"Mama mau kerja, yah?"
Wina pun langsung berhenti berjalan, setelah beberapa langkah keluar dari kamar mandi. Ia urungkan niatan menuju ke lemari guna berganti pakaian yang baru. Kemudian, Wina bergegas ke arah tempat tidur, di mana putri sulungnya tengah berada.
"Nggak, Sayang. Mama libur hari ini." Wina menjawab dengan lembut sambil usap-usap rambut Ghesa, tepat setelah dirinya berhasil duduk di sisi sang buah hati. Ia turut tersenyum hangat.
"Besok baru Mama kerja di kantor sampai sore. Kak Ghesa nanti main di rumah sama Adik Dwi dan Adik Tri. Mau 'kan, Nak?"
"Iyahh, Mama. Kakak Ghesa mau."
Wina menambah kuluman senyum. "Pintar, Sayang. Kak Ghesa pasti bisa jagain adik-adik nanti Mama sama Papa tinggal kerja, ya?" Dikeluarkan kalimat-kalimat pujian masih dengan lembut.
Kecupan dalam yang cukup lama, Wina berikan di bagian dahi sang putri. Salah satu bentuk afeksi yang kerap suka ia lakukan, saat merasa gemas. Terutama akan ekspresi manis dari sang putri. Selalu mampu juga akan membuatnya jadi terhibur.
"Bisa Kakak Ghesa jaga Adek Dwi, Dek Tri, Mama." Ghesa membalas antusias, namun suara dipelan karena tidak ingin berisik. Adik-adiknya sedang tidur. "Kakak Ghesa pintar," imbuh balita itu dengan semakin semangat. Ada nada bangga pula.
Jari-jari telunjuk, Ghesa arahkan bergantian pada sosok Dwiga dan juga Triga yang tengah terlelap pulas di atas kasur. Belum bangun. Padahal, Ghesa sudah menanti. Sebab, ingin berikan topi ulang tahun kepada kedua adik laki-laki kembarnya.
Benar, hari ini merupakan momen spesial. Dwiga serta Triga tepat berusia satu tahun. Tak ada perayaan khusus memang. Disengaja oleh Wina dan Gandhi yang sudah sepakat bahwa tidak akan adakan pesta dalam bentuk apa pun berlebihan.
"Mamaaa...,"
Mendengar panggilan sang putri, Wina tunjukkan reaksi cepat. Ia anggukan kepala dan tambahkan lengkungan senyuman di masing-masing ujung bibirnya. "Iya, Sayang. Kenapa, ya?"
"Kakak Ghesa mau beli kado kasih Adek Dwi sama Dek Tri."
Wina lekas anggukan kepala. "Boleh, Sayang. Ide yang bagus Kakak Ghesa mau kasih adik-adik kado. Nanti Kak Ghesa beli hadiah sama Mama. Mau beli kado apa buat adik-adik, Nak?"
"Kado mainan, Mama. Mobil-mobil sama robo—"
Ghesa tak lanjutkan jawabannya, kala melihat kedua adik laki-lakinya menggeliat secara bersamaan. Balita perempuan itu tambah senang, terbukti dari senyum manisnya yang melebar. Ghesa pun cepat saja menghampiri kedua adik kembarnya. Tak sampai satu menit, sudah sampai. Ghesa lalu memeluk dengan lumayan erat tubuh Dwiga dan juga Triga yang cukup gembul.
"Selamat ulang tahun Adek Dwi sama Adek Tri. Hahaha." Balita itu berseru senang.
Tawanya kian dikencangkan. Begitu juga dengan pelukan tangan-tangan mungilnya di masing-masing tubuh Dwiga dan juga Triga. Ghesa lanjut tunjukkan kasih sayangnya yang besar dengan berikan ciuman pada pipi-pipi tembam milik kedua adiknya.
Plakk...plakkk.
Ghesa merasakan kekagetan yang luar biasa karena menerima pukulan cukup keras di lengan kanan dan kiri dari Dwiga dan Triga. Otomatis, bocah perempuan itu melepaskan pelukan. Lalu, menjauh dari kedua adiknya yang tengah memasang ekspresi galak.
Ghesa jelas saja takut. Kedua mata sudah berkaca-kaca. Namun, tangisannya belum pecah. Ghesa telah diingatkan oleh ayah dan sang ibu untuk tidak cengeng, saat dua adik kesayangannya berulah. Ghesa tak lupakan pesan tersebut. Bocah itu enggan menangis.
"Atal (nakal), Kakkk. Atalll."
Ghesa langsung memanyunkan bibir, pasca dengar seruan lumayan lantang sarat akan kesebalan yang dilontarkan adik bungsunya. Pelupuk mata kian banyak digenangi oleh cairan bening. Namun, Ghesa belum mau menangis. Lalu, dipindahkan pandangan ke sosok Dwiga. Ghesa pun tambah manyunkan bibir karena saksikan tatapan galak adiknya.
"Natal... Natalll!"
Triga tak ingin ketinggalan, ikut meloloskan seruan kencang sama seperti sang saudara kembar kepada kakak mereka. Bayi genap berusia satu tahun itu juga belum berhenti memandang kakak sulung perempuannya.
"Akalll! Akalll!"
Ghesa semakin mengembungkan kedua pipi menandakan kesebalan yang jadi bertambah besar karena diserukan kembali oleh kedua adik kembarnya. Ghesa kurang merasa suka. Namun, sadar juga jika sudah lakukan hal yang tidak disukai dua adik laki-lakinya.
"Maaf, Adek Dwi, Adek Tri." Ghesa berujar pelan, tetapi penuh kesungguhan dalam mengatakan permohonan maafnya.
"Yah, Kakak nakal. Kakak gak cium lagi, yah. Nggak cium Adek Dwi sama Adek Tri," lanjut Ghesa dengan volume lebih mengeras.
Masih dipandang begitu lekat kedua adik kembarnya bertujuan menunggu reaksi dari Dwiga dan Triga. Ekspresi kecemberutan tak menghilang di wajah Ghesa. Sedangkan, dua adik laki-lakinya juga memandang. Dengan sorot mata yang kompak tidak kesal lagi.
……………………………………………………….
"Mamaaa!"
Wina yang tengah mencium pucuk kepala Triga, pun seketika jadi disudahi, kala mendengar panggilan dari sang putri sulung. Ia lantas tolehkan kepala ke sosok balita itu yang tengah berada di sampingnya. Langkah kaki pun juga Wina telah hentikan.
"Iya, Sayang. Kakak Ghesa mau bilang apa ke Mama?" tanya wanita itu langsung, tahu bahwa putrinya ingin ketahui sesuatu.
"Mama, gak berat ajak Adek Dwi sama Dek Tri, iyahh?"
Wina spontan keluarkan suara tawa, meski tak keras. Atensinya sudah dialihkan pada Dwiga dan Triga yang tengah ia gendong, kedua bayi kembarnya sedang memandangi dengan tatapan polos dan juga lugu. Membuatnya jadi gemas, tentu saja.
Lantas, Wina kembalikan pusat pandangan pada sosok putrinya yang menunggu jawaban. Kalimat balasan sudah disiapkannya di dalam kepala. Tinggal dilontarkan. Namun, Wina pun memilih lebih dulu mengambil posisi bersimpuh di depan buah hatinya.
"Berat Mama gendong, Sayang. Hmm, Kakak Ghesa mau bantu Mama nggak, Nak?" pinta Wina dengan suara lembutnya.
"Bantu Mama apa?" Ghesa merespons cepat seraya pandangi kedua adik kembarnya yang sudah diberdirikan di atas lantai oleh sang ibu. Balita perempuan itu masih tersenyum manis.
"Kakak Ghesa tolong gandeng tangan Adik Dwi. Ajak Adik Dwi jalan ke meja makan. Mau nggak Kakak Ghesa, Sayang?"
Ghesa pun tak butuh waktu lama untuk mengiyakan. Anggukan kepala dilakukan, beberapa kali. "Iya, Mama. Kakak Ghesa mau bantu," jawab balita perempuan itu cukup bersemangat.
Tangan kanan sang adik segera diraih oleh Ghesa, digenggam dengan erat. Sesuai apa yang dikatakan sang ibu. Senyuman manis pun balita itu kembangkan, saat Dwiga memerlihatkan ekspresi yang lucu padanya. Tanda bahwa suasana hati bagus.
"Adek Dwi mau sama Kakak Ghesa jalan, ya?" Ghesa lantas keluarkan kalimatnya dengan nada yang gembira. Menanyai sang adik. Balita itu memang suka mengajak Dwiga berbicara.
"Yahhh... Yahhh."
Kikikan tawa diloloskan kencang oleh Ghesa, karena semakin senang. Lantas dipeluknya sang adik. "Sayang, Adek Dwi."
Setelah merasa cukup, Ghesa lanjutkan pemberian afeksinya dengan mencium kedua pipi tembam Dwiga. Kemudian, tawa yang cukup kencang dikeluarkan balita itu, tanda senang.
Tak sampai satu menit, Ghesa sudah meraih tangan kiri kecil milik sang adik. Jemari-jemari mereka pun ditautkan. Senyum lebar yang manis dipamerkannya sengaja pada Dwiga. Ghesa senang jika sudah tersenyum cerah hingga membuat adiknya ikut memerlihatkan senyuman yang tak kalah lucu darinya.
"Ayo jalan Adek Dwi sama Kakak Ghesa cantik. Hahaha." Ghesa berujar kian riang.
"Yahhh, Kaaa Ntikkk."
Kikikan tawa dikeraskan bocah perempuan itu karena tambah gembira mendengarkan celotehan sang adik dengan gaya cadel yang lucu. Terlebih, diucapkan kata pujian. Jelas saja membuat Ghesa begitu jadi gembira dan semangat mengajak adik kembarnya.
Pegangan pada tangan mungil Dwiga pun kian dikencangkan bersamaan dengan dua kakinya mulai dilangkahkan perlahan. Tak dialihkan pandangan pada sang adik yang juga tengah berjalan. Ghesa terus berikan perhatian agar Dwiga tak sampai jatuh.
"Atakkk (kakak).... Atakkk."
Mendengar panggilan adik bungsunya yang berada di belakang, tepat sedang sang ibu gendong. Maka, Ghesa segera saja berhenti gerakan kaki-kakinya. Begitu juga dengan Dwiga. Dilihat Ghesa, sang adik bungsu yang lakukan pemberontakan dalam gendongan sang ibu. Tak berapa lama, ibunya turunkan Triga. Sang adik langsung menghampirinya.
"Atakkkk! Atakkkk!"
Kikikan tawa diloloskan oleh Ghesa, ketika panggilan untuknya diserukan Triga cukup keras. Ghesa jelas saja senang. Kedua tangan sudah direntangkan ke samping, sambut sang adik yang masih berjalan ke arahnya. Senyuman dikembangkan lebih lebar.
"Siniii, Adek Triiii!" seru Ghesa lantang dan begitu semangat. Tangan kanannya sudah dilambai-lambaikan dengan antusias tinggi.
Tak sampai 30 detik menunggu, sang adik bungsu sudah berdiri di hadapannya. Cepat pula Ghesa memberikan pelukan yang erat pada tubuh gembul Triga. Tawanya semakin mengeras saat mendapatkan dekapan balik dari sang adik. Balita itu jelas kian senang.
"Kakak Ghesa sayang sama Adek Tri yang bagus (ganteng) kayak Adek Dwi. Hahaha."
Ghesa lebih mengeratkan lingkaran tangan pada badan sang adik seraya kecup kening sang adik yang semakin keras mengeluarkan tawa. Tidak ingin segera dihentikan acara berpelukan ala teletubbies. Keduanya pun kompak sama-sama tak mau melepaskan.
"Kakak. Endonggg (gendong). Mau endong adek, Kakakkkk! Cepat! Cepaaattt!"
Ghesa langsung melepaskan pelukan dari sang adik bungsu, setelah dengar apa yang diminta oleh adik kembarnya lagi satu yaitu Dwiga. Sepasang mata polos Ghesa tampak membulat karena tidak menyangka dengan keinginan diutarakan oleh sang adik.
"Adek Dwi mau gendong sama Kakak, yah?" tanya balita perempuan itu kembali.
"Yahh, mau endong Kakakkkk!"
Ghesa menggeleng cepat. Tentu, tidak akan mengabulkan apa yang diminta Dwiga. Tak dapat dilakukan, menggendong sang adik. Ghesa belum berani. Apalagi, tubuh sang adik cukup berat. Takut akan jatuh. Ghesa pun mencari cara lain. Tidak mau sampai membuat Dwiga jadi mengambek dan kesal.
"Kakak nggak bisa gendong, Adek Dwi. Mau Kakak peluk Adek Dwi ajah, yah? Oke?"
"Okeee, Kakakkk. Hahaha."
Tanpa menunggu lebih lama, Ghesa segera saja memenuhi janjinya. Memeluk erat sang adik dengan erat. Tak hanya Dwiga, tetapi juga Triga didekap oleh balita perempuan itu dengan erat. Kikikan tawa dikeluarkan kedua adiknya jadi tanda bahwa senang akan apa yang baru dilakukannya.
…………………………………………………………………………………………..
"Papahhh.... Papahhh."
Gandhi yang tengah memangku Triga, langsung menolehkan kepala ke sosok putra kembarnya satu lagi, yakni Dwiga. Balita laki-laki sudah berusia 18 bulan itu sedang berjalan mendekat.
Dwiga melangkah cukup cepat dengan kaki-kaki mungilnya dan membawa sebuah boneka beruang berukuran tak terlalu besar. Senyuman riang yang lebar pun dipamerkan oleh Dwiga.
"Papahh... Papahhh... Papaahh."
Gandhi seketika saja melambaikan tangan kanannya, selepas mendengarkan lagi panggilan dari sang buah hati. "Iya, Nak."
"Ayo kemari, Dwiga Ganteng!" seru Gandhi dengan semangat dan dalam nada suara yang riang juga. Senyuman dilebarkan.
"Dwihhh, siniiii!" Triga ikut memanggil kembarannya, meniru apa dilakukan oleh sang ayah. Tangan kanan turut dilambaikan.
Triga sudah bangun dari pangkuan sang ayah. Kegiatan minum s**u pun dihentikan, sejak mendengar seruan cukup lantang yang diluncurkan antusias saudara laki-laki bungsunya itu.
Triga pun jadi ikut tertular semangat sedang dirasakan oleh Dwiga. Senyuman manis dicetak seperti sang kembaran pada wajah menawannya. Triga memang tengah gemar meniru.
"Triiiii! Mainnnn!" seru Dwiga dengan volume suara yang kian meninggi. Kedua kaki pun dipercepat balita itu melangkah.
Tak sampai hitungan satu menit, Dwiga sudah berhasil berdiri di depan saudara kembarnya. Sunggingan senyum semakin dilebarkan. Beberapa gigi susunya pun tampak secara jelas.
"Triiii, mainn mauuhh?" tanya Dwiga dalam nada suara gembira dan juga menampakkan nyata antusiasme yang besar pula.
"Yahh, mauhhh." Triga menjawab dengan tak kalah semangat. Kepala diangguk-anggukan sembari pandangi kembarannya.
Triga kemudian senang menerima boneka beruang yang tengah dipegang oleh Dwiga. Senyuman pun melebar seraya pandangi saudara bungsunya itu. Bahkan, suara tawa diloloskan juga.
"Mainn neka (boneka)?" tanya Triga dengan nada yang masih riang, memastikan akan bermain apakah mereka nantinya.
Selepas mendapatkan respons dari sang kembaran, anggukan beberapa kali. Maka, Triga pun ikut gerakan kepala ke atas dan bawah, meniru apa yang tengah dilakukan oleh Dwiga, kini.
"Yahhh, main nekaaaa iyahh. Hahaha."
"Hahahaha." Tawa diluncurkan Triga semakin kencang seperti sang kembaran. Sunggingan senyum manis masih tetap sama.
Kemudian, Triga dan Dwiga secara kompak mengambil posisi duduk di atas karpet, bersila. Saling bersebelahan, tentu saja. Boneka beruang lalu diletakkan di tengah-tengah oleh mereka. Diberikan usapan-usapan yang halus pada bulu beruang pada bagian kepala, masih dengan bersamaan dilakukan tentunya.
"Main nekaaa. Yeee." Dwiga berseru kembali lebih kencang sembari gerakan boneka beruang dan panda yang sedang dipegang dengan semangat tinggi. Senyum melebar.
Arah pandang balita itu pun masih secara penuh dipusatkan pada sang kembaran yang juga tengah membawa boneka, tetapi hanya satu saja. Antusiasme Dwiga kian bertambah dalam memainkan boneka-bonekanya, tak ingin kalah dari saudara laki-lakinya.
"Dwi sama Tri lagi main apa, Nak? Asyik banget kayaknya anak-anak ganteng Papa main. Boleh ikutan juga Papa main nggak?"
Dwiga mengangguk cepat. Dan, segera pula beranjak bangun dari posisi duduknya yang bersila. Kedua kaki berjalan dengan gesit menghampiri sang ayah. Tentu, masih erat memegang dua boneka di masing-masing tangan. Senyuman manis belum memudar. Sang kembaran juga ikut, mengekor di belakangnya. Triga tak mau ketinggalan.
"Main neka, Ppahh," jawab Dwiga dengan semangat yang semakin bertambah besar.
Lalu, diberikan kepada sang ayah boneka panda tengah dipegangnya. Dan, keceriaan Dwiga seketika berkurang karena ayahnya memberikan respons berupa gelengan dan tak mengambil bonekanya. Dwiga semakin melekatkan tatapan polos pada sang ayah. Tak berselang lama, balita itu pamerkan ekspresi cemberut di wajah. Kedua pipinya dikembungkan dan bibir dimanyunkan.
"Main neka, Ppahhh!" seru Dwiga dengan cukup kencang. Terselip nada sebal.
"Papa nggak mau, Nak. Papa nggak tahu dan nggak bisa main boneka. Ajak Kakak Ghesa saja mainnya, ya? Kakak Ghesa yang paling pintar main boneka. Papa nggak bisa."
Gandhi berupaya keras menahan tawanya agar tidak sampai terlolos. Rencana sudah sesuai dengan apa dikehendakinya. Sang buah hati kian menunjukkan raut kesal akan penolakan yang baru saja dilontarkannya.
Jelas apa diucapkan tadi tidak benar-benar serius. Hanya untuk mengerjai sang buah hati. Sebab, Gandhi tengah sangat ingin lihat Dwiga menunjukkan kejengkelan, ketika tak dikabulkan keinginannya. Sudah lama juga rasanya tidak membuat sang buah hati kesal. Hampir satu bulan jika tak salah hitung.
"Main neka, Ppahhh!"
Kembali, Gandhi menggeleng. Gerakan dari kepala semakin ringan saja. Ditatap lekatnya sang buah hati yang tampak kian sebal. Ia dibuat gemas akan ekspresi putra kembar kesayangannya itu. Dwiga tak tampak seram justru tambah lucu. Hiburan bagi Gandhi.
"Papa nggak bisa main, Nak. Tunggu Kakak Ghesa pulang dulu baru main boneka, yah?"
Masih dilekatkan tatapan pada sosok sang buah hati. Menunggu respons apa yang akan diberikan oleh putranya. Belum ada tanda pengurangan pancaran kejengkelan pada sepasang mata milik Dwiga. Beberapa detik kemudian, diperolehnya jawaban sang putra yang berupa anggukan. Gandhi pun tidak menyangka akan demikian balasan diberi oleh sang putra. Tawanya pun lolos.
………………………………………………………………………
Ghesa berlari kencang menuju ke ruang tamu dari arah pintu utama rumah, setelah dibukakan lebar oleh sang ibu. Balita itu berjalan cukup cepat karena tak sabar menemui dua adiknya. Tentu selain karena rindu, balita itu ingin berikan sesuatu.
Masing-masing tangan Ghesa memegang sebuah tas plastik warna hitam. Berisikan barang-barang yang dibelikan olehnya untuk Dwiga dan Triga tadi, saat menemani sang ibu berbelanja di mall. Mainan-mainan yang pastinya akan disukai Dwiga dan Triga.
Senyuman manis Ghesa tampak terbentuk dengan lebar, tanda jika suasana hati sedang senang. Sangat mudah menebak apa yang tengah dirasakan sebenarnya oleh balita perempuan itu hanya lewat ekspresi tengah dipamerkan nyata pada wajah cantiknya.
"Halloooo!" seru Ghesa bersemangat, tepat setelah sampai di ruang tamu. Diedarkan pandangan ke berbagai sudut, lalu.
Suasana sepi baru disadari oleh Ghesa, tak ada yang menyahut dan berikan sahutan balik atas sapaannya. Karena, memang tak ada siapa-siapa di ruangan tamu, dua adik atau ayahnya. Benar-benar tidak ada orang satu pun yang menyapanya. Balita itu pun jadi bingung. Tampak jelas pada sorot mata.
"Adek Dwi sama Adek Tri ke mana, yahh?" Ghesa bergumam dalam volume suara yang lebih mengecil, semakin merasa heran.
"Kenapa, Sayang? Di sini, kenapa jadi sunyi banget, ya? Adik Dwi, Adik Triga, sama Papa lagi ke mana? Kayaknya ga mungkin keluar."
Mendengar pertanyaan dilontarkan oleh sang ibu, maka Ghesa cepat membalikkan badan ke belakang. Lalu, gelengan kepala dilakukan balita manis itu. "Adek Dwi sama Adek Tri nggak ada, Mama. Huhhh."
"Papa juga nggak di sini, Mamaaa." Ghesa pun menambahkan dalam nada suara yang sarat akan kekecewaan besarnya. Dan, tak ketinggalan pula, bibir dimanyunkan ke depan oleh balita perempuan itu.
"Mungkin Papa dan adik-adik lagi ada di kamar, Sayang. Coba Kakak Ghesa cari dulu sekarang. Paling juga lagi bobok adik-adik di kamar bareng sama Papa. Mama yakin."
Ghesa segera saja anggukan kepala, akan menuruti apa yang sang ibu ucapkan. Sedetik kemudian, balita perempuan itu bergegas berjalan menuju ke arah kamar. Jaraknya sekitar empat meter.
Tak dibutuhkan juga waktu lama ataupun kesulitan bagi Ghesa untuk membuka pintu, karena knop dapat diputar dengan baik oleh balita itu. Lalu, Ghesa pun secepatnya masuk ke dalam. Kedua kaki gesit melangkah.
Pemandangan pertama yang tertangkap sepasang mata polos balita perempuan itu adalah kedua adiknya sedang tertidur di atas kasur tipis dilapisi karpet bulu. Posisi Dwiga serta Triga pun tengkurup, saling bersebelahan. Hanya dipisahkan boneka.
Senyuman Ghesa mengembang lebih lebar karena merasa senang melihat adik-adik kesayangannya. Balita itu pun lanjut saja berjalan, setelah selama 30 detik sempat berdiri, dihampiri Dwiga dan Triga.
Ghesa langsung mengambil posisi duduk bersila di sisi kanan adik bungsunya, selepas injakkan kaki di atas karpet bulu. Lalu, dibuka kantong plastik yang tengah dibawa, mencari barang. Mainan-mainan dibelikan untuk kedua adik kembarnya di mall.
"Kakak Ghesa sudah pulang belanja sama Mama, ya? Ke mana Mama, Nak? Apa lagi di luar Mama? Nggak ikut masuk?"
Ghesa segera menghentikan kegiatannya, langsung tolehkan saja kepala ke arah sang ayah yang baru saja keluar dari kamar mandi. Senyuman manis pun cepat semakin dikembangkan oleh Ghesa guna menyambut ayahnya. Tangan kanan pun dilambaikan.
"Papa, sinihhh!" panggil balita perempuan itu semangat. Tangan kanan dilambaikan.
"Iya, Nak. Papa akan segera datang ke Kakak Cantik. Ciattt. Tunggu Papa ke sana, Nak!"
Kikikan tawa pun seketika diloloskan oleh Ghesa disebabkan melihat sang ayah yang berlari ke arahnya. Balita perempuan itu langsung bertepuk tangan riuh, saat sang ayah sudah berada di sampingnya.
Ghesa lakukan sebentar saja. Lantas, balita itu bangun dari posisi duduk. Memajukan tubuh ke ayahnya guna memberi pelukan. Kikikan tawa kembali diloloskan, ketika terima ciuman di bagian pucuk kepala. Tak lama Ghesa memeluk ayahnya. Tidak sampai satu menit. Kemudian, dilepaskan balita itu.
"Kangen sama Papa. Hahaha."
Tawa Gandhi jelas terluncur akibat jawaban sang putri dalam nada manja. Ia tentu jadi gemas dan menunjukkan secara langsung dengan mencium kening buah hati sulung paling manisnya itu. Dilanjut memberikan usapan-usapan yang halus di bagian rambut. Pelukan belum ingin diakhiri olehnya.
"Kakak Ghesa sudah kangen sama Papa, ya Nak? Baru tiga jam nggak ketemu Papa, eh Kakak Ghesa sudah kangen saja." Gandhi berujar lembut. Senyuman dilebarkan.
"Hahaha. Iyah, kangen sama Papa ganteng."
Ghesa masih memandang lekat sang ayah. Sebentar lagi akan diutarakan keinginan ke ayahnya. "Papaaa," panggil balita itu manja.
"Ada apa, Sayang? Hmm, Kakak Ghesa pasti mau minta hadiah sama Papa karena sudah bilang Papa ganteng? Benar nggak, Nak?"
Ghesa keluarkan tawa renyahnya kembali dan mengangguk dengan mantap. "Iyahh, Papa. Betul. Haha. Mau beli es krim, Papa."
"Oke, Nak. Siap. Nanti kita beli es krim, ya. Bareng sama Adek Dwi dan Adek Triga."
Ghesa mengangguk dengan begitu semangatnya. “Horee, belie es krim cokelat.”