B-1, Episode 7

1204 Words
Catatan pengarang: 21+ Berisikan konten dewasa dan mengandung sedikit aksi b**m! ___ #Next Story Benhard terkejut begitu tubuhnya kini terbaring menatap langit-langit namun dia tak kuasa menolak kecupan mesra yang diberikan oleh kekasih pria-nya itu, pertanda ungkapan cinta sebagai lambang kepemilikan. Namun, hanya sekilas kecupan lembut itu dia lakukan, kini beralih dengan rakusnya. Benhard hanya mampu memejam menerima cumbuan dari si dia yang kini beranjak hinggap di atas tubuhnya. Tetapi Benhard kian sadar diri akan situasi dan tempat mereka mengadu kasih, maka dia melepaskannya sejenak, "Van ..." "Ssttt ... diamlah," Zevano sekalipun tak pedulikan, lantaran napsu sudah membuncah dalam angan, dia mulakan permainan, melumat bibirnya dengan rakusnya hingga lidah merogoh masuk kedalam mulutnya, mengaksen setiap gigi rapih lalu menghisap lembut lidah sang kekasihnya. Keduanya kini menyebrangi lautan gairah, Zevano begitu beringas mulai dari bibir dia resapi rasa itu perlahan turun menuju leher berujung ke d**a yang belum tumbuh bidang dengan sempurna itu. "Awh, Van ..." Benhard kian senyum dan membuka-tutup kelopak matanya kala Zevano membuka setiap anak kancing lantas memplintir dan memainkan lidah pada p****g kecilnya. Terasa sangat geli tetapi bercampur nikmat hingga benda pusaka miliknya kian mengeras di balik celananya. Tidak hanya miliknya yang mengeras, milik Zevano jua sama saja kerasnya. Benhard oper permainan, kedua tangan mengulur ke bahu sang kekasih secepat kilat dia membalikkan posisi tubuhnya. Zevano kini yang terbaring menatap langit-langit membiarkan Benhard melakukan aksi sesuai ekpetasinya. Sementara Benhard pertama-tama mempersembahkan senyuman khas di atas tubuh si dia, lantas memutar posisi tubuhnya menghadap ke arah kakinya, kedua mata tertuju pada area terinti dan terpaku pada benda pusaka keras dibalik celana milik sang kekasihnya itu. Kedua tangan mengulur meraih kancing celananya lantas meraih benda pusaka bagai tongkat itu dibalik celana dalamnya. Tidak hanya dia yang melakukannya Zevano jua lincah meraih benda pusaka milik Benhard yang kini di suguhkan di atas wajahnya. Maka, terciptalah bentuk angka 69 dari kegiatan s*x oral mereka lakukan, sesama memainkan benda pusaka didalam mulut keduanya. __ Selepas kegiatan pemanasan itu mereka lakukan, keduanya masih di rundung rasa belum terpuaskan. Maka, tak memikirkan lagi situasi lantas melucuti setiap helai busana yang melekat di tubuh keduanya. Zevano memulakan permainan itu, dia merangkak hinggap di atas tubuh sang kekasihnya, mengangkat kedua lipatan pahanya. Namun ... Sejenak terdiam menilik tiada benda khusus yang menjadi pelancar jalan masuk benda miliknya. "Kenapa berhenti Sayang?" "Tak ada pelicin Ben, nanti punyamu lecet." "Yaudah pakai lotion aja, ada kok disana" "Ah, kejauhan" Tak sabar, Zevano segera gunakan air dari mulutnya. Keinginan suatu rasa yang lama tak didapatkan kini memuncak dalam angan kian tak tertahankan, perlahan namun pasti dia lesakkan benda pusaka miliknya didalam goa milik si dia. Sleeb! "Ahh ... Van ..." Benhard kian meringis dan memejam begitu benda pusaka itu bersarang didalam goa-nya. Tentunya terasa sakit dan perih menerima benda asing didalam anggota tubuh bagian bawahnya. Zevano masih membiarkan benda pusaka itu bersarang belum memulaikan pergerakan, membiarkan otot-otot goa sang kekasih melemas-menerima benda pusaka yang masuk itu. Lantas membubuhi lumatan mesra pada bibirnya seolah mencengah sejenak desahan keras dari mulut kekasihnya itu. Kecup demi kecup bibir dia bubuhkan, senti demi senti semakin dia tenggelamkan seluruh batang benda pusakanya didalam goa si dia, hingga rasa sakit dan perih yang sebelumnya Benhard rasakan lekas sirna dari pikirannya, maka Benhard menerima kecupan itu, bahkan membalas lumatan beringas dibibir si dia. Emph ... Satu tangan kiri dia kalungkan ke leher Zevano, sementara tangan kanannya memainkan benda pusakanya sendiri. Namun, hanya sekilas Benhard melakukannya Zevano kian mengerti apa yang diharapkan oleh kekasihnya. Perlahan namun pasti seumpama sedang menumbuk padi dengan palu kayu, Zevano menumbukan benda pusaka kerasnya sampai di prostat sang kekasihnya hingga tak kuasa Benhard menahan sakit bercampur kenikmatan yang tak Lantas dia pun mendesah keras. "Aahh ..." Selama Zevano pacu benda pusakanya didalam goa itu, tangannya memainkan benda pusaka milik si Benhard, Menciptakan gerakan maju-mundur penuh irama, hingga angan Benhard semakin melayang yang sulit untuk dia gambarkan. Memejam, menikmati double rasa surga dunia dari belakang dan depan tak kuasa menahan gejolak hasrat, hingga keduanya melepaskan desahan yang saling bersahutan. "Ahhh ... Yeaah, Sh*tt ohhh ... yeaah ... Ahh ..." Deruan suara desahan demi desahan yang saling bersahutan kian memacu hasrat didalam jiwa Zevano, hingga akhirnya dia telah mendapatkan puncak batas kenikmatannya. Maka, dia kencangkan permainan dan melepaskan bisa bakal janin tanpa mengeluarkan benda pusakanya didalam goa si dia. Croot! "Uuhhhh ..." Sekian detik berlalu, Zevano mempersilahkan Benhard untuk mendapatkan kenikmatan setara dirinya. Dia lekas ubah posisi tubuhnya, berbaring menatap langit-langit, membuka kedua lipatan pahanya mempersembahkan apa yang seharusnya Benhard dapatkan. Namun, Benhard kurang menyukai posisi yang Zevano berikan, maka dia lekas tarik lengan Zevano kemudian meraih kaos singlet disisinya, dia ikatkan kuat kaos singlet itu kedua tangan Zevano ke arah belakang, kemudian mendorongnya sampai dia posisi melutut, Nungging-Doggystile. Selepas mendapatkan posisi yang di sukainya, tak menunggu waktu lama maupun cumbuan mesra seperti yang Zevano berikan padanya, dia lesakkan benda pusakanya tanpa kelembutan dan irama. Sleeeb! "Aarrhh Bangs't!" Zevano penuh terkejutan, memejam dan meringis kesakitan hingga dia tak mampu membendung kata umpatan. Namun, tak sekalipun Benhard pedulikan, dia lekas kencangkan permainan menenggelamkan sempurna seluruh batang benda pusakanya semakin dalam. Sleeeb! Sleeb! Bagai seluruh mahluk penghuni kebun binatang semakin dan semakin meluncur tanpa perantara dari mulut kekasihnya. "Aahhh ... Bangs't, K0nt0l kau bangs't Ben! Ohh ... F'ccck! Kont0l anjinggg, babi kont0l kau baj'ngan, F'uucck! aahhh .... persetaaaaan!" Kata umpatan yang keluar bertubi-tubi dari mulut kekasihnya itu kian memuncakkan gairah dalam diri Benhard. Dia tarik bahunya, kemudian dia cekik lehernya dari belakang. Secepat jet bus dia pacu hingga tercipta decitan dari ranjang yang bergoyang diiringi suara khas tercipta bersumber dari permainan benda pusaka didalam goa memenuhi ruang. Plock! Plock! plock! Sekian menit benda pusaka bermain dengan lincahnya di goa kekasih pria-nya, Benhard kian mendapatkan batas puncak kenikmatannya. Secepat kilat dia lepaskan Benda pusaka dari goa si dia, Lantas satu tangan meraih bahu Sang kekasih, dia cengkram kuat rambut Zevano, berdiri tepat didepan wajahnya kemudian melepaskan bisa bakal janin itu tepat di wajah si dia. Croot! "Uuuuhhhh ... yeeaah!" Tak puas dengan itu sesudah bisa bakal janin menyembur di permukaan kulit wajah kekasihnya, Benhard cengkram kuat rahang Zevano kemudian melesakkan benda pusaka yang masih amat keras itu didalam mulut si dia. Sleeb! "Yeaah!" Dia kembali mainkan untuk menuntaskan bisa bakal janin di benda pusakanya, menciptakan goyangan maju-mundur di mulut kekasihnya tak lantas dia tarik dan tekan kepala belakang sang kekasihnya agar benda pusakanya Masuk-mentok di mulut si dia. "Emmph" Zevano kian merem-melek saat mulutnya di sumpel benda pusaka itu bagai menyumbat kerongkongannya, bahkan wajahnya tampak memerah lantaran pasokan oksigen yang kurang, terlampau liar Benhard mainkan hingga Zevano tersedak di buatnya. Semakim tak tertahankan, Zevano mengulurkan tangan, menepuk-nepuk perut Benhard sebagai tanda ampun supaya Banhard segera melepaskan benda pusaka itu dari mulutnya. Akhirnya Benhard lepaskan. "Uhuk, uhuk, Ben ... Uhuk, uhuk, Anjing kau bangs't! Kejam sekali kau punya k0nt0l! Anjing! Uhuk, uhuk." Umpat Zevano. "Hehe, maaf sayang ... Abis enak banget sih" "Aeeh, Bangs't kau lah, Sakit g****k!" Gerutu Zevano. Benhard senyum, kemudian beranjak mengambil tisu di meja untuk membersihkan bisa bakal janin yang berserakan di kulit wajah kekasihnya. "Uluh, uluh ... jangan marah gitu dong ... Sayang" Goda Benhard semasih menyeka air kental yang bermuncratan di wajah kekasihnya itu. Lantas, tak lama berselang terdengar suara di balik pintu kamarnya. Tok, Tok, tok,
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD