B-1, Episode 9

1474 Words
Malam hari pun tiba, kini Fidelio sudah dihadapan lelaki dewasa sang rekan kerja ayahnya. Semasih baru saja duduk di salahsatu kursi, tepatnya didalam sebuah kedai kopi yang berlokasi didalam suatu pusat perbelanjaan tak seberapa besar sesuai pilihan Venanim, Fidelio menoleh kanan dan kiri lantaran Venanim belum mengemukakan apa tujuan dia berjumpa dengannya. Hingga sekian menit tak ada perbincangan apapun lantaran Venanim sibuk dengan telephone ganggam, akhirnya perbincangan dimulai begitu sang Barista menyuguhkan dua cangkir kopi sesuai pesanan mereka. "Silahkan Tuan ..." "Terima kasih" Venanim kian alihkan telephone genggamnya lantas menatap pemuda-sahabat putra tunggalnya itu sembari menyeruput perlahan secangkir kopi yang masih hangat-hangat kuku. "Apa kamu bertanya-tanya kenapa Om mengajak kamu bertemu disini, Nak?" Tanya Venanim. Fidelio sebatas mengangguk sopan tampak penasaran. "Baiklah, om ingin tanya sesuatu sama kamu, apakah ... kamu sudah memiliki perempuan?" Tanya-nya secara langsung tentunya penuh misteri bagi Fidelio. Tak ayal dia banyak berkutat didalam batinnya. 'Hah, ke-kenapa ... Om Venanim nanyain beginian sih, apa jangan-jangan ...' Bahkan, untuk menjawabnya secara lisan pun dia dipenuhi keraguan. Sementara Venanim kian mengerti itu, lekas ia melanjutkan kalimatnya, "Hm ... Om tau apa yang kamu pikirkan, mungkin pertanyaan pribadi ini tidak sepantasnya saya tanyakan, tetapi saya sudah memikirkannya dari awal, Nak." "Em ... Memangnya ada apa ya om?" Jawab Fidelio meski didalam batin dia berkata lain sesuai kemana pikirannya traveling, "Waduh, jangan bilang kalau Om Venanim sebenarnya sama juga kayak Benhard, lalu ... lalu ... Oh No!! Please Om, yang aku suka itu anaknya Om, please jangan embat aku Ooommm!' Lantas dia segera berucap "Sudah kok Om, saya sudah punya cewek. Sungguh, serius, dua kali rius malah!" mengangkat dua jari berbentuk peace, nada suara sedikit lantang penuh keseriusan lantaran degup jantungnya terpacu kencang kian membuat perhatian publik di sana. Lantas dia pelankan suaranya saat menyadari nada bicaranya kurang sopan dihadapan orang berwibawa sang Owner dari suatu perusahaan dengan aset terbesar ke-4 semacam Venanim ini. Bahkan, Fidelio juga melihat mata Venanim melirik ke arah sekelilingnya saat dia sedang katakan kalimat lantang itu. "Em-Maaf Om, hehe" Sungkan berakhir cengegesan. Venanim menghela napas perlahan melihat betapa konyolnya tingkah sahabat putranya itu, tetapi helaan napas itu pertanda lega dibalik siasat tertentu, "Oh ... syukurlah. Kamu berteman lama dengan Benhard bukan?" lanjutnya bertanya. "Iya Om," Fidelio mengangguk mantab. "Sebenarnya saya malu dengan semua permasalahan ini, apalagi saya katakan di hadapan anak rekan saya. Tapi ... hanya kamu harapan saya satu-satunya, Nak." "Em ... maksudnya apa ya om?" Tanya Fidelio-tak paham. "Ada sesuatu yang berbeda dengan Benhard dan ... Ini sangat memalukan. Dia tidak sama sepertimu, Nak." Jelasnya belum tuntas, tetapi kian dimengerti langsung oleh Fidelio, bahkan didalam Batin Fidelio berkata. 'Om Venanim tau juga kah kalau Benhard anu? kalau benar Om sangat salah menilai aku Om, aku sama saja seperti Benhard, bahkan ...' "Lusa saya akan pergi ke luar Negri Nak, sementara saya akan percayakan Benhard sama kamu, minggu depan kan kalian sudah masuk ujian akhir sekolah. Om minta tolong pantau aktifitas Benhard ya Nak, kabari Om tentang pergaulannya. Apa kamu bisa bantu Om?" 'Buset, jadi satpam dong akuh!' Dengan berat hati meski terdapat penolakan dalam hatinya, Fidelio akhirnya menyetujuinya, "Baik Om, akan saya usahakan." "Terima kasih Nak." Tanpa Ragu meskipun menahan malu, Venanim sengajakan lakukan semua itu. ___ Ya, Venanim merencanakan sedemikian rupa lantaran hanya Fidelio yang dia ketahui sahabat terdekat putranya. Kini, dia mendapat jawaban Fidelio memiliki kekasih perempuan pastilah dikiranya dia pemuda Heteroseksual. Sebenarnya Venanim tak akan banyak mengekang tentang urusan pribadi putra tunggalnya lantaran dia tipikal orang yang Netral merasa diri pernah mengalami masa muda. Namun, dia hanya tak ingin Benhard terjebak dalam asmara terlarang itu hingga berkelanjutan sampai dia tak mau menikah. Alasan utamanya adalah bagaimana nantinya penerus perusahaan yang dia dirikan bila Benhard sampai tidak menikah? pastilah tak akan memiliki anak bukan? Meski sangat dini dia berpikiran semua ini, tetapi inilah yang dinamakan antisipasi. ___ #Next Story Keesokan harinya, masih belum sampai di Ujian Akhir Sekolah, Benhard banyak berdiam diri di sekolah tentunya kian membuat perhatian sang sahabatnya. "Ben, udah jam istirahat nih, ke kantin yuk. Aku haus sangat nih ..." Ajak Fidelio mendekat sembari menepuk pundak Benhard yang kini sedang menenggelamkan kepalanya diantara kedua tangan-di atas meja. "Em ... kamu ke kantin sendiri saja Fid." "Tumben amat kamu lemes gitu Ben, kayak lagi kurang vitamin aja." Basa-basi Fidelio meski dia tau apa yang membuat Benhard tampak tak semangat seperti itu. Tiba-tiba tumbuh siasat tertentu di dalam pikiran Benhard, dia menegakkan posisi tubuhnya, kemudian menghadap Fidelio. "Fid," "Hum, yuk ke kantin" Ajak Fidelio, tapi Benhard berkata lain "boleh pinjam sebentar kau punya hape?" "Em ..." Fidelio ragu, sedikit menduga tentang apa maksud Benhard meminjam hapenya. "Fid, boleh gak?" Ulang Benhard mendapati sang sahabat diam saja. "Oh, oke. Bentar-bentar." Fidelio raih telephone genggamnya dalam saku celana kemudian dia otak-atik sejenak. "Cih, lagi hapus chat kamu ya?" "Kepo"-Fidelio. "Dih, udah punya pacar kah, sampai segitunya nyembunyiin." Sangka Benhard. "Kepo" Cetus Fidelio lagi lantas mendapat timpukan langsung oleh Benhard. Plak! "Awwh, kok kepala ku kamu timpuk sih," Gerutu Fidelio sembari menyodorkan hapenya "Nih," "Abis di tanya baik-baik malah ngatain kepo terus!" Ketus Benhard raih hape itu kemudian melancarkan siasatnya. Tentunya sesuai yang Fidelio pikirkan, yakni hendak menghubungi Zevano. Awal mula sebatas melalui Chat, tetapi belum di balas langsung oleh Zevano lantaran si dia juga sesama sedang di sekolah. Sementara mengapa tadi Fidelio menunda meminjamkan hapenya adalah dia menghapus sejenak chat dengan Venanim. Dia tak ingin Benhard melihat chat itu. ____ Awalnya memang masih Fidelio sembunyikan tanpa diketahui oleh Benhard. Namun, bagai pribahasa sepandai-pandainya menyembunyikan bangkai, bau-nya tetaplah tercium. Benhard mulai merasakan kecurigaan, tepatnya saat sang ayah sudah berada di luar Negri tiba-tiba menelpon melalui telephone rumah, mengingatkan dia tentang peringatan yang telah beliau katakan sebelumnya. Tidak hanya satu kali saja, melainkan nyaris tiga kali Benhard mendapati ayahnya menelpon dengan kalimat yang sama serta mengapa semua itu terjadi selepas dia bertemu dengan Zevano? siapakah gerangan orang yang telah mengintainya selama ini? apakah ada seorang bodyguard pesuruh ayahnya? "Apa maksud chat ini Fid?" tegurnya tepatnya saat sudah memasuki masa ujian akhir sekolah pada jam pulang Benhard meminjam hape Fidelio hendak menelpon Zevano, tapi kebetulan ada Chat Venanim masuk. Kebetulan Fidelio memberikan nama pada Nomor ponsel Venanim atas nama (Papanya Benhard) Maka, tak ragu Benhard langsung buka Chat itu. Beginilah sepenggal kalimatnya, "Nak, gimana dengan Benhard, apakah hari ini dia akan menemui laki-laki itu lagi? jika iya, jangan lupa kamu foto mereka lalu kirim ke Om ya ..."' Mendapati Chat itu mengarah pada suatu menyelidikan tentangnya, maka misteri itu akhirnya terungkap secara langsung olehnya. "Apa maksudnya ini Fid, ini papaku kan. Jadi ... selama ini ..." Fidelio menunduk dan terdiam seribu bahasa sebelum tuntas Benhard berkata-kata. Bahkan tubuhnya bagaikan terdapat getaran jiwa pertanda ketakutan saat Benhard menatapnya penuh murka. "Jawab Fid! apa kamu bahagia melihatku dibenci dan diasingkan oleh keluargaku? apa kamu sebenarnya sangat benci dan jijik melihatku beda begini Fid! sampai kamu tega melakukan ini semua padaku, Fidelio!" Fidelio tegakkan pandang, "Enggak Ben, demi Tuhan aku bersumpah aku gak pernah benci kamu Ben," "Lalu kamu kenapa lakuin semua ini hah, Apa kamu tau di posisiku seperti apa Fid!" Fidelio tak kuasa menatap mata Benhard-menunduk lagi. "Aku udah kayak orang t***l udah tiga kali papaku nelpon mengatakan perkataan yang sama, ternyata ini ya Oh wow ... Hebat! benar-benar sangat hebat kamu Fidelio Clovis!" "Ben ... Plis hentikan sebentar, aku bisa jelasin." "Apa pula yang mau kamu jelasin? tak usah kau tunjukkan tampang memelasmu didepanku, aku tau dalam hatimu sedang ketawa melihatku tersiksa." "Ben, Plis. Dengerin aku dulu." Tetapi bagaikan sang pilot melandaskan pesawat yang tak mungkin di rem, begitulah kalimat demi kalimat Benhard keluar dari lisannya hingga tak ada celah bagi Fidelio hendak menjelaskan. "Aku di intai, di curi-curi fotonya tanpa aku tahu, ternyata yang ngelakuin malah sahabat yang aku percayai sendiri, Aku akui dan ku beri rating lima untuk kamu, Fidelio!" Pungkasnya penuh murka diiringi tepukan tangan kecil, Prok! Prok! Sebelum akhirnya melangkah secara cepat meninggalkannya. "Ben, Benhard tunggu! tolong dengerin penjelasaan aku dulu, Benhard!" ___ Tanpa Benhard ketahui dibalik mengapa Fidelio melakukan demikian adalah karena Posisi Fidelio saat ini sama saja sulitnya. Selepas Benhard melangkah pergi, Fidelio menunduk. Teramat banyak kalimat yang dia katakan dalam hatinya. "Aiissh!" Luapan kesal kian bercampur-campur didalam hatinya, lantaran dia sempat lupa bahwasanya Benhard bersifat demikian (Gampang-gampang susah alias kaku) Tetapi, tak bisa di pungkiri dia ada alasan tertentu kenapa dia terima permintaan Venanim. 'Maafkan aku Ben, aku gak bisa bohongi perasaanku' Yakni, dia cemburu setiap kali melihat Benhard berjumpa Zevano, tak heran dia terima dan melakukan sesuai keinginan Venanim ini. Tapi di lain sisi sebenarnya Fidelio juga tak tega saat mengintai Benhard dan melaporkannya pada Venanim, lantaran dia mengerti bila dia di posisi Benhard pastilah terasa tertekan dengan adanya ini, dan konsekuensinya bila Benhard mengetahuinya sendiri pastilah bakal murka berujung membencinya. Kini, kenyataan itu sudah terjadi. Tetapi Dia tak kuasa berkata sejujurnya mengapa dia lakukan itu dikarenakan Cemburu belaka. Lantas ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD