Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, namun putri sulung kesayangannya belum juga mau diajak tidur. Malahan asyik dengan kegiatan sendiri, yakni membolak-balikkan buku-buku cerita untuk melihat gambar-gambar hewan kesukaan.
Dan, yang dapat Wina lakukan hanyalah menemani sang buah hati. Ikut duduk di atas sofa sembari menggendong sosok kecil Triga yang tengah menyusui. Sedangkan, Dwiga sudah tidur.
Wina bukannya tak pernah membujuk sang putri, bahkan sudah ia lakukan beberapa kali. Terakhir, baru 10 menit yang lalu. Ia mendapatkan jawaban tetap sama, yakni ketidakmauan Ghesa.
Jika begitu tanggapan sang buah hati, maka Wina tak akan bisa memahami. Ia hanya bisa menunggu sampai putri sulungnya itu benar-benar mengantuk dan akan meminta untuk tidur. Memang harusnya demikian, ia tak bisa memaksa. Selalu hasilnya gagal.
"Mamaaa...,"
Wina segera menambah kuluman senyuman hangat dan beri usapan halus di kepala Ghesa, selepas mendengar sang putri memanggilnya dengan nada manja. "Iya, Sayang. Kenapa?"
"Satu... Dua... Tiga... Empat... Lima... En...,"
Tawa Wina pun terluncur karena aksi yang dilakukan buah hati sulungnya, berhitung dalam suara dan ekspresi gembira. Ia dibuat gemas, sudah pasti. "Kenapa berhenti, Kakak Ghesa?" tanyanya dengan nada penasaran.
"Kakak Ghesa lupa, Mamaa. Nggak ingat. Lima... En...,"
Wina masih terus lakukan belaian halus pada rambut sang putri. Ia lalu mengangguk ringan. "Habis lima itu enam, Sayang. Oke?"
"Yahh, Mamaa. Oke. Lima.. Enam... Tuju... Delap—"
Wina menaikkan salah satu alisnya, yakni bagian kiri. Selepas, sang putri tak lanjutkan hitungan lagi. Wina pun langsung saja dapat menyimpulkan bahwa buah hatinya itu kembali sedang lupa. Sungguh, membuatnya jadi gemas ekspresi pada wajah cantik sang putri. Ingin sekali untuk dirinya cium.
"Kakak Ghesa, nggak ingat habis tujuh angka berapa, ya? Betul, Sayang?" Wina bertanya dengan nada suara yang lembut.
Sedetik kemudian, gelengan dilakukan oleh sang putri sebagai respons. Otomatis pula, Wina menjadi bingung. Namun, tidak segera bertanya balik. Menunggu sang buah hati menjawab. Ia tambah melebarkan senyum dan melembutkan terus sorot matanya.
"Ingat Kakak, Mama. Lima... Enam... Tuju... Delapan."
Wina kembali tergelak, namun tidak cukup keras. Karena, ia tak ingin sampai kedua buah hatinya yang tengah tertidur. "Kenapa tadi Kakak Ghesa berhenti menghitungnya? Mama mau tahu. Kakak Ghesa mau nggak cerita sama Mama? Biar Mama tahu."
"Karena Kakak lihat Adek Tri mimi ASI, Mamaaa. Hahaha. Mau mimi ASI, Kakak."
Wina membelalakan matanya. Tak percaya akan apa yang diminta sang putri. "Kakak Ghesa mau mimi ASI mama juga, Sayang?"
"Iyahh, Mamaaa. Mau Kakak mimi."
Ghesa melebarkan senyuman manis bersamaan dengan gelak tawa yang kian mengencang. Dipandang sang ibu dalam sorot mata sayang. "Mama, Kakak mau mimi ASI kayak Adek Dwi, yahh? Mama kasih?"
"Boleh Kakak mimi ASI Mama, yahh? Kakak haus, Mamaa. Mau mimi ASI Mamaaa. Hahaha." Ghesa meminta lagi, manja.
Sementara, Wina menunjukkan reaksi atas keinginan aneh dari sang putri dengan bola mata yang semakin dibulatkan. Ia tidak segera memberikan respons apa-apa. Masih diam saja seraya pandangi wajah manis sang buah hati yang tengah tersenyum.
"Kakak Ghesa boleh mimi ASI kayak Adek Dwi, Mamaa?" Ghesa bertanya kembali.
"Mau mimi ASI, Mamaaa."
Wina pun lekas menggelengkan kepala sembari tertawa. Tentu, akan begitu reaksinya paling tepat, selepas pertanyaan polos sang putri terdengar lucu. Wina tak bisa untuk tidak tergelak dengan kencang.
Dan, respons yang diberikan olehnya tentu membuat sang buah hati sebal. Tampak jelas pada raut wajah Ghesa. Tak ada senyuman manis seperti beberapa menit lalu. Ekspresi cemberutlah yang sudah menggantikan.
"Kakak Ghesa kenapa?" Wina pun putuskan bertanya dengan nada terkesan polos.
Diberlakukan kepura-puraan dan berakting tak paham akan keinginan sang buah hati. Padahal, ia sangat peka. Wina hendak jahili serta mengguyoni putrinya. Ia berpikir akan seru melakukannya. Senang saksikan Ghesa menjadi sebal. Ia pastinya tambah terhibur.
Sayang, baru gelengan kepala yang Wina peroleh sebagai balasan dari Ghesa. Sang buah hati tetap memamerkan ekspresi yang cemberut dan tatapan sebal, saat pandangi dirinya. Sukses membuat Wina jadi gemas. Ghesa tak cocok tunjukkan raut wajah yang demikian. Tidak tampakkan kegalakan.
"Kakak Ghesa marah karena Mama nggak bolehkan mimi ASI kayak Adik Dwi sama Adik Tri, ya?" Wina bertanya ulang.
Kali ini, sang putri mengangguk. Hanyalah dilakukan sekali saja. Namun, sudah sukses membuat Wina mencari cara supaya dapat kembalikan tawa dan senyuman manis dari sang buah hati. Kalimat bujukan pun sudah tersusun rapi di dalam kepala. Tinggal ia ucapkan saja dengan suara yang lembut.
"Maafin Mama, Sayang. Mama tetap nggak bisa kasih Kakak Ghesa mimi ASI karena Kakak Ghesa sudah besar. Yang boleh mimi ASI Mama cuma Adik Dwi sama Adik Triga karena masih bayi, Nak," jelas Wina lembut.
"Kalau Kakak Ghesa mimi ASI lagi bisa jadi bayi lagi. Nanti siapa yang akan bantu Mama dan Papa buat menjaga Adik Dwi sama Adik Triga? Kakak Ghesa tetap mau jadi bayi?"
"Gakk, Mama. Nggak mauuuu!"
…………………………………………………………………………….
"Mata kamu sudah merah, Sayang. Aku rasa kamu ngantuk, Pa. Apa lebih baik kerjaannya besok saja dilanjutkan lagi, ya?"
Gelengan kepala dilakukan oleh Gandhi, sedetik selepas sang istri selesai lontarkan pertanyaan. "Nanggung kalau besok, Ma."
Gandhi sudah terbiasa bangun saat waktu masih menunjukkan dini hari untuk memeriksa penjualan dari produk yang diberikan pada masing-masing kepala cabang padanya, sore tadi.
Gandhi pun telah terbiasa berbisnis. Meski, belum terlalu bisa mengembangkan usaha dalam jangka waktu yang cepat. Tak berarti, ia tidak berupaya. Akan terus dilakukan pemasaran.
"Begitu, ya? Okelah, kalau mau dilanjutkan sekarang. Tapi, saat sudah benaran ngantuk, jangan dipaksa. Harus istirahat, ya."
"Siap, Sayang. Aku nggak akan menunda pekerjaan, walaupun aku lagi mengantuk. Nggak akan jadi halangan. Aku mesti terus semangat. Bukankah harus begitu, Sayang? Aku meniru kamu."
Gandhi selalu termotivasi untuk menjadi seorang pebisnis yang handal dan sukses agar dapat menyamai sang istri. Tak berarti mereka bersaing, justru saling mendukung satu sama lain.
Istrinya akan memberikan masukan-masukan bermanfaat. Dan, enggan untuk dilewatkan oleh Gandhi. Ia akan mendengarkan secara saksama dan serius, misalkan saja seperti malam ini.
"Iya, Papa. Harus kerja keras. Tetap semangat. Oke, Sayang? Aku yakin usaha kamu akan membuahkan hasil maksimal."
Sudah hampir satu jam mengobrol berdua di ruang tamu seraya mengemil beberapa makanan ringan. Momen yang senantiasa dinikmati Gandhi, senang bisa habiskan waktu dengan istrinya.
Tiga buah hati mereka telah tertidur pulas di dalam kamar, jadi ia dan Wina memiliki cukup kesempatan untuk saling berbicara. Komunikasi harus diusahakan mereka tetap terjalin baik.
"Makasih, Sayang. Semangat dari kamu akan selalu bisa beri aku rasa optimistis yang semakin besar untuk bisnisku, Mama. Kamu dan anak-anak kita akan menjadi motivasi terbesarku."
Wina lekas anggukan kepala dan mempererat lagi genggaman pada tangannya dan sang suami yang tertaut. "Iya, Papa."
"Aku pasti akan selalu mendukung kamu untuk berbisnis. Aku yakin kamu akan sukses, Sayang. Ingat, nggak boleh mudah menyerah. Karena, pasti akan ada banyak tantangan nanti."
Selesai melontarkan balasan dengan alunan suara yang begitu lembut, Wina langsung mengarahkan tangan kirinya menuju ke kepala sang suami. Dilakukan belaian-belaian halus, lantas.
"Pasti, Sayang. Aku nggak akan menyerah. Aku harus mampu jadi pengusaha sukses supaya bisa kasih uang bulanan yang banyak kepada kamu, Mama. Bagaimana? Tujuanku jelas?"
Wina jelas tertawa akibat jawaban bernada kocak yang sang suami katakan. Ia lalu anggukan kepala dengan gerakan ringan dan mantap. "Harus kasih uang yang banyak, Sayang. Karena, semakin banyak kebutuhan untuk ketiga anak manis kita."
"Untuk aku juga. Perawatan di salon supaya tambah disayang dan juga dicintai sama kamu, Papa Gandhi," canda Wina santai.
Tentu, kalimat balasannya yang sarat akan candaan berhasil mengundang tawa sang suami. Gelakan diluncurkan oleh pria itu cukup kencang. Ia pun melakukan hal yang sama sembari melekatkan tatapan ke sosok sang suami. Wina suka menikmati sorot teduh dipancarkan sepasang mata beriris cokelat pria itu. Membuat jantung berdebar.
"Oke, Mama. Papa akan lebih kerja keras supaya mendapatkan penghasilan yang juga banyak dan bisa digunakan Mama pergi ke salon. Tapi, nanti semoga hasilnya nggak terlalu yang cantik, ya. Papa nggak mau."
Wina mengerutkan dahinya. "Kenapa Papa nggak mau? Apa alasan kuatnya, Sayang?"
"Alasan? Kalau Mama semakin cantik nanti, pasti akan banyak lelaki yang melirik. Papa jadi nggak tenang. Papa nggak mau juga disaingi sama laki-laki yang lain. Pokoknya Mama jangan sampai terlalu cantik, ya?"
Sungguh, Wina tak mampu mencegah tawa terluncur dengan begitu kencang. Ia bahkan harus menutup mulut guna meredamkan suara gelakan supaya tidak terdengar keras. Kemudian, kepala diangguk-anggukannya dalam gerakan yang ringan dan santai saja.
Kontras akan sang suami, pria itu pamerkan raut wajah serius. Tak ada senyum hangat. Tawa pun juga sudah menghilang. Wina menebak bahwa suasana hati sang suami mendadak buruk karena bahasan mereka.
"Mama, Papa lagi nggak main-main. Papa takut Mama dilirik banyak laki-laki. Nggak suka Papa. Akan cemburu pasti nanti Papa. Oke, Mama? Mau menuruti perintah Papa?"
Wina kencangkan suara tawanya sembari anggukan kepala beberapa kali. Tak segera diluncurkan jawaban secara lisan, meskipun tahu bahwa sang suami sedang menunggu. Bukan berarti juga dirinya sengaja lakukan. Hanya saja belum memiliki kata-kata yang tepat dan bagus untuk dijadikan balasan.
"Mama dengar ucapan Papa nggak?"
Dengan segera, Wina pun kembali gerakan kepala. Mengangguk mantap. Kali ini, tawa sudah mampu untuk diredam. Beberapa patah kata juga telah mampu dipikirkannya. Siap diluncurkan guna membalas suaminya.
"Mama dengar dengan sangat jelas, Sayang. Terus Mama harus kasih respons yang kayak apa lagi? Bukannya Mama tadi anggukan kepala Mama? Artinya Mama mau menuruti dan ingat pesan yang Papa bilang ke Mama."
Gandhi memerlihatkan cengiran lumayan lebar. "Bagus, Mama. Papa jadi makin sayang dan cinta pada Mama kalau mau menurut."
……………………………………………………..
Wina tak pernah bangun lebih dari jam tujuh pagi, meski kerap begadang setiap malam guna periksa dokumen-dokumen perusahaan yang disetor sekretaris pribadinya. Wina masih aktif sebagai direktur utama, ia pun selalu fokus menyelesaikan tiap pekerjaan. Walau demikian, keluarga tetap jadi prioritasnya.
Wina tak lupa jalankan tugas seorang ibu yang punya tiga anak, seperti menyiapkan sarapan. Apalagi, kedua putra kembarnya sudah berusia tujuh bulan, boleh konsumsi MPASI. Jadi, Wina kerap menghabiskan waktunya cukup lama di dapur, sebelum berangkat ke kantor, biasanya sekitar pukul sembilan.
"Mama masak apa maem Adik Dwi, Adik Tri? Ghess mau lihat. Ghesa mau minta, Mamaa."
Wina seketika terkesiap, selepas mendengar lontaran pertanyaan dari putrinya. Tak sadar sejak kapan Ghesa sudah masuk ke areal dapur. Lalu, Wina tersenyum hangat. Ia segera ambil posisi bersimpuh di hadapan buah hatinya yang manis.
"Mama kaget, yahh? Hahaha." Ghesa mengentarai.
Sementara, Wina langsung anggukan kepalanya dan keluarkan tawa dengar pertanyaan dari sang buah hati. "Iyah, Nak. Mama kaget. Mama kira tadi hantu yang ngomong," jawab wanita itu dengan suara lembut. Sang putri telah digendong.
"Hantu, Mama?" tanya Ghesa dengan nada terkejut. Ekspresi wajah balita perempuan itu tampakkan sedikit ketakutan.
"Ini Ghesa cantik, Mama. Gak hantu. Haha."
"Ada hantu pagi, Mama?" Ghesa pun bertanya kembali. Sorot mata balita itu memerlihatkan rasa ingin tahu yang tinggi.
"Hmm, ada nggak, ya, Sayang? Mama juga nggak tahu apa ada hantu di pagi hari, kayak sekarang, Nak." Wina bercanda.
"Gak ada hantu, Mama. Ghesa takut hantu."
Wina tak kuasa menahan tawanya mendengar jawaban sang buah hati. Ditambah pula, aksi dilakukan putrinya, yaitu dengan membenamkan kepala di lekukan bahu kanannya. Ia merasa gemas sekaligus terhibur. Lalu, dikecup pucuk kepala Ghesa.
"Nggak boleh takut, Nak. Sudah ada Mama. Lagipula, nggak akan ada hantu pagi-pagi, Sayang. Kakak Ghesa nggak boleh takut. Harus jadi pemberani supaya bisa jaga adik-adik nanti."
Ghesa yang sudah angkat kepalanya pun cepat mengangguk guna tanggapi jawaban dari sang ibu. "Yahh, Mamaa."
"Kakak Ghesa gak takut hantu. Kakak Ghesa harus berani."
Wina pun lekas mengangguk-anggukkan kepalanya guna tanggapi jawaban bernada semangat yang dilontarkan oleh sang buah hati. Ia jelas akan menunjukkan dukungan dengan antusiasme cukup tinggi juga.
"Benar, Sayang. Kakak Ghesa harus berani kayak Mama, ya. Karena, Kakak Ghesa yang jegeg ini adalah anaknya Mama. Jadi, harus mirip sama Mama." Wina berujar dalam nada suara yang bangga dan semakin melebarkan senyuman hangat.
"Kakak Ghesa jegeg kayak Mama, iyahh? Horee. Kakak Ghesa cantik kayak Mama. Hahaha. Gak ganteng kayak Papa."
Celotehan sang buah hati tentu membuat Wina loloskan tawa yang semakin kencang saja. Kemudian, kepala dianggukkannya. Tanda bahwa menyetujui ucapan dari putri manisnya. Wina juga memerlihatkan jempol tangan kanan dan senyuman yang melebar.
Kikikan tawa langsung didengar. Sang buah hati tentu senang akan respons dirinya beri. Memang Wina harus melontarkan balasan yang dapat membawa dampak positif untuk putri cantiknya. Minimal dapat menciptakan tawa sang buah hati yang renyah.
"Iya, Sayang. Kakak Ghesa memang cantik kayak Mama. Kalau Adik Dwi sama Adik Tri baru kelihatan gantengnya kayak Papa."
"Gak, Mama. Papa gak ganteng. Papa jelek. Hahaha. Adek Dwi sama Adek Tri ganteng."
Untuk sekian kali, tawa Wina pun terlolos dengan kencang. Bukan hanya diakibatkan jawaban sang putri, melainkan juga ekspresi yang dipamerkan Ghesa, yakni sarat akan ejekan. Menambah kesan lucu buah hatinya.
Sudah tentu tidak menjadi rahasia lagi jika Ghesa memang kerap berguyon demikian, baik di depan sang suami ataupun saat ayah dari ketiga buah hatinya tak ada di rumah.
"Benar juga, Sayang. Papa nggak ganteng, ya. Mama baru sadar. Haha." Wina membalas dengan santai, suara tawanya dikeraskan.
"Walau, Papa nggak ganteng. Mama tetap sayang sama Papa Kakak Ghesa. Nah, kalau Kakak Ghesa sayang juga nggak sama Papa, Nak?" Dilanjut dengan pertanyaan lembut.
Apa yang ingin dikonfirmasinya cepat pun mendapatkan balasan segera. Sang putri mengangguk semangat beberapa kali serta melebarkan senyuman. Wina jadi senang dan gemas melihat tingkah buah hatinya itu.
"Bagus, Nak. Kakak Ghesa harus tetap bisa sayang sama Papa karena Papa juga sangat sayang dengan Kakak Ghesa. Nanti Kakak Ghesa nggak boleh melawan Papa, ya? Dan, harus mau menuruti apa yang Papa bilang."
"Iyahh, Mamaaa!"
Wina mengangguk cepat. Senang saja akan jawaban diserukan cukup lantang oleh sang buah hati. Melihat Ghesa yang semangat, ia pun ikut memiliki antusiasme tinggi pula. Tugas menjadi orangtua tentunya dari hari ke hari akan semakin sulit. Terutama, dalam menerapkan kesopanan pada anak-anaknya.
"Pasti selalu sayang, Ma. Papa ini 'kan baik dan penyayang. Kakak Ghesa pasti akan mau menuruti apa pun yang Papa kasih tahu."
Wina langsung menolehkan kepala ke arah belakang, selepas dengar suara sang suami. Tak sampai lima detik, ia sudah bisa beradu pandang dengan pria itu. Kepalanya lantas dianggukkan guna tunjukkan persetujuan akan apa yang dikatakan oleh sang suami.
"Iya, Papa ganteng." Wina membalas dengan loloskan pujiannya dalam nada manis dan juga lembut. Kepala dianggukkannya.
"Hahaha. Papa ganteng Mama bilang. Mama juga cantik kayak Kakak Ghesa. Yeee!"
…………………………………………………………
Mulai dari satu minggu lalu, duo kembar sudah mulai tidak nyaman berada di baby booster seat, waktu makan. Bahkan, sejak dua hari belakangan, malah enggan. Dwiga dan Triga pun akan kompak keluarkan rengekan mereka, saat ditempatkan di baby booster seat, meski hanya dalam hitungan detik saja.
Wina tentu awalnya cukup bingung mencari alternatif, ia tidak mungkin menggendong bayi-bayi kembarnya bersamaan kala menyuapkan makanan. Ia lantas mencoba menaruh dua buah hatinya di baby walker. Dan hasilnya, sama sekali tak pernah ia sangka. Dwiga da jugan Triga begitu anteng didudukkan.
Pagi ini, Wina menerapkan lagi caranya. Walaupun, harus lebih ekstra memerhatikan duo bayi kembar yang akan mengelilingi ruang tamu dengan lumayan cepat menggunakan baby walker, Wina tetap lakukan asalkan bayi-bayinya bisa makan lahap dan habiskan semua bubur sayur bayam sudah ia buatkan.
"Aduh, belum habis, Sayang." Wina keluarkan pengentaraan untuk sang putra bungsunya yang tengah membuka mulut.
"Ditelan dulu, Nak. Baru, Mama akan suapkan Triga buburnya lagi, ya? Oke, Sayang?" Wina berujar dengan suara lembut.
Tawa diloloskan oleh wanita itu, setelah melihat sang buah hati mengunyah kembali. Lakukan seperti yang dirinya minta, tadi. Wina tahu bahwa sang putra belum mengerti ucapannya, tetapi ia tetap senang saksikan tingkah dari bayi delapan bulan itu.
"Mama, Ghesa capek jaga Adek Dwi."
Wina segera tolehkan kepala ke arah sang putri yang tengah mendorong baby walker dinaiki Dwiga. "Kakak Ghesa capek?"
"Iya, Mama. Capek Kakak Ghesa. Capek. Capek."
"Adek Dwi jalan terus, Mama. Gak mau diam. Kakak Ghesa capek kejar Adek Dwi, Mama." Ghesa mengimbuhkan sembari memanyunkan bibir pada ibunya yang tengah usap kepala.
"Kakak Ghesa gak mau jalan lagi. Kakak Ghesa capek. Ga—"
Wina segera mengangkat tubuh buah hatinya sehingga pula sebabkan sang putri tak bisa lanjutkan kata hendak diluncurkan. Wina pun tak bisa menahan tawa karena masih mendapati raut wajah sebal Ghesa. Anak sulungnya memandang cukup lekat.
"Kakak Ghesa sudah capek, ya? Baiklah, Kakak Ghesa boleh berhenti jaga Adik Dwi. Biar Mama yang giliran awasi Adi—"
"Mau gendong Kakak Ghesa, Mamaaa. Mau gendong, yahh."
Alis kanan Wina langsung terangkat naik ke atas, begitu juga dengan kerutan pada kening yang bertambah. Tepat, selepas mendengar permintaan dari sang putri, beberapa detik lalu.
"Apa, Sayang? Kakak Ghesa mau digendong sama Mama, ya? Begitu, Nak?" Wina bertanya kembali, mengonfirmasi tentunya.
"Iyahhh, Mamaa. Kakak Ghesa mau gendong sama Mamaa."
Wina tak langsung menanggapi, cukup merasa bingung. Ia tak yakin juga akan dapat mengabulkan. Sebab, harus melakukan pengawasan terhadap putra kembarnya. Wina pun bingung.
Di sisi lain, ia tidak tega jika tak menuruti kemauan sang putri. Bisa ditebak nantinya, Ghesa mengambek. Paling parah, dapat saja merengek. Sudah pasti, Wina ingin menghindari. Berusaha tak menambah pekerjaan yang dapat memberatkan harinya.
"Mama mau gendong Kakak Ghesa, yahh?"
Wina langsung mengangguk, setelah sang putri bertanya kembali. Lalu, diangkatnya tubuh Ghesa guna digendong. Ekspresi di wajah buah hatinya sudah tidak cemberut lagi. Bahkan, diloloskan tawa yang renyah sembari merebahkan kepala di pundaknya.
Kemanjaan Ghesa pun selalu bisa membuat Wina tersenyum. Rasa lelah melanda dirinya dapat sedikit berkurang jika sudah begini. Kebahagiaan yang menyelimuti sang buah hati juga berdampak bagus padanya.
"Mama, Kakak mau maem bubur Adek Tri. Kakak lapar, Mama. Boleh maem, Mama?"
Tepat setelah sang putri selesai lontarkan pertanyaan, maka Wina disuguhkan senyum manis yang lebih lebar. Salah satu s*****a andalan saat meminta sesuatu. Dan tentu, harus dapat dikabulkan. Jika tidak, sudah pasti reaksi buah hatinya akan seperti tadi, yakni memerlihatkan raut kecemberutan.
Wina wajib mengiyakan. Anggukan kepala dilakukan dengan gerakan ringan beberapa kali. Sang buah hati jelas merespons dengan cepat, mengangguk juga. Ghesa juga tertawa lumayan kencang seraya memandanginya. Dan, keterkejutan melanda Wina, selepas terima ciuman di bagian pipi dari putrinya.
"Kakak Ghesa mau coba bubur punya Adik Dwi sama Adik Tri? Benar Kakak Ghesa akan suka? Rasanya nggak manis, Sayang," tanya Wina guna mengonfirmasi ulang keinginan buah hati sulungnya beberapa menit lalu.
"Iyahh, mau, Mamaaa. Kakak lapar, Mama."
Wina yang gemas akan tingkah sang putri, yakni memerlihatkan ekspresi merayu dan senyuman manis, langsung mendaratkan ciuman singkat pada pucuk kepala balita itu. Kemudian, kepalanya dianggukkan. Tidak akan mungkin bisa tunjukkan penolakan.
"Baiklah, Sayang. Mama akan kasih Kakak Ghesa bubur yang Adik Dwi sama Adik Tri maem. Masih ada sedikit di dapur. Tapi, tunggu sebentar, Sayang. Mama suapin Adik Dwi sama Adik Tri sampai buburnya habis."
"Yahhh, Mamaaa!"