Kamu pulang saja sana," "Kok Gitu?" Zevano mengerutkan kening. "Aku mau pulang cari taksi." Benhard beranjak menjauh dari motor Zevano. "Ben, Benhard, tunggu!" Akhirnya Zevano turun dari motornya-mengejar. "Ben," Panggilnya seraya meraih lengan sang kekasihnya itu. Benhard segera lepaskan tangan dia-menatapnya muram. "Jangan marah gitu dong Ben, kan tadi aku cuma becanda," Pinta Zevano meraih lengannya lagi. Benhard terdiam, meski dia sangat kesal lantaran sifat dia memang keras dan gampang tersinggung tapi dia teramat rindu pada kekasihnya ini. "Jangan ulangi lagi." Jawabnya. "Oke, Siap sayang mari kita 69!" Ceplos Zevano mengulur tangan ke keningnya sendiri hingga tercipta seakan sedang hormat pada bendera. Benhard kian tersenyum begitu mendengar kalimat itu, "Apa itu 69?" "Kamu pikir apa?" Zevano menaik turunkan alisnya. "Cih, gak jelas" Benhard menggelengkan kepala melihat tingkah konyol plus gemesin kekasihnya itu hingga rasa kesal itu kini sirna dari benaknya. "Yuk," Zevano menarik tangannya lagi menuju ke kendaraannya. ___ "Van, gimana dengan aktifitasmu beberapa hari ini?" Tanya Benhard sesudah mereka berkendara. "Bikin Pusing." "Apa yang membuatmu pusing?" "Biasalah ... paling utama sih matematika, bikin otakku jungkir balik!" Jelas Zevano. "Kamu saja yang kurang belajar itu mah ..." Sarkas Benhard. "Hehehe, makanya kamu ajarin aku ya" "Berani berapa, kalau aku ajarin kamu?" Balas Benhard. "Hm ... Mulai perhitungan nih ceritanya?" "Iyalah, hidup ini tak ada yang gratis." Jawab Benhard. "Oh ... Okelah dua, tiga atau lima ronde pun aku bakal sanggup." Cetus Zevano. "Hah, apa maksudnya itu?" "Hahaha," Zevano terbahak-bahak. "Cih, Dasar!" Benhard kian mengerti apa maksudnya. "Hehehe, ajarin aku ya, ya, ya, Please ..." Pinta Zevano. "Hm ... Baiklah, dimana kita belajar?" "Dimanapun oke" "Kapan?" Lanjut Benhard. "Sekarang aja mumpung longgar dan mumpung ketemu kamu," "Hem ... hem ... mulai deh mulai, Yaudah ke rumahku aja kalau gitu." "Sipp lah" Pungkas Zevano tersenyum bahagia lantas pacu menuju ke kediaman Benhard. Ngoeeengg ...! ____ Tak lama kemudian mereka sudah tiba di kediaman Venanim (Ayah-nya Benhard) "Ortu kamu dirumah Ben?" Tanya Zevano selepas turun dari motor. "Biasanya sih jam segini gak ada" Jawab Benhard perlahan membuka pintu rumahnya menggunakan kunci serep. "Oh ..." Zevano mengangguk-anggukkan kepalanya. "Yuk, masuk." "Hum" Selepas keduanya masuk, keadaan rumah memang tampak sepi, Benhard yakin kedua orangtuanya sedang tidak berada dirumah pada jam itu, lantaran biasanya memang sedang sibuk bekerja masing-masing. "Ayo," Ajak Benhard selepas sampai di ujung anak tangga menuju kamarnya di lantai atas. "Em ..." Zevano menolah-noleh. "Kamu gak ada pembantu kah?" Basa-basinya. "Ada tiga, cuma ada yang cuti dua orang, kenapa emangnya, kamu haus kah?" Tanya balik Benhard mengira sang kekasihnya ingin minum. "Iya, aku haus" Zevano mendekat. "Oh, yaudah bentar aku ambilkan minuman dingin, apa kamu mau minum apa? biar aku buatkan spesial untukmu" Tawar Benhard hendak pergi, tapi bahunya di raih langsung oleh Zevano. "Enggak usah Ben, aku ... hanya haus__haus__" Bisiknya lembut di telinganya. "Hm ..." Benhard kian mengerti apa maksudnya, sebatas senyum tampak memerah rona pipinya. ___ Lantas berlalu kini mereka sudah tiba didalam ruang kamarnya. "Kamu gak ada ruang kusus belajar kah?" Basa-basi Zevano masih berdiri tak jauh dari pintu, melihat Benhard menaruh tas-nya di meja belajar. "Ada sih di ruang bawah. Apa sebaiknya kita belajar kesana? sebentar aku ambil beberapa buku dan Laptopku dulu." Ujar Benhard lantas menata beberapa barang yang di maksud secara tergesa-gesa. "Bukan Ben, justru ... anu ..." Zevano mendekat semakin dekat lantas meraih lengan Benhard yang kini sibuk menata beberapa ATK. "Em ..." Perlahan Benhard menatap kedua bola matanya hingga aktifitas yang dia lakukan berhenti seketika. "Aku kangen sama kamu Ben," Kalimat terucap lembut dari bibir sang kekasihnya itu kian memaku perhatian Benhard dari niat yang seharusnya. "Aku ... juga kangen sama kamu Van," balasnya lembut tak ayal Zevano semakin mendekat, tangan kiri mengulur ke bagian leher belakang Benhard menariknya perlahan sebagai lambang rindu sekian hari tak bertemu-menginginkan bibir kenyal dan lembut itu. "Van," Cegah Benhard sebelum terjadi ciuman kian membuat Zevano terhenti. Namun, hanya sekilas Zevano berkutat, dia tarik lengan Benhard dengan cepat kemudian mendorongnya menuju ke atas ranjang. Suut! Brugh! "Eh, Van."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD