B-1, Episode 2

1201 Words
#Tentang Benhard Bernama lengkap Benhard Yeheskiel Venanim anak tunggal dari sepasang suami istri yang sukses dalam bidang karirnya bernama Venanim dan istrinya Viviana, Pendiri sebuah perusahaan besar nan unggul di Ibu Kota, tiada sangka anak tunggal yang mereka cintai dan banggakan bakal penerus perusahaan tersebut kini terjerat dalam cinta terlarang sesama jenis. Selepas Benhard mengetahui jati dirinya menyukai pria serta selepas dia merasakan nikmat bersetubuh dengan sesama pria identitas itu masih dia pendam seorang diri. Mengingat hal tersebut masih sangat tabu di masyarakat negri ini tentunya dia pendam baik-baik tentang orientasi seksualnya kepada siapapun. __ #Tentang Zevano Teruntuk Zevano bernama lengkap Zevano Barrak Ventura, anak tunggal dari seorang bos Mafia bernama Bonaventura dan sang istri Luciana. Bonaventura seorang Mafioso yang terkenal di kalangan orang-orang dalam bidang itu. Selepas tak sengaja bersetubuh dengan Benhard malam itu, Sesungguhnya Zevano juga sedang depresi tentang orientasi seksu'l yang dia alami, sama persis dengan yang dirasakan oleh Benhard pada malam itu. Suatu hal yang amat kebetulan mereka saling bertemu berujung sesama merasakan nikmatnya hubungan seksu'l sesama jenis sampai akhirnya kini mereka menerima orientasi mereka sebagai seorang gay dan sudah resmi menjalin hubungan kekasih sesama Pria. __ #Next Story Benhard diberikan anugrah indah berupa paras tampan dan bisa dibilang sangat berkarisma, bahkan dia jua diberikan anugrah dalam pikiran menjadikannya memiliki kepandaian diatas rata-rata tentunya selalu meraih prestasi tinggi dalam pendidikannya. Dia bukan seorang pemuda yang suka berteman gerombolan alias tidak menyukai hal-hal yang sedang nge-trend seperti geng ala-ala anak sekolahan, melainkan dia siswa teladan. Bukan pula ketua Osis maupun ketua kelas tapi Nilainya selalu berada di atas, dia bukan pemuda yang suka pamer/menonjolkan ketampanan tapi selalu menjadi sorotan terdepan di mata para perempuan dan kaum adam. Dia hanya memiliki satu orang sahabat pria yang sangat dekat dengannya, seorang anak laki-laki tunggal dari rekan kerja ayahnya bernama Fidelio Clovis biasa di panggil 'Fidel' Semula Benhard teramat ingin memberitahukan pada dia tentang orientasi seksual yang ia alami ini serta ingin menceritakan tentang hubungannya dengan Zevano. Tapi dia ragu lantaran tak ingin apabila setelah Fidelio mengetahui hal itu, dia bakal menghindarinya alias jijik. Pada suatu ketika, di sekolah saat jam istirahat tiba, Fidelio berlari mengejar saat melihat Benhard sedang melangkah di koridor hendak menuju ruang ganti-Main Basket. "Ben, Oi Benhard Tunggu!" Panggilnya tampak tergesa-gesa, begitu sampai dia tepuk pundak Benhard. Plek! "Ya, Ada apa Fid ...?" Benhard menoleh. "Anu ... Aku mau bicara empat mata sama kamu" Pintanya semula ekspresi kelelahan akibat lari, kini tampak sedikit muram. "Ada apa Fid, kenapa kamu terlihat gak seperti biasanya?" Tanya Benhard kala mereka sudah sampai di ruang ganti yang saat itu kebetulan sunyi. "Aku capek Ben!" Memayunkan bibirnya. "Capek, Capek yang gimana maksudmu Fid, apa kamu ikutan basket perasaan aku gak pernah lihat kamu mau main basket?" tanya Benhard sembari memakai kaos-nya. "Hilih, bukan itu Ben, Aku capek kalau kamu terus-menerus menyuruhku untuk mencari alasan pada cewek-cewek yang mengejar-ngejarmu. Tiap detik, tiap menit, mereka selalu chat aku menanyakan tentangmu. Kamu cobalah layani mereka sendiri beri kepastian kek, tolak kek atau apa kek." Keluh Fidelio. "Oh ... aku kira apaan hehe, Maafkan aku Fid, aku tak bermaksud merepotkanmu." Jawab Benhard. "Hilih, Kamu bilang gak bermaksud, tapi kenyataannya selalu begini Ben, sebenarnya ada apa sih sama kamu? Lihatlah Chat ini, apa kamu tahu ... bahkan cewek cantik terpopuler yang selalu jadi dambaan cowok sejagat raya ini aja nanyain kamu terus loh!" Jelasnya menyodorkan hapenya didepan Benhard. Benhard tersenyum melihat ekspresi temannya itu, lekas raih hape itu, kemudian melihat ke layar hape dia. "Hm ... Apa kamu juga menyukai cewek itu, Fid?" Tanya-nya seraya menaik turunkan kedua alisnya. "Cih, Tak ada satu cowokpun yang gak bakal terpesona melihat cewek itu Ben, cuma kamu-lah cowok satu-satunya yang gak tertarik sama cewek itu, aneh." Fidel melipat kedua tangannya. Benhard lagi-lagi tersenyum melihat ekspresi temannya itu, "Baiklah-baiklah, tadi yang aku tanyakan adalah apa kamu juga menyukainya?" Tanya Benhard lagi sembari mendekatkan wajahnya. "Idih, Aku gak menyukainya Ben, hanya sekedar kagum aja, Cowok mana sih yang gak kagum dengan cewek itu? kecuali sahabatku yang aneh sedunia ini?" Fidelio mengejeknya sedikit mendorong bahu Benhard agar menjauh dari wajahnya. "Apa pula sih kamu dekat-dekat. Bau tau keringat kamu!" Cetusnya. "Keringat dari mana? Main basket aja belom" Benhard melirik. "Oh iya juga ya, hehehe" Fidelio cengegesan sambil garuk-garuk kepala meski tak gatal. "Ben" Panggil Fidelio lagi. "Hum, apa?" Benhard fokus terhadap pakaiannya itu. "Pokoknya kamu harus layani semua chat cewek-cewek ini ya, aku gak mau tau, pokoknya harus, Titik!" Ucap Fidelio secara khasnya yang cerewet. "Iya, iya ... Oke, nanti aku layani. Dih, itu bibir kamu kenapa di monyong-monyongin?" Ledek Benhard mengulur tangannya kemudian mencubit kedua pipi sang sahabatnya itu. "Aaww sakit sue, Apa'an sih cubit-cubit!" "Hahaha, marah ni ye ..." "Aux ah" Pungkas Fidelio membuat Benhard semakin tertawa melihat tingkahnya yang gemesin itu. ___ Selepas perbincangan Itu, Benhard mengambil tindakan untuk melayani chat dari banyak-nya cewek yang mengejarnya, Benhard selalu berkata "Maaf, aku sudah punya pacar" untuk menolak para wanita-wanita itu secara lembut. Tapi tetap saja, seorang wanita yang lebih mengunggulkan hati daripada logika pastilah sakit hati perasaannya di tolak mentah-mentah oleh seorang pria. Sehingga rumor yang sebelumnya sudah berkembang semakin menjadi-jadi yang selalu menyebutnya sebagai "Cowok tak berperasaan dan berhati iblis." Meski demikian tak membuat Benhard terbebani akan hal itu, cenderung bebas lantaran sesungguhnya dia sangat risih setiap kali ada cewek yang menyatakan perasaanya ke dia, penyebab utama karena dia sendiri tidak bisa memiliki rasa ketertarikan seperti mereka. Sampai pada suatu ketika, akhirnya Fidelio sebagai sahabat terdekat berani menegurnya. "Hei Ben, Kamu selalu bilang sudah punya pacar, perasaan selama ini aku tidak pernah tau dan melihat siapa pacarmu. Kata-kata itu hanya sekedar buat alasan kamu menolak cewek, atau memang kamu tidak ingin aku mengetahui siapa pacarmu ben?" Tanya-nya. "Aku tak ingin kamu bersikap berubah padaku saat kamu mengetahui siapa pacarku, Fid." Jawab Benhard tampak sungguh-sungguh. "Berubah emangnya superman? eh Ben, kita sudah berteman berapa lama sampek kamu gak mempercayaiku seperti ini sih?" Keluh Fidelio tampak sedih. "Baiklah, sebenarnya aku sudah cukup lama menjalani hubungan dengan kekasihku, dan sudah cukup lama juga aku ingin menceritakan ini padamu, Fid" Lanjut Benhard sembari menata alat tulis kedalam tas penampung buku-bukunya. "Terus ... ? Kenapa kamu masih belum menceritakannya padaku sampai sekarang?" Tanya Fidelio sangat penasaran nan antusias. "Aku sedang menunggu waktu yang tepat. Dan aku rasa ... saat ini sudah tiba waktu yang tepat." "Mau main tebak-tebakan apa gimana sih Ben!" Fidelio bereskpresi muram saat Benhard menghentikan kalimatnya cenderung menatap kedua bola matanya. "Kalau kamu benar-benar ingin mengetahui siapa kekasihku, malam ini kita bertemu di kafe tempat biasa aku bertemu dengannya. Apa kamu siap dan mau?" Tawar Benhard. Fidelio tiba-tiba menunduk, entah mengapa serasa hatinya bagai tersayat-sayat seribu badik kala mendengar sang sahabat sudah memiliki kekasih. Tapi akhirnya dia tutupi rasa sakit hati itu dengan senyuman palsu lekas menjawabnya. "Baiklah, aku akan usahakan datang kesana nanti malam, kamu Share Lok aja nanti" Beranjak berdiri dan keluar kelas mendahului Benhard. Benhard tak henti melihatnya, sedikit heran dan bertanya-tanya, kenapa sang sahabat tampak kesal setelah dia mengatakan tentang urusan pribadinya ini? "Em ... Salahku juga sih gak nyeritain ke dia dari awal. Tapi ... ah, sudahlah." Benhard tak henti berkutat lantaran dia paham sifat dan sikap sang sahabatnya itu, lantas berlalu dia pun beranjak keluar kelas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD