13

3198 Words
                Wina sebenarnya sangat ingin mengetahui alasan dari sang ibu yang memintanya tak lanjutkan perjalanan bisnis di Amerika. Ia diminta untuk segera kembali ke tanah air. Wina pun sambut dengan senang hati karena ia bisa cepat pulang ke Bali. Meski demikian, tak mau menghilang begitu saja rasa penasarannya, masih menghantui. Wina tiba di Bali pukul tujuh malam. Membutuhkan waktu sekitar satu jam agar bisa sampai di kediaman ibunya akibat terjebak macet yang cukup parah di jalan. Ia sungguh merasa lelah, sesegera mungkin berkeinginan untuk tidur setelah membersihkan dirinya. Kala, baru injakkan kaki di areal ruang keluarga, Wina pun sedikit terkejut mendapati mainan berserakan di atas karpet. Ia lihat juga beberapa boneka berukuran besar. Namun, tak terbersit sama sekali kecurigaan dalam diri Wina. Ia justru segera jalan menuju ke arah tangga, hendak naik ke lantai dua, di mana kamarnya berad na. "Mamahmamah... Mamahmama... mamamahmamah." Tubuh Wina seketika menegang, ia bahkan tidak bisa untuk langkahkan kakinya. Secara cepat kepala ditolehkan kepala ke kiri. Sedetik kemudian, sosok sang putri tengah berjalan dengan pelan sudah berhasil tertangkap jelas oleh kedua indera penglihatannya. "Ghesa? Ke...kenapa ada di si...sini, Sayang?" tanya Wina dengan sedikit terbata-bata karena tak percaya akan apa dilihatnya. "Mamamahhmamah... Mamahhmamahh." "Iya, Sayang. Ini Mama Ghesa. Kemari cepat, Nak." Selesai luncurkan kalimatnya, Wina segera ambil posisi berlutut di atas lantai denga kedua tangan sudah direntangkan ke depan, menyambut sang putri yang sudah mulai berjalan ke arah dirinya dalam langkah pelan. Wina pun tidak menyangka, sudah sejak kapan buah hatinya bisa berjalan sendiri. Ia dibuat haru. "Mamahmamahmah... Mamahmamahmamah." "Iya, Sayang. Ini Mama Ghesa. Cepat ke sini, Nak. Mama tunggu Ghesa di sini. Tapi, hati-hati melangkah, Sayang. Supaya Esa nggak jatuh nanti, ya." Wina berpesan dalam nada yang cukup serius, namun suara masih terdengar begitu lembut. Senyuman di masing-masing sudut bibir semakin dilengkungkannya ke atas. Tak sampai satu menit bagi Wina menunggu, kini sosok sang buah hati sudah berada di hadapannya. Segera, Wina angkat tubuh putrinya untuk digendong. Diberikan pelukan yang erat untuk tumpahkan kerinduan teramat besar dirasakannya pada Ghesa. "Mamahmamahmama... Mamahmamahmamah." "Kangen sekali mama sama Ghesa, Sayang. Mama kira semua ini masih mimpi, tapi Mama bisa dekap tubuh Ghesa. Mama bukan lagi bermimpi." Wina berujar dengan lirih, air matanya turun. Kemudian, dikecup secara bergantian pipi-pipi tembam sang buah hati sembari mengeratkan pelukan. Isakan juga mulai keluar. Bukan ungkapan kesedihan, tentu kebahagiaan yang tengah membuncah. "Kangen banget Mama sama Ghesa. Mama harap malam ini, nggak akan cepat berlalu." Wina berujar dengan nada cukup lirih, kini. Kembali, air matanya menjadi menetes karena dua detik lalu, bermunculan pikiran buruk. Tentang ketidakmungkinan dapat berjumpa lagi dengan sang putri kelak. Tentu akan menjadi pukulan yang sangat sakit bagi Wina. Semua ibu pasti akan merasakan hal sama seperti dirinya, kepedihan kian dalam "Mamahh... Mamahh... Mamamahh." Wina segera menambah sunggingan senyum sembari menyeka air matanya di kedua pipi. "Ada apa, Nak? Mau bilang apa?" "Ghesa mau bilang kalau kangen sama Mama, ya? Benar gitu, Sayang? Mama nggak salah menebak, 'kan?" Wina membuat suaranya agar terdengar riang dan senyuman kian dilebarkan. Kemudian, dikecup kening sang putri. "Ghesa sudah pasti jadi kangen sama Mama karena sudah lama juga nggak ketemu." "Mama pun kangen banget sama Ghesa. Setiap hari selalu saja Mama ingat sama Ghesa, Sayang," ujar Wina dengan lirih. Kedua pelupuk mata sudah tergenangi oleh cairan bening, rasa haru bercampur bahagia menjadi satu. Wina benar-benar masih tak bisa percaya bahwa sosok kecil yang tengah dirinya saat ini gendong adalah sang buah hati. Sungguh keajaiban. Wina pun berharap jika sedang tak mengalami mimpi. Ia ingin dihadapkan akan kenyataan. Sudah sering alami bunga tidur yang indah dengan sang putri. Namun, hanya bahagia sesaat saja diperolehnya. Ketika mimpi berakhir, Wina menangis.  "Mama kangen banget sama Ghesa, Sayang. Mama senang bisa ketemu sama putri Ma--" "Wina...," Mendengar panggilan dari sang ibu dalam nada begitu lirih dan serak, maka kepalanya lantas diangkat. Menghadap ke depan guna melihat sosok sang ibu. Dalam hitungan beberapa detik saja, Wina sudah bisa beradu pandang dengan ibunya. Ia lantas dilanda kekagetan karena melihat sang ibu yang berderai air mata. Sorot penyesalan turut ditampakkan oleh ibunya. Wina tak paham apa yang sudah terjadi sehingga sebabkan sang ibu bereaksi seperti ini. Sungguh, ia jarang melihat ibunya menangis pilu. "Mama kenapa?" tanyanya dengan cemas sembari berjalan menghampiri sang ibu. "Maafkan perbuatan Mama yang jahat pada kamu, Nak. Mama sangat menyesal selalu bersikap egois selama ini. Apa kamu akan bisa memaafkan semua kesalahan Mama?" Wina pun tak butuh waktu yang lama untuk menunjukkan respons dengan mengangguk. Memang dilakukannya ragu. Masih belum bisa memercayai apa yang baru sang ibu sampaikan. Sungguh baginya hanya sebagai mimpi belaka. Namun, kenyataan sedang dihadapi. Bukan berada dalam bunga tidur. "Iya, Ma. Aku sudah memaafkan Mama. Aku nggak akan bisa lama-lama marah dengan Mama. Bagaimanapun juga cumalah Mama yang masih menjadi orangtuaku." Wina pun mengatakan apa memang dirasakannya. "Tapi, aku mohon Mama jangan memintaku untuk berpisah sama Gandhi. Aku nggak akan bisa tanpa dia dan Ghesa. Aku sema--" "Tidak, Nak. Mama tidak akan memintamu dan Gandhi bercerai. Mama sudah sadar dengan kesalahan Mama. Kalian tidak akan Mama pisahkan lagi. Kembalilah padanya." ……………………………………………………………………….   Wina tidak bisa tidur, kantuk pun sama sekali tak wanita itu rasakan. Lelah dan kepegalan pada tubuh juga sudah menghilang. Beban tak kasat mata yang dipikul turut terasa berkurang drastis. Ia hanya dilingkupi oleh kelegaan sangat luar biasa besarnya, kini. Ingin Wina sangkal akan semua ucapan ibunya yang berisi permohonan maaf, namun ia sedang tidak bermimpi. Nyata. Ibunya memang sudah mengakui kesalahan dan keegoisan yang dilakukan selama ini. Sungguh, Wina begitu bersyukur jika ibunya telah sadar. Hal lain yang membuat wanita itu bahagia, yakni restu dari sang ibu untuk membiarkan dirinya kembali pada sang suami. Wina sungguh-sungguh tak menyangka, awalnya pun sempat meragukan. Namun, diakhir ia memilih untuk memercayai perkataan ibunya. "Mamahmamahh... Mamahmamahh." Mendengar celotehan sang putri yang sedang digendong, maka Wina langsung hentikan kegiatannya mengaduk bubur. Lantas, beri keseluruhan pada sosok kecil Ghesa. "Iya. Kenapa, Sayang?" "Sudah lapar Esa, ya? Sudah tidak sabar mau maem bubur pasti. Tunggu lagi sebentar dulu, ya Nak. Tidak lama akan matang." Selesai lontarkan balasan dan peroleh reaksi dari putrinya berupa senyuman kian lebar yang manis, Wina pun mendaratkan kecupan sayang di bagian kening Ghesa, afeksi kerap dilakukannya saat sedang merasa gemas akan tingkah lucu sang putri tunjukkan. "Tahu nggak, Esa? Selain buat bubur untuk Ghesa, Mama juga masakan makanan kesukaan Papa. Tapi, Mama takut nantinya nggak akan enak makanan Mama, Nak. Takut Papa nggak suka." Wina masih terus pandangi dengan serius putrinya yang tengah pamerkan senyuman manis. "Tapi, semoga aja masakan buatan Mama akan bisa enak dimakan sama Papa nanti, ya. Coba Ghesa kasih semangat dulu ke Mama supaya Mama optimis." "Cium pipinya Mama, Sayang," pinta Wina dengan suara dibuatnya terdengar manja. Pipi bagian kanan pun diarahkannya ke bibir agar sang putri bisa beri ciuman basah air liur padanya. CUP! Dalam hitungan detik saja, sudah didapatkan apa yang diminta. Wina semakin rasakan ketenangan. Senyuman pun kian dilebarkannya. Suasana hati Wina benar-benar sedang bagus. Ia tak dihinggapi perasaann cemas atau takut sama sekali. Masalah yang selama ini membebani sudah terselesaikan dengan baik. "Terima kasih atas ciumannya, Nak. Mama jadi semangat dan yakin, kalau Papa akan suka dengan masakannya Mama." "Mama juga jadi nggak sabar tunggu Papa Ghesa datang. Mama sangat kangen dengan Papa. Sudah lumayan Mama nggak bertemu sama Papa Ghesa." Wina lanjut beri tahu pada sang buah hati apa yang sedang dirasakan pada sosok suaminya, kini. "Mama kangen banget malah, Sayang. Mama nggak sabar nanti bisa tinggal lagi sama Papa dan Ghesa kayak dulu. Pasti menyenangkan." Ya, Wina sudah membayangkan bagaimana nanti dirinya dan sang suami akan kembali bersama. Hati Wina senang bukan main. Ia tak pernah membayangkan sebelumnya sama sekali. Sungguh, sebagai sebuah keajaiban tidak terkira bagi Wina. Restu sang ibu akhirnya dapat diperoleh secara tulus. Dan, hal tersebut juga merupakan kenyataan yang sepertinya sulit untuk terjadi. Namun, fakta menunjukkan kebalikannya. Sang ibu pun telah menyetujuinya untuk kembali lagi bersama sang suami. "Hai, Ghesa. Lagi apa sama Mama, Nak? Kayaknya seru, ya." Wina segera membalikkan badan ke belakang, selepas dengar suara Gandhi. Sedetik kemudian, sosok suaminya sudah dapat tertangkap kedua indera penglihatannya. Wina pun tersenyum. Tak butuh waktu lama bagi mata mereka untuk bersitatap. Ia langsung rasakan desiran aneh pada aliran darah. Begitu juga dengan detakan dari jantung yang semakin berpacu kencang. Tatapan hangat Gandhi sangatlah disukainya. Tidak ada lagi sorot tajam yang sarat akan kemuakan seperti sebelumnya. "Papahh... Papahh... Papahh." Gandhi segera mengambil alih sang putri dari Wina, selepas Ghesa mengulurkan dua tangan ke depan guna meminta untuk digendong. Kikikan tawa buah hatinya saat sudah didekap pun terdengar begitu manis. Membuat Gandhi menjadi gemas. "Aduh, Ghesa peluk Papa erat banget, Sayang. Apa Ghesa lagi kangen sama Papa? Baru juga satu malam nggak sama Papa. Sudah kangen aja Ghesa, yah. Nggak bisa jauh dari Papa."  Setelah selesaikan kalimat-kalimatnya, maka Gandhi segera mengalihkan pandangan dari sang putri ke sosok istri cantiknya. Senyum dikembangkan, saat mata mereka bersitatap. Ia senang melihat kebahagiaan yang jelas terpancar di sepasang manik cokelat milik Wina. Membuatnya menjadi merasa lega. "Aku merindukanmu, Sayang." Tepat selepas sang istri berucap, ia dapatkan pelukan erat dari wanita itu. Cukup kaget memang karena dilakukan secara tiba-tiba. Namun, Gandhi tetap senang. Ia bahkan tak segan membalas dengan dekapan kuat dan mendaratkan kecupan di kening wanita itu. "Sama, Sayang. Aku juga kangen sama kamu. Akhirnya kita bisa bertemu juga sekarang. Kamu nggak akan aku biarkan pergi lagi." Senyum Wina bertambah lebar bersamaan dengan air mata yang keluar kian deras. Ia tak bisa menunjukkan kebahagiaan tengah membuncah selain menangis. Tentu, rasa syukur sudah berulang kali dipanjatkannya di dalam hati. Tuhan sudah membantunya. "Aku senang Mama sudah mau menerima kamu dan mengizinkan kita pertahankan pernikahan kita. Aku nggak nyangka sama sekali Mama akan mau melunak, Sayang." ………………………………………….                   Mulai hari ini, Wina akan kembali ke rumah mertuanya. Ya, akan menetap secara tetap. Sang ibu sudah memberikan izin secara penuh. Ia juga masih mempunyai hak untuk menjalankan bisnis dan perusahaan. Karena, memang dirinya yang akan mewariskan nanti. "Kenapa kamu tidak perlihatkan senyuman kamu, Na?" Arah pandang Wina semula terarah ke depan, lalu dengan cepat dipindahkan ke sosok sang suami, berada di samping kirinya. Ia pun menampakkan tatapan bingung. "Senyuman?" konfirmasinya. "Maksud kamu bagaimana, Gan?" tanya Wina kembali, tak kunjung bisa memahami kalimat tanya yang sang suami ucapkan. "Kamu harus tersenyum makin lebar, Na. Tunjukkan kepada Ibu dan adikku yang sudah menunggu kedatangan kamu di dalam." Wina cepat anggukan kepala sembari menarik ujung-ujung bibirnya ke atas guna membentuk senyum yang diperintahkan oleh sang suami. "Bagaimana? Apakah sudah kelihatan cukup lebar?" "Sudah, Na. Sudah. Kamu bahkan terlihat semakin cantik kalau tersenyum dengan lebar seperti sekarang ini. Aku suka." Wina tak mampu menahan tawanya, selepas mendengar sang suami berucap manis. "Terima kasih atas pujianmu, Gan." "Tapi, aku sangat tumben rasanya dengar kamu memujiku. Sudah lama tidak berkata begini kepadaku. Kamu beberapa bulan terakhir, sejak kita bertemu lagi, lebih sering bersikap dingin, Gan. Selalu sinis setiap kita bicara." Wina ungkapkan jujur penilaiannya. "Aku meminta maaf kurang perlakukan kamu dengan baik, padahal kamu masih menjadi istriku, Na. Rasa kecewa yang besar karena kamu tinggalkan Ghesa menyebabkanku bersikap dingin." "Aku yang kurang bisa dewasa atau memahami kamu, Na. Harusnya aku tanyakan alasanmu, bukan menarik sendiri simpulan. Mungkin hubungan kita tidak akan alami gangguan." Gandhi terus melekatkan tatapan. "Aku juga bersalah, Na. Aku minta maaf. Andai aku bisa memahami kamu. Ki—" Tak mampu Gandhi selesaikan ucapannya karena sang istri yang telah menaruh jari telunjuk di depan bibirnya. Ia dibuat bungkam seketika. Mereka masih memandang satu sama lain. Sorot mata wanita itu yang teduh sungguh dapat memberikan ketenangan pada dirinya. Gandhi semakin terhipnotis juga. "Iya, Gan. Aku tahu. Aku juga tidak marah sama kamu. Wajar kamu begitu. Lagipula, masalah kita sudah selesai." Wina menambah lengkungan senyum sembari tangan sang suami digenggamnya. "Kita mulai semua lagi dari awal?" "Bagaimana menurutmu, Gan? Kita pasti bisa bangun rumah tangga yang lebih baik lagi, aku yakin kita akan bisa." Hanya lima detik berselang setelah selesaikan lontaran-lontaran pertanyaan, maka respons segera diperoleh dari sang suami, yakni berupa anggukan kepala dilakukan dengan mantap dan dilengkapi lengkungan senyum yang semakin melebar saja. "Iya, Na. Kita pasti bisa. Aku yakin. Semua masalah selama ini menjadi penyebab utama terganggu hubungan kita sudah bisa diatasi. Aku nggak merasa punya beban yang berat lagi." Wina segera menganggukkan kepala sembari terus menatap sang suami dengan sorot mata penuh cinta. Senang dan juga kagum akan ucapan yang dilontarkan oleh ayah dari putri kecil kesayangannya. Kata-kata pria itu semua dipercayai. Ia tak akan ragu. Terlebih, sang suami dapat membuktikan apa yang dikatakan. Wina bertekad juga melakukan hal sama, berjuang. Kemudian, dipeluk suaminya dengan erat. "Iya, Sayang. Aku tahu. Aku percaya juga sama kamu, Gan," jawabnya lembut. "Aku sangat mencintaimu, Sayang. Aku nggak akan bisa tanpa kamu dan Ghesa di dalam hidupku. Pastinya jadi hampa." Wina rasakan letupan rasa bahagia yang semakin besar oleh jawaban sang suami. Sudah sangat lama ia tidak mendengar pernyataan yang demikian manis dari Gandhi. Ya, semenjak mereka terlibat konflik dan kesalahpahaman yang menerus. "Aku juga sangat mencintaimu." Wina berujar dengan penuh keseriusan. Suaranya pun teralun dalam nada lembut. Air mata tidak bisa dicegah untuk keluar. Bukan ungkapan atas kesedihan kembali. Melainkan, kebahagiaan dan rasa syukur. Setelah semua masalah teratasi. Akhirnya, mereka dapat lagi menjalani rumah tangga yang rukun dan juga harmonis. "Jangan menangis banyak, ya. Kamu ganti pakai senyum akan lebih baik rasanya, Sayang. Aku kangen melihat senyumanmu yang tulus. Aku nggak mau lihat ekspresi sedih kamu lagi."  Wina lekas mengangguk. Tatapan masih saja dipusatkan pada wajah sang suami. Debaran jantung yang meningkat pun hendak dirinya hiraukan. Namun, tak bisa. Memengaruhi ketenangan Wina. Kegugupan melandanya. Untuk berucap rasanya akan tidak lancar. "Maaf kalau aku pernah berkata yang buat kamu sakit, Na. Aku juga sudah bersikap keterlaluan cuma karena aku merasakan kekecewaan yang dalam kepadamu." Wina menggeleng cepat. Diraih tangan kiri sang suami. Lalu, digenggam dengan kuat. Senyuman dikembangkan. "Sudahlah, Gan. Nggak usah kita bahas lagi masa lalu, ya." "Aku juga nggak pernah marah sama kamu, Sayang. Kamu wajar kalau marah padaku. Tapi, kamu akhirnya mau mempertahankan aku dan pernikahan kita. Aku sangat senang sama bersyukur. Makasih," ujarnya tulus. Kemudian, diberikan kecupan pada bibir pria itu. Sekilas saja. "Aku sangat mencintai kamu, Gan," ucapnya dengan penuh arti. "Aku akan berusaha menjadi istri dan Mama yang lebih baik lagi. Bimbing aku, ya. Aku butuh kamu juga untuk melengkapiku. Kita harus sama-sama berusaha lakukan hal yang terbaik. Terutama untuk Ghesa." …………………………………………………………..                   "Pintar putri cantiknya Mama ternyata menari, ya? Gimana, kalau sudah gede nanti, cita-citanya Ghesa menjadi penari Bali saja, Nak?" Wina ucapkan kalimat-kalimatnya dengan begitu antusias. Atensi belum dipindahkan oleh wanita itu dari sosok sang buah hati yang tengah menggerak-gerakan kedua tangan, mengikuti musik gamelan tengah diputar di handphone. Ekspresi lucu putrinya sungguh berhasi; membuat ia kian gemas. Ingin sekali mencium, tetapi diurungkan dulu. Lebih memilih menikmati cara bayi itu menari. "Kalau Ghesa nanti sudah gede benar menjadi penari Bali, pasti akan banyak penggemarnya. Karena Ghesa anak cantik," ujar Wina dalam nada bangga. Ia semakin semangat membayangkan. "Aku kurang setuju, Na. Aku ingin Ghesa jadi dokter saja." Wina segera menolehkan kepalanya ke sosok sang suami yang tengah duduk di kursi sambil meminum teh hangat ia buatkan. Tatapa lekat, namun memancarkan sorot sedikit bingung dipusatkan oleh Wina kepada pria itu. "Ingin Ghesa menjadi seorang dokter?" "Iya, Na." Gandhi menjawab singkat , mengangguk pelan. "Itu adalah cita-cita yang bagus. Tapi, bagaimana misalkan Ghesa tidak suka menjadi dokter? Anak kita menjadi penari Bali." Gandhi tambah sunggingan senyumannya. "Jadi penari juga bagus, Na. Tapi, menurutku jika menjadi dokter akan lebih menjamin dan menjanjikan untuk Ghesa." Diutarakan pendapat dengan jujur. "Masalah biaya untuk masuk ke fakultas kedokteran bagi Ghesa, aku akan berusaha bekerja keras demi hasilkan uang yang lebih banyak lagi." Gandhi berucap secara mantap dan serius. "Iya, Gan. Aku tahu kamu bisa bekerja keras." Wina kian melekatkan tatapan. "Tapi, bagaimana kalau Ghesa tidak mau jadi dokter nanti, Gan? Dia tidak suka sama ilmu eksakta. Tapi, lebih suka seni. Kamu akan tetap meminta anak kita menjadi dokter, ya?" tanya wanita itu secara serius. "Bukannya aku tidak setuju sama keinginan baik kamu, Gan. Cuma, aku berpikir kita tidak boleh memaksakan apa yang kita mau. Hasilnya akan tidak bagi menurutku, Gan. Aku ti—" "Kalau Ghesa memang tidak ingin jadi dokter, aku tidak akan memaksa. Mungkin anakku yang lain bisa jadi dokter." Wina seketika membelalakan matanya, sedikit terkejut dengan jawaban suaminya. "Anak kamu yang lain, Gan? Apa maksud kamu? Apa kamu punya anak dari wanita lain, ya?" "Ka...kamu sempat selingkuh?" tanya Wina lirih. d**a pun juga terasa sesak. Tatapan belum berpindah dari suaminya. "Anak dari kamu, Na. Adik Ghesa nanti." Wina yang sempat merasakan ketegangan, seketika luncurkan tawa. Merasa cukup senang juga akan jawaban sang suami. Ia bahkan mengulum senyuman yang lebih lebar sembari masih tertawa dengan lumayan kencang. Tak ingin disudahinya. "Adik Ghesa? Anak kedua kita, ya?" konfirmasi Wina kembali. Ia selipkan nada canda dalam kalimatnya secara sengaja. Dan kala, sang suami mengangguk mantap. Wina pun tak bisa untuk tidak loloskan tawa. Sudah pasti menganggap lucu hingga membuat dirinya ingin tergelak. Bahasan mereka pun terbilang cukup serius. Namun, tidak dibicarakan sungguh-sungguh. "Iyalah, Na. Anak kedua kita. Masa tadi kamu menyangka aku sudah punya anak dari perempuan lain? Mana aku bisa. Aku masih sayang sama kamu saja. Aku nggak melirik yang lain." Tawa Wina kian mengeras sembari mengangguk-anggukan lagi kepala dengan gerakan yang ringan. "Benarkah kamu nggak bisa lirik wanita lain? Hanya mau setia padaku saja 'kan, Gan?" "Hmm, atau semua yang kamu lagi bilang ini cuma ingin buat aku bahagia dan senang? Aku jadi merasakan kecurigaan." Gandhi pun kencangkan kekehan tawa. Kemudian, merespons cepat dengan gelengan kepala. Beberapa kali dilakukan dalam gerakan ringan. "Aku nggak ada maksud jelek begitu, Sayang." "Kamu menuduhku tanpa bukti yang kuat. Rasanya nggak akan adil buatku yang punya maksud dan tujuan baik untuk setia." Wina segera menangkupkan kedua tangan pada wajah tampan sang suami. Ia lalu mengangguk. Sekali saja. "Baiklah, Sayang. Aku yang salah karena sudah menuduh kamu tanpa bukti." "Tapi, semoga saja ucapan kamu serius dan benar, ya. Soal hanya mau mencintaiku seorang. Nggak ada wanita lainnya."  Gandhi mengencangkan tawa kembali dan menganggukkan kepala. "Aku nggak akan bilang semua ini untuk membuat kamu senang saja, Sayang. Aku serius." "Bukannya dari SMA kamu tahu kalau aku cuma menyukaimu? Sampai sekarang aku tetap mencintaimu. Kamu paling spesial." Wina melebarkan senyuman hingga deretan gigi putihnya tampak. Anggukan beberapa kali dalam gerakan mantap dilakukan tanpa ragu. Lalu, dipeluknya sang suami. Dekapan kuat diberikan pada tubuh pria itu. Wina loloskan tawa. Sungguh hatinya senang. "Iya, aku percaya, Sayang. Kamu pun bagiku juga spesial dan satu-satunya di hatiku," ujar Wina dengan jujur. Sesuai apa dirasanya. "Aku tahu, Sayang. Kamu memanglah istri yang setia. Aku nggak salah memilihmu." Wina mengeraskan tawa sembari mengangguk-anggukan kepala. “Benarkah? Makasih banyak untuk pujianmu. Aku menyukainya. Aku juga sangat mencintaimu, Sayang.” …………………………………………………………….        
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD