Seperti rencana satu minggu lalu, Gandhi mengembalikan semua mainan yang pernah dibelikan oleh Wina. Termasuk sejumlah uang dikirimkan wanita itu ke rekening ibunya. Giri sudah bertekad tak akan menerima apa pun dari Wina. Ia masih mampu membiayai semua kebutuhan Ghesa dari gajinya bekerja sebagai bartender di sebuah bar yang tidak cukup ternama dan berkelas.
Mungkin dibandingkan dengan wanita itu, kekayaannya tak seberapa. Kalah jauh. Bukan rahasia lagi bahwa Wina menjadi pewaris utama bisnis dan perusahaan yang dimiliki ibunya. Gandhi selalu sadar akan kenyataan tersebut, sejak mereka resmi menikah.
"Non Wina ada di dalam. Bapak bisa temui Nona Wina. Saya sudah bilang Bapak datang kemari. Nona Wina ingin bertemu Bapak."
Senyuman ramah yang tipis segera diperlihatkan Gandhi, ketika satpam penjaga rumah sang istri memberi tahu. "Terima kasih, Bik," balasnya dengan suara pelan.
"Saya masuk dulu ke dalam," lanjut Gandhi dengan tetap sopan. Senyum kian melebar.
Setelah menerima balasan berupa anggukan, maka kedua kaki panjangnya dilangkahkan segera menuju ke teras depan dari kediaman mewah Wina, tepatnya sang ibu mertua. Gandhi merasa sudah cukup lama tak berkunjung, kira-kira ada selama dua tahun. Namun, dari penglihatannya, tidak ada banyak perubahan yang terjadi. Baik pada perabotan atau desainnya.
"Om Swastyastu." Gandhi mengucap salam dalam suara pelan. Sesuatu yang wajib dilakukan olehnya jika datang bertandang.
"Om Swastyastu, Gan. Silakan masuk."
Gandhi hanya lakukan anggukan kepala kecil, membalas perkataan Wina. Ekspresi wajah datar dipertontonkan ketika wanita itu memandangnya. Wajah pucat sang istri berhasil seketika dalam menyita perhatian dari Gandhi. Akan tetapi, ia memilih tak bertanya. Lebih baik diam. Sangat enggan pula menunjukkan bentuk perhatiannya lewat lontaran pertanyaan sederhana. Tak ingin turut campur juga, tentu saja.
"Kita bicara di ruang tamu saja, Gan."
Gandhi kembali hanya mengangguk pelan, tak loloskan jawaban secara lisan. Kemudian, ia berjalan dengan langkah yang tidak cepat. Mengekor di belakang sang istri. Perhatiannya terus dipusatkan secara keseluruhan pada sosok wanita itu.
Bagian tangan kiri istrinya yang sedang diperban, lalu jadi fokus atensi Gandhi. Ketika dilihat lebih saksama lagi, maka warna merah yang diyakini sebagai darah tampak nyata. Rasa curiga dan cemas muncul bersamaan di dalam benaknya, kini.
"Silakan duduk, Gan. Kamu mau minum apa? Kamu mau kopi seperti biasa? At--"
Kali ini, Gandhi menggeleng. "Tidak usah buatkan aku minum. Aku hanya akan sebentar di sini. Aku ingin kembalikan semua barang yang kamu kirimkan ke rumahku untuk Ghesa. Aku nggak akan bisa menerima," jawabnya dengan nada tegas.
"Mainan-mainan dan boneka yang kamu berikan harus aku kembalikan. Termasuk, juga uang setiap bulan yang sudah kamu transfer ke rekening Ibuku," lanjut Gandhi dalam nada suara yang lebih dingin lagi.
"Aku minta kamu jangan lakukan semua ini lagi. Nggak kami butuhkan bentuk perhatian apa pun darimu untuk Ghesa. Baik, mainan atau sejumlah uang yang kamu kirim pada Ibuku, Na. Aku masih bisa membiayai Ghesa dengan jerih kerja kerasku sendiri, ya."
Terus dipandangnya sosok sang istri. "Aku tahu kamu punya banyak uang. Jadi, apa yang kamu berikan, nggak seberapa. Tapi, aku minta kamu tolong mengirimkan apa pun nanti lagi. Aku cuma akan dibuat nggak nyaman dan terganggu dengan semua yang kamu lakukan," lanjutnya secara jujur.
Gandhi semakin menajamkan tatapan, meski sorot mata teduh dan sarat luka yang ditampakkan Wina sungguh berhasil untuk menyita perhatiannya.Namun, kemudian logika dikedepankan agar tak sampai terlena ataupun menaruh simpati berlebihan.
"Tolong juga jangan terlalu tega padaku, Gan. Bagaimana pun juga, aku adalah Mama kandung Ghesa. Aku yang melahirkan anak kita. Aku juga yang sudah menyusuinya. Aku harus bagaimana lagi? Aku sangat sakit p-"
"Berhenti ngomong, Na! Kamu nggak mesti bilang begitu. Kamu memang ibu kandung Ghesa, kamu harusnya tahu kalau kamu salah sudah meninggalkan dia saat masih bayi. Waktu itu, dia sangat membutuhkan kamu! Tapi, apa? Kamu tetap pergi!"
Pertahanan Wina hancur seketika, tepat setelah Gandhi berikan kata-kata pedas untuknya dalam seruan marah. Air mata pun mengalir deras menuruni kedua pipi. Rasa sesak di d**a kian besar. Membuat Wina menjadi kesulitan bernapas sekarang. Isakan pun tak mampu dicegah keluar. Ia spontan saja menangis, tidak sengaja dirinya lakukan hanya semata mencari perhatian.
"Maafkan aku, Gan. Akulah salah. Aku yang salah sudah pergi meninggalkan Ghesa, saat dia membutuhkan diriku. Maafkan, aku. Kamu pantas marah dan juga membenciku. Sangat wajar kamu bersikap begini padaku. Nggak akan aku dendam kamu membentak dan kasar berbicara denganku. Tapi, tolong kasih aku kesempatan bertemu sam--"
"Memang wajar, Na. Kamu pantas untuk aku benci. Tapi, aku nggak mungkin melakukan semua itu. Aku nggak akan mampu, asal kamu tahu. Walaupun, aku sudah berupaya membencimu. Nyatanya sulit, Na." Gandhi luncurkan kata-katanya dalam nada suara yang dingin. Begitu juga dengan tatapan menajam. Dikatakan semua apa adanya saja.
"Kamu sudah melakukan kesalahan yang membuat aku sangat kecewa, Na. Aku nggak pernah terpikirkan kamu tega waktu itu meninggalkan Ghesa yang masih bayi dan membutuhkan kamu. Diluar perkiraanku apa yang sudah kamu perbuat pada kami."
"Aku benar-benar minta maaf sama kamu, Gan. Aku ini memang sangat salah sudah meninggalkan kamu dan juga anak ki-"
Win tak bisa melanjutkan ucapannya karena merasakan kaget oleh apa dilakukan sang suami, yakni memeriksa pergelangan tangan kirinya dengan sorot mata terkejut, ia saksikan secara jelas. Membuat tubuhnya menjadi kaku seketika. Tetapi, tak dialihkan pandangan dari sosok sang suami, walau layangan tatapan semakin tajam diberikan kepada dirinya. Wina takut sudah pasti.
"Apa kamu melakukan sayatan di sini, Na? Apa tujuanmu bertindak bodoh begini? Apakah kamu mau bunuh diri? Lalu, apakah semua ini bisa menyelesaikan masalah yang sudah kamu lakukan? Jangan bersikap yang nggak masuk akal kayak gini, Na!"
Wina menarik kedua ujung bibirnya guna membentuk senyum. Namun, tipis saja dan terlihat miris. "Aku malah mau mati aja."
"Hidupku sudah kacau begini. Aku nggak punya alasan buat lama-lama pertahankan nyawaku, Gan. Mungkin mati lebih bagu--"
"Berhenti mengucapkan kata-kata busuk itu di depanku, Na! Kamu jangan konyol!"
.........................................................................................
"Aduhhh."
Gandhi langsung hentikan kegiatannya membersihkan sisa-sisa darah pada luka di pergelangan tangan sang istri, saat dengar wanita itu keluarkan suara ringisan. Pastinya akan timbulkan perih. Walaupun, tak mengalami, Gandhi seperti bisa ikut merasakan.
"Lebih baik kamu obati sendiri, atau bawa ke rumah sakit." Dilontarkan sarannya dalam suara dan juga ekspresi yang datar.
"Iya, akan aku obati nanti sendiri. Terima kasih sudah mau membantuku, Gan." Wina ucapkan dengan tulus, nadanya lembut
Turut dibentuk senyuman yang lumayan lebar, tatkala mata mereka saling memandang. Kesan dingin sangat nyata tampak pada sorot pria itu. Membuat Wina sedikit takut. Namun, kerinduan akan tatapan hangat milik sang suami jauh lebih besar. Entah, kapan bisa dilihatnya kembali. Sungguh, mustahil dalam waktu yang dekat.
"Aku harap kamu jangan lakukan tindakan bodoh lagi, Na. Aku rasa tidak cocok dengan imej kamu sebagai wanita karier yang sukses. Menggores pergelangan tangan tidak bisa menyelesaikan atau mengurangi masalah yang sedang kamu hadapi, sama sekali."
Hati Wina seketika sakit mendengar ucapan suaminya yang pedas. d**a juga seakan diremas kuat hingga menyebabkan tidak mampu bernapas dengan benar dan teratur. Belum dipindahkannya pusat atensi dari sepasang mata sang suami. Sedangkan, pria itu tak memandang balik. Jadikan sudut lain ruang tamu sebagai objek dari pandangan. Suaminya sengaja melakukan, ia sangat menyadari.
"Iya, Gan. Aku tahu. Cuma, aku terkadang benar-benar tidak bisa menahan rasa sakit di hatiku harus berpisah de-"
"Kamu yang sudah mengambil keputusan, Na."
Kali ini, Gandhi memandang istrinya. Masih didominasi dalam sorot mata yang tajam. "Kamu sudah mengambil putusan untuk pergi. Memilih bisnis. Bukan mementingkan Ghesa."
"Apa sekarang kamu mulai menyesal? Aku rasa semua tidak akan berguna lagi." Gandhi kembali luncurkan kata demi kata pedas. Diberikan pula penekanan yang juga lumayan jelas.
Setelah selesai berucap, Gandhi pun beranjak bangun dari sofa. Hendak pulang tentunya. Namun, tangan bagian kiri dipegang oleh sang istri. Reaksi penolakan tak ditunjukkan oleh Gandhi. Dia hanya memilih diam, tetapi dua tangan dikepalkan. Tanda bahwa gejolak emosi di dalam dirinya kian bertambah.
"Aku benar-benar ingin minta maaf, Gan. Aku memang salah sudah meninggalkan anak kita saat tiga bulan. Sekarang, aku menyesal sudah membuat keputusan yang sangat salah."
Air mata Wina turun semakin deras. Ia mengisak seraya pandangi suaminya yang tengah berdiri. "Aku minta maaf."
"Aku benar-benar minta maaf. Aku salah. Aku waktu itu hanya memikirkan cara bagaimana Mama nggak sampai menyakitimu, Ghesa, Ibu, dan Prema. Aku nggak mau kalian harus terluka karena aku yang nggak bisa menuruti apa keinginan Mamaku."
Kemudian, wajah ditutup. Tangisan belum mampu untuk dirinya redakan, meskipun berusaha. Wina bukanlah tipikal orang yang akan memanfaatkan air matanya untuk mendapatkan simpati dari Gandhi ataupun hendak inginkan pria itu memaafkannya. Sama sekali tak terpikirkan niatan buruk di dalam dirinya.
"Apa yang harus aku lakukan menanggapi permintaan maafmu, Na? Apa aku harus memaaafkan? Apa aku abaikan saja?"
Wina langsung menolehkan kepala dan memusatkan atensi ke sosok Gandhi, masih dengan air mata berderai. Ia tak sangka bahwa pria itu akan merespons demikian. Sebuah balasan yang lebih bersahabat. Tidak menampakkan kedinginan pria itu.
"Aku harap kamu mau memaafkanku, Gan. Aku juga berharap kamu akan mengizinkan aku bertemu dengan Ghesa. Meski, satu kali saja. Aku akan senang bisa menggendong anak kita."
Gandhi yang sudah sejak beberapa menit lalu pusatkan atensi pada sosok sang istri pun semakin merasa iba akan lontaran kata diucapkan. Ditambah lagi dengan cairan bening menerus dikeluarkan oleh Wina dari sepasang matanya yang indah. Ia menjadi tidak tega. Rasa iba pun muncul secara tiba-tiba. Hatinya masih mampu diketuk.
"Aku akan memaafkanmu, Na." Gandhi berujar tanpa keraguan. Cukup mantap. "Aku akan memaafkan kesalahan yang sudah kamu lakukan dulu. Kita anggap masa lalu," tegasnya kembali dalam nada dingin.
"Kamu serius akan memaafkanku, Gan? Makasih banyak, ya. Aku senang bisa kamu maafkan akhirnya. Makasih banyak." Wina berujar dengan serius. Ada harapan nyata di dalam suaranya yang teralun lebih keras.
Anggukan dilakukan oleh sang suami pun sukses membuat Wina semakin merasakan kelegaan di dalam d**a. Diperlihatkannya lewat mata yang berkaca-kaca. Senyum pun dilebarkan. Wina benar-benar masih tidak bisa menyangka bahwa dirinya mendapat jawaban yang ditunggu-tunggu. Bahkan, ada ketidakpercayaan sangat kuat. Baginya juga seperti mimpi belaka. Namun, bukan bunga tidur indah yang sedang dialami, saat ini.
"Iya. Aku sudah memaafkanku, Na. Tapi, aku punya satu syarat kepadamu. Kamu harus memenuhi. Apa kamu melakukannya?"
Wina tak butuh waktu lama yg untuk beri jawaban berupa anggukan pelan. "Aku pasti akan melakukan. Apa yang kamu mau?"
"Jangan menyakiti dirimu lagi dengan cara menggores pergelangan tangan. Tolonglah ingat permintaanku ini. Kamu harus bisa mengedepankan logika dan kenyataan."
Wina kembali anggukan kepala. "Akan aku lakukan sesuai apa yang aku janjikan tadi."