"Papa bangun, Papaa. Suda pagi, Papaa. Ghesa suda bangun. Papa kalah, elum (belum) bangun. Papa bangunnn!"
Setelah kalimat-kalimatnya diluncurkan semua dengan intonasi yang cukup keras, balita perempuan berusia 32 bulan itu tak berhenti goyang-goyangan tubuh ayahnya. Atensi masih secara keseluruhan dipusatkan oleh sosok Ghesa ke ayahnya.
"Papa bangunn, Papaa." Balita itu lontarkan kata demi kata dalam suara lebih jauh tinggi lagi agar sang ayah segera memberikan respons. "Bangun Papaa. Ghesa suda bangunn!"
Selesai berkata, balita perempuan itu masih terus saja mengguncang-guncang tubuh ayahnya dengan gerakan yang semakin kencang. Ekspresi cemberut telah tampak pada wajah Ghesa, tanda sedang sebal karena sang ayah tetap tertidur.
Namun, hanya bertahan sebentar. Kemudian, balita itu pamerkan senyuman manis, tepat selepas melihat kedua mata ayahnya sudah terbuka. Ghesa senang. "Papaaa," serunya.
"Iya, Sayang. Papa akan bangun."
Kikikan tawa diloloskan renyah oleh Ghesa, saat sang ayah berikan afeksi berupa usapan halus di rambut serta juga angkat tubuhnya. "Selamat bangun, Papaa," ujar Ghesa dalam semangat yang cukup tinggi. Senyuman pun semakin lebar.
"Kenapa selamat bangun, Nak? Selamat pagi, Papa."
Ghesa hanya menunjukkan reaksi mata yang berkedip beberapa kali atas ucapan ayahnya. Balita itu memandang diam untuk hampir 30 detik guna pahami perkataan sang ayah. Lalu, dibentuk senyum kian manis dan pandang lekat sosok ayahnya.
"Selamat pagi, Papaaa," ujar Ghesa dalam suara yang kian manja. Senyum manis pun semakin disunggingkan hingga perlihatkan gigi-gigi s**u kepunyaannya yang putih dan bersih.
"Selamat pagi kembali, Sayang." Gandhi segera balas dengan nada dibuat supaya terdengar riang serta juga ceria.
Kemudian, badannya diubah dari posisi berbaring jadi duduk bersila. Sang putri didudukkan di atas pangkuan. Gandhi berikan afeksi rutinnya, yakni usapan-usapan manis di bagian rambut terlebih dahulu. Lalu, berlanjut ke kedua pipi putrinya.
"Ghesa rajin sekali bangun pagi tumben. Baru juga jam enam, Nak. Ghesa tidak mau tidur lagi? Bareng sama Papa."
Kala, tangkap gelengan kepala dilakukan buah hatinya, sedetik selepas kalimat tanya terluncur semua, maka Gandhi pun cepat mencubit pelan pipi kiri putrinya, tak keras. "Ghesa tidak mau tidur, yah? Maunya ngapain bareng sama Papa?"
"Maemmm, Papaaa." Ghesa menjawab begitu antusias dan semangat. Kedua tangannya ditepuk-tepuk beberapa kali.
"Nasi goreng maemmm," imbuh balita perempuan itu. Suara semakin dikencangkan. Begitu juga senyuman melebar.
"Ghesa mau maem nasi goreng buatan Mama? Baiklah, ayo kita ke dapur lihat Mama, apakah sudah selesai membuat nasi goreng—"
Gandhi tak lanjutkan ucapan karena dilanda perasaan kaget oleh daun pintu kamar yang dibuka dari luar. Maka, kedua kakinya juga dihentikan melangkah. Pusat pandangan pun diarahkan ke depan.
Dua detik kemudian, sosok sang istri sudah berhasil tertangkap jelas sepasang matanya. Gandhi jadi mengurungkan niatan untuk pergi ke dapur guna menemui ibu dari putri kecil cantiknya itu. Gandhi cepat menarik kesimpulan bahwa sang istri sudah selesai memasak.
"Mamaaaa."
Seruan dengan suara melengking dari Ghesa seketika dapat alihkan atensi Gandhi pada wajah cantik istrinya. Senyuman wanita itu tidak akan pernah gagal memikat, terlebih lagi dipamerkan secara lebar.
Gandhi pun membiarkan putri kesayangannya diambil sang istri guna digendong. Kembali, dipusatkan pandangan ke wajah cantik Wina. Pemandangan yang memang sangat betah untuk lama Gandhi lihat.
"Aku punya kabar gembira buat kamu, Papa. Semoga kamu suka dan bahagia, ya. Dari kemarin malam mau bilang, tapi ditunda dulu karena kecapekan habis pulang kerja. Sekarang akan diberi tahu."
Alis kanan Gandhi otomatis terangkat naik, menunjukkan bahwa ia sedang merasa penasaran akan ucapan sang istri. "Berita apa itu?"
"Hmm, aku hamil lagi, Gan. Gimana menurut kamu? Suka nggak aku hamil lagi anak kamu? Harus senang, ya. pokoknya wajib bahagia."
Gandhi tak segera menanggapi jawaban sang istri, hanya mampu ia tampakkan ekspresi kaget. Kedua mata yang membulat sempurna. Masih tidak percaya dengan setiap kata diucapkan oleg istrinya.
"Kenapa, Sayang? Kamu kenapa jadi bengong? Apa nggak bisa paham sama perkataanku tadi? Atau kamu malah nggak deng—"
Gandhi tidak membiarkan istrinya lanjut berbicara. Dipeluk dengan cukup erat. Buah hati mereka masih berada dalam gendongan sang istri. Gandhi tak bisa ungkapkan bahagia dengan kata-kata. Jadi, ia memilih menunjukkan secara langsung lewat dekapan yang erat.
"Senang nggak aku hamil lagi? Akan punya tiga anak kita nanti totalnya, Sayang."
Gandhi segera mengakhiri pelukan. Dan, dilanjutkan menunjukkan anggukan kepala dengan gerakan yang lumayan kaku karena masih belum bisa menghilangkan rasa kaget menyelimuti dirinya. Pemberitahuan dari sang istri jadi faktor utama keterkejutannya.
"Iya, Ma. Aku sangat bahagia. Mana ada yang nggak akan senang mau punya anak lagi, tapi tunggu dulu. Tadi kamu bilang bakalan berapa kita punya anak? Tiga?" Gandhi pun bicara dalam nada yang tidak percaya.
"Iya, Papa Ghesa. Kita akan tambah punya dua anak lagi. Aku sedang mengandung buah hati kembar kita. Kamu hebat juga, ya. Bisa memberikan aku anak kembar. Hihi."
Seketika, wajah Gandhi memerah. Tak dapat ia cegah hal tersebut terjadi. Semua sebagai bentuk rasa malu yang tengah menyelimuti karena ucapan dari sang istri. Ia tahu bahwa wanita itu tak mempunyai maksud untuk mengejek. Sekadar mengguyoni saja.
Guna menanggapi, Gandhi pun pamerkan cengiran di wajah cukup lebar. Ia secara bergantian memandangi sang istri dan buah hati mereka yang begitu anteng berada di dalam gendongan. Secepat pula, dipusatkan kembali pandangan ke sosok istrinya.
"Hmm, benarkah aku hebat? Aku malahan nggak menyangka bisa membuat kamu hamil cepat, Sayang. Apalagi, sampai punya dua anak sekaligus. Diluar perkiraanku."
Wina tak kuasa menahan tawanya untuk diloloskan kian kencang. Bukan karena sang suami ucapkan kata-kata lucu. Melainkan, membuat dirinya jadi rasakan kegelian. Pria itu memang berucap apa adanya, bahkan terlalu polos menurut sudut pandangnya.
"Benar, Sayang. Kamu sangat hebat. Aku kira juga nggak akan kembar. Tapi, Yang Maha Kuasa kasih kita kepercayaan lebih. Jadi, aku wajib bersyukur. Kamu pun harus begitu."
Anggukan kepala singkat dilakukan sang suami sudah cukup bagi Wina. Ia tak bisa meredam tawa melihat bagaimana ekspresi ayah dari calon buah hati kembarnya itu masih menampakkan kebingungan.
"Iya, Sayang. Aku juga sangat bersyukur. Aku punya PR yang harus dikerjakan. Akan ada banyak tantangan nanti punya anak tiga. Aku harus meningkatkan penghasilan tiap bulan supaya bisa memberikan kehidupan yang bagus untukmu dan anak-anak kita."
Wina memperlebar senyuman hangatnya sembari mengangguk. Belum ingin dirinya alihkan fokus pandangan dari sosok sang suami yang betah sama sepertinya menatap balik. Ia suka sorot penuh cinta pria itu.
"Semangat, Papa!" Wina berseru riang.
……………………………………………………………………………………………..
"Apa nggak boleh jangan pakai dasi, Sayang? Kemeja saja bagaimana? Rasanya sudah terlihat rapi. Bagaimana, Ma? Kamu setuju?"
Wina segera gelengkan kepala sembari tetap gerakan tangan secara cekatan untuk pasang dasi. "Kenapa gitu, Pa? Apa alasannya?"
"Mama rasa akan jauh lebih rapi, kalau dasi digunakan. Apa belum merasa terbiasa, ya? Benar begitu, Pa?" tebaknya asal saja.
"Mungkin, Sayang. Aku belum terbiasa. Sedikit aneh dan tidak nyaman. Apalagi, selama jadi bartender, aku lumayan jarang berpakaian yang formal. Dasi saja dulu waktu wisuda. Setelah itu nggak pernah."
Wina langsung tertawa dengarkan jawaban jujur sang suami. Polos menurutnya pemilihan kata. "Kamu harus sudah mulai bisa membiasakan diri, Pa. Kamu bukan lagi bartender yang berurusan sama minuman."
"Sekarang sudah jadi pemilik dari usaha restoran. Wajiblah untuk kamu perhatikan penampilan, apalagi akan bertemu mitra."
Wina memamerkan senyuman kian lebar guna dapat yakinkan sang suami. "Belum lagi nanti merintis bisnis resort. Pasti akan harus dijaga penampilan. Bertemu terus mitra-mitra yang diatas kita. Penting juga penampilan sebagai daya tarik, Pa."
"Mama sudah cukup mengenal dan sering menerapkan cara yang seperti ini untuk berbisnis. Memang jadi kewajiban." Wina bagi pengalaman yang pernah dilakukannya sebagai pengusaha. Ia harus mampu untuk meyakini suaminya, tanpa menyerah.
"Iya, Sayang. Oke. Aku akan memakai dasi agar lebih menarik dan berwibawa."
Wina kembali keluarkan tawa. "Makasih, sudah sedia mendengar saranku, Pa. Akan aku buat penampilan Papa hari ini seperti CEO muda yang penuh karismatik dan menarik. Berwibawa, pintar, dan tampan."
"Kalau makin tambah berkarisma dan menarik, apakah akan mudah mengikat wanita lain? Gampang terpesona?" tanya Gandhi dalam suara dan mimik serius, meski berniat berguyon.
"Apa? Wanita lain? Bukannya klien dan mitra?" Upaya konfirmasi ulang dilakukan oleh Wina, taku salah mendengar.
"Wanita lain." Gandhi menjawab dengan santai dan ringan anggukan kepala, walau sadari perubahan ekspresi di wajah istrinya. Ia malah merasa senang karena telah sukses membuat wanita dicintainya itu kesal.
"Kenapa jadi mau menarik perempuan lain dengan pesona kamu, Papa Ghesa? Satu istri kurang? Tidak hargai istri kamu yang lagi hamil, hmm? Bukan satu, tapi dua calon anakmu. Jadi, jangan macam-macam, ya."
Kekehan tawa seketika diloloskan oleh Gandhi, sesuai dengan jawaban yang sudah dipikirkannya tadi. Sangat persis. Membuat Gandhi ingin tergelak. Sungguh mudah ternyata untuk mengguyoni wanita itu. Gandhi pun merasa istrinya jauh jadi lebih sensitif dan sensi, tepat setelah mengandung terkhususnya. Pengaruh kehamilan nyata.
"Istri tetap nomor satu bagiku. Kamu yang paling akan diutamakan, Mama Wina. Papa nggak akan macam-macam. Sebatas kerja untuk cari uang." Gandhi menjawab serius, kali ini. Namun, senyuman tak berkurang.
"Nggak akan ada yang lain. Papa adalah pria yang setia hanya pada satu cinta. Mama jangan pernah ragu Papa akan main hati, ya. Aku cuma sayang dengan Mama saja."
Wina sudah pasti tak mampu menahan tawa akibat jawaban sangat percaya diri yang diucapkan sang suami. Ia mendengar juga ada nada bangga terselip, tentu lebih didominasi oleh kata-kata jenaka.
Kemudian, sebagai balasan, maka Wina segera saja mengangguk beberapa kali dengan gerakan yang mantap. Senyuman yang tengah ia cetak di wajah cantiknya pun semakin dilebarkan, gigi-gigi terlihat.
Kedua tangan Wina lantas mengarah cepat ke kedua pipi suaminya. Dilanjutkan dengan lakukan usapan-usapan halus. Afeksi seperti ini memang sudah teramat sering diberikan, hampir setiap hari tentu saja. Namun, tidak pernah membuat Wina menjadi bosan sekalipun. Senantiasa disukai, tentu saja.
"Harus setia, ya. Nggak boleh main hati. Dan kalau mau lirik-lirik wanita lain sebentar, diperbolehkan sedikit. Cuma, pas di tempat umum saja, tetapi. Anggap saja matanya Papa suka jelalatan, susah dihilangkan."
Giliran Gandhi yang tergelak dengan cukup kencang. Diakibatkan oleh kalimat sindiran dalam nada suara lembut disampaikan sang istri. Ia tak merasa tersinggung, justru terdengar konyol dan lucu.
"Siapa yang lirik-lirik, Ma? Maaf, Papa sudah nggak mau kayak gitu lagi, ya. Papa hanya mau melihat kecantikan Mama Wina saja. Nggak ada yang lain lagi bagiku, Sayang."
Bagi Gandhi juga sebuah peringatan yang harus ditaati. Sang istri memanglah selalu mempunyai cara melarang secara halus, jarang menunjukkan kegalakkan untuk memintanya tak lakukan suatu hal.
Sudah tentu pula akan membuat Gandhi mengabulkan apa yang jadi keinginan sang istri demi menjaga harmonisnya hubungan dan juga rumah tangga mereka. Ia tak keberatan memahami hati istrinya.
"Serius Papa akan gitu? Nggak akan mau lirik-lirik perempuan lain. Cuma Mama saja? Ayo jangan bohong, nggak akan mempan di Mama. Mata lelaki nggak bisa bohong."
Kembali, Gandhi terkekeh. Suaranya malah kian mengencang. Tak lupa menganggukkan kepala dan juga melebarkan senyuman yang terkesan seperti tengah menggoda, sengaja ditunjukkan pada sang istri, tentu saja.
"Benar, Sayang. Aku nggak bohong, ya. Buat apa juga aku katakan hal nggak jujur sama kamu, Mama Wina? Mestinya aku bisa kamu percayai. Jangan mencurigaiku terus."
Wina segera gerakan kepala ke atas dan bawah, tanda bahwa ia mengerti dan serius tanggapi jawaban sang suami. "Baik, Papa."
"Baik, Mama akan percaya. Papa juga akan selalu di hati Mama." Wina berujar dengan santai sembari masih mengangguk-angguk.
Kemudian, tawanya mengeras. Tentu sukses membuat sang suami merasakan curiga. Ia bisa melihat jelas perubahan di sepasang mata pria itu, menunjukkan keheranan yang sangat nyata. Wina pun jadi kian gemas.
"Sayang...," panggilnya begitu lembut.
"Ada apa, Sayang? Lagi mengidam? Kamu mau makan dan minum apa? Akan aku beli sekarang untukmu, Mama Wina. Bilang saja. Jangan malu-malu atau memakai kode."
Gandhi terus memberikan perhatian pada sang istri. Ia pun sangat sadar jika gelakan wanita itu bertambah keras. Tentu, Gandhi semakin penasaran apa yang menyebabkan. Walau ada tebakan bahwa sang istri tertawa karena deretan kalimat tanyanya tadi.
"Aku nggak ngidam makanan, Sayang. Kayak mau yang lain. Tapi, aku sendiri bingung."
Alis kanan Gandhi terangkat. Tidak paham akan jawaban sang istri. "Maksud kamu apa, Sayang? Maaf, aku nggak mengerti."
"Soal yang kamu tadi bilang bingung. Apa bisa begitu kalau mengidam? Nggak tahu apa yang kamu mau?" tanyanya lebih lanjut.
"Aneh, Sayang. Waktu mengandung Ghesa kamu nggak begini. Aku jadi ikut bingung."
Wina keraskan tawa. "Aku mengidam ingin terus sama kamu, Sayang. Mau berada dekat kamu selalu. Apa aku boleh ikut pergi?"
"Aku nggak salah dengar 'kan ini? Apa kamu lagi mengerjaiku, Sayang? Aku sukses jadi kaget. Tapi, kalau benar begitu. Jangan ikut. Kamu diam di rumah saja bareng Ghesa."
……………………………………………………………………….
Gandhi berupaya selesaikan semua pekerjaannya lebih cepat untuk hari ini, sudah direncanakan sejak kemari. Sebab, ia memiliki acara makan malam bersama keluarga kecilnya di sebuah restoran mewah, berlokasi di daerah dekat pantai Jimbaran. Sang istri sudah menyetujui. Buah hati mereka pun tak kalah senang diajak keluar pergi. Ghesa memang sedang suka jalan-jalan. Sangat menunjukkan antusias.
Dan, ketika ia sampai di rumah, Gandhi sedikit merasa kaget. Mendapati istrinya memakai long dress berwarna merah. Rambut sepunggung wanita itu pun digerai. Make up digunakan oleh sang istri tak terlalu tebal, namun tetap sukses membuat wanita itu tampak lebih cantik dan juga anggun. Ia sangat menyukai.
Saat, sudah tiba di restoran, Gandhi masih tak mampu mengurangi keterpesonaannya pada sang istri. Ia lebih memerhatikan wanita itu. Senyuman menawan yang selalu terukir di wajah istrinya sangatlah berhasil membuatnya terhipnotis. Tak ingin alihkan perhatian dari wanita itu barang satu detik. Enggan saja melewatkan senyum manis sang istri yang sebabkan jantung berdebar kuat.
"Papaaa. Suappp."
Gandhi mendengar celotehan sang putri yang ia tengah pangku secara jelas, namun tidak dilontarkan jawabannya ataupun ingin mengabulkan permintaan Ghesa. Terus saja dipusatkan atensinya ke sosok sang istri, tidak dilakukan kedipan mata sama sekali.
"Papaaa, suappp maemmm." Ghesa kembali serukan permintaannya, intonasi semakin mengeras seraya dongakkan kepala ke atas agar balita itu dapat melihat wajah ayahnya. Kini, tercetak ekspresi cemberut dan juga bibir yang dimanyunkan ke arah sang ayah.
"Papaaa." Ghesa loloskan rengekan dengan sebal, tiga puluh detik kemudian. Badannya pun digerak-gerakannya. Kian tak sabar.
"Suapp, Papaaa. Suapp." Balita itu berseru lagi dalam intonasi suara kian meninggi, tetap dipandangi sosok ayahnya.
"Aduhh." Gandhi keluarkan ringisan cukup keras, tepat setelah terima cubitan di bagian tangan kanan dari putrinya.
Gandhi pun cepat pindahkan atensi ke sosok Ghesa. Ia mendapat suguhan tatapan sebal balita itu. "Kenapa, Nak? Mau bilang apa?"
"Ghesa bilang apa tadi? Mama cantik? Benar, Sayang. Papa juga sangat setuju, Nak."
Sedetik selepas selesaikan jawabannya, maka alis kiri Gandhi terangkat naik. Dan, kerutan pada dahi juga menjadi semakin banyak. Bentuk reaksi atas tawa sang istri, sarat akan ejekan. Ia segera menaruh curiga, terutama alasan wanita itu tergelak.
"Salah, Papaa. Salahhh."
Kini, kedua alis kompak Gandhi angkat lebih tinggi lagi, tanda bahwa kebingungan melingkupinya juga semakin besar saja, pasca sang buah hati merespons dengan cukup tak lucu. Gandhi pun sadar betul bahwa putrinya sedang merasa sebal.
"Salah apa, Nak? Papa belum mengerti sama Ghesa maksud. Memang kenapa, Sayang?" tanyanya dengan polos. Kian bingung.
"Bukannya tadi Ghesa mau bilang Mama cantik, ya? Papa dengar jelas kayak begitu Ghesa bilang, Nak." Gandhi pun berupaya mengonfirmasi lagi. Dipandangnya lekat sang buah hati yang gelengkan kepala.
"Salah, Papaa. Salahhh. Bukannn."
Alis kanan Gandhi seketika terangkat lebih tinggi ke atas diakibatkan rasa heran oleh jawaban yang diluncurkan sang buah hati dengan seruan cukup keras, masih tetap disertai gerakan menggeleng. Terus menjadi kebingungan Gandhi. Tak dapat pula cepat memahami sahutan putrinya.
"Bukan, ya? Lalu, kayak gimana, Sayang? Coba Ghesa kasih tahu ke Papa yang jelas, ya. supaya Papa ngerti apa maunya Ghesa."
Selesai lontarkan seluruh kalimat, maka Gandhi memilih pindahkan sejenak atensi dari sang buah hati ke istrinya. Dan, ia mendapati jika wanita itu yang sudah duduk di sampingnya tengah loloskan tawa.
Ekspresi tercetak pada wajah sang istri sedikit berbeda. Seperti ia sedang jadi bahan candaan. Gandhi sudah lumayan hafal raut wanita itu saat ingin tunjukkan ejekan kepada dirinya. Meski, sang istri tidak keluarkan tawa. Gandhi belum mampu menghilangkan kecurigaan.
"Mama, kenapa, ya? Apakah ada yang salah?" tanyanya, lantas. Ia belum alihkan atensi dari wajah sang istri yang pamerkan senyuman aneh dari biasanya. Sukses pula menambah rasa penasarannya.
"Papa suappp."
Mendengar permintaan putri manis mereka yang dialunkan dengan nada manja, Gandhi pun segera mengabulkan. Dan, tak sampai satu menit, sudah berhasil masuk ke dalam mulut makanan yang disukai sang putri. Sebagai hadiah tambahan, ia kecup kening Ghesa. Dilakukan usapan-usapan yang halus juga pada rambut hitam sang buah hati.
"Bilang apa dulu sama Papa ganteng ini, Nak?" ujar Gandhi lembut sembari lebarkan senyum hangatnya yang telah terbentuk sejak tadi. Atensi terpusat ke sang putri.
"Makasih, Papaaa. Sayang Papaaa. Hahaha. Sayanggg." Ghesa pun lakukan seperti diinginkan sang ayah, dilontarkan dengan begitu riangnya. Volume cukup besar.
Gandhi pun jadi ikut tergelak. Kemudian, diberikan ciuman lagi di dahi sang putri. Berlanjut ke kedua pipi tembam putri kecilnya yang menggemaskan. Setelah selesai, ia memandang kembali istrinya.
"Mama sayang nggak sama Papa kayak anak kita?" Gandhi sengaja lontarkan kalimat godaan dalam nada yang dialunkan mesra.
"Sayang Mama, Papa. Kayaknya rasa sayang Papa lebih besar ke Mama gara-gara Mama pakai gaun ini. Sampai Papa salah dengar permintaan anak cantik kita tadi. Papa pasti nggak sadar, ya? Mama mau ketawa lagi."
Gandhi merespons cepat jawaban sang istri sembari memikirkan kembali apa sedang dimaksud oleh wanita itu. Tidak memakan waktu lama untuk menyimpulkan. Maka, kalimat tanya seketika muncul di kepalanya.
"Tunggu, Ma." Gandhi berujar masih dalam nada lembut. Sudah intens ditatap istrinya.
"Tadi, Mama bilang kalau Papa salah dengar dan nggak benar artikan permintaan putri kita? Rasanya Papa dengar Ghesa bilang tadi kalau Mama cantik. Nggak akan mungkin Papa salah dengar, Ma." Gandhi keluarkan opini dengan kepercayaan diri cukup tinggi.
Respons sang istri berupa gelakan semakin kencang, kurang diharapkan. Bukan berarti tidak suka melihat wanita itu tertawa. Justru istrinya semakin memesona. Ia selalu gemar saksikan Wina yang tertawa tanpa beban.
"Nggak, Papa. Ghesa nggak ada bilang gitu tadi. Kalau nggak yakin sama ucapan Mama, Papa bisa tanyakan sendiri ke anak kita. Tadi Ghesa minta disuapin. Nggak bilang Mama cantik. Papa memang total salah dengar."
Gandhi pun cepat menolehkan kepala ke arah sang putri. Anggukan dilakukan buah hatinya sudah cukup menjadi jawaban. Ia lantas memandang kembali pada sang istri. Cengiran yang lebar pun diperlihatkan saat mata mereka berdua saling bersitatap. Jelas pula rasa malu melanda diri Gandhi.
"Jadi, Papa yang salah dengar, Ma? Baiklah, mungkin bisa begitu karena Papa terhanyut dengan dandanan Mama. Kelihatan semakin cantik malam ini. Lain dari biasanya, Ma."
Wina mau tak mau kembali tertawa akibat jawaban sang suami. Kepalanya pun turut digeleng-gelengkan. Menandakan bahwa ia sedang merasa keheranan akan balasan sang suami. Dilanda kegelian pula di perut.
…………………………………………………….
Setelah acara makan malam selsai, Gandhi tak mengajak sang istri dan buah hati mereka untuk kembali ke rumah. Tetapi, ia memilih menginap di sebuah hotel bintang lima, kamar kelas VIP yang mempunyai pemandangan langsung terarah ke laut lepas, lokasinya pun tidak terlalu jauh dari restoran yang mereka kunjungi, tadi.
Gandhi dan keluarga kecilnya baru akan check out besok siang. Mengenai hotel yang ia pilih, sang istri sangat menyukai dan putrid kecilnya juga. Gandhi tidak merasa menyesal karena sudah keluarkan uang hingga belasan juta hanya untuk kamar mereka tempati. Ia sangat merasa puas.
Gandhi telah rencanakan waktu malamnya bersama sang istri diisi dengan mengobrol panjang sambil minum teh di balkon, setelah buah hati mereka tidur. Nyatanya sedikit tidak bisa berjalan sesuai rencana dibuat. Membuat Gandhi harus mampu bersabar.
Bukannya sang istri tak mau banyak bicara dalam acara mengobrol yang Gandhi bangun dalam suasana romantis. Hanya saja, wanita itu lebih berfokus menyantap sejumlah makanan dipesan dari restoran ada di hotel, cukup banyak. Sekitar empat masakan dalam porsi yang terbilang banyak. Gandhi pun sempat bertanya di dalam hati apakah sang istri bisa menghabiskan semua sendiri. Ia pun meragukan akan bisa.
"Mau nyoba ayam bakarnya tidak, Pa? Enak banget, yah kalau dibandingkan sama ayam yang kita beli di sana tadi. Bumbu ayam bakar ini lebih enak, nggak pedas juga. Mau makan, Pa? Mama yakin Papa akan suka."
Tak butuh waktu yang lama untuk Gandhi berikan balasan atas tawaran sang istri dengan gelengan kepala. "Tidak, Sayang."
"Nggak mau? Kenapa begitu? Biasanya juga suka 'kan sama ayam bakar? Makanan favorit." Wina ingin ketahui alasan dari sang suami, sebab merasa sedikit aneh dengan penolakan yang baru didengarnya. "Ayam bakar ini enak. Kamu past—"
"Bukan masalah enak atau nggak, Ma. Cuma kenyang perut Papa masih. Lagian, sekarang sudah malam. Kayaknya agak riskan makan, takutnya nanti badan akan tambah gemuk. Mau jaga tubuh supaya nggak tambah gede."
"Mama habiskan semua sendiri saja, kalau ingin makan. Besok Papa bisa pesan. Tapi, sekarang lagi tidak mau," imbuh Gandhi guna menguatkan keengganannya.
"Kenapa bahas masalah badan yang gemuk, Sayang? Jadi, sensi. Takut juga badan Mama akan makin melar. Dari bulan lalu sudah naik dua kg lagi. Khawatir aja bisa tambah gemuk. Masih beberapa bulan lagi waktunya melahirkan anak-anak kembar kita, Pa."
Gandhi tak dapat mencegah tawanya untuk terluncur. Ia sebenarnya sama sekali tidak memiliki tujuan mengejek sang istri, hanya saja cara wanita itu berbicara lucu. Belum, ekspresi yang diperlihatkan kepadanya. Buat Gandhi seketika tergelak.
"Bisa jangan begitu tanggapan buat Mama, Pa?" Gandhi buru-buru menggelengkan kepala, tepat setelah sedetik sang istri selesai berbicara. Ia pun berupaya segera meredam, bahkan mengilangkan suara tawa yang dikeluarkan. Namun, tak mudah.
Pelototan mata dan juga ekspresi galak ditunjukkan sang istri tidak membuat dirinya takut memang, tetapi Gandhi berusaha menjaga suasana hati wanita itu tidak tambah memburuk karena reaksinya.
Salah satu dengan cara menyudahi tawa. Namun, tak bisa segera dilakukan. Perut Gandhi masih seperti digelitik, ingin terus tergelak. Terlebih, sang istri menampakkan raut yang justru tampak lucu.
"Papa jangan menyebalkan dong. Jangan Mama jadi bahan canda atau lelucon. Mama lagi sensitif. Hariusnya Papa bisa tenangkan atau menghibur Mama supaya senang lagi."
Selesai lontarkan kalimat balasan yang berupa sindiran, maka Wina segera arahkan tangan ke lengan atas sang suami. Diberikan lalu olehnya cengkraman, meski tidak cukup keras. Beberapa detik saja.
"Maaf, Sayang. Maaf. Nggak sengaja ketawa karena kamu bicara kocak. Aku jelas nggak bisa menanggapi dengan serius, ya."
Gandhi semakin menambah kuluman senyum bersamaan dengan genggaman yang dilakukan. Jari-jari mereka pun saling bertautan. La lantas mencium telapak tangan kanan sang istri yang halus.
"Mama jangan ngambek juga atau kesal, ya? Papa nggak ada tujuan buat mengejek, kok. Cuma, kata-kata Mama Wina yang kocak saja tadi. Papa nggak tahan kalau nggak ketawa."
Gandhi kian lekatkan tatapan, saat sepasang mata sang istri sudah intens mengarah padanya. Kedua indera penglihatan wanita itu tak lagi pancarkan kesebalan. Membuat Gandhi menjadi lega tentunya.
Kemudian, dipeluk sang istri. Salah satu cara yang kerap digunakan untuk membujuk. Disamping juga, ia ingin bisikan kata-kata mesra sebagai s*****a ampuh lainnya guna luluhkan hati sang istri yang sedang sebal.
"Aku nggak terlalu memikirkan perubahan fisik atau badan kamu, Sayang. Wajar kamu lebih berisi karena lagi hamil anak-anak kita. Dua bayi ada di dalam perut. Wajarlah kalau berat badan kamu akan naik, Sayang."
"Pasti ada solusi nanti, setelah melahirkan kalau misalnya kamu mau diet. Aku akan dukung program yang kamu lakukan."
Gandhi kemudian mengecup kembali kening sang istri. Spontan saja. Bukan memiliki tujuan lainnya. Dekapan pada tubuh Wina juga kian dieratkan. Mata mereka berdua pun masih saling memandang. Tatapan yang mesra sengaja ditunjukkan. Begitu juga akan senyuman semakin lebar terpamer di wajah.
"Kamu yakin nggak akan apa-apa atau jadi kecewa nanti badanku jadi tambah gendut? Jangan bohong, ya. bicaranya yang jujur harus. Aku nggak suka kamu bicaranya yang manis. Aku jadi curiga sama kamu, Sayang."
Gandhi sungguh tidak kuasa menahan tawa. Kembali diloloskannya. Bahkan, dengan kian kencang. Namun, secepatnya berupaya guna diredam dengan cara menutup mulutnya dengan tangan kanan. Sementara itu, jari tengah dan telunjuk tangan kiri membentuk huruf V agar sang istri tak tambah sebal.
"Jangan buat ibu hamil jadi marah, Papa. Bisa ngamuk di sini. Apa Papa akan mampu meladeni nanti? Jadi cepatan berhenti te--"
Wina tidak bisa melanjutkan ucapan karena mendapatkan pelukan erat dari sang suami. Maka, kekesalan seketika dapat hilang. Ia pun tak paham apa yang bisa menyebabkan. Malah, rasa gembira kini menyelimutinya. Bahagia saja bisa didekap oleh sang suami.
"Maafkan aku, Sayang. Maaf sudah membuat istriku yang cantik ini sebal. Aku yang salah. Tapi, aku nggak pengin kamu lama kesalnya. Mau nggak memaafkanku? Nanti akan aku belikan es krim dan cokelat kesukaanmu."
Giliran Wina yang tertawa. Kemudian, ia lepaskan dekapan dilakukan oleh suaminya. Kepala digeleng-gelengkan, ketika berikan pukulan sebanyak dua kali di bagian lengan kanan pria itu. Memang tidak cukup keras.
"Kamu kira aku masih anak kecil yang bisa kamu sogok pakai es krim dan cokelat, ya? Nggak akan mempan, Sayang. Kesukaanku sudah berubah. Bukan lagi cokelat sama es krim. Yang aku gemari sekarang adalah bunga bank dan investasi saham. Bisa kamu berikan semua sebagai sogokan untukku?"