09

3637 Words
"Kami mendapati Nona Wina berada di sebuah kedai tadi, Nyonya. Bersama Gandhi dan seorang bayi perempuan yang tidak ada berusia satu tahun. Kami tadi sedikit kerepotan membawa Nona Wina pulang karena terus melakukan perlawanan dan penolakan." "Maka dari itu kami menyeret tangan Nona Wina terpaksa, sebabkan luka. Kami meminta maaf atas kesalahan kami, Nyonya." Greta menggelengkan kepala cepat dalam gerakan yang angkuh. "Tidak apa-apa. Kalian sudah bekerja benar dan baik." "Kalian boleh beristirahat. Biarkan sisanya saya yang urus Wina. Bulan depan, gaji kalian semua akan saya naikkan dan kalian akan mendapatkan bonus tambahan dari saya." Greta melontarkan kalimat-kalimatnya dengan nada terkesan sangat sombong, kali ini. "Terima kasih, Nyonya. Kami akan beristirahat." Greta kembali anggukkan kepala sembari terus perhatikan para ajudan pribadinya yang bertubuh kekar serta berwajah sangar pergi keluar dari ruang tamu. Setelah, mereka lenyap dan tidak lagi terlihat dalam indera penglihatannya, Greta pun lalu segera berjalan menuju ke sofa guna hampiri putri tunggal beliau sedang duduk. PLAKK! PLAKK! "Berani sekali kamu tidak mendengarkan perkataan Mama, Wina! Kamu masih bertemu dengan pria itu dan anak kalian! Kamu tidak menganggap serius larangan Mama? Pandai membantah!" "Kamu hanya mengatakan kebohongan dan tidak mampu menepatinya, Nak! Mama sangat marah! Mama benci dengan anak yang suka membantah sepertimu! Tidak menuruti perkataan Mama!" Wina mendengar secara jelas setiap kata bernada pedas ibunya lontarkan, namun ia memilih diam saja. Membungkam bibir rapat-rapat. Tatapan yang tajam dan sarat akan kemuakan tak henti Wina lemparkan pada sang ibu. bentuk dari perlawanan kecilnya. "Kamu sudah tahu bukan bahwa Mama pasti memberikan hukuman padamu yang sudah berani membangkang. Mama akan tanya dan sedikit bernegoisasi." "Negoisasi seperti apa yang Mama maksud? Setiap kali Mama ambil keputusan, tidak pernah ada menguntungkanku." PLAK! Wina sudah menduga bahwa ibunya akan menampar kembali. Ia cukup kebal menerima perlakuan kasar, kala ingin tunjukkan perlawanan. Sang ibu memang sangat tak suka untuk ditentang. Bukan rahasia lagi baginya, Wina pun sudah hafal. "Berani sekali kamu bicara begini pada Ibu, Nak! Kamu mau menjadi anak pembangkang terus? Kamu tidak akan bisa hormat dengan Mama! Kamu kira siapa yang sudah berkorban agar kamu bisa meraih kesuksesan seperti sekarang ini, Wina?" "Berani sekali kamu melawan, Mama! Dari dulu kamu sekalipun bisa menghargai Mama, Nak! Padahal, Mama sudah banyak sekali berkorban untuk kamu yang satu-satunya anak Mama." Deru napas Ibu Greta semakin tak stabil, namun beliau enggan melakukan penormalan. Emosi Ibu Greta pun belum berkurang. Masih terbawa amarah yang besar. Ingin dikeluarkan seluruh makian menyakitkan. Dengan tujuan agar sang putri bisa lebih sadar dan mengerti. Ibu Greta tidak peduli reaksi Wina nantinya. "Mengerti tidak kamu, Nak? Apa harus Mama berikan kamu lagi pelajaran? Menggunakan contoh yang nyata? Mama tidak akan main-main jika Mama sudah mengatakan seperti ini. Mam—" "Mama akan melakukan apa lagi, Ma? Mau mengganggu suami dan anakku? Begitu yang ingin Mama bilang bukan untuk bisa mengancamku? Membuat aku juga tunduk sama Mama." Wina menajamkan tatapan ke arah sang ibu. "Siapa bilang aku nggak pernah menghargai semua jasa dan usaha Mama agar aku bisa sukses jadi pebisnis? Aku nggak pernah melupakan." "Tapi, semua yang aku capai sekarang, nggak akan bisa buat aku bahagia, Ma. Bukan uang melimpah yang ingin aku punya. Ya, kebahagiaan. Aku butuh bahagia hidup di dunia ini, Ma." Tanpa terasa, air mata Wina sudah menggenang. Bahkan, telah jatuh perlahan menuruni kedua pipi. Tak mampu lagi menahan rasa sakit di dalam d**a untuk masalah yang selalu sama. Ia dan sang ibu belum dapat juga menemukan penyelesaian. "Kebahagiaan aku ada pada keluarga kecilku, Ma. Suami sama anak aku. Apa Mama bisa mengerti juga keinginanku ini? Apa Mama bisa nggak selalu bersikap egois kepadaku? Sekali saja, Ma. Tolonglah paham apa yang bisa membuat aku bahagia." "Tidak akan, Nak! Tidak bisa Mama melakukannya!" Air mata Wina semakin deras mengalir. Ucapan sang ibu yang diserukan dengan penuh kemarahan, membuatnya bertambah sakit. Kekecewaan mendalam tidak mampu untuk dimungkiri. Wina pun tak menyangka bahwa sang ibu benar-benar enggan memikirkan kebahagiaannya. Hanya mengutamakan bisnis. Wina menajamkan tatapan. "Baik, kalau Mama memang nggak mau memahami. Aku nggak akan pernah meminta Mama untuk mengerti lagi. Aku cuma perlu membuktikan kepada Mama, aku bisa meraih keinginanku sendiri. Mama hanya perlu melihat." "Akan aku buat Mama menyesal sudah membuat aku seperti ini. Apa Mama benar-benar nggak takut dengan hukum karma karena Mama sudah jahat dan menyakiti anak Mama se—" Plak! Plak! Wina tak bisa melanjutkan perkataannya karena mendapatkan tamparan sebanyak dua kali dari sang ibu di bagian pipi kiri. Ia sudah menduga bahwa sang ibu akan bertambah murka atas ucapannya yang begitu tidak sopan. Wina sengaja utarakan kata-kata seperti itu supaya kesadaran ibunya bisa tertampar. Nyatanya tak demikian, justru sang ibu bertambah marah. "Tutup mulutmu, Nak! Berani sekali kamu durhaka dengan Mama kamu sendiri! Kamu pikir kamu sudah hebat tanpa ada bantuan finansial dari Mama! Jangan berani kurang ajar!" "Kamu tidak sadar sudah berani bersikap begini pada Mama karena ajaran suami kamu itu! Dulu kamu tidak pernah berani melawan Mama. Tapi, sekarang kamu sangat kurang ajar!" Wina belum memindahkan pandangan dari sosok sang ibu. Ia masih melemparkan sorot mata tajam yang sarat dengan rasa muak. Tak hanya sang ibu bisa murka, dirinya juga. Bahkan, kemarahan Wina sudah sangat membuncah sehingga membuat ia memutuskan berani untuk menunjukkan perlawanan sengit. "Bukan, Ma! Bukan Gandhi yang menyebabkan aku terpuruk kayak gini! Tapi, Mama!" Wina meninggikan kembali nada suara dan diberikan penekanan juga pada dua kata terakhirnya. "Saat aku bersama dengan Gandhi. Aku sangat bahagia. Aku juga sangat senang mempunyai ibu mertua yang memberikan kasih sayang besar dibandingkan dengan Mamaku sendiri." Napas Wina semakin menderu. "Yang Mama tahu hanyalah bagaimana memanfaatku untuk mengembangkan bisnis serta perusahaan supaya bertambah sukses, jaya, dan besar!" Plak! Untuk sekian kali, Wina kembali mendapatkan tamparan dari sang ibu atas perkataannya. Tak akan berlaku keterkejutan pada diri Wina. Kekasaran yang digunakan oleh ibunya bukan rahasia lagi. Bahkan sudah sering terjadi, semenjak diputuskan menikah dengan Gandhi. Ibunya berubah secara drastis. "Sudah Mama katakan tadi jangan kurang ajar berbicara pada Mamamu ini. Bagaimana pun juga, saya adalah orangtuamu, Wina. Saya yang melahirkan dan merawatmu sampai besar. Setidaknya, kamu harus menghormati saya! Jangan pernah berani membantah dan melawan saya! Kalau kamu masih saja seperti ini. Saya tidak akan ragu untuk memberi hukuman."  ……………………………………….                   Gandhi tak akan melupakan kejadian kemarin di kedai, ia bahkan terus memikirkan. Sosok sang istri pun selalu terbayang di dalam benaknya bersamaan dengan rasa cemas yang bertambah. Sekeras apa pun, dirinya berupaya untuk tak acuh, nyatanya akan sulit dilakukan. Terkhusus berkaitan dengan Wina, ia masih peduli. Ketika bersembahyang, Gandhi tidak lupa menyebutkan nama istrinya dan harapan agar wanita itu baik-baik saja. Bukan jadi rahasia lagi bahwa sifat ibu kandung dari sang istri terkenal cukup kasar, tak memiliki empati yang terlalu besar atau belas kasihan. "Akhirnya lo sampai di sini juga, Dhi. Gue pikir lo tidak akan mau datang ke rumah gue. Syukur lo mau kemari. Makasih, Bro." Lamunan Gandhi seketika buyar, kala sosok kakak sepupu sang istri sekaligus teman akrabnya membukakan pintu, ia dengar secara jelas semua yang dikatakan oleh pria itu. Lantas, dilakukan anggukan kepala pelan. "Gue pasti akan ke sini kalau diperintah." "Tapi, kenapa suruh gue datang, Bli? Masalah serius apa yang Bli maksud ditelepon? Apa gue sudah boleh tahu?" Gandhi pun bertanya dengan gaya bicara sopan, meski merasa penasaran. :"Masalah yang gue maksud adalah keadaan Wina. Adik gue kondisinya lagi buruk. Dia kelihatan semakin kacau. Adik gue itu mengalami kefrustrasian yang dalam, Dhi. Gue hancur dengan Wina yang kayak begitu. Tatapannya kosong dan jauh menerawang." "Adik sepupu gue lagi terpuruk, Gan. Lo harus segera bantu istri lo untuk bangkit. Gue minta tolong sama lo Gandhi. Lo bantu adik gue kembali seperti dulu. Cuma lo yang bisa." Gandhi masih membungkam bibirnya rapat-rapat. Tak keluar satu patah kata sebagai jawaban. Sedangkan, kekakuan semakin dirasakannya pada kaki. Untuk berdiri dengan tegak rasanya cukup sulit dilakukan. Ucapan kakak sepupu sang istri begitu memberikan efek luar biasa bagi tubuh dan juga hatinya. "Apa gue akan mampu, Bli?" Gandhi menggumamkan kalimat tanya dalam nada yang teramat pelan, ia tak yakin. "Bukan masalah mampu atau tidak, Gan. Tapi, niatan lo bantu Wina ada apa tidak. Gue tahu lo sangat kecewa akan sikap adik gue itu. Kepedulian lo pasti sudah berkurang ke dia." Wira terus memandang adik iparnya dengan sorot mata serius. Begitu juga ekspresi pada wajah. "Lo bisa percaya, kalau Wina tinggalkan lo sama anak kalian, bukan semata utamakan bisnisnya. Tapi, diancam sama Tante gue. Mertua lo, Gan." "Gue yakin Wina juga sudah bilang jujur ke lo. Karena gue juga sering minta dia cerita ke lo, Gan. Gue nggak mau kalian terus salah paham. Padahal, kalian berdua masih saling cintalah." Gandhi tak segera membalas. Ia juga tidak memikirkan untaian kata yang hendak dikeluarkan. Pikiran seketika menjadi kacau. Hanya membayangkan wajah sang istri saja, sudah sebabkan dirinya merasakan kegundahan. Timbul juga rasa tak tega. Dan, ucapan kakak iparnya juga dapat menyadarkan Gandhi soal fakta perasaan yang coba ditepis berulang kali. Ya, cinta untuk Wina. Nyatanya, ia tidak mampu melupakan rasa sayang dan kasih tertulus pada wanita itu. Akan selalu tersimpan di hati. Meski, sudah kerap juga ingin dimusnahkan oleh dirinya. "Gan, lo kenapa? Lo kenapa jadi bengong? Apa lo nggak mau ke dalam? Masuk ke sana, tolong temui dan temani Wina." Gandhi gelengkan kepala kecil. "Sebentar dulu, Bli. Gue butuh waktu memantapkan keyakinan gue sendiri. Tapi yang jelas, gue akan membantu Wina. Dia masih berstatus istri gue." "Keyakinan kayak apa yang lo maksud, Gan? Maaf, gue kurang bisa memahami. Kemampuan gue mengerti kalimat yang tadi lo bilang, agak berkurang. Gue malas juga untuk pikirkan ulang."  Mau tak mau, Gandhi loloskan tawa sebentar. Tidak lebih dari lima detik, dalam volume suara cukup kecil. Tentu, ia berikan reaksi demikian, lantaran memang perkataan sang kakak ipar terkategorikan lucu. Gandhi pun yakin disengaja supaya dapat mengurangi ketegangan yang tengah menyelimuti mereka. "Keyakinan diri gue untuk mempertahankan atau melepaskan Wina, Bli. Sebelumnya gue bertekad mampu menghapus rasa cinta gue ke dia. Tapi, sayangnya gue nggak pernah bisa." Ekspresi Gandhi tampak kian serius memandang kakak sepupu Wina yang tengah mengangguk guna tanggapi ucapannya. Ia belum selesai mengutarakan semua yang ada di dalam benak. Masih ingin disampaikan beberapa hal. Gandhi memberikan jeda sejenak guna menenangkan dirinya yang hilang kontrol. "Lo memang tidak boleh meninggalkan adik gue. Kalian berdua harus tetap bersama. Maksud gue, jangan pentingkan ego, tapi pikirkan juga anak kalian yang masih kecil. Keponakan gue itu harus punya orangtua lengkap sampai nanti Ghesa gede." Gandhi anggukkan cepat kepala. "Iya, Bli. Gue akan menjaga pernikahan gue dengan dia. Kami akan memikirkan eg—" "Akhirnya kamu datang ke sini. Aku kangen sama kamu, Gan." Tak hanya ucapan Wina saja yang membuat Gandhi dilanda keterkejutan, melainkan juga sosok istrinya tiba-tiba memeluk. Membuat Gandhi hanya bisa diam. Tak membalas dekapan erat yang dilakukan oleh Wina. Sedangkan, suara isakan wanita itu didengar dengan jelas. Sebabkan, Gandhi jadi rasakan sesak di bagian d**a. Ia diselimuti juga oleh perasaan bersalah. "Gandhi, aku minta maaf sudah pergi tanpa izin kamu dulu. Aku salah karena memutuskan sendiri. Aku melakukan semua cuma agar Mama nggak menyakiti kamu dan Ghesa. Aku terpaksa melakukannya. Aku benar-benar nggak ada maksud un—" "Iya, Wina. Jangan dibahas lagi. Aku percaya dengan apa yang kamu bilang. Aku yang harusnya minta maaf karena aku nggak bisa menjaga dan melindungi kamu sampai-sampai kamu harus berkorban. Tapi, aku akan mencoba melakukannya sekarang." Gandhi melepaskan pelukan dan memandang dengan lekatnya sosok wanita yang ia cintai. Hati Gandhi masih merasakan sakit melihat derasnya air mata Wina mengalir akibat kesedihan yang mendalam menyelimuti wanita itu. Gandhi sungguh tak senang saksikan kondisi Wina yang seperti ini. Ia sudah bertekad untuk membantu sang istri. Gandhi berjanji akan membuat wanita yang dirinya sangat cintai itu mampu kembali bahagia. Gandhi kembali memeluk Wina dengan erat. "Kamu nggak akan pernah sendiri lagi. Ada aku bersama kamu, Na. Kamu harus jadi orang yang kuat, ya? Kamu nggak boleh menyiksa diri kamu karena punya masalah. Kita akan mencari solusinya nanti." Gandhi mengeratkan dekapannya, setelah mendengar sang istri kembali mengisak pelan. Memang tidak mudah membuat Wina meredakan tangjsan. Gandhi memilih membiarkan saja sampai wanita itu benar-benar puas mengeluarkan seluruh perasaan mengganjal di dalam hati lewat tangisan kencang. "Makasih, Gan. Aku sangat mencintai kamu. Tolong jangan aku ditinggalkan. Aku akan sedih tanpa ada kamu dan Ghesa. Aku nggak bisa pernah hidup bahagia tanpa kalian bersamaku."    …………………………………………………….                   Gandhi menuruti saran dari kakak sepupu Wina untuk ajak Ghesa ke kediaman pria itu guna bertemu sang istri. Gandhi jemput cepat putrinya. Ia pun sangat percaya bahwa bayi perempuan manis itu akan mampu membuat keadaan sang istri lebih membaik segera. Melihat kondisi wanita itu yang kurang baik, membuat hati Gandhi menjadi sakit. Seakan, ia bisa turut merasakan bagaimana penderitaan dan juga beban yang Wina tanggung seorang diri. Ia bahkan sempat menyalahkan wanita itu, berpikir pula bahwa sang istri sudah egois. Hanya mementingkan perusahaan serta bisnis. "Ghesa senang tidak akan bertemu sama Mama lagi, Nak? Ghesa kangen Mama tidak, Sayang?" Gandhi memulai interaksinya dengan untaian kalimat-kalimat tanya teralun dalam nada riang. Sementara, kedua kaki panjangnya tidak berhenti berjalan. Justru semakin dipercepat agar bisa segera mencapai pintu kamar yang sedang ditempati oleh istrinya untuk beristirahat. Bayangan ekspresi senang sang istri bertemu dengan anak mereka, pun telah muncul dalam benaknya. Ia ingin lihat wanita itu kembali tersenyum. "Ghesa tolong bantu Papa, ya? Ghesa harus dapat hibur Mama. Oke, Sayang? Papa dan Ghesa harus bisa buat Mama pulih." Suasana hati Gandhi semakin membaik, kala menyaksikan senyuman lucu putrinya yang tengah terpamer kini. "Ghesa disayang Mama dengan tulus dan besar. Ghesa juga harus sayang, yah." "Mamamahmamah... Mamahmamahh." Gandhi lengkungkan kedua sudut bibir lebih tinggi lagi, setelah dengar celotehan yang dikeluarkan oleh putri manisnya. Langkah kaki tengah berjalan, belum alami pengurangan laju. Meski, keseluruhan atensi dari Gandhi tersita pada Ghesa. "Kita sudah sampai, Nak. Papa akan buka pintu pelan-pelan supaya tidak ganggu Mama yang mungkin lagi tidur. Nah, Ghesa juga tidak boleh berisik, ya? Paham. Oke, Sayang?" Setelah menerima balasan berupa senyum lebar sang buah hati yang kian melebar dan tatapan lugu bayi perempuan itu, maka Gandhi pun lekas memegang gagang pintu. Diputar. Ketika sudah terbuka sebagian, Gandhi segera arahkan atensi ke ranjang. Cari keberadaan sang istri, mungkin ada di sana. Dugaannya benar, Wina sedang tertidur. Selama lebih dari lima detik, perhatiannya pun sukses disita oleh wajah damai wanita itu. Ia berharap Wina akan bisa nyaman terlelap sejenak dan lupakan tekanan serta juga beban yang sedang dipikul. "Mama benar lagi tidur, Sayang. Ghesa janji sama Papa tidak boleh berisik atau ganggu Mama, ya? Mengerti, Nak?" Senyuman Gandhi melebar bersamaan dengan ekspresi manis diperlihatkan oleh sang buah hati. Respons yang sudah cukup baik baginya. Meski, sangat tahu bahwa Ghesa belum mampu mengerti semua apa yang dikatakannya tadi. Namun, melihat sang putri senang. Sudah membuat Gandhi jadi kian optimis. "Ghesa harus bantu Papa dan Mama, ya? Papa sangat yakin, kalau Ghesa akan bisa menolong Mama biar kembali lagi ja—" Gandhi tak meneruskan kata yang hendak diucapkan, selepas menyadari istrinya sudah mengambil posisi duduk di atas kasur. Ya, wanita itu sudah bangun dari tidur. Kemudian, Gandhi pun melangkahkan kaki dengan cukup cepat menuju ke ranjang. Ia mengulum senyuman terhangat yang bisa dibentuk, detik ini. "Mamamahh... Mamahhmah... Mamahhmah." Mendengar celotehan sangat semangat diluncurkan oleh sang putri, membuat Gandhi merasakan kegemasan yang menjadi bertambah pada putrinya. Lalu, diberikan kecupan beberapa kali di bagian rambut buah hatinya. Afeksi yang begitu tulus. "Ke sini, Sayang. Mama kanget banget sama Ghesa." Hati Gandhi juga semakin tersentuh, selepas kedua gendang telinganya menangkap kalimat cukup singkat bernada lirih yang dilontarkan sang istri. Terlebih lagi, raut wajah dan genangan cairan bening yang sudah tampak di pelupuk mata Wina. "Apa kamu sangat merindukan anak kita, Na?" Dilontarkannya pertanyaan secara spontan guna menunjukkan respons. Kemudian Gandhi menyerahkan sosok kecil Ghesa pada sang istri. Ia bisa kian melihat kebahagiaan terpancar nyata di kedua mata Wina, setelah dapat memangku buah hati mereka. Ghesa pun turut menunjukkan keriangan dengan loloskan tawa. "Iya, Gan. Aku kangen banget sama Ghesa. Aku senang sama bersyukur bisa ketemu lagi dengan anak kita. Makasih, ya."  Gandhi hanya mampu diam seribu bahasa dan duduk dengan kaku. Tak segera dirinya membalas ucapan sang istri. Perhatian pun tetap diarahkan pada sosok wanita itu yaitu tepat pada sepasang mata Wina yang belum berhenti basah. Justru kian banyak cairan bening yang menuruni dua pipi wanita itu. "Makasih masih mau berbaik hati padaku, Gan. Aku tahu kamu itu orang tulus. Mau memikirkan dukaku. Makasih banyak." Kali ini, Gandhi mengangguk. Belum ingin dipindahkan atensi dari sosok sang istri dan putri kecil mereka. Hendak menjawab cepat tetapi ia tidak terpikirkan akan mengatakan apa yang paling tepat. Gandhi berupaya tak melontarkan kalimat-kalimat bisa memberi pengaruh negatif pada Wina. Ia justru harus menguatkan dan mendukung wanita itu. "Ghesa, Mama kangen banget, Sayang. Mama masih nggak percaya kalau Ghesa lagi ada di sini bareng Mama, ya. Mama juga nggak akan nyangka bisa bersama Papa Ghesa." Seketika, Gandhi merasakan keharuan oleh ucapan sang istri. Secara refleks pula dirinya genggam tangan wanita itu. Mata mereka pun saling bersitatap. Gandhi bisa melihat keterkejutan pada sepasang mata wanita itu. "Aku dan Ghesa akan selalu bersama kamu, Na. Kamu nggak akan pernah sendiri lagi." …………………………………………………   "Makasih sudah mengajak Ghesa kemari, kemarin." Gandhi mengangguk pelan. "Sama-sama, Na," jawabnya dalam nada pelan. "Aku harap dengan Ghesa kemarin aku ajak ke sini bisa buat kamu lebih merasa baik. Kamu tidak boleh terpuruk." "Jangan lakukan hal-hal bodoh juga. Kamu harus ingat jika Ghesa masih membutuhkan peranan kamu sebagai Mamanya." Yang mampu ditunjukkan oleh Wina sebagai respons dari perkataan suaminya adalah anggukan lemah. "Iya, Gan. Aku akan dengar semua yang kamu bilang," jawabnya dengan cukup lirih. "Aku sudah lebih jauh mendingan, Gan. Kamu boleh pergi bekerja, jangan ajukan cuti di bar cuma demi menjagaku di sini." Gandhi tak tunjukkan reaksi apa-apa atas ucapan istrinya. Ia hanya memandang lekat wanita itu, tanpa banyak berkedip. Sorot serius pun mendominasi, selain tatapan yang teduh. Tidak ada lagi pancaran kemuakan ataupun kebencian dipertontonkan olehnya. "Kamu harus bekerja, Gan. Jangan mencemaskan ke—" "Sebenarnya aku juga tidak ingin cemas, aku sudah coba meyakinkan hatiku jika kamu akan baik-baik saja. Kamu sudah bisa pulih dan sehat. Tapi, mata kamu tidak bohongi aku terus, Na." "Ada ketakutan yang besar, kamu yakin akan menyimpan sendiri? tanpa memberitahuku, Wina. Apa kamu akan sanggup?" Wina menggeleng dengan ragu. "Tidak ada apa-apa, Gan. Rasa takut yang aku rasakan hanya berhubungan sama pekerjaan." "Aku sudah bilang tadi bukan? Kamu tidak akan dapat berkata bohong, mata kamu bilang yang sebenarnya, Na. Aku tidak mau dengar kebohongan kamu. Katakan semua jujur." Kali ini, Wina mengangguk. Dalam gerakan lemah. Tak akan bisa menunjukkan kepura-puraan di depan sang suami. Ia pasti akan mudah ketahuan. "Aku cuma takut Mamaku akan lagi mencari gara-gara dan membuat kamu susah terus, Gan. Aku tidak tahan kalau melihat kamu jadi incaran amarah Mamaku." "Kamu sudah dipecat, bahkan mencari lowongan di bar lain sebagai bartender akan sulit karena orang-orang Mamaku selalu berusaha menggagalkan. Aku merasa sangat bersalah." Gandhi menggeleng pelan. Dan, belum dipindahkannya pusat atensi dari sang istri yang telah berkaca-kaca. "Tidak akan jadi masalah serius untukku, Na. Aku pasti dapat mengatasi." "Pikirkan tentang dirimu saja sekarang. Jangan biarkan Mama terus semena-mena padamu, Na. Kamu bukanlah orang yang lemah. Kamu harus bisa menjaga diri kamu sendiri," pesan Gandhi secara serius. Salah satu cara memotivasi istrinya. Tangan Wina digenggam kemudian. Dilakukan secara refleks saja. Ingin memberikan kekuatannya. Tak akan dapat Gandhi melepaskan tanggung jawab atau mengabaikan kepeduliannya pada wanita itu. Terlebih, mereka masih memiliki ikatan. "Makasih Gan. Aku pasti akan berusaha menjadi orang nggak lemah lagi. Aku nggak akan melakukan sesuatu yang bodoh." Wina menambah sunggingan senyum, walau tidak terlalu lebar. Terus dipandanginya sang suami. "Aku juga baru sadar, kalau apa yang aku lakukan dapat membuat orang lain khawatir." "Aku yang paling cemas, Na. Asal kamu tahu saja. Aku nggak sanggup melihat kamu terus terpuruk begini. Hatiku jadi sakit." Wina tak langsung menanggapi, masih diam. Bibirnya pun juga dibungkam, tertutup rapat. Wina berupaya memerlihatkan raut wajah yang tenang. Namun, kontras akan debaran jantungnya mulai tidak dapat stabil akibat ucapan dari sang suami tadi. "Tetap semangat, Na. Aku pasti membantu kamu. Percayalah, kamu nggak sendiri. Ada aku yang bersama kamu, Na." Kepala dianggukkan pelan oleh Wina. Lalu, dipeluk sang suami. Ingin menunjukkan apa yang tengah dirasakan. "Makasih, ya. Makasih banyak, Gan. Aku sangat masih mencintaimu." "Sama, Na. Aku juga masih mencintaimu. Aku nggak akan bisa menghapuskan perasaanku pada kamu, walau aku mencoba." Wina mengakhiri pelukan. Kemudian, memandangi sosok sang suami. "Kamu seriusan masih mencintaiku, Gan? Nggak bo—" "Cepat pergi dari sini, Nak! Sebelum Mama bertindak yang tidak baik pada suamimu ini. Maksud Mama calon mantan suamimu." Tubuh Wina seketika menegang mendengar seruan sarat akan kemarahan sang ibu. Ia cepat memusatkan atensi ke sosok ibu kandungnya itu yang tengah berdiri di ambang pintu kamar. Tak sampai lima detik, sang ibu pun sudah berjalan ke arahnya.   "Gandhi, tolong ajak Ghesa keluar sekarang. Nggak baik dia ada di sini. Kamu juga jangan balik ke dalam. Aku mau bicara sebentar sama Mama," pinta Wina dengan serius dan memerlihatkan tatapan memohonnya. "Baiklah. Aku akan ajak Ghesa keluar. Aku nggak akan pergi. Kamu jangan takut." Wina hanya memilih mengangguk. Lantas, ia berikan kode lewat gerakan kepala supaya Gandhi segera meninggalkan kamar. Tidak sampai lima detik, pria itu sudah melangkah menjauh. Ia pun memandangi dengan lekat Gandhi. Perasaannya masih tidak tenang. "Berani sekali kamu melawan perintah dari Mama, Nak! Anak yang pembangkang." Wina segera mengalihkan pandangannya ke samping guna melihat keberadaan sang ibu yang berdiri tidak jauh. Kurang dari satu meter saja. Dapat dilihat dengan jelas raut kemarahan pada wajah ibunya. Begitu juga akan tatapan yang sangat tajam kepadanya. "Aku berhak bahagia, Ma." Wina berucap dengan nada mantap, meski volume kecil. "Kamu boleh bahagia, Nak. Mama tidak akan melarang. Tapi, tidak dengan dia, Wina."    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD