Kakak tiri

506 Words
Beberapa hari kemudian. Perlahan- lahan diriku membuka mata, dan melihat ruangan ini. Aku merasa, diriku bukan di kamarku. Ruangan ini luas, dan aku melihat beberapa boneka di kasur ini. Di meja samping diriku telah ada buah- buahan, dan di depanku juga ada bunga – bunga yang di kemas rapi. Aku pun menyentuh kepalaku. “Aww....sakit!” ucapku segera menjauhkan tanganku dari kepala. Aku merasa kepalaku telah di perban, aku pun melihat tangan dan kakiku juga di perban. Tiba-tiba terlintas lah di pikiranku akan sebuah ingatan, ingatan diriku sebelum aku seperti ini. “Hah, ya ampun! Aku mengelamai kecelakaan ya? Mengapa aku tidak mati saja? Oh Tuhan, mengapa kamu sangat adil padaku dalam kehidupan ini? Sementara Tuhan menyiksaku! Aku tidak mau memiliki keluarga baru. Aku tidak mau, Tuhan!” ucapku marah dan kesal. Saat aku mengoceh sendirian, tiba- tiba terdengar suara ketokan pintu. Aku pun segara berucap, “Siapa?” Terdengar jawaban dari luar, suara anak laki- laki yang menjawab “Boleh kami masuk saudariku?” Mendengar jawabnnya itu aku sudah bisa menebak siapa yang akan masuk kemari. Ya yang akan masuk kemari tak lain adalah saudara tiri yang menyebalkan. Ya benar seperti dugaanku, dua saudara tiri menyebalkan itu masuk kemari. Mereka membawa boneka dan bunga. “Kamu sudah bangun? Aku senang sekali mendengarnya. Kata dokter kamu hanya perlu beberapa hari lagi untuk istirahat. Selama itu apa kamu mau kami temani?” ucap Yasashi padaku sembari memberikan secara paksa boneka beruang besar padaku. Aku engan mengambil darinya tapi ia memberikannya secara paksa padaku, boneka besar ini menghalangi pandanganku ke mereka. Aku pun harus bersusah payah menyingkirkannya dari hadapanku. “Apa kamu tidak suka dengan boneka? Kalau begitu ini ambillah!. Aku membawakanmu bunga!” ucap Zanko memberikan bunga secara paksa padaku. Ya jika bunga yang indah seperti mawar sih tidak masalah tetapi Zanko memang menyebalkan, dia memberiku bunga duka cita yang ukurannya besar. Aku pun berteriak melihat tingkah dua saudara yang menyebalkan, “Aaaa...singkirkan semua ini dariku!” Dua saudara itu terkejut, mereka melihat adik tirinya sangat tidak menyukai hadiah yang diberikan. Keduanya pun segera menyingkirkan dua benda itu dariku. “Kalian apa- apan sih? Aku.... apa tidak ada hadiah yang lebih baik dari bunga duka cita, dan boneka yang sangat besar itu?! Itu menyebalkan!” Zanko yang mendengar ucapan adiknya seperti itu di buat terkejut, ia tidak menduga bunga yang dibelinya adalah bunga duka cita. “Hah, aku memang payah! Aku tidak bisa membelikan bunga yang bagus” ucap Zanko berjalan keluar dari kamar ini dengan perasaan sedih. Yasashi yang melihat Zanko pergi pun kesal, “Hei, ada apa denganmu? Kamu sangat tidak mensyukuri semua ini! Aku tidak mau punya adik sepertimu!” “Heh, siapa yang mau jadi adik kamu? Aku ngak mau!” “Oh gitu, oke! Percuma aja baik- baik sama kamu, lebih baik dikasarin aja sekalian!” kesal Yasashi berjalan keluar ruangan ini dengan membawa boneka beruang besarnya. Kini mereka berdua telah pergi, aku pun bisa menarik napas panjang. “Hah, menyebalkannya mereka! Kenapa aku harus punya kakak tiri? Aku ngak mau!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD