B-1, Episode 8

1198 Words
Suara ketukan itu tidak hanya terdengar satu kali, bahkan diiringi suara yang memanggilnya. "Ben, Benhard ..." "Mampus, itu suara papa aku Van," Kejut Benhard tampak tergesa-gesa, keduanya lekas memakai busana untuk antisipasi hal-hal yang tak diinginkan. Namun ... siapa sangka, akibat tak terduga bakal terjadi kegiatan terlarang didalam ruang kamar Benhard ini, keadaan pintu tidaklah di kunci dulu. Maka ... Ngieeek! Pintu itupun di buka perlahan oleh seseorang yang mengetuk pintu itu, tak lain dialah Venanim. "Ben, Astaga Tuhan," Terperangah dalam kejutan begitu pintu sudah dibuka sempurna. "Apa yang kalian lakukan?" Tanya Venanim melihat putranya masih belum sempurna memakai busana bersama seorang pemuda yang tidak di kenalinya. Kedua mata Venanim tak lepas melihat keseluruh penjuru ruang tampak sangat berantakan cenderung tak lumrah yang meliputi Bad Cover, Seprei, bantal berserakan di sertai bekas tisu-tisu berhamburan di lantai, tentunya menumbuhkan kecurigaan akan suatu hal. "Em ... Pa-papa" Benhard terbata cenderung tergesa-gesa semasih menyelesaikan memakai busananya. Sementara Zevano kini sudah sempurna memakai pakaiannya. Dia tak kalah gugupnya dengan Benhard tiba-tiba dia ambil tindakan yang salah, hingga semakin menumbuhkan kecurigaan pada diri Venanim. "Permisi, Om" Dia tak menyapa layaknya tamu sebagai mana mestinya seorang teman Banhard, malahan langsung pamit keluar kamar. Sementara Benhard kian mematung, tak seharusnya Zevano langsung pergi begitu saja. Dia menatap mata sang ayah seakan penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang harus siap dia jawab. "Pa-pa udah pulang?" hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya, alih-alih untuk basa-basi, tapi kenyataan tak bisa dipungkiri saat Venanim lekas bertanya, "Apa yang kamu lakukan tadi Ben, dan siapa dia?" Kedua mata mengarah pada ruang berantakan tak ayal Benhard kian mengerti apa maksud pertanyaan itu. "Oh, tadi ... kami sedang belajar bersama pa," "Belajar bersama?" Venanim tak melihat buku maupun secercah ATK (Alat Tulis Kantor = Pena, Buku dll) pada letak dimana mereka tadi di pergokinya. Venanim diam menghela napas dalam-dalam, coba meredamkan rasa-rasa negatif yang kini membelenggu pikiran, maka sebatas dia berucap "Mana hape kamu?" "Em ... untuk apa pa?" tentunya berat bagi Benhard memberikan itu. "Sini, papa ingin lihat." Antusias Venanim mengulurkan tangannya. "Tap-tapi ..." Benhard Penuh keraguan, tapi tak mungkin baginya menolak keinginan sang ayahnya, lekas ia ambilkan kemudian menyerahkannya. Selepas hape di tangan Venanim, dia pun tengok isi didalamnya. Benhard diam mematung dan menunduk semasih barang pribadinya sedang di koreksi oleh ayahnya sendiri. Selama ini tak sekalipun Venanim melihat telephone genggam putra tunggalnya lantaran disibukkan oleh segala macam aktifitasnya. Kini, degup jantung Benhard semakin terpacu kencang kala ingat ribuan chat dengan Zevano tidak pernah dia hapus sejak dia kenal dengannya. Maka ... Prak! Suara hempasan keras di lantai kian mencabik lamunannya, perlahan dia tengok sumber suara itu. Terlihatlah telephone genggamnya pecah di lantai lantaran telah di banting keras oleh Venanim, perlahan Benhard tatap kedua mata sang ayahnya itu, tampak sangat murka padanya. Sekian detik mereka saling tatap mata tanpa ada untaian kata, tak lama kemudian Benhard lekas menundukan kepalanya. "Papa tidak akan tanya apa yang kau lakukan selama ini, tapi papa ingatkan sama kau. Kau boleh bergaul dengan siapapun tapi ingat-ingat Benhard, jangan sampai kau kebablasan bergaul sampai di luar batasan, paham?!" Benhard mengangguk pelan menyadari kesalahan, namun didalam hatinya samasekali tak merasa bersalah lantaran apa kesalahan dari seseorang yang saling mencintai dan dicintai? begitulah jalan pikirnya. "Fokuskan pendidikanmu, sebentar lagi kau masuk kuliah, papa tidak akan membelikanmu hape baru. Papa tidak mau tau, kau harus mendapat peringkat terbaik, paham?" Tegasnya cenderung menekan Benhard. "Tap-tapi pa, gimana aku hubungi sopir, teman dan ..." Belum tuntas dia berkata, kalimat di penggal langsung oleh Venanim. "Cukup! Papa tidak pernah mendidik kau jadi anak yang membangkang, Benhard!" Pekiknya tampak murka kian membuat Benhard mengerti. "Ba-baik pa," menunduk lagi, lantas Venanim perlahan hendak pergi dari sana lantaran paham bagaimana sifat putra tunggalnya yang selama ini dinilainya patuh, sopan dan disiplin itu (Selama di rumah) Tapi ada hal yang masih membelenggu pikirannya lantaran hal ini bukanlah urusan pendidikan, lantas baru saja tiga langkah kakinya berpijak, dia hentikan dan menoleh Benhard lagi yang kini masih diam mematung. "Benhard," Panggilnya. Benhard pun tegakkan pandang-siap mendengarkan. "Papa tidak akan mentoleransi jika kau berani keluar dari jalur yang menentang ajaran Tuhan Yesus, papa tidak ingin kau temui laki-laki itu lagi, mengerti?" "Tap-tapi pa," Entah apa yang menganggu pikiran Benhard sampai kalimat itu terucap tanpa kontrol pertanda dia mengakui ada sesuatu dengan pemuda itu (Zevano) "Tapi apa, hah!" Venanim kian melotot mendengar kalimat itu, lantas traveling dalam hal Negative thinking. Benhard diam seribu bahasa bagai terjadi peperangan sengit didalam hatinya. Selama ini dia tak pernah menentang keinginan ayah-nya untuk meraih prestasi tinggi dalam pendidikannya. Tapi, berbicara tentang hati pastilah lain lagi urusannya. Namun, tak kuasa dia berkata kesungguhan tentang hubungan itu, maka bagai terdapat lem korea yang merekat erat di bibirnya. Melihat sang anak diam seribu bahasa Venanim sudah bisa menduga sang anak memiliki orientasi seksual berbeda. Namun, dia enggan membahas perbincangan tabu itu semakin panjang, lantaran yakin di dunia ini ada istilah 'Impossible is Nothing' (Tidak ada yang tidak mungkin) Bila terjadi, maka terjadilah tapi masih bisa dia cegah lekaslah ia berkata "Jangan sampai mama kau tahu tentang ini, dan Papa peringatkan kau jangan temui laki-laki itu lagi, mengerti!" Benhard tak menjawab maupun mengangguk lantaran dia bukanlah tipikal orang munafik. Namun, Venanim jua tak mampu lama-lama disana lantaran kepulangannya hanya sebatas mengambil beberapa dokumen saja. Perbincangan pun usai, hingga tujuan awal mengapa Venanim bisa mengetuk pintu kamar putranya tak jadi diutarakannya. Yakni, dia hendak berkata bahwa lusa dia akan pergi ke luar Negri sampai beberapa hari bersama sang istri, menilik keadaan seperti ini dia pun enggan mengatakannya. Selepas sang ayah pergi meninggalkan ruang kamarnya, kedua mata Benhard tertuju pada benda pribadi berupa telephone genggam yang kini pecah di lantai. Dia raih benda itu, bukan bertujuan untuk men-servisnya, malahan semakin dia banting hingga berkali-kali. Prak! prak! prak! Diiringi teriak sekencang-kencangnya, "Arrgghhhh!" pertanda frustasi dia rasakan sampai beberapa benda di kamarnya menjadi lampiasan. Prak! Brugh! Glumprangggg! Berupa kaca cermin, jam weker, dan lain sebagainya hancur berserakan! ___ #Next, di lain sisi #Fidelio Tepatnya siang menjelang sore hari sekitar pukul 15:30 Pm. Selepas Fidelio mengantar seorang gadis teman sekolahnya ke rumah, saat ini dia mampir di rumah teman lainnya. Sebelumnya dia hanya berbincang seputar obrolan kosong saja bersama Visca-di taman. Bahkan tidak ada perbincangan yang menyangkut hal asmara sehingga dia tidak mengetahui gadis yang bersamanya itu sebenarnya memiliki perasaan terhadap sahabatnya (Benhard) Lantas semasih dia berencana hendak pulang, telephone genggamnya berdering di balik saku celananya. Toweng ... toweng ... toweng ... "E kodok! aish ... siapa sih yang nelpon. ngagetin aja!" terkejut lantaran ia lupa pernah sengaja menyetel mode deringnya berbunyi "Toweng, Toweng" Dia raih, lantas diangkatnya. "Ya Hallo, ada apa om?" Jawabnya saat mengetahui yang menghubunginya adalah ayah dari sahabatnya dialah Venanim. "Posisi kamu sekarang dimana, Nak?" Tanya Venanim secara To the poin. Fidelio jauhkan hape sejenak dari telinganya, "Eh, ada apaan ya tumbenan amat om Venanim nelpon nanyain aku?" Lantas dia tempelkan lagi hape itu di telinga. "Saya lagi di luar om, di rumah temen. Ada apa ya Om?" Tanya baliknya bernada santun. "Apa kamu bisa temui saya nanti malam, ada hal yang penting mau Om bicarakan sama kamu" Ucap Venanim tak lupa menyebutkan lokasi dimana mereka hendak berjumpa nantinya. "Em-Baik om, saya akan kesana nanti malam." Pungkas Fidelio tanpa ragu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD