First Kiss

1311 Words
Kehadiran Raka seolah menjadi penawar hidupku yang kacau dan terluka. Meskipun aku tidak tahu motif apa yang menyebabkan Raka menjadi dekat dengan keluargaku. Raka jadi sering datang sore hari, bantu ibuku angkat belanjaan dari pasar atau ajak aku jalan pelan di halaman sambil cerita tentang kehidupannya di sekolah. Ibuku makin menjadi-jadi. Hampir setiap hari dia ngejodohin aku dengannya. “Raka, udah kayak menantu Mama aja. Coba aja kamu udah dewasa sudah Mama nikahkan dengan Rena.” Ini sudah ke puluhan kalinya ibuku mengatakan ini setiap Raka datang ke rumah. “Mama, jangan mulai lagi deh! Aku lebih cocok jadi kakak perempuannya daripada pacarnya. Usia kita jauh! Lagipula aku janda Ma. sekali lagi aku JANDA!” Aku sengaja mempertegas kata terakhirku. “Kamu janda juga kan janda perawan Ren! Gak akan rugi Raka kalau nikahin kamu.” Raka tersedak es tehnya. Mata cokelatnya melebar penuh kejutan saat kata “janda perawan” keluar dari mulut ibuku. Tangannya gemetar sedikit meletakkan gelas di meja teras. “A-apa Mbak Ren!” Raka mendengarnya menjadi shock. “Mama!” teriakku malu. “Mbak Ren, masa sih! Katanya tiga tahun menikah kok masih perawan?” tanya Raka dengan heran. “Nah kan Raka! Janda perawan gini untung buat kamu, Rena sudah mapan punya pekerjaan tetap dengan gaji lumayan. Kalau kamu nikah sama Rena, kamu tidak perlu khawatir urusan nafkah. Cukup nafkah batin saja!” “Mama! Stop Ma! Raka baru 19 tahun. Raka nggak usah peduliin ucapan Mama ya!” ucapku panik. Raka menggeleng pelan, tatapan lembut tanpa jijik sedikit pun. “Usiaku memang 19 tahun, tapi aku sudah dewasa Mbak. Paham lah urusan orang dewasa. Zaman sekarang bukan hal yang tabu lagi urusan begituan,” jawabnya santai. Ibuku tak mau kalah, mata jailnya kedip ke Raka sambil nyengir lebar di teras yang masih hangat aroma teh manis. “Raka, sekarang Mama tanya serius nih. Menurut kamu, Rena gimana? Cocok nggak jadi calon istri?” Raka menggaruk leher kekarnya pelan, wajahnya merona tapi dia langsung menjawab dengan tegas tanpa ragu. “Cocok banget Ma.” Ibuku berteriak girang. “Lihat kan Ren! Raka approve! Usianya 19 tapi pikirannya 30 tahun.” Aku protes panik, “Mama over! Raka cuma sopan aja.” “Benaran Mbak aku serius, jujur kalau aku udah mapan sih pengen banget melamar Mbak jadi istriku,” jawabnya tanpa ada wajah bercanda. “Nah kan Ren! Raka serius!” Aku terpaku shock, pipi panas membara campur degup jantung yang kencang. Anak SMA yang menabrakku kini bilang mau melamar setelah rahasia janda perawan terbongkar. Aku buru-buru geleng panik. “Raka, jangan dibawa serius ya. Mamaku ini aneh.” “Aku juga serius Mbak.” “Ma, jangan bikin canggung dong. Raka juga kan punya orangtua dan keluarga. Mana mungkin lah menerima aku jadi menantu. Sudahi cukup main dan bercanda menantu dan mertuanya!” usikku sedikit marah pada ibuku. “Aku sudah tidak punya orangtua Mbak. Keluarga besar Papaku juga tidak akan peduli aku mau menikah dengan siapa. Aku ini anak yang diabaikan, masih hidup aja udah syukur.” Jawaban Raka sungguh tidak terduga. Nadanya tenang, tapi masih ada kesedihan menggantung. Ibuku terdiam shock, tangannya menutup mulut. Sementara aku terpaku. Motif dekatnya ternyata kesepian, bukan tipu daya, rupanya rumah sederhana kami jadi pelabuhan pertamanya. Ibuku buru-buru peluk bahu Raka dengan lembut. “Mulai sekarang, kita ini keluarga.” Raka tersenyum tipis haru. “Terimakasih Ma.” Suasana canggung berubah hangat, rahasia vaginismus-ku terlupakan sementara. Diganti dengan empati mendalam. Dia bukan hanya penyelamat, tetapi seorang yang butuh keluarga. Ibuku kabur ke dapur pura-pura ambil camilan dan meninggalkan kami berdua. “Ayo kita jalan pelan Mbak keliling halaman, biar kakimu enak,” ajak Raka mengulurkan tangan. Aku sedikit ragu menyambut tangannya yang kekar. Entah kenapa aku merasa deg-degan. Untuk kedua kalinya aku merasakan desiran aneh bersama seorang pria. Tapi kali ini rasanya jauh lebih mendebarkan dan menyenangkan. “Mbak kok diem?” tanya Raka membuyarkan lamunanku. Aku menghela napas sebelum akhirnya aku menyambut tangannya. Kami pun berjalan di atas paving blok halaman yang sudah dingin karena udara malam. Lampu teras memantulkan bayangan kami. Terasa aneh – tapi itu rasanya romantis dan mans. Angin berhembus membawa aroma tanah basah dan melati liar. Tangan kekar Raka menggenggam tanganku ringan tapi pasti. Langkahnya menyesuaikan kecepatan kakiku yang masih dalam pemulihan. “Mbak diem mulu dari tadi. Mikirin apa?” tanyanya pelan. Mata teduhnya menatap dari samping penuh perhatian. “Jangan dipikirin omongan Mamaku tadi. Kamu masih bocil. Tapi Mama ku emang gila jodohin anaknya dengan anak yang baru lulus SMA.” Raka menarik pelan tangannya menghentikan langkahku. Seolah ada yang harus ia luruskan. “Kata siapa aku masih bocil? Mbak tidak ngerasa ya kalau yang di depan Mbak itu adalah laki-laki dewasa. Dua minggu lagi aku sudah mau dua puluh tahun. Kurang dewasa bagaimana lagi?” tanyanya dengan pelan. Tatapannya berubah. Aku semakin meleyot melihat tatapannya. Dia memang benar, dia bukan bocah SMA. Dia pria dewasa. “Ya, aku percaya kamu udah dewasa. Tapi tetap saja mana mungkin kamu suka sama perempuan yang lebih tua, apalagi aku janda —” Raka memotong ucapanku sambil menutup bibirku dengan jari telunjuknya dengan hangat. Tatapan mata cokelatnya dalam dan tegas menghentikan protesku di bawah bayangan pagar halaman yang redup. “Jangan bilang gitu lagi, Mbak. Usia cuma angka. Aku suka Mbak kok. Kamu cantik, mandiri. Janda atau bukan, itu nggak mengurangi pesonamu,” bisiknya lirih. Jarinya mengusap lembut permukaan bibirku. Sentuhan lembutnya membuat desiran listrik naik ke d**a. Aku meleyot total, sadar betul kalau di depanku ini adalah pria 19 tahun yang sudah dewasa. Raka mencondongkan wajahnya pelan, jarak kami menyusut di bawah bayangan pagar halaman yang redup. Napasnya hangat menyentuh kulitku saat tatapannya dalam penuh janji dewasa. Raka meremas tanganku pelan, mata teduhnya menatap dalam penuh kehangatan. “Renata, boleh tidak?” bisiknya lirih meminta izin. Jarak wajah kami semakin mendekat. Tanpa sempat ku menjawab, bibir kami bersentuhan lembut, pelan seperti janji tak tergesa. Ciuman pertama itu singkat tapi manis. Bibirnya tebal hangat tanpa paksaan. Dia mundur pelan dengan senyum malu-malu. Dia menyentuh bibirnya dengan malu dan salah tingkah. Tersipu sambil menyentuh wajahnya yang ikut merona memerah sepertiku. Aku ikut tersipu, tangan kecilku menutupi wajahku yang panas. Degup jantung masih kencang setelah sentuhan bibirnya yang sangat manis. Pertama kalinya aku merasa seperti gadis istimewa yang mendapatkan ciuman pertama. Ini memang bukan pertama kalinya aku bersentuhan bibir dengan lawan jenis. Tapi aku tidak pernah merasa sebahagia dan se-excited seperti ini. Apakah karena Raka masih muda, dan aku terbawa euforia jiwa muda yang menggebu. “Mbak, boleh tidak aku memanggilmu Rena atau Sayang?” tanya Raka tersipu. Aku menggigit bibirku yang masih basah karena sentuhan Raka dan mengangguk pelan. Raka mengangguk sambil tersenyum malu, salah tingkahnya sangat lucu. Melihatnya aku menjadi gemas sendiri. “Itu tadi first kiss -nya aku. Boleh tidak —” Sebelum dia menyelesaikan ucapannya. Aku segera menutup mulutnya dengan bibirku. Ciuman kedua inisiatifku, lebih berani manis, euforia muda kami saling menular di bawah bayangan pagar. Bibirku menekan lembut bibir tebalnya yang hangat, tangan kecilku memegang pipinya pelan. Desiran listrik meledak dua kali lipat setelah first kiss tadi. Dia kaget sebentar tetapi langsung membalas memeluk pinggangku erat. Setelah beberapa detik, aku mundur pelan menatap wajahnya yang merona tambah merah. Kedua matanya berbinar. “Sayang, itu surprise terbaik,” bisiknya bergetar salah tingkah lucu bikin aku gemas sendiri. “Itu balasan first kiss-mu. Sekarang imbang.” Suasana malam berubah romantis canggung, peluk ringan Raka melindungiku dari angin. Kami kembali ke teras pelan-pelan. “Besok aku jemput kamu untuk jadwal check up, kita nge-date beneran!” Raka peluk aku erat sebentar, mencium kening pelan dan berjanji besok datang untuk menjemputku. “Tidur nyenyak ya, mimpiin aku dan dream of our kiss.” Aku meledak merasakan bahagia yang sudah lama tidak kurasa. Tidak habis pikir kenapa aku bisa jatuh cinta pada pria yang baru lulus SMA dan merasakan kembali kupu-kupu terbang lagi di perut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD