19

1458 Words
"Kenapa sepi sekali?" Wina bergumam dengan suara pelan. Ia heran dapati suasana rumah begitu sunyi, kala membuka pintu. Langkah kaki yang sempat terhenti pun Wina lanjutkan. Hendak menuju ke ruang tamu, berjarak hampir lima meter lagi di depan. Ia berjalan cukup cepat, penasaran akan di mana ketiga buah hati dan juga sang suami tengah berada kini, sebenarnya. "Om Swastyastu." Wina ucapkan salam, tepat setelah injakan kaki di ruang tamu. Pandangan langsung saja diedarkannya. Wina segera mengulum senyum, kala menangkap sosok sang suami tertidur di atas sofa. Ia pun menghampiri pria itu, tanpa lepaskan keseluruhan atensinya pada sang suami. Senyuman dibentuknya pada ujung-ujung bibir pun semakin melebar. Tak sampai satu menit, Wina sudah berhasil berada di hadapan suaminya. Ia lantas mengambil posisi duduk di tepian sofa yang tengah ditempati oleh pria itu. Sedetik kemudian, tangan kanan sudah digerakkannya menuju ke kepala sang suami. Dilakukan usapan-usapan dengan gerakan yang lembut dan halus. "Kelihatan banget kelelahan, pasti seharian ini pekerjaannya di kantor banyak dan menguras pikiran." Wina bergumam pelan sembari masih tetap lekat memandangi wajah lelah suaminya. "Sudah bangun?" Diloloskan gumaman kembali, kala rasakan pergerakkan pria itu, terutama di bagian kedua alis. Ia perhatikan secara cukup detail sehingga bisa tahu perubahan yang terjadi pada sang suami. "Om Swastyastu." Wina loloskan salam dengan suara lembut dan salimi tangan kanan suaminya. Lalu, dikecup dahi pria itu. "Om Swastyastu." Selesai membalas, Gandhi pun segera saja bangun dari posisinya yang tengah nyaman berbaring. Mengambil tempat duduk di samping sang istri. "Udah lama sampai di rumah, Ma?" tanyanya seraya memandang dengan sorot hangat. Ia juga sudah tersenyum. "Baru aja, Pa. Baru ke dalam. Sepi banget." Gandhi anggukan kepala dengan gerakan santai sebagai respons atas jawaban sang istri. Senyuman semakin dikembangkan olehnya bersamaan dengan rangkulan yang diberikan pada bahu sang istri. "Iya, Sayang. Benar. Kenapa jadi sepi banget rumah kita, ya? Anak-anak kita kira-kira ada di mana, 'kah? Sunyi banget tanpa suara." Kemudian, Gandhi mendaratkan ciuman sayang pada kening ibu tiga buah hatinya itu guna menunjukkan bentuk afeksi dan rasa cintanya. Setiap kali, sang istri pulang bekerja sudah pasti akan dilakukan. "Mana Mama tahu Papa. Lagian, Mama baru sampai. Dari pagi 'kan Papa yang ada di rumah ajak anak-anak kita. Kenapa malah tanya? Papa apa mau bercanda? Betul?" Gandhi pun terkekeh mendengar sahutan kurang menyenangkan yang sang istri lontarkan. Baginya lucu. Terlebih lagi, ekspresi tercetak di wajah wanita itu jika sedang kesal, seperti sekarang misalkan saja. Menyenangkan menyaksikan pemandangan yang tak biasa ditunjukkan. Tentu saja akan ia abadikan dengan sepasang matanya. "Hahaha. Mama tahu saja kalau Papa mau bercanda. Mama memang hebat. Apa, ya? Kayak cenayang." Gandhi loloskan godaan. "Mama bukan cenayang, Pa. Lagian, Mama gampang menebak karena konyol jawaban yang Papa kasih. Mau bercanda, tapi malah garing jadinya, Pa. Mama nggak ketawa." Gandhi mengencangkan tawa seraya kepala digeleng-gelengkan. "Haha. Kayaknya benar candaan Papa nggak lucu, Ma," jawab pria itu dengan nada suara semakin santai. "Benar juga kata Mama, yah tadi. Papa yang ajak anak-anak di sini, tapi Papa nggak tahu anak-anak kesayangan kita lagi di mana."  Wina mengangguk cepat. Disilangkan kedua tangan di depan d**a. Ia juga melemparkan tatapan keheranan ke arah sang suami sebab ingin menunjukkan rasa tak paham dengan jawaban yang dilontarkan oleh pria itu. Ya, memang, Wina belum mampu mengerti. Sang suami pun terlihat sedikit aneh. Pada raut wajah pria itu terkhususnya. Senyuman yang biasanya tampak hangat, digantikan oleh seringaian dan tatapan menggoda, saat menatap dirinya. Arah fokus pandangan dari sang suami tengah tertuju padanya, tak akan mungkin dirinya salah dalam melihat. "Papa kenapa mandang Mama kayak gitu? Pasti ada yang salah sama penampilan atau pakaian kerja Mama, ya? Betul gitu, Pa?" "Nggak ada apa-apa, Ma. Biasa aja Papa." Wina semakin merasa curiga karena sang suami meloloskan tawa. Masih tak biasa bagi dirinya untuk didengar. Jelas akan terus ia tanyakan sampai sang suami mengatakan dan menjelaskan yang sebenarnya. Tak ada  dapat disembunyikan darinya. Wina yakin akan bisa mendapatkan jawaban diinginkan. "Papa jangan bohong sama Mama. Nggak akan mudah, ya." Wina mengingatkan dalam nada suara yang semakin serius. Begitu pula akan tatapan kedua mata tambah tajam. "Nggak bolehlah bohong sama istri, Sayang. Bisa dapat karma nanti. Mendingan kamu kasih tahu yang jujur padaku," pinta Wina kembali dengan penekanan tetap diberikan. …………………………………………..   "Kakak...," Ghesa pun langsung sudahi kegiatannya mewarnai buah anggur, setelah mendengar panggilan dari sang adik bungsu yang juga disertai penepukkan pada bagian bahu kanannya. Keseluruhan dari atensi Ghesa pun telah dipusatkan ke sosok Triga. Sang adik ditatap dengan sorot yang lekat. Ghesa tahu bahwa Triga memiliki suatu tujuan. "Yaa, Dek Tri. Kenapa, yah?" tanya balita itu dengan lembut dan juga dilengkapi pameran senyuman lebar miliknya yang selalu saja tampak manis. Menggemaskan juga. "Angka dua ini, Kakak? Betul yahh, Kakak?" Pandangan seketika dipindahkan Ghesa ke buku yang tengah ditunjuk oleh sang adik memakai jari telunjuk tangan kanan. Dan, setelah mengamati untuk beberapa detik secara teliti. Lalu, Ghesa lakukan gelengan kepala. Karena, apa yang diucapkan Triga belum benar. Tak sesuai dengan angka yang tertulis di buku. Ghesa sudah mengenali betul. Jadi, tidak akan mungkin sampai salah dalam membaca. Sudah sering diajarkan oleh sang ibu juga. Ia pun sangat hafal. "Salah, Dek Tri." Ghesa keluarkan jawaban masih tetap dengan suara teralun lembut, justru terdengar semakin manis dan imut. "Gak angka dua. Yang benar adalah angka lima." Ghesa lanjut menjelaskan sembari memerlihatkan semua jari di tangan kirinya yang berjumlah sama seperti angka sedang dimaksudnya. Ditunjukkan ke sang adik. "Angka lima. Hahaha." Triga membalas cepat dalam nada yang bertambah riang. Kepala diangguk-anggukan seraya meniru apa yang dilakukan sang kakak, yakni memamerkan kelima jari. Tetapi, pada tangan kanan. "Kakak Cantik...," Tawa yang baru lima detik diloloskan oleh Ghesa, harus balita itu hentikan karena kedua gendang telinganya menangkap jelas panggilan manja dari Dwiga. Ghesa pun lantas menggerakkan kepala ke kanan, di mana adik laki-lakinya tengah duduk. "Iya, Adek Dwi. Kenapa?" Balita itu dengan cepat menanggapi dengan suara riang dan juga senyuman manis yang lebar masih tetap dipertahankan. Ghesa sedang senang. "Gambar lagi, Kakak." Dwiga pun meminta manja. Salah satu cara kerap dikeluarkan sebagai s*****a andalan dalam membujuk. Cengiran turut dipamerkan olehnya. "Ikut gambar sama Kakak dan Dwi, yah?" "Boleh Tri ikut gambar, Dwi?" Triga segera bertanya kembali sembari memandangi saudara kembarnya dengan tatapan sayang. Dan kala, dapatkan balasan anggukan dari Dwiga, maka Triga pun menambah lebarkan senyuman. Kikikan tawa senang tak lupa diloloskan oleh balita itu, sudah sangat jelas menunjukkan keriangannya. Gembira tak mendapatkan penolakan dari saudaranya. Kemudian, diberikan pelukan pada saudara kembar yang paling ia sayang. Cukup erat. Triga pun memang suka menunjukkan jika merasa gembira. Suara tawa juga semakin dikeraskan oleh balita laki-laki itu. "Adek Tri nggak mau peluk Kakak Ghesa juga? Mau peluk Kakak. Oke, Adek Tri?" Triga langsung melepaskan dekapan pada tubuh Dwiga, selepas mendengar lontaran pertanyaan dari sang kakak. "Mau peluk Tri, Kakak?" tanyanya dengan nada tetap manja. Dipandang semakin lekat sang kakak dalam tatapan yang polos. Menunggu reaksi yang akan diberikan. Dan penantian Triga pun tak harus menunggu lebih lama lagi. Kakak perempuannya menganggukkan kepala. Balita itu langsung melakukan apa yang tadi diminta sang kakak. Memberikan pelukan. Triga meloloskan tawa semakin kencang. Sementara, Dwiga juga ikut meniru saudara kembarnya. Tergelak dengan cukup keras. Tak berapa lama kemudian, balita laki-laki itu ikut mendekap kakak mereka. Dipeluk tidak kalah erat seperti sang kembaran. "Lepas Adek Tri, Adek Dwi. Kakak Ghesa jadi sesak karena dipeluk. Huh...hah...huh." Dwika dan Triga pun kompak melepaskan dekapan pada tubuh kakak mereka. Bahkan, keduanya langsung duduk bersila sembari menatap kakak perempuan mereka yang sedang menarik serta mengeluarkan napas berulang kali. Keduanya secara bersamaan menunjukkan sorot mata kekhawatiran. "Kakak Ghesa sakit dipeluk, yahh?" Dwiga bertanya dengan nada polos, walau pesan. "Kakak Ghesa sesak? Nggak bisa napas? Dek Tri bisa bantu Kakak Ghesa apa?" Triga pun ikut ingin tahu. Terdengar jelas dalam suara yang dialunkannya dengan begitu halus. "Sudah bisa napas Kakak Ghesa. Hahaha." "Hahahaha." Dwiga dan juga Triga jelas saja meniru tawa yang diloloskan oleh kakak sulung mereka. Duo kembar pun bertepuk tangan riuh sembari tersenyum lebar. "Adek Tri sama Adek Dwi bisa peluk Kakak Ghesa lagi. Kakak Ghesa nggak sesak. Haha." Dwiga dan juga Triga kembali menunjukkan kekompakkan dengan mengangguk secara bersamaan. Kemudian, keduanya bangun dari posisi duduk. Berjalan sedikit maju ke arah kakak perempuan mereka yang sudah merentangkan tangan ke samping. Kikikan tawa semakin dikeluarkan dengan kencang oleh Dwiga serta Triga, saat memeluk kakak mereka. Ghesa membalas mendekap erat. "Wah, anak-anak Mama manis banget. Mama jadi suka lihatnya. Kakak Ghesa, Dwi dan Triga harus selalu sayang- sayang, ya." Tepat setelah menyelesaikan ucapan, ketiga buah hatinya berlari cepat. Ya, menuju ke arahnya. Maka, Wina segera saja mengambil posisi berjongkok dan merentangkan kedua tangan ke samping guna menyambut tiga anak manisnya. Wina juga tersenyum lebar. "Maamaaaa!" Seru Dwiga dan Triga kencang, selepas dapat memeluk ibu mereka erat.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD