Resmi Menjanda
Di luar gedung Pengadilan Agama, langit menggantungkan mendungnya rendah—seolah tahu ada sesuatu di dadaku yang tidak tumpah sebagai hujan. Aku berdiri cukup lama di tangga depan, menarik napas dalam-dalam, memastikan wajahku tidak menunjukkan apa pun. Aku tidak ingin menangis. Aku juga tidak ingin bersedih hanya karena pernikahanku dengan Aksa berakhir. Setidaknya, bukan hari ini.
Di tanganku, selembar akta cerai terasa lebih berat dari yang seharusnya. Kertas itu dulu berawal dari janji—ditandatangani dengan senyum, dengan harapan, dengan keyakinan bahwa kami tahu apa yang kami lakukan. Kini, kertas yang sama menjadi penanda akhir, ditandatangani dengan emosi yang tidak pernah kami bicarakan secara jujur.
Tiga tahun pernikahan kami selesai dalam waktu kurang dari dua jam sidang.
Tidak ada perselingkuhan.
Tidak ada pertengkaran soal uang.
Tidak ada teriakan, apalagi kekerasan.
Kami bercerai karena satu hal yang terlalu menyakitkan untuk diperdebatkan, tapi terlalu besar untuk dikompromikan. Aku menderita sindrom vaginismus. Kondisi medis yang membuatku takut dan kesakitan luar biasa saat berhubungan intim, sehingga rahimku tak pernah bisa menerima benih anak. Keluarga Aksa menginginkan keturunan. Secepatnya. Tanpa jeda. Tanpa alasan. Seolah tubuhku adalah mesin yang rusak dan bisa dibuang begitu saja.
Aku sudah mencoba segalanya. Konseling, terapi fisik, obat relaksan otot—semuanya sia-sia selama tiga tahun. Dokter bilang butuh waktu bertahun-tahun, mungkin selamanya, tapi Aksa tak sanggup menunggu. Aku meminta dua tahun lagi untuk terapi intensif. Tidak lebih. Tidak selamanya. Namun ia tak mampu menjelaskan kondisiku pada orang tuanya. Atau mungkin, jauh di lubuk hatinya, ia juga ingin segera memiliki seorang putra. Seseorang yang bisa ia banggakan. Seseorang yang bisa menjawab tuntutan itu tanpa harus berdebat dengan tubuhku yang "bermasalah".
Aku memilih bertahan pada kenyataan medisku.
Dan ia memilih menyerah pada keadaan.
Maka pernikahan kami berakhir bukan karena kami saling membenci—melainkan karena tak ada yang benar-benar mau menghadapi kenyataan bahwa aku tak bisa memberinya anak.
Setidaknya itu yang aku yakini sebelum akhirnya aku mengetahui sesuatu yang mengguncang batinku.
Aku baru mengetahui kabar itu setelah tiga minggu bercerai. Seorang rekan kerjaku sedang menggosip di pantry kantor. Aku mendengar namaku dan mantan suamiku Aksa disebut-sebut. Aksa memang masih satu perusahaan denganku, tapi beda divisi, beda lantai kantor.
“Aksa kabarnya sudah menikah lagi. Dengar-dengar istri barunya sudah hamil tujuh bulan.”
Tanpa sadar aku terlalu banyak menuang air panas ke dalam cangkir kopiku. Saat itu aku memang sedang membuat kopi. Aku mencoba mencerna percakapan mereka sambil meniup jariku yang melepuh karena air panas.
Aksa menikah lagi.
Istri barunya hamil 7 bulan.
Kata-kata itu terus berputar di kepalaku. Seolah masih belum percaya dengan kabar itu. Benarkah Aksa sudah menikah dan sebentar lagi akan memiliki anak? Kalau memang benar, itu artinya Aksa sudah merencanakan ini sejak lama—selama aku masih berjuang dengan terapi vaginismusku, dia sudah mencari "pengganti" yang subur.
Aku memilih tidak jadi membuat kopi. Cangkir kopi yang penuh dengan air panas itu kutinggalkan begitu saja. Ada hal yang penting yang harus aku konfirmasi saat ini juga. Benarkah kalau mantan suamiku itu sudah menikah dan istrinya sudah hamil.
Aku kembali ke meja kerjaku dan meraih ponsel. Mencari nomor kontak Aksa untuk menghubunginya. Namun seketika aku tersadar, untuk apa aku menghubunginya. Status kami sudah bercerai. Dia menikah lagi pun sudah tidak menjadi urusanku. Tetapi, kalau aku menghubunginya dan mempertanyakan itu justru malah membuatku akan menjadi bahan cibiran dan cemoohan keluarganya.
Tidak. Aku tidak akan menghubunginya.
Aku berdebat dengan hati. Haruskah aku mencari tahu atau tetap pura-pura tidak tahu agar batinku aman. Tetapi tetap saja jiwa penasaranku terus mempertanyakan kebenaran kabar itu. Jika itu benar, maka selama ini aku telah dibutakan oleh rasa percayaku padanya—percaya bahwa dia akan setia menunggu terapiku selesai.
Percakapan di pantry itu pada akhirnya cukup membuatku penasaran berhari-hari. Hingga suatu hari, dengan mataku sendiri aku melihat pemandangan itu di sebuah supermarket.
Aku melihat Aksa sedang menggandeng seorang wanita hamil. Sepertinya mereka sedang belanja bulanan.
Aku membeku di lorong sereal, troli belanjaanku terlupakan di tengah. Pemandangan yang sungguh epik. Aksa, mantan suamiku, tengah tersenyum sambil menyentuh perut besar wanita itu. Seolah dia sedang menyapa makhluk kecil di dalamnya. Anak yang dia impikan—yang tak pernah bisa kuberi karena vaginismusku.
Jantungku berdegup kencang, seperti ada sebuah palu besar yang menghantam dadaku berulang kali. Aku ingin berteriak histeris. Tubuhku yang "rusak" ini tak pernah cukup baginya.
Aku mundur selangkah, tetapi punggungku menabrak rak permen. Sebuah bungkus jatuh berguling menyebabkan suara keras. Aksa menoleh, matanya bertemu dengan mataku. Waktu seolah berhenti. Senyumnya memudar, diganti dengan ekspresi campur aduk. Rasa bersalah, kaget, atau mungkin juga kelegaan karena akhirnya ketahuan olehku.
“Rena?” panggilnya pelan, suaranya serak seperti orang asing.
Wanita di sampingnya juga menoleh. Tangannya secara naluriah melindungi perutnya. “Siapa?” tanyanya polos, mata polosnya menatapku tanpa tahu badai apa yang dia picu.
“Rekan kerjaku di kantor. Sepertinya keperluan kita sudah lengkap. Ayo kita ke kasir!” ajaknya tanpa memedulikanku yang masih shock.
Aku berdiri dengan mulut ternganga seperti ikan mati di darat. “Rekan kerja?” ulangku dalam hati. Sungguh tega dia menyebutku sebagai rekan kerja, bukan mantan istri yang baru ia ceraikan sebulan lalu karena tak bisa memberinya anak.
Aksa menarik troli mereka, tangannya kembali menyentuh pinggang istrinya dengan mesra. Seolah pernikahan tiga tahun kemarin itu hanya lelucon baginya—lelucon di mana aku gagal karena tubuhku. Mereka berjalan melewatiku tanpa sepatah kata lagi.
Aku ingin mengejar troli mereka dan membanting isinya ke lantai. Tapi kakiku seperti lumpuh. Hanya air mata yang sudah tidak terbendung. Tapi aku mencoba menahannya. Tidak di sini. Tidak di depan orang asing yang akan bisik-bisik mengataiku "wanita aneh".
Aku tinggalkan troliku begitu saja. Lari keluar supermarket dengan tubuh gemetar. Hujan deras menyambut. Membasahi bajuku yang sudah basah kuyup oleh keringat dingin.
Di trotoar jalanan licin karena hujan, kakiku tergelincir. Aku ambruk. Lutut membentur aspal keras, air mata bercampur hujan deras. d**a sesak, aku merasa seluruh dunia runtuh di bahuku—rahasia medisku yang memalukan, pengkhianatan Aksa, mimpi anak yang tak pernah jadi milikku.
Tanpa sadar, aku bangkit lagi, berjalan sempoyongan menyusuri pinggir jalan, tak peduli mobil-mobil melaju kencang di tengah guyuran hujan. Pikiranku kosong, hanya ada bayangan Aksa dengan perut istrinya yang berputar-putar. Tiba-tiba sorot lampu menyilaukan. Suara klakson memekakkan telinga. Sebuah mobil hitam melaju terlalu dekat—ban berdecit karena pijakan rem. Tapi terlambat.
Tubuhku terserempet sisi mobil itu. Rasa sakit menusuk kaki kiriku. Dunia gelap seketika. Aku terhempas ke genangan air hujan. Sebelum aku hilang kesadaran, aku melihat sosok pria muda berseragam sekolah keluar dari mobil yang menabrakku.
“Mbak! Mbak! Ya ampun!” teriak pria muda itu.
Aku tak sadarkan diri karena shock dengan apa yang terjadi.