12

3152 Words
                Sekali lagi, Wina meminta bantuan Deno untuk berbohong. Syukurnya, pria itu bersedia menolongnya. Mengatakan pada sang ibu jika mereka tengah bersama dan akan menginap di hotel. Wina sangat yakin ibunya akan percaya jika sudah Deno yang sampaikan. Kecurigaan tentu hilang. Tak ada pengawasan dari para ajudan. Wina memang bermalam di hotel. Dengan sang suami dan anak mereka, Ghesa. Sebenarnya, ia ingin menginap di kediaman mertuanya. Namun, pasti akan ada orang suruhan sang ibu berjaga. Lagipula, ia sama sekali tidak boleh ketahuan agar tetap selamat. "Maaf, aku hanya bisa sewa kamar di sini. Cuma bintang tiga. Aku tidak punya cukup uang untuk bayar di hotel bintang lima." Wina menggeleng segera sembari mengikuti sang suami masuk ke areal kamar lebih dalam. Sedangkan, anak mereka yang tengah tertidur masih digendongnya kuat. "Tidak apa-apa, Gan." "Aku nyaman di sini. Lumayan luas juga." Wina tambahkan jawaban dengan nada suara semakin lembut. Senyuman pun turut dilebarkan, kala sang suami pusatkan seluruh pandangan padanya. "Kalau tadi kamu kasih izin dan mau, kita bisa pergi ke hotel bintang lima. Ada yang aku kenal di daerah sini. Hotelnya sanga—" "Tidak, Na. Aku tidak mau menggunakan uang kamu untuk bayar hotel. Bagaimana pun, aku masih menjadi suami dan kepala keluarga. Aku yang mempunyai tanggung jawab membayar semua." Wina memilih untuk mengangguk. Mengiyakan saja, tidak ingin memperpanjang topik bahasan yang bagi mereka sensitif. Ia akan menghargai setiap hal telah dilakukan oleh suaminya. Tidak ada keraguan dengan sifat tanggung jawab dalam diri pria itu. Ia selalu mengagumi. Membuat, Wina semakin mencintai suaminya. "Makasih, Gan. Aku tadi sudah bilang, kalau aku nyaman menginap di hotel ini. Kamarnya cukup luas dan bersih untukku." Kala, tangkap balasan atas ucapannya yang sang suami lakukan, yakni anggukan kepala saja. Meski demikian, tatapan dua mata pria itu sebabkan dirinya sedikit kikuk. Detakan jantung sudah mulai mengalami peningkatan sejak mereka masuk ke kamar hotel. "Gandhi...," Wina lantas menggumamkan nama suaminya lembut, bermaksud memanggil juga. Ingin katakan sesuatu hal. "Ada apa, Na? kamu mau bilang apa? Ngomong saja." Kegugupan kian besar dirasakan oleh Wina, sorot mata sang suami tampak lebih lekat baginya. Pria itu pun sudah berjalan mendekat ke arahnya, kini. Mereka saling memandang satu sama lain. Sukses sebabkan debaran kian kuat melingkupi diri Wina. "Hmm, aku ingin kita bisa terus seperti ini, Gan. Aku nggak mau kita sampai berpisah. Kamu akan mau memperjuangkanku, 'kan? Maaf, kalau permintaanku berlebihan dan terkesan menuntut. Aku cuman nggak mau sampai melewatkan kesempatan bersama kamu lagi." Wina membiarkan matanya berkaca-kaca, tak ada maksud menarik empati sang suami dengan cara seperti ini. Semua bagian dari rasa yang tertahan di dalam hati sudah cukup lama. Baru berani sekarang Wina ungkapkan secara terang-terangan akan harapan besarnya. Kemudian, digenggam tangan sang suami. "Kalau hanya aku seorang yang mau. Nggak akan pernah terwujud, Gan. Aku butuh kamu." "Beberapa waktu lalu, kamu juga bilang akan bersamaku terus. Apa sampai hari ini masih berlaku untukku? Apa kamu tetap mau berjuang denganku, Gan? Jangan mengorbankan pernikahan dan Ghesa kita." "Iya, Na. Belum berubah. Tujuanku masih sama hingga detik ini." Gandhi mengeratkan tautan tangan mereka. Kemudian, sunggingan senyum dilebarkannya. "Percayalah padaku, Na. Aku pasti berusaha memperjuangkanmu. Wanita yang aku cintai dan ibu dari putriku." Seketika, Wina diselimuti perasaan haru. Kemudian, dipeluknya sang suami dengan erat. "Makasih, Gan. Makasih banyak, Sayang." "Kita akan berjuang bersama-sama. Aku dan kamu untuk Ghesa. Kita harus bisa bersatu." Wina lontarkan kata-kata dengan optimistis yang semakin tinggi. Ingin menguatkan dirinya dan juga sang suami. "Pasti, Na. Aku akan memperjuangkan kalian. Aku nggak bisa tanpa kalian. Kamu dan Ghesa sangatlah berarti di dalam hidupku. Kamu nggak akan aku biarkan untuk pergi. Kamu akan aku pertahankan." Wina lekas mengangguk. "Iya, Gan. Makasih banyak. Aku nggak tahu mesti bilang apa lagi. Yang jelas aku sangat senang sekarang."  "Aku juga bahagia bisa mendapat bantuan dari kamu. Padahal, aku sudah membuatmu kecewa karena kepergianku yang tiba-tiba." Gandhi cepat menggeleng sembari menaruh jari telunjuk di permukaan bibir, memberi tanda agar Wina tak berkata apa-apa lagi. Ia lalu menarik tubuh kurus wanita itu. Tidak sampai tiga detik, sudah berhasil dipeluknya sang istri dengan begitu erat dan posesif. "Aku memaafkanmu, Na. Jujur harus aku akui, kalau aku sangat kecewa dengan apa yang kamu lakukan. Pergi tanpa memberi tahu terlebih dahulu. Aku ingin membenci dan melupakan perasaanku. Tapi, aku nggak akan pernah bisa." Gandhi berujar jujur. "Aku masih sayang sama kamu, Na. Kamu nggak bisa tergantikan. Dan, saat melihatmu juga menderita kejadian itu. Aku nggak bisa terus membencimu. Aku harus menolong." Wina tidak dapat mencegah air mata keluar dengan deras dan membasahi kaus milik sang suami. Namun, ia tak sampai mengisak keras. Diredam suaranya. Rasa bahagia pun membuncah di dalam dadanya. Begitu pula akan optimistis guna hadapi masalah. ……………………………………………………………………………………..   "Ghesa kenapa? Terus peluk Nini. Ghesa takut, 'kah? Tidak boleh takut, ya. Sudah bersama Nini di sini." Ibu Yulia berujar dalam suara lembut sembari terus mengusap-usap punggung sang cucu. "Ini adalah rumahnya Nini Ghesa juga. Nini Greta. Ghesa tidak boleh takut, ya. Ghesa mau bertemu dengan Nini Greta tidak?" Benar, Ibu Yulia sedang lakukan kunjungan ke kediaman besan beliau. Tujuan utamanya tentu untuk membantu sang putra. Permasalahan Gandhi dan Wina tidak akan pernah mencapai jalan keluar jika pihak lain enggan membantu dalam menyelesaikan. Bukan mereka tak mampu, hanya saja memang kegoisan dari besan beliau menjadi prakara paling sulit diatasi. Ibu Yulia yakin bahwa sang menantu serta Gandhi masih sangat saling mencintai satu sama lain. Ibu Yulia pun mengingatkan mereka bersatu kembali. "Untuk urusan penting yang membuat Anda datang kemari dan temui saya, Yuli? Apakah berhubungan dengan anak-anak kita?" "Bisa tidak kamu jangan bicara begitu formal denganku, Ta? Bagaimana pun juga, kita berdua pernah menjadi teman dekat dulu di SMA. Apakah kamu sudah lupakan semua pertemanan kita?" ujar Ibu Yulia dengan penekanan pada setiap kata yang cukup jelas. "Saya menganggap kamu tidak lagi jadi teman saya, ketika anakmu berulah. Tetap mendekati anak saya, walau tidak ada restu." "Anak kamu terus membangkang dan nekad menikahi putri saya. Apa kamu kira hal itu tidak menyebabkan saya memben—" "Nikninikniknik... Nikninikniknikninik." Ibu Greta rasakan ketersiapan yang cukup besar, setelah dengar sang cucu memanggil dalam nada yang lucu. Senyuman manis lebar dipamerkan sosok kecil Ghesa pun juga tak luput dari atensi Ibu Greta. Beliau berdiri mematung. Kata dalam kalmat yang hendak beliau ucapkan, tidak diselesaikan. Dibiarkan terpotong. "Ninikninikninik... Ninikniniknikk... Ninikninik." Ghesa lagi keluarkan celotehannya, lebih keras. Kedua tangan sudah terulur ke depan, tepatnya pada arah sang nenek berada. Masing-masing kaki bayi perempuan itu juga digerak-gerakan. "Ninikninik...Ninik." "Cucumu terus memanggil? Apa kamu tuli? Tidak dapat mendengar cucuku bersuara?" tanya Ibu Yulia sedikit sarkasme. "Aku dengar." Ibu Greta menyahut segera dalam volume yang kecil. Kepala turut dianggukan beberapa kali dengan lemah. Belum berpindah pusat pandangan Ibu Greta dari Ghesa. Beliau benar-benar terhipnotis oleh senyuman lucu di wajah bayi itu. Dapat membuat memori ingatan Ibu Greta terlempar ke masa lalu, saat putri tunggal beliau berusia tiga belan bulan. Sungguh, wajah sang cucu terlihat begitu mirip dengan Wina bagi Ibu Greta. "Jika kamu sudah mendengar dipanggil. Kenapa kamu tidak langsung ambil cucu kita? Aku tidak akan melarangmu. Aku bukan wanita yang jahat sepertimu. Aku masih ingat kamu adalah nenek Ghesa juga." Ibu Yulia memang sangat sengaja melontarkan kata-kata pedas. Tak bermaksud menimbulkan konflik baru. Ibu Yulia hanya merasa bahwa harus berkata-kata to the point agar mampu dimengerti benar oleh sang mantan sahabat. Beliau tahu jika besannya kurang peka. "Kenapa tidak menggendong Ghesa segera? Apa kamu benar-benar tidak mau mengajak cucu kita, Ta?" Ibu Yulia pun bertanya ulang. Dan kala, menangkap gelengan kepala dilakukan oleh sang mantan sahabat. Maka, Ibu Yulia segera menyerahkan sang cucu kepada besan beliau. Kemudian, suara tawa secara sengaja pula diloloskan Ibu Yulia, pasca melihat kekakuan Ibu Greta saat menggendong. "Kamu merasa tegang, Ta? Aku kira kamu akan cukup hebat. Tapi, tidak sesuai dugaanku. Kamu mesti banyak belajar lagi dariku." Ibu Greta tentu akan menunjukkan respons yang kurang baik, tanda bahwa beliau tidak suka dengan perkataan sombong sang mantan teman karib. Ibu Greta merasa direndahkan. Beliau sudah pasti tak akan mampu menerima. Harga diri pun seolah direndahkan juga. "Belajar soal apa maksudmu?" Ibu Greta pun terpancing. Secara sengaja bertanya untuk memperjelas dan mengonfirmasi ulang. "Belajar menjadi nenek yang baik. Paling tidak kamu tidak tegang saat mengajak Ghesa. Kamu bisa menanyakan caranya padaku supaya kamu dapat menghindari kerewelan Ghesa ketika bersamamu." "Tidak. Saya tidak memerlukan bantuanmu." Ibu Greta menjawab cepat dengan ketegasan dan kesinisan secara bersamaan.  "Walaupun kamu tidak meminta bantuanku. Tapi, aku akan tetap menolong. Bagaimana juga kamu adalah ibu dari menantu yang aku sayang. Akan aku singkirkan rasa kesal atas sikap sombong dan angkuhmu, Greta." Ibu Yulia bisa langsung melihat reaksi pada wajah mantan sahabat beliau. Ya, ekspresi menunjukkan kemarahan. Sudah Ibu Yulia duga akan diperlihatkan respons demikian. Tak mengherankan lagi bahwa sang mantan sahabat menjadi tersinggung dan tersindir. "Kamu masih punya waktu untuk berubah. Belum terlambat menyudahi keegoisanmu jika kamu masih peduli dengan cucumu." Ibu Yulia menajamkan tatapan, sama seperti yang tengah dilakukan oleh Ibu Greta. Tak akan gentar beliau. Ibu Yulia telah bertekad ingin memberikan sejumlah wejangan pada sang mantan sahabat. Tidak peduli jika Ibu Greta akan menaruh amarah kian besar. "Jika kamu egois tetap meminta Wina dan Gandhi bercerai. Kamu akan merusak masa depan cucumu sendiri. Kamu siap akan dia benci kelak? Padahal sekarang, saat Ghesa masih kecil. Dia menyukai dan meyayangi dirimu. Ghesa tahu kamu orang yang baik." …………………………………………………                   "Ibu, apa sangat yakin Ghesa akan baik-baik saja selama ada di sana? bagaimana, kalau keponakanku yang lucu itu ak—" "Ibu yakin, Nak. Kamu tolong berhenti berpikiran buruk pada Ibu Greta. Ibu sudah mengenal dia sejak masih sekolah, percayalah jika Ibu Greta masih punya hati nurani," sahut Ibu Yulian mantap. "Dia tidak sejahat yang kamu pikirkan, Prema. Berapa kali harus Ibu ingatkan jika kamu tidak boleh berburuk sangka terhadap orang lain, Nak? Tolong kamu belajar resapi kata-kata Ibu kamu ini, Prema." Ibu Yulia lontarkan kalimat-kalimat dalam nada tegas, kini. "Bukannya aku mau berburuk sangka, Bu. Cuman, selama ini kesan Ibu dari Kak Wina sudah jelek. Sering berulah. Memisahkan Bli Gandhi dan kakak iparku. Bagaimana aku bisa percaya, Bu?" "Betul, Bu. Aku juga tidak bisa percaya dengan mertuaku itu sampai detik ini. Rasanya sangat mustahil, Ibu Greta dapat berlaku baik." Gandhi akhirnya bersuara, setelah sejak acara makan malam dimulai, ia lebih banyak bungkam dan juga diam. Tak berkomentar. Selera untuk makan pun sirna, baru seperempat nasinya di piring yang dimakan. Laparnya seketika hilang, ketika sang ibu beri tahu bahwa sang putri menginap di rumah mertuanya. Sungguh, ia langsung terkejut. Namun, tak bisa marah akan keputusan yang telah dilakukan oleh ibunya. Terlebih, Gandhi sudah peroleh penjelasan. "Maaf, Bu. Aku tetap belum yakin ibu mertuaku mampu baik dan menjaga dengan benar Ghesa. Mustahil, Bu. Begitu sulit dipercaya. Aku akan ajak Ghesa pulang saja sebentar," ujar Gandhi dalam nada yang tegas, berharap ibunya mengerti. "Tidak, Nak. Jangan kamu jemput Ghesa. Kasih anak kamu berada di rumah mertuamu sampai besok. Sudah dibilang tadi, percaya dengan ucapan dan perasaan Ibumu ini. Ghesa akan baik-baik saja di sana. Mertuamu tidak akan mencelakai." Ibu Yulia pandangi serius putra sulung beliau. "Dapat Ibu lihat dari mana mertuamu, kalau dia tidak kejam. Tidak akan berbuat hal yang buruk kepada cucunya sendiri. Percaya pada Ibu, Nak. Jika sampai terjadi sesuatu, Ibu tanggung jawab." "Percaya aja sama apa yang dikatakan sama Ibu, Bli. Aku yakin Ibu nggak akan dapat bohong sama kita. Kalau, mertuanya Bli memang benar berani macam-macam, aku juga akan turun tangan. Aku akan buat Ibu Greta membalas yang dilakukan." Gandhi mengangguk pelan, masih diselimuti keraguan besar. Ia tak mampu memberlakukan penenangan pada dirinya dan tetap dihantui perasaan khawatir. Gandhi pun merasa bahwa ia sedikit berlebihan. Namun, tidak dapat dihilangkan juga. "Baiklah, Bli akan percaya sama apa yang dibilang Ibu. Besok pagi, baru Bli akan menjemput Ghesa. Mengajak dia kembali pulang." Gandhi menjawab dengan suara yang mantap. "Iya, Nak. Memang harus begitu. Ibu sangat yakin mertuamu tidak akan mencelakai atau menyakiti Ghesa. Ibu Greta masih punya hati dan kasih pada cucunya sendiri pasti. Ikatan darah tidak akan ada yang bisa menggantikan. Percaya pada Ibu." Gandhi kembali mengangguk dengan gerakan lebih ringan dan tak lupa mengulum senyuman tambah lebar lagi. "Iya, Bu." "Aku pun masih optimis, kalau mertuaku akan dapat sayang dengan tulus pada Ghesa. Putriku itu pantas untuk mendapat kasih sayang dari neneknya, terlepas dari konflik kami. Ghesa nggak harus ikut menjadi korban atau tersakiti juga, Bu." Gandhi memberikan jawaban lanjutkan, buah dari pemikirannya. "Kamu betul, Nak. Ibu setuju dengan perkataan kamu. Ghesa memang tidak boleh menjadi korban. Itu kenapa, Ibu melawan gengsi Ibu dan memutuskan mengajak Ghesa menemui mertua kamu, Nak. Ibu ingin bisa mendekatkan mereka sekarang." Ibu Yulia lakukan usapan-usapan halus, seperti biasa. Untuk tunjukkan afeksi beliau. "Semoga Ghesa bisa jadi solusi, Bu." "Ibu yakin hati ibu mertuamu akan terketuk, Nak. Ibu cukup tahu bagaimana karakter dia karena kami sempat bersahabat dan dekat dulu waktu SMA. Dia orang yang baik. Memang hatinya keras. Tapi, Ibu percaya dia akan berubah," imbuh Ibu Yulia. "Baiklah, Bu. Aku pun ingin percaya ucapan Ibu. Semoga saja ada jalan keluar untuk masalahku dengan Wina. Doakan, Bu." Ibu Yulia mengangguk cepat. Menambah lengkungan di kedua ujung bibir beliau. "Tentu, Nak. Ibu pasti akan selalu berdoa agar masalahmu dan Wina bisa segera selesai. Ibu mertuamu juga dapat cepat sadar. Ibu yakin semua akan segera selesai."  "Astungkara, Bu." Gandhi pun mengamini dengan sungguh-sungguh. "Makasih selalu mendukungku, Bu," ujarnya dengan tulus. "Sudah menjadi kewajiban Ibu, Nak. Kamu tidak akan pernah Ibu biarkan sendiri. Ibu akan membantu semampu Ibu, Gandhi." Ibu Yulia menggenggam kedua tangan putra sulung beliau. Hendak memberi kekuatan dan semangat. "Kamu masih punya Ibu, Nak. Jangan pernah takut menghadapi Ibu Greta." "Tapi ingat, kamu tidak boleh menunjukkan sikap keras. Namun, sentuh hati mertuamu dengan kelembutan. Buktikan keseriusanmu  pelan-pelan, Nak. Ibu jamin dia luluh." "Iya, Bu. Aku akan temui mertuaku sekarang juga. Aku akan mengutarakan lagi niatanku untuk meyakinkan. Semoga saja keseriusan keinginanku akan membuahkan hasil."   ………………………………………………………………….   "Niniknikninik...Ninikninikniknik." Tawa Ibu Greta pun secara spontan terlolos karena dengar sang cucu keluarkan celotehan dalam nada suara dan ekspresi lucu. Beliau sangatlah terhibur sejak tadi. Ibu Greta tak mampu menahan senyuman. Masih terus saja dipertahankan di wajah oleh beliau. Kehadiran Ghesa tak Ibu Greta sangka akan memberikan aura positif dan mengurangi beban pekerjaan yang menyebabkan beliau merasakan kepeningan di kepala lumayan luar biasa. Setiap tingkah yang dilakukan oleh sang cucu, sudah pasti akan berhasil menyita perhatian beliau. Tidak ingin Ibu Greta lewatkan satu pun. untuk bayi seperti anak Nona Wina ini. Harus segera tidur dan tidak boleh tidur larut. Lebih dari jam sebelas atau begadang, Nyonya." Reaksi ditunjukkan oleh Ibu Greta hanya berupa anggukan kepala atas pemberitahuan dari babysitter yang baru tiga jam lalu, baru beliau pekerjakan. Tentu, untuk mengurus sang cucu. Sebab, Ibu Greta kurang merasa yakin akan bisa menjaga Ghesa sendiri. "Saya mengerti. Tapi, cucu saya belum mau tidur juga. Apa tidak masalah jika dipaksa untuk tetap tidur?" tanya Ibu Greta serius. "Saya lihat cucu Nyonya sudah mengantuk." "Nyonya, sekarang sudah pukul sepuluh malam. Biasanya cara jelas dari mata cucu perempuan Nyonya yang merah, tanda cukup mengantuk. Nyonya harus menidurkan cucu Nyonya sekarang. Saya takut nanti cucu Nyonya akan menjadi rewel jika tidak tidur segera." Ibu Greta cepat mengangguk, paham akan apa yang baru disampaikan. "Bagaimana cara menidurkan bayi seperti cucu saya ini? Apa tidak akan sulit? Bagaimana jika tidak akan berhasil?" Ibu Greta bertanya sungguh-sungguh. Rau wajah beliau kian serius. "Jelaskann secara detail. Saya kurang menahu cara untuk tidurkan bayi seperti cucu saya. Saya belum pernah sebelumnya." "Menidurkan bayi sebenarnya akan mudah jika Nyonya sudah terbiasa, namun karena Nyonya belum pernah. Saya akan kasih tahu caranya. Nyonya cukup gendong cucu Nyonya sambil berikan s**u formula. Lalu, nyonya lakukan tepukan-tepukan yang halus di bagian paha atas salah satu kaki cucunya Nyonya. Apa sudah bisa dipahami penjelasan saya? Ada masih tidak jelas?" Ibu Greta lakukan anggukan segera. "Tidak. Saya sudah bisa mengerti semua yang kamu katakan," jawab beliau serius. "Nyonya akan melakukan sendiri? Atau ingin saya bantu? Saya yang akan menidurkan Greta. Nyonya bisa beristirahat." Ibu Greta lekas menggeleng. Tanda bahwa beliau menolak tawaran dari pengasuh. "Tidak perlu kamu membantu saya. Cucu saya akan saya tidurkan sendiri," jawab Ibu Greta dalam suara sedikit lembut. "Kamu tidak perlu meragukan saya. Bagaimana pun juga saya dulu pernah mempunyai anak yang bayi, waktu Ghesa kecil. Saya yakin saya bisa menidurkan cucu saya dengan baik," imbuh Ibu Greta. Beliau sujatinya tidak sedang marah. Ingin lebih menegaskan saja. Ibu Greta sangat percaya diri dengan kemampuan beliau mengurus sang cucu. Hal yang tidak akan sulit bagi beliau untuk lakukan. Ibu Greta begitu yakin bahwa menidurkan Ghesa cukup mudah juga. "Baiklah, Nyonya. Saya akan mengawasi saja di sini. Jika Nyonya butuh bantuan, saya pasti akan siap. Nyonya tidak perlu khawa—" Ibu Greta menggeleng cepat. "Saya bisa sendiri. Kamu bisa ke kamar sekarang. Beristirahatlah. Biar saya yang mengajak cucu saya di—" "Ninikk... Ninikninik... Ninikninik... Ninikkkk." "Kenapa, Ghesa? Mau apa Ghesa?" Ibu Greta memilih menanggapi secara cepat panggilan sang cucu, dibanding lanjutkan ucapan. Kemudian, Ibu Greta beranjak bangun seraya masih menggendong cucu cantik beliau yang tengah memandang dengan pancaran mata polos disertai pameran senyuman manis. Membuat hati Ibu Greta jadi tentram dan damai. Ingin selalu beliau menyunggingkan senyum. "Ghesa sayang tidak sama Nini? Seperti Nini yang sangat sayang ke Ghesa." Ibu Greta bertanya dalam nada suara begitu lembut. Senyuman semakin beliau lebarkan, tepat selepas saksikan sang cucu yang mengangguk guna tunjukkan respons atas apa yang ditanyakan. Ibu Greta senang bukan main. Beliau langsung berikan pelukan yang erat. Perasaan haru seketika juga menaungi. "Terima kasih sudah sayang dengan Nini, Nak. Maaf, Nini sudah banyak berbuat kesalahan. Tolong jangan benci Nini, Ghesa. Ni—"  "Om Swastyastu, Ma." Ibu Greta segera menolehkan kepala beliau ke depan guna memastikan bahwa tak salah menebak jika yang datang adalah Gandhi. Benar saja. Dugaan beliau pun tepat sasaran. Ibu Greta langsung memusatkan pandangan pada sosok suami dari putra tunggal beliau. "Om Swastyastu." Ibu Greta membalas pelan dan sedikit lirih. "Mau apa kamu kemari?" "Saya sudah bilang pada Yulia jika Ghesa akan menginap malam ini di sini. Apa kamu mau menjemput anakmu diajak pulang?" Gandhi gelengkan cepat kepala. Namun, tak segera menjawab secara lisan. Ia lebih dulu mengambil posisi berlutut di hadapan ibu mertuanya. Sudah siap mengutarakan apa yang memang ingin disampaikan sejak dari rumah. Gandhi tidak memiliki keraguan. "Saya datang bukan untuk menjemput anak saya. Tapi, saya ke sini mau bertemu dengan Mama. Saya mau bilang ke Mama keinginan saya dan Wina tetap bersama-sama dalam menjaga pernikahan kami berdua." "Saya tidak akan pernah menceraikan Wina. Saya juga ingin Mama bisa menerima saya sebagai menantu Mama. Saya akan terus berusaha menunjukkan saya layak menjadi suami Wina dan juga menantu Mama."      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD