B-1, Episode 10

1143 Words
Pada hari ke-3 tepatnya semasih ujian akhir sekolah Benhard keluar kelas selepas usai mengeyam materi soal saat di ruang penuh keseriusan itu. Dia melangkah cepat lantaran tak ingin menatap lama sang sahabat maupun berbincang dengan teman-teman lain seperti kebayakan siswa-siswi. Kini, dia duduk menyendiri pada salahsatu tempat duduk-tepatnya berlokasi di taman samping sekolah sebelum memulai kembali materi soal selanjutnya. Merenung segala apa yang membelit perasaannya yang terus terngiang didalam pikirannya. Jauh didalam lubuk hatinya, dia bukanlah benci terhadap sang sahabat tetapi sebatas murka belaka, karenanya kenapa Fidelio tak terus terang saja padanya sejak awal tentang konspirasi itu? toh, Fidelio lebih dulu tau tentang orientasi seksualnya timbang ayahnya bukan? dan bukankah bila sudah saling tau bakal mempermudah segala jalan? Begitulah pikirnya. Lantas, ditengah rasa bimbang itu kedua mata tertuju pada gerombolan siswi-siswi yang sedang saling berbincang tentang topik materi yang usai mereka kerjakan tadi, salahsatu diantara mereka ada Visca Chandra. Kedua mata Benhard tak berpaling menatap paras gadis itu, entah mengapa tiba-tiba tumbuh siasat tertentu didalam pikirannya, menuntun langkahnya berpijak-mencari keberadaan sang sahabat terlebih dahulu. "Fid," Panggilnya begitu dia melihat Fidelio sedang berbincang dengan beberapa rekan lainnya tak jauh dari ruang kelas, tepatnya dimana letak mereka sedang menempuh ujian. Fidelio menoleh masih di rundung rasa bersalah, tapi ekspresi itu lekas sirna kala tiba-tiba tangan Benhard meraih lengannya kemudian menariknya pergi. "Eh, Ben." "Ikut aku sebentar." Benhard terus menariknya bagaikan menarik se'ekor domba. "Ben," Fidelio masih dirundung kebimbangan hingga kini mereka tiba pada letak dimana Benhard berdiam diri tadi. "Ada apa Ben?" Basa-basi Fidelio penuh tanda tanya sekaligus masih merasa amat bersalah padanya tak ayal dia palingkan wajah meski tubuh saling berhadapan dengan sahabatnya. "Kamu bawa hape kan?" To The Poin Benhard kian membuat Fidelio menoleh lantas palingkan lagi. "Iya, aku bawa." Singkatnya meraih benda sesuai permintaan Benhard didalam saku celananya. "Nih," Dia sodorkan hape itu tepat didepan wajah Benhard. "Tidak perlu," Jawaban Benhard kian membuat ekspresi Fidelio berubah kembali. "Nah, maksudnya gimana sih, tadi nanya? sekarang malah bilang gak usah. Udah kamu pakek aja gih," Tawar Fidelio antusias menyerahkannya. Tetapi ekspresi serius kian tumbuh begitu Benhard menatap kedua bola matanya tampak penuh kesungguhan. "Fid, aku paling tidak menyukai ada hal yang di tutup-tutupi dengan sahabat." Ucap Benhard. "Ben, maafkan aku" Fidelio masih terkukuh seputar permasalahan sebelumnya. "Tunggu, aku belum selesai bicara" Penggal Benhard semasih Fidelio menyeka ditengah kalimat yang belum usai dia katakan itu. Fidelio pun terdiam. "Aku mengenalmu dan kamu mengenalku bukan hanya satu atau dua hari saja bukan? ibarat luar dalamku kamu sudah mengetahuinya. Apa kamu tahu apa yang selama ini kurasakan padamu, Fid?" Ucap Benhard kian membuat degup jantung Fidelio terpacu kencang yang telah salah mengartikan. "Ben ..." Ucapnya lirih tampak mata berkaca-kaca. "Ya Fid, bagiku kamu seperti saudara kandungku sendiri meskipun tidak ada darahku yang mengalir dalam nadimu, aku tidak ingin menutupi apapun darimu karena aku sangat mempercayaimu. Aku harap kamu juga merasakan sama sepertiku yang aku rasakan Fid." Penjelasan Benhard kian membuat ekspresi Fidelio laksana dedaunan rindang yang tertiup angin topan, dadaunan itu kian jatuh berhamburan tidak hanya mengarah pada satu tujuan. "Oh ..." Dia menundukkan kepala sejenak, lantas menegakkan lagi kemudian berkata "Aku ... pastikan apa yang kamu rasakan, aku juga merasakannya teman, Lalu ... Apa rencanamu?" Kalimat jawaban itu laksana embun pagi yang teramat sejuk bagi Benhard akan siasat tertentu dibalik kalimat yang dia kemukakan. Maka, lekaslah ia berkata "Aku ada rencana, kemarilah aku akan bicara didekat telingamu" Pinta Benhard. Fidelio jua bagai kerbau di cokok hidungnya. Dia menuruti dan mendekat lantas mendengarkan baik-baik setiap kalimat yang Benhard ucapkan. Maka ... "Hah, apa kamu yakin?" Fidelio menggeryitkan keningnya. "Tentu," Singkat Benhard mantab tak ayal dia kedipkan satu kelopak matanya. "Tap-tapi ..." Fidelio dipenuhi keraguan tetapi tetap dia lakukan sesuai siasat yang Benhard sebutkan. ___ Selepas perbincangan sejenak itu, Benhard beranjak memulai aksinya. Sementara Fidelio jua demikian sesuai siasat yang telah mereka bincangkan sebelumnya. "Sesuai aba-aba ya?" "Sip," Fidelio menyakinkannya. Maka, tak mau menunggu lama sebelum kembali ke materi soal selanjutnya, Benhard beranjak ke suatu arah sampai akhirnya kini tiba tepat di mana segerombolan siswi yang dia bidik, mereka belum terpencar dari tempat semula. "Permisi," Sapa dia penuh sopan kian membuat pusat perhatian para siswi itu. "Benhard ..." Begitulah kalimat para siswi memanggil namanya serentak tampak sangat kemayu, meski diantaranya saling malu-malu lantaran diketahui Benhard sangat di kagumi akan paras dan karisma yang dia miliki sedari dulu. "Em ... Vis, bisa kita ngobrol sebentar?" Sedikit kalimat yang dia kemukakan menumbuhkan celetukan nan ledekan-ledekan para perempuan itu padanya dan pada seorang siswi yang tengah di panggilnya itu. "Cie ... Visca uhuiii, uhuk, uhuk cieeeh kuy," Semula Visca enggan menerima ajakan Benhard, tapi tak kuasa dia menahan ledekan-ledekan dari para teman-temannya akhirnya dia pun segera menurutinya. ___ Lantas berlalu, kini Benhard berhasil membawanya ke suatu arah. Tiba tepat di suatu ruang kosong yang situasinya sunyi dan jauh dari kamera pengawas CCTV. "Ada apa Ben?" Tanya Visca ekspresinya masih tampak muram, lantaran kejadian di ruang pesta ulang tahun temannya beberapa waktu lalu masih terngiang dalam pikiran. "Aku minta maaf sama kamu Vis, atas kejadian ..." Belum tuntas dia berkata, Visca memenggal langsung kalimatnya. "Udahlah Ben, kalau kamu mengajak aku kesini cuma mau ngebahas ini, mending tidak usah." Dia beranjak hendak pergi begitu saja, Benhard raih lengan dia secara cepat, lantas tubuh si Visca dia bekap kemudian melumat kembali bibir dia dengan rakusnya. Emph ... Namun, hanya sekian detik adegan itu berlangsung, Visca raih kekuatan penuh untuk segera melepaskan Benhard yang kini membekap erat tubuhnya. Akhirnya dia terlepas "Apa-apaan kau Benhard!" Pekiknya penuh murka semakin menumbuhkan pikiran yang yang bukan-bukan terhadap lelaki didepannya itu. Benhard bimbang hingga bibir bungkam tiada satupun kata dia ucapkan, sementara didalam pikiran masih terngiang hal yang sama dia pikirkan sejak dulu kala. Yakni, masih tak memiliki sensasi apapun saat dia mengecup lagi bibir seorang perempuan. Semula, Benhard memiliki siasat untuk berpura-pura mencintainya lantaran sadar diri tentang tindakan yang telah dilakukannya, tetapi dia tak mampu memungkiri sebuah perasaan bagaikan terdapat ombak yang kian mengikis relung hatinya. Semua itu terjadi karejanya dia tidak ingin sifat munafik semakin menghitamkan hatinya yang kini mulai menghitam. "Maafkan aku Vis, Ak-aku ..." Hanya kalimat itu yang akhirnya mampu dia ucapkan meski kedua mata tak mampu memandang si perempuan. Terdapat banyak kalimat teramat ingin Visca kemukakan, tetapi tak jadi dilakukanya lantaran tak lama kemudian terdapat beberapa siswa yang melintasi koridor dari sisi ruang itu. Tanpa ada secercah kata sebagai pemungkas ketidakrelaannya diberlakukan layaknya barang lampiasan oleh Benhard. Visca lantas pergi meninggalkannya. ___ Selepas gadis itu pergi, Benhard masih berdiri di tempat yang sama. Dia gelisah nan bimbang lantaran dia masih memiliki rasa kemanusian yang tentunya merasa bersalah pada sang perempuan. Namun, keadaan yang terlampau menghimpitnya hingga dia lakukan dengan terpaksa sesuai perencanaan yang telah di buatnya. "Ben," Lamunan tercabik begitu mendengar sang sahabat memanggilnya tak ayal dia pun menoleh. "Apa yang ..." Belum tuntas Fidelio bertanya, lantas Benhard penggal dengan kalimat "Mana hasilnya tadi?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD