"Aku rela kau menyakitiku. Kau tahu? Itu ku lakukan demi bisa berdiri, bertatap dan bicara denganmu. Walau yang ku dapatkan hanyalah sebuah luka." - Litzi Euniciano ***** Baginya, dunianya sudah lenyap. Ia merasa sendirian sekalipun berada di tengah keramaian. Suara tawa, pembicaraan sampai musik keras yang berdentam-dentam dan memecah itu seakan-akan tidak ada. Ia merasa seolah-olah ada di suatu tempat yang gelap, sangat gelap. Litzi duduk dengan bayang-bayang masalah yang berkecamuk. Matanya sembab dan memerah, pandangannya kosong. Di tangannya terdapat gelas berisi setengah champagne. Untuk pertama kalinya ia meneguk minuman keras itu. Keterpurukannya telah membuatnya kehilangan kesadaran. Sejak sore gadis itu ada di klub malam tersebut, ia berada di ruang VVIP untuk merenung d

