B-1, Episode 3

1447 Words
Malam hari pun tiba, Fidelio sudah berada didalam sebuah kafe yang dimaksud bersama Benhard, tetapi 'Kekasih' yang Benhard sebutkan sebelumnya belum hadir disana. Sudah berulang kali Fidelio menoleh ke pintu keluar maupun melihat jam tangannya sendiri, lantaran rasa penasaran amat tinggi dia rasakan. "Ben, kenapa pacar kamu belum datang juga sampai sekarang? kita sudah lebih dari 30 menit menunggu disini loh" Tanya-nya, namun Benhard tak mendengarnya lantaran sedang fokus terhadap telephone genggamnya. "Ben, apa kamu mendengarku?" ulangnya. "Oh, ya … Maaf, aku mendengarmu Fid, Kira-kira sepuluh menit lagi dia sampai disini. Sedang terjebak macet" singkat Benhard lantas fokus ke hapenya lagi. "Oh …" Fidelio sebatas mengangguk-anggukkan kepala saja. Sementara Benhard terlampau fokus terhadap hapenya membuat Fidelio sedikit mengerutkan kening kala memperhatikan sang sahabat diseberang tempat duduknya secara terus-menerus senyum sembari sesekali menggigit bibir bawah maupun gigit jari. Bagai terdapat jarum jam yang bergerak di kepala Fidelio saat ini. Tik, Tak, Tik, Tuk, "Ben," Panggil Fidelio satu kali. Banhard tak mendengarnya. "Ben, Astaga ... oi Bendhard Venanim!" Panggilnya lagi sedikit mengetuk meja. Tok, Tok, Tok, "Eh, ada apa Fid?" Kejut Benhard mendapati sang sahabat menyebut nama lengkapnya. Fidelio menghela napas perlahan. "Huff ..." sembari memutar bola matanya "Enggak," Sementara didalam hatinya berkata, "Secantik apa sih sebenarnya pacarmu Ben, sampek segitunya amat kamu jadi nyuekin aku. Hufff ... Ini nih kalau udah ada cewek diantara kita, aku jadi kayak tunggak kayu, Huh!" Menunduk dan terus-menerus mencoba meredamkan kekesalan lantaran baginya Benhard yang dia kenali selama ini seperti berubah sejak dia memiliki kekasih. Semula belah bibir hendak terbuka untuk bertanya-tanya, namun tak jadi dilakukan lantaran coba mengerti sang sahabat kini sedang kasmaran. ___ Detik demi detik, menit demi menit telah berlalu, lantas akhirnya Zevano berpenampilan rapi dan sangat tampan khas pria maskulin sudah tiba di sana lekas berpijak menuju meja yang diduduki oleh Benhard dengan Fidelio. "Hei," Sapa dia. "Eh, Hei" sapa balik Benhard tampak gembira. Zevano lekas mengulur tangan-berjabat dengan Benhard lantas disusul dengan Fidelio kemudian duduk di salahsatu kursi itu. "Sorry aku terlambat" Ucap Zevano. Fidelio mengira seorang lelaki itu adalah teman Benhard yang tak sengaja berjumpa disana. 'Waw, keren juga nih cowok' Gumam Fidelio melihat keseluruhan fisik pria yang duduk tak jauh darinya itu, terkagum melihat betapa tampannya paras seorang lelaki itu nyaris setara ketampanan Benhard bahkan jauh lebih tampak gagah dari Benhard, lantaran Body Zevano memang lebih padat berisi daripada Benhard yang terbilang masih umum. Awal mula perbincangan sederhana seputar perjalanan dan lain-lain berlangsung selama kurang dari 15 menit, lantas Fidelio menatap Benhard dengan seksama lantaran ekspresi dia berjumpa dengan lelaki itu benar-benar tampak ceria. "Sebenarnya ini cowok siapa sih, kenapa dia gak pergi-pergi dari sini?" Fidelio terheran lantaran mendapati pria itu tidak kunjung pergi dari sana, sementara kursi yang pria itu duduki seharusnya ditempati oleh kekasih Benhard yang sampai saat belum datang itu. "Em ... Ben, anu ..." Panggilnya penuh ekspresi tanda tanya tak ayal sembari menoleh antara Benhard dan Zevano. Banhard kian menyadari apa yang dipikirkan oleh sahabatnya itu, maka segera ia mengemukakan suatu kalimat, "Fid, aku tau apa yang akan kamu tanyakan, dan … akan segera ku jawab" Membubuhkan senyuman khas sembari menoleh ke arah Zevano. Fidelio, " ...." "Fid, dengarlah dialah pacar yang aku maksud" "Ma-maksudnya?" Fidelio gagal paham. Benhard senyum, "inilah pacar yang selama ini ingin aku ceritakan padamu Fid, nama dia Zevano." Jelas Benhard penuh keseriusan dan sudah meredamkan rasa bimbang mengungkapkan semua ini pada sang sahabat. "Hah … ?" Fidelio sontak terkejut. "Aku tau apa yang kamu pikirkan Fid, Tapi … aku benar-benar tak bisa membohongi perasaanku sendiri, beginilah sahabatmu yang sebenarnya Fid. Am__" Belum bungkam belah bibir Benhard mengemukakan penjelasan, lekas dipenggal langsung oleh Fidelio. "Bukan begitu maksudku, Ben" Fidelio coba mengerti perasaan sang sahabat saat dia menjelaskan ini walau Fidelio benar-benar tak habis kira sebelumnya. Semula Fidelio teramat kagum terhadap paras tampan Zevano, kini berubah 90 derajat. Sementara Zevano senyum sembari melambaikan tangannya ke dia sebagai tanda sapa, "Hei" Fidelio sebatas menanggapinya dengan senyum getir, cenderung melirik sengit padanya lantas berbincangan berlanjut dan berlangsung selama kurang dari 15 menit. Lantas ... Semasih Benhard dan Zevano sedang fokus berbincang berdua, Fidelio berkata di sela-sela perbincangan mereka. "Em ... oh ya Ben, Maaf aku di Chat sama papa nih, memintaku pulang sekarang, jadi … sebaiknya aku balik duluan ya," "Apa kamu membenciku, Fid … ?" To The poin Benhard lantaran paham ekspresi sang sahabatnya ini. "Jangan berpikir yang tidak-tidak Ben, santai saja. Aku jalan dulu ya ... Udah di tungguin sama papaku nih," Pamitnya tampak tergesa-gesa, tak lupa pamit jua pada lelaki yang disebut-sebut sebagai 'Kekasih' Benhard itu. Zevano hanya sebatas menyeringai dan berpolah seakan tak tahu apapun alias masa bodo' "Hati-hati di jalan ya" Basa-basi Zevano, lantas hanya sebatas dibalas angguk saja oleh Fidelio. __ #Next Story #Fidelio Begitu Fidelio sampai didalam kamar rumahnya, dia menghantam keras tembok dengan tangannya. Brak! Brak! Sampai tak terasa tangannya berdarah-darah. "Kenapa, Kenapa Kamu Seperti ini Ben, Kenapa!" Teramat depresi tak ayal dia mencengkram kuat rambutnya dengan kedua tangannya. "Dan kenapa … ! Kenapa aku seperti ini!" Menangis sesegukan Seorang diri melihat Sahabatnya seperti itu, tapi penyebab utamanya bukanlah karena dia mengetahui Benhard menyukai sesama jenis. Melainkan dia Sakit hati karena dari dulu dia tak pernah bisa mengungkapkan perasaannya pada Benhard lantaran takut bila Banhard akan membencinya bila mengetahui dia Gay. Ya, Fidelio ini sebenarnya sama saja seperti Benhard (Gay) bahkan sudah sejak lama Fidelio menyukai Benhard. Namun, dia tutupi baik-baik perasaannya karena tak ingin persahabatan mereka renggang apalagi Fidelio juga tak tahu Benhard sesama Gay seperti dia atau tidak. Selama ini, Setiap hari Fidelio harus berperang batin kala banyak sekali Perempuan yang menanyakan Benhard melalui dirinya, sesungguhnya dia muak, dia cemburu dan sangat benci saat banyak perempuan yang menginginkan Benhard. Karena dia sendiri menyukai Benhard tapi tak mampu mengungkapkannya seperti para perempuan-perempuan itu. Didalam hatinya sering bergumam, "Wahai wanita, sangat beruntung tercipta menjadi kalian, dengan mudah kalian bisa mengatakan kamu menyukai, kagum pada Benhard, sedangkan aku tidak memiliki keberanian untuk itu. Aarggh! Kenapa seperti ini!" Iri, benci dan dengki yang Fidelio rasakan tetap dia tahan dan pendam. Dia tetap saja menyampaikan segala macam pesan para wanita itu secara jujur pada Benhard demi kebaikan hubungan persahabatan yang sudah berlangsung sejak lama itu. Sebenarnya Saat dia melihat Benhard tidak menganggapi para perempuan yang menanyakan tentangnya sedikit membuat hatinya lega. Dan juga saat Benhard sudah mulai memberikan jawaban pada perempuan-perempuan tersebut (Menolak cintanya) membuat hatinya teramat senang. Namun, ditengah rasa bahagianya mengetahui Benhard menolak cinta para perempuan-perempuan itu, dia harus mengalami sakit dan pedih dihatinya kala mendengar Benhard sudah memiliki kekasih. Apalagi setelah mengetahui kekasihnya adalah sesama Pria, Fidelio benar-benar merasa jadi orang yang gagal bisa memenangkan hatinya. Tidak pernah dia duga ternyata Benhard ber-orientasi seksual sama seperti dirinya (Gay!) dia kurang memahami dengan baik tentang Gay, maka tak heran dia tidak memiliki insting kuat dalam menilai hal itu. ___ #Benhard. Pada waktu yang sama saat Fidelio sedang menangis meratapi nasib didalam ruang kamarnya, dari sisi Benhard dan Zevano sendiri sudah hengkang dari kafe itu, kini mereka berdua sedang asik dimabuk cinta didalam kamar yang sudah mereka rencanakan sebelumnya. Melakukan kegiatan terlarang yang kini sudah sering mereka lakukan, apalagi sesama penyandang label Versatile, pastilah sesama mendapatkan kepuasan yang seimbang serta tak mampu mengendalikan diri hingga berlangsung dalam kurun waktu semalam meski terdapat jeda untuk bercanda ria. ____ Pagi harinya, Benhard dan Zevano keluar dari ruang kamar hotel, hendak berpisah masing-masing lantas saling berbincang sejenak. "Van, sebaiknya kita fokus belajar dulu ya sayang, karena ... aku takut aku bisa kehilangan fokus belajar bila ketemu denganmu, karena … jika bertemu denganmu, aku--" Terbata, lantaran malu hendak mengungkapkannya secara frontal. "Begitupun aku Ben, aku kehilangan, bahkan sebenarnya … " Balas Zevano belum tuntas dia berkata, jemari tangan Benhard mengulur ke arah bibirnya. "Sstt ... jangan di teruskan. Aku tau apa yang akan kamu katakan" Zevano masih saja hendak berkata tapi lagi-lagi Benhard menekan jemarinya di bibir dia. "Hei no, no, no, mau ngomong apa kamu hah?" Ucapnya. "Hehehe" Tawa Zevano sedikit malu. Tapi, Benhard malah yang memancingnya lagi, "Sebenarnya Aku sih ... sama aja Sayang," "Nah, kita memang sehati Ben, Gimana kalau kita bolos dan kita main lagi?" Ajaknya penuh canda. "Cih, apa punya kamu gak sakit?" Balas Benhard penuh canda juga. Zevano mendekat lekas berbisik di telinganya, "Sakit sih, Tapi sangat membuatku ketagihan." Ucapnya mengingat mereka melakukan pertempuran dahsyat semalam. Benhard segera menyingkirkannya, "Huss ... udah-udah jangan di teruskan, sebaiknya kita pulang dulu hari sudah semakin siang nih takutnya kita terlambat, Sampai berjumpa beberapa hari kedepan ya sayang …" Benhard sengaja mengalihkan perbincangan. Membuat Zevano tak henti seyum. "Baiklah Ben, semangat belajar untukmu Cintaku" Ucapnya, tangan menyempil lembut pada batang hidung kekasihnya. "iuuu" Benhard memejam sejenak, "Yup, kamu juga ya." Memungkasi perbincangan singkat itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD