"Kenapa kamu bawakan lagi mainan untuk Ghesa? Bukan sudah aku katakan, kalau kamu jangan berikan apa pun pada Gh—"
"Hari ini saja, tolong jangan tolak mainan yang aku belikan untuk Ghesa. Sebagai Ibu, aku ingin berikan apa yang aku bisa."
"Aku tidak hanya belikan mainan, tapi juga makanan untuk Ghesa. Lain kali, aku tidak akan mengirim apa-apa lagi ke sini. Tapi, hari ini tolong berikan izin, Gan. Jangan menolak. Aku mohon."
Wina menatap serius sang suami di hadapannya. Berharap pria itu akan bisa mengerti. Rasanya pun aneh jika harus menjenguk kembali buah hati mereka setelah sekian bulan berpisah, tanpa ia bawakan apa-apa. Terlebih, ada sejumlah mainan serta boneka yang Wina ingin beri. Begitu juga dengan beberapa pakaian bayi lucu.
Dan, ketika menangkap anggukan kepala dilakukan sang suami dalam gerakan pelan. Ia sungguh senang sekaligus lega. Pria itu masih memerdulikan perasaannya, meskipun terus menunjukkan sikap dingin. "Terima kasih, Gan," ujarnya dengan penuh ketulusan.
"Ayo, masuk."
Wina cepat mengangguk, tanpa keluarkan balasan. Lantas, ia mengikuti sang suami yang sedang menaiki satu demi satu anak tangga, berada di depan gapura kediaman mertuanya. Wina semakin kuat dilanda perasaan gugup, kedua tangan memegang beberapa kantong plastik dan juga tas belanjaan pun kian dieratkan olehnya.
"Sekali lagi, terima kasih sudah memberi kesempatan padaku untuk bertemu dengan anak kita, Gan. Terima kasih."
Gandhi langsung hentikan langkah kakinya. Kemudian, menengokkan kepala ke belakang supaya dapat melihat sosok sang istri. "Aku hanya lakukan apa yang harus aku perbuat."
"Mempertemukan seorang Ibu dengan putrinya sudah lama tidak berjumpa. Aku tidak akan bisa memutuskan ikatan di antara kalian." Gandhi berucap masih dalam suara dinginnya.
"Iya, Gan. Terima kasih banyak, ya. Suksma." Kembali secara tulus, Wina melontarkan kalimat-kalimatnya. Ia pun juga sunggingkan senyum. Kebahagiaan tampak nyata di matanya.
"Aku tahu kamu masih memedulikan perasaanku. Tidak akan mengabaikan keinginanku bertemu dengan anak kit—"
"Papahpapah... Papahhpahpapah... Papahpapah."
Seketika, Wina diselimuti oleh keteganan. Tepat, pasca mendengar celotehan manis bayi perempuan. Ia secara cepat menaiki anak tangga yang tersisa. Mengikuti sang suami, pria itu sudah lanjut berjalan terlebih dahulu daripada dirinya. Wina kian merasa detakan jantung meningkat dan tak dapat tenang.
"Papahpapah... Papahpahpahh... Papahpapah."
"Papa?" Wina bergumam dengan nada begitu lirih, volumenya tak cukup besar. Tanpa terasa, mata pun sudah berkaca-kaca.
"Ghesa yang bilang begitu. Dia lagi belajar ngomong sekarang. Kadang akan suka bicara sendiri. Ghesa banyak berkembang, sejak kamu meninggalkannya, Na. Dia akan mau satu tahun."
Wina lekas mengangguk. Mengerti akan penjelasan dari Gandhi berikan kepadanya. "Iya, Gan. Aku sudah mengerti juga."
Selesai menjawab, Wina pun mempercepat kakinya melangkah agar tidak terlalu jauh tertinggal. Bahkan, ia ingin menyamai. Berjalan di sebelah pria itu. Tak sampai hitungan 10 detik, telah berhasil dilakukannya. Dan, saat memandang ke wajah sang suami, maka Wina tak mampu mencegah debaran jantung.
Tentu, perasaan cinta yang ia miliki sama sekali tidak memudar. Walau, sudah lebih dari delapan bulan berpisah. Nyatanya, ia terus memikirkan pria itu, disamping buah hati cantiknya.
"Papahhh... Pahpapahh... Papahhh."
Tolehan kepala seketika Wina pindahkan ke depan. Satu detik kemudian, sepasang indera penglihatannya menangkap sosok kecil sang putri. Maka, Wina tak dapat mencegah produksi dari air matanya yang semakin bertambah. Namun, belum sampai tangisan pecah. Wina memang berupaya untuk menahan.
"Hallooo, Ghesa. Papa sudah pulang. Kangen sama Papa, ya? Ghesa kangen nggak sama Papa? Pasti sudah rindu sekali, ya? Haha."
Wina menarik kedua ujung bibirnya karena mendengar untaian kalimat manis yang dilontarkan sang suami. Ditambah dengan perlakuan lembut pria itu pada sosok kecil Ghesa. Wina merasa bahwa kasih sayang Gandhi kian besar saja pada putri mereka. Sudah banyak hal pula dilewatkan setelah tinggal tak bersama pria itu dan juga Ghesa selama berbulan-bulan lamanya.
"Papapahhh... Papahhh."
Rasa haru sekaligus bahagia yang sedang melingkupi, ditunjukkan oleh Wina lewat air mata semakin tak terbendung menuruni dua pipinya karena celotehan lucu Ghesa. Sunggingan senyumanya pun turut lebih dilebarkan lagi sembari menatap dengan lekat sosok kecil sang putri yang turut pula memandang. Wina merasa disambut dengan hangat. Tak ada pancaran ketakutan pada sepasang mata polos sang buah hati.
"Hai, Sayang." Wina berujar dengan suara begitu pelan dan cukup serak. Air mata belum berkurang dikeluarkan olehnya.
"Hai, Ghesa. Apa kabar, Sayang? Maaf, Mama baru bisa lihat Esa yang sudah besar. Mama kangen banget sama Esa." Wina berujar kian lirih. Volume lebih dikeraskannya lagi.
Isakan Wina pun semakin mengencang, ia tak mampu menahan kesesakan di dalam d**a. Rasa bersalah bertambah besar saja pada dirinya. Setiap wanita yang sudah menjadi seorang ibu pasti akan mengalami hal sama, kesedihan mendalam. Terkhusus pada sosok kecil sang buah hati yang telah tega ia tinggalkan saat masih butuh dirawat.
"Kamu nggak mau mengajak Ghesa? Kamu apa ingin menggendong anak kita, Na?"
Wina yang belum bisa redakan tangisannya, segera mengalihkan pandangan ke sosok Gandhi. Ia tak cepat bereaksi. Tidak sangka bahwa pria itu akan berkata yang demikian. Namun, Wina enggan membuat Gandhi menunggu lama. Ia lantas menganggukkan kepala beberapa kali dengan gerakan yang mantap. Tidak akan menolak tentu saja. Tetapi, Wina merasakan keraguan tiba-tiba.
"Aku mah menggendong Ghesa. Tapi, apa anak kita nggak menangis?" Wina langsung ungkapkan hal mengganjal di hatinya.
"Dicoba dulu, Na. Aku nggak berani jamin Ghesa nggak nangis. Tapi selama ini, kalau ketemu orang jarang dilihat dan berusaha menggendong, Ghesa nggak menolak."
Wina hanya membalas dengan anggukan singkat. Kemudian, ia mengambil sang buah hati dari sang suami. Rasa gugup pun kini sudah melingkupi diri Wina. Akan tetapi, ia coba untuk tetap tenang dan menghentikan tangisan. Tak akan bagus sampai putrinya melihat, pasti membuat Ghesa takut.
Dan, dalam hitungan beberapa detik, Wina sudah dapat menggendong buah hati kecil cantiknya. Ghesa tampak anteng-anteng saja dipeluknya. Bahkan, sang putri pamerkan senyuman manis. Sebabkan, Wina semakin merasakan keharuan. Ketenangan juga bisa diraih perlahan-lahan, pasca menggendong Ghesa. Walau demikian, tetap bertahan rasa bersalah di dalam diri Wina, tak akan dapat dihapuskan dengan mudah dan cepat.
"Kamu sudah bertemu Ghesa sekarang, Na. Kamu nggak punya alasan menangis. Aku akan kasih kamu mengunjungi Ghesa kapan kamu mau. Dia juga membutuhkan kamu."
Wina mengangguk cepat. "Iya, Gan. Makasih banyak sudah mengizinkan aku bertemu sama anak kita," ujarnya begitu serius.
.................................................................................................
Wina menambah tinggi lengkungan di masing-masing sudut bibir, tatkala ditatap kian lekat oleh sang putri yang baru ia suapkan bubur. Sorot mata lugu Ghesa serta pameran senyuman manis bayi perempuan itu, benar-benar tampak menggemaskan untuk Wina.
Kemudian, diberikan kecupan singkat pada kening Ghesa, sarat akan sayang yang besar. "Enak nggak, Sayang? Esa suka?"
Wina kembali menarik ujung-ujung bibirnya naik, manakala disuguhkan tawa renyah sang putri. Balasan atas pertanyaan yang dilontarkannya. Meski, tak ada celotehan keluar. Wina tetap senang. Ia sukses dihibur. Beban yang dirasa, seketika jadi menghilang.
Ingin sekali, Wina tiap hari menyaksikan tingkah lucu sang putri. Namun, seperti sangat sulit dilakukan. Terutama, mendapatkan izin berkunjung dari sang suami. Belum lagi, kesibukkannya dalam berbisnis dan menghadiri pertemuan-pertemuan bersama para klien.
Meski demikian, Wina pasti akan luangkan waktunya untuk menjenguk Ghesa. Setelah hampir delapan bulan tak berjumpa, ia tak cukup puas hanya bertemu satu hari saja. Perasaan rindu setiap saat selalu ada, begitulah sujatinya seorang ibu pada buah hatinya.
"Mamamahmah."
Keharuan secara cepat melingkupi diri Wina, hanya karena dengar sang putri meluncurkan celotehan berisi panggilan untuknya. Begitu terdengar tulus dan lugu. "Ada apa, Esa?" tanya Wina lembut.
"Mau maem bubur lagi, ya? Akan Mama suapkan sekarang, Nak," lanjut wanita itu sembari menyendok bubur dalam mangkuk.
Lalu, sendok yang dipegang diarahkan ke mulut sang putri. Melihat bayi perempuannya mengunyah dengan lahap, ia sungguh senang. Hatinya terasa sejuk. Momen seperti ini, telah lama dibayang-bayangkan, yakni berbulan-bulan. Dan baru bisa direalisasikan hari ini. Tak akan pernah Wina lupakan. Menjadi memori indah yang akan selalu berputar di dalam kepalanya.
"Mama sayang Ghesa." Wina berujar begitu lembut dan berikan ciuman dalam cukup lama di bagian kening sang putri.
Tanpa terasa ataupun disadari, air matanya tumpah. Ia merasakan kebahagiaan sekaligus kesedihan bersamaan. Ada kecemasan pula bahwa dirinya tak bisa sering bertemu dengan Ghesa. Takut sang suami akan menunjukkan pelarangan.
"Kenapa menangis, Na?" Gandhi ingin memastikan. Ia berharap dugaannya yang muncul dalam kepala, akan keliru.
Wina cepat gelengan kepala, setelah dengar suaminya lontarkan pertanyaan. "Aku tidak apa-apa, Gan. Cuma senang bisa berjumpa sama anak kita. Masih seperti mimpi bagiku."
"Mimpi bisa bertemu, menggendong, bermain bersama Ghesa. Bahkan menyuapkan makanan pada anak kita. Semua seperti bunga tidurku setiap malam. Tapi, kali ini jadi nyata."
Wina mengembangkan senyumannya. Kemudian, sosok kecil Ghesa dipindahkan, didudukkan di atas pangkuannya. Ia pun rasakan sensasi berbeda. Percampuran ras, yakni kebahagiaan dan keharuan. Melebur menjadi satu di dalam diri Wina.
"Mama sayang banget sama Ghesa," ujar Wina lembut seraya memberikan kecupan manis di atas pucuk kepala putrinya.
Kemudian, Wina semakin merasakan keharuan karena sang buah hati memerlihatkan senyuman yang begitu manis serta lucu. Membuat hati Wina seketika merasakan kedamaian dan kebahagiaan. Beban-beban yang dipikul pun berkurang drastis.
Wina melupakan sejenak permasalahan-permasalahan sedang dihadapi. Ingin menikmati waktu berharga bersama sang buah hati yang sudah berbulan-bulan tidak dijumpainya. Wina benar-benar merasa bersyukur juga dapat bertemu dengan putrinya.
"Maafin Mama, Sayang. Mama pernah meninggalkan Ghesa. Mama apakah nanti dimaafkan sama Ghesa, Sayang?" Wina bertanya dengan suara lirihnya. Mata kembali berkaca-kaca.
"Tentu, Nak. Ghesa akan memaafkanmu. Ikatan seorang anak dan Ibu tidak akan pernah bisa dilepaskan sampai kapan pun."
Win segera menolehka kepalanya ke depan, ingin memastikan posisi sang ibu mertua berada, setelah melontarkan kalimat. Ia rasakan kerinduan yang juga teramat. Dan tak butuh lima detik, sampai Wina melihat sosok ibu mertuanya yang tengah berdiri.
Secara cepat, ia bangun sembari menggendong Ghesa. Dilanjut memberikan pelukan erat pada ibu kandung sang suami. "Aku kangen banget sama, Ibu. Bagaimana kabar Ibu sekarang?"
"Aku harap Ibu selalu sehat. Maafkan aku, Bu. Semoga Ibu bisa memaafkan semua kesalahanku dulu yang tetap pergi, meski Ibu sudah melarangku meninggalkan Ghesa dan Gandhi. Tapi, aku tetap mengabaikan. Aku benar-benar minta maaf sama Ibu."
Wina lakukan penarikan napas yang cukup panjang guna mengurangi kesesakan dalam d**a. Ia lantas embuskan dengan cepat. Tak dialihkan pandangan dari sang ibu mertua hingga dapat menangkap anggukan yang dilakukan oleh ibu kandung sang suami. Ia pun dapat merasa lega sedikit. Wina yakin dugaannya bahwa sang ibu mertua tidak pernah marah, ternyata memanglah benar.
Tentu, ia sangat bersyukur. Sebab, Wina tak ingin mempunyai masalah dengan Ibu Yuli, mengingat ia begitu menyayangi sang ibu mertua. Sudah dianggap seperti orangtua sendiri. Walau berpisah berbulan-bulan, tak pernah Wina absen mendoakan Ibu Yuli agar tetap sehat demi bisa menjaga Ghesa.
…………………………………………….
Gandhi bangun lebih pagi, meskipun sedang libur. Ia sudah memiliki janji untuk ajak buah hatinya main ke taman, terletak tidak jauh dari rumah. Ia pun pergi ke sana berjalan kaki. Sampai sekitar 15 menit kemudian. Gandhi tak merasa lelah, walau harus gendong sang putri. Melihat Ghesa senang, ia pun menjadi bersemangat. Sudah seharusnya demikian. Ghesa memanglah masih selalu menjadi alasan utamanya.
Gandhi tidak seorang diri. Wina akan ikut serta menemani. Ia yang mengajak dan telah memberi tahu wanita itu kemarin malam. Wina menyanggupi untuk datang. Tak dapat dimungkiri, Gandhi senang wanita yang masih berstatuskan istrinya itu berjumpa lagi dengan anak mereka. Ia yakin pula jika Ghesa akan semakin bergembira saat nanti sudah bertemu dengan Wina. Gandhi pun telah membayangkan bagaimana tawa lucu dikeluarkan oleh buah hati manisnya.
"Wina?" Gandhi menggumam spontan saja.
"Dia sudah datang? Sejak kapan?" Gandhi mengeluarkan gumaman, kala saksikan mobil mewah milik Wina di area parkir.
Kemudian, Gandhi lanjutkan langkah kaki menuju ke taman sembari mengedarkan pandangan. Tentu, ingin mencari dengan cepat keberadaan Wina. Namun, tak mudah karena lumayan banyak pengunjung. Jadi, cukup susah mengenali. Gandhi pun enggan untuk menelepon wanita itu. Mengingat komunikasi di antara mereka berdua masih kurang baik. Lebih tepat, ia yang belum bisa merasa nyaman berbicara dengan Wina.
"Mamahmahmah...Mamahmamahh."
Mendengar celotehan sang putri, maka kepala secara cepat diarahkan ke depan. Tampaklah sosok sang istri. Wanita itu sedang berdiri sekitar dua meter di hadapannya. Seketika pula, Gandhi rasakan debaran jantung meningkat hanya karena saksikan senyum Wina. Reaksi yang tetap saja sama. Gandhi pun menyadari bahwa ia belum mampu melupakan perasaannya.
"Mamahmahmamah... Mamahmamahmaah."
Racauan sang buah hati sukses membuat Gandhi segera sadar dari keterpesonaan pada sosok sang istri. Ia pun menyadari bahwa cintanya pada wanita itu belum sedikit pun berkurang, meski mereka tak jumpa atau berkomunikasi sekian bulan. Tetapi, Gandhi enggan berharap jauh, hubungan mereka akan sulit seperti dulu.
"Haloo, Esa. Cantik sekali anak Mama pakai rok, ya. Tambah manis Esa juga, Sayang.*
Tidak butuh waktu lama bagi Gandhi untuk menyerahkan sang putri pada Wina. "Tolong gendonglah Ghesa," ujarnya dalam suara yang terkesan dingin. Memang, disengaja.
"Iya, Gan. Akan aku gendong anak kita."
Tepat setelah sang istri selesaikan ucapan. Wanita itu pun langsung ambil alih sang putri. Gandhi tak lepaskan atensi dari sosok istrinya yang sudah menggendong buah hati mereka. Cara wanita itu tersenyum mampu membuatnya terhipnotis selalu. Debaran jantung terus mengalami peningkatan dari detik ke detik. Gandhi pun tidak berusaha untuk melakukan pengontrolan. Sebab, ia yakin tak akan mampu. Dibiarkan saja.
"Mama kira rok yang Mama belikan tidak cocok dipakai sama Esa karena kebesaran. Tapi, ternyata pas, ya Nak. Mama lihat Ghesa tambah cantik. Lain kali, Mama akan belikan lagi. Rok yang beda warna. Esa mau, ya?"
"Aku tahu kamu banyak uang, Na. Tolong kamu ingat janji yang sudah kamu katakan. Tidak akan membelikan sering Ghesa mainan, barang atau pakaian. Kamu harus menepati. Aku nggak mau berhutang pada kamu yang banyak," respons Gandhi cepat.
"Aku nggak punya cukup uang. Apalagi, aku tahu pakaian-pakaian kamu akan belikan pasti harganya mahal. Tolong paham, Na."
Wina memilih untuk cepat anggukan kepala guna balas peringatan bernada dingin yang diucapkan sang suami. Ia tidak ingin memperpanjang masalah, mengiyakan saja perkataan pria itu. Lebih baik dirinya tak membantah karena ia ingin acara bersama sang suami dan putri mereka terus berlanjut dengan baik. Wina berusaha terus berdamai guna membuat hubungan dengan Gandhi tak memburuk kedepannya seperti dahulu.
"Iya, Gan. Iya. Aku akan memenuhi janji yang sudah kita berdua sepakati. Aku akan membelikan Ghesa barang atau mainan jika kamu sudah mengizinkan. Aku tidak akan mengingkari janjiku yang sudah dibuat, ya."
Perasaan bersalah langsung menyergap Gandhi. Kesadaran pun tertampar seketika. Ia merasa bahwa sudah keterlaluan. Tak seharusnya memang berucap demikian. Lebih dapat dirinya pikirkan kembali untaian kalimat di dalam kepala, sebelum tadi dilontarkan agar tidak menyinggung perasaan sang istri. Gandhi enggan lakukan pembelaan. Ia tentu saja akan mengakui.
"Maaf untuk kata-kata kasarku, Na." Gandhi berujar lirih, volume suara memelan.
Dipandang lekat sosok sang istri yang tengah menatapnya. Ia bisa melihat raut kebingungan pada wajah wanita itu. "Aku mau minta maaf soal kata-kata yang aku ucapkan, mungkin buatmu tersinggung atau terluka. Mestinya, aku nggak berkata kasar."
"Kamu nggak salah, Gan. Kayak yang aku bilang. Aku memang pantas mendapatkan perlakuan nggak baik dari kamu. Karena, aku yang salah. Aku akan siap menerima perlakuan apa pun. Aku nggak masalah."
Wina mengulas senyuman lebih lebar lagi. "Aku sangat senang kamu bisa memaafkan aku akhirnya. Kamu juga memberikan izin bertemu dengan Ghesa. Kamu nggak jahat, Gandhi. Kamu tetap pria terbaik bagiku."
"Dari dulu hati kamu baik. Jadi, nggak akan mungkin kamu bisa jahat sama orang lain, Gan. Itu kenapa aku memilih kamu sebagai pasangam hidup. Tapi, aku sudah membuat kamu kecewa. Aku banyak punya kesalahan juga sama kamu setelah kita menikah."
Gandhi tidak langsung merespons. Ucapan yang baru dirinya dengar terasa janggal. Ia tahu jika Wina bermaksud sampaikan secara jujur, tak dilebih-lebihkan. Apa adanya. Namun untuk Gandhi, kalimat terakhir yang dilontarkan memiliki arti khusus baginya. Mengakibatkan, perasaan Gandhi semakin tak menentu. Terpengaruh dengan cepat.
"Jangan membahas masa lalu. Kita di sini untuk menyenangkan Ghesa. Aku nggak mau urusan kita dibicarakan saat bersama Ghesa karena nggak bisa membuat ak--"
"Papahh... Papahh.. Papapahhh."
Mendengar celotehan sang putri, maka secepatnya diambil alih putri kecilnya dari sang istri. Gandhi pun tak lanjutkan kata yang hendak diucap. Walau demikian, ia yakin bahwa Wina sudah sangat bisa paham akan apa hendak disampaikan oleh dirinya. Gandhi enggan mengulang. Lebih baik, tak diperpanjang. Hanya akan menimbulkan masalah baru di antara mereka berdua saja.
...........................................................................................................
Hujan yang tadi turun mendadak, semakin deras saja. Tak memungkinkan Gandhi mengajak putrinya untuk pulang. Ia harus berteduh di kedai kopi lebih lama. Setidaknya sampai hujan benar-benar reda. Gandhi tak berpikir membawa payung karena keadaan cuaca yang tampak sangat cerah, matahari bersinar dengan terang.
"Esa lagi mengantuk, ya? Mau tidur sekarang, Sayang?"
Gandhi seketika menolehkan kepalanya pada sosok Wina. Wanita itu sedang memangku putri kecil mereka. Pemandangan bagi dirinya sangatlah mampu menyejukkan hati. Setiap kali, sang istri berupaya mengajak Ghesa bercanda atau bercanda, tak pernah ia ingin lewatkan. Berusaha akan diabadikan dan dijadikan memori.
"Aduh, Esa menguap lagi. matanya juga sudah merah, pasti tambah ngantuk, ya Sayang? Baiklah, Esa harus bobok sekarang."
Selepas istrinya berbicara, Gandhi langsung menyerahkan botol s**u sang putri pada wanita itu. "Ghesa akan lebih mudah tidur sambil minum s**u. Tolong juga kamu tepuk-tepuk paha Ghesa."
"Dia akan jadi makin cepat tertidur." Gandhi menambahkan dengan nada suara yang dibuatnya datar dan terkesan dingin juga.
"Iya, Gan. Baiklah, akan aku lakukan."
Sebagai balasan atas ucapan sang istri, Gandhi pun hanya lakukan anggukan dalam gerakan kecil. Tak ada senyuman dibentuk olehnya, walau melihat sosok Wina tersenyum cukup lebar. Gandhi terus pamerkan ekspresi wajah datar dan juga tatapan yang tajam.
"Boleh aku bertanya, Gan?"
Kepala pun segera Gandhi anggukan. "Tentang apa?" ujarnya masih dalam nada suara yang kental terkesan dingin.
"Tentang usaha dan pengorbanan yang kamu lakukan selama ini dalam membesarkan anak kita sendirian. Tanpa ada perananku sebagai ibu untuk Ghesa. Pasti tidak mudah, ya?"
Ketenangan Gandhi seketika terusik akan pertanyaan yang diluncurkan oleh sang istri. "Apa kamu wajib mengetahui dan aku harus menceritakan masa-masa buruk yang sudah aku lewati, selama depan bulan kamu pergi, Na?" balasnya sinis.
"Maaf, kalau aku menyinggung perasaanmu, Gan. Aku hanya mau tahu. Mungkin ceritamu akan dapat membuat rasa bersalahku bertambah." Wina menjawab secara jujur saja.
"Tidak ada yang harus aku sampaikan atau ceritakan padamu, Na. Biarkan aku menyimpannya cuma sendirian. Aku juga tidak suka membahas masa lalu. Hari-hari yang sudah aku lewati cukup sulit, setelah kamu meninggalkanku dan Ghesa."
Mata Wina berkaca-kaca. Kata-kata pedas diucapkan sang suami membuat hatinya semakin sakit. "Aku minta maaf."
"Aku benar-benar minta maaf. Saat aku pergi waktu ini, nggak aku pikirkan perasaan kamu dan bagaimana dampaknya untuk kamu, Gan. Pasti nggak mudah buat kamu sendirian menjaga dan merawat anak kita. Meski, Ibu juga membantu kamu."
Setetes air mata Wina pun menuruni pipi. Atensi belum ingin dipindahkan dari sosok pria yang ia cintai. "Maafkan aku, ya."
"Aku sudah membuat kamu menderita kayak gini, Gan. Ak—"
Wina tak dapat lanjutkan kata yang hendak diucapkan karena menerima pelukan dari Gandhi. Tubuhnya pun jadi kaku. Tidak percaya saja akan menerima dekapan sang suami yang sudah lama dirindukannya. Namun, Wina berupaya mengontrol diri.
Hubungan mereka sedang kacau. Ia juga tak berani berharap terlalu banyak. Telah memasrahkan semuanya. Jika memang harus berpisah secara resmi, yakni bercerai. Maka, Wina sudah menyiapkan diri. Bertahan rasanya tidak mungkin dilakukannya. Terlebih, ia telah menyakiti perasaan Gandhi. Tak pantas lagi dirinya untuk pria itu. Meski, Wina masih sangat mencintai.
"Aku bingung harus bereaksi bagaimana. Otak dan hatiku sulit sinkron, Na. Logika sama perasaanku pun selalu bertentangan."
Wina menarik napas panjang sembari menyusun beberapa kata yang akan digunakan sebagai balasan. Setelah merasa cukup mampu mengontrol detakan jantung, maka Wina menyiapkan diri dan juga suara untuk melontarkan kalimat sahutannya.
"Maksud kamu apa, Gan? Kalau kamu nggak keberatan, dapat dijelaskan padaku supaya aku bisa lebih mengerti, tapi ka—"
Wina tak melanjutkan ucapannya dan juga melepaskan pelukan, pasca mendapati kedatangan enam orang ajudan pribadi sang ibu. Ia tidak menyangka sama sekali. Sudah pasti terkejut juga. Wina dilanda perasaan kurang enak. Seperti akan terjadi hal buruk. Bukan firasat semata. Namun, fakta sebentar lagi yang pasti memenangkan dugaannya.
Wina pun langsung bereaksi. Ia bangun dari kursi tengah diduduki. Memandang dalam sorot marah ke arah ajudan-ajudan pribadi sang ibu yang berdiri di depannya. Wina tak merasakan ketakutan menghadapi. Ia ada niatan melawan nantinya, sudah tentu.
"Mau apa kalian kemari? Apa yang Mama saya perintahkan kepada kalian semua? Cepat katakan sekarang," ujar Wina dingin. Intonasi suaranya pun semakin tinggi.
"Nyonya meminta kami mengajak Nona Wina pulang. Kalau Nona tidak mau ikut ke rumah dengan kami. Nyonya memerintah agar kami mengusir hama yang meng--."
"Jaga omongan kalian! Sopanlah berbicara di depan saya." Wina memeringatkan dengan nada marah. Volume terus saja meninggi.
"Jangan perna berkata seperti itu kepada suami saya. Dan, kalau kalian berani untuk macam-macam pada suami sama anak saya. Kalian akan saya pastikan mendekap di penjara nanti." Wina keluarkan ancaman.
"Nona harus ikut dengan kami pulang, maka kami tidak akan melakukan apa-apa. Kami hanya menuruti perintah nyonya besar yang membayar kami. Seandainya, Nona tidak mau, kami harus tetap memaksa Nona ikut."
Win merespons cepat. Kepala dianggukkan dengan gerakan pelan. Ia sudah mengambil putusan secara cepat. "Baik, saya akan ikut bersama kalian," jawabnya tanpa keraguan.