Wina bangun lebih pagi dari biasanya, yakni pukul lima. Sedangkan, suami dan putrinya masih terlelap Ia sedikit tak bisa tidur dengan nyenyak, bukan karena kamar yang mereka tempati kurang nyaman, melainkan dikarenakan tendangan-tendangan cukup keras dilakukan oleh calon dua buah hatinya di dalam perut.
Memang tidak terlalu sakit, hanya saja membuat Wina jadi kurang tenang. Tentu, ada faktor lain yang memengaruhi juga. Ia tengah diselimuti akan waktu melahirkan sebentar lagi akan dijalani secara sesar, kurang dari dua bulan. Wina terus memikirkan dari hari ke hari, memang wajar ibu hamil memikirkan hal tersebut yang lumayan sering. Wina telah berkonsultasi pada dokter kandungan.
"Mama, kenapa gak maem?"
Mendengar sang putri yang melontarkan pertanyaan, maka Wina segera pindahkan atensi dari perutnya. Tangan kanan pun wanita itu juga angkat. Lalu, sosok Ghesa yang tengah memandangnya dengan sorot mata ingin tahu besar jadi perhatian Wina.
"Kenapa, Sayang? Ghesa tanya apa tadi, Nak? Maaf, ya. Mama nggak dengar. Sekarang, Ghesa coba bilang ulang biar Mama tahu."
Anggukan kepala secara cepat ditunjukkan Ghesa untuk balas ucapan ibunya. "Mama kenapa gak maem?" tanyanya polos.
"Mama takut perut Mama gede lagi, yah?" kembali, balita itu luncurkan pertanyaan lanjutan dengan rasa ingin tahu besar.
"Hahaha." Wina tak kuasa menahan tawa, terlolos cukup kencang. "Nggak, Nak. Nggak begitu, Sayang," jawab wanita itu jujur. Sedikit gelagapan. Seban tak punya balasan tepat sekiranya bisa dipahami sang putri.
"Mama, kenapa?" Ghesa masih bertanya dengan nada yang polos. Terus pandangi juga sang ibu yang tengah tertawa dalam ekspresi lugu, balita perempuan itu tidak tersenyum.
"Mama nggak apa-apa, Sayang." Wina cepat menyahut dan berupaya meredam gelakan tawa supaya segera hilang.
"Mama gak maem kenapa? Perut Mama nanti gede?"
Pertanyaan dengan maksud untuk tanyakan hal yang sama baru saja dilontarkan oleh sang putri sebabkan Wina jadi tertawa kembali. Tak bisa ditahan, walau sudah mencoba cukup keras. Namun, sungguh lucu cara buah hatinya dalam bertanya.
"Mama jawab, yahh."
Wina lekas lakukan anggukan kepalanya guna tanggapi permintaan sang putri yang teralun manja, kali ini. "Iya, Nak."
"Mama nggak maem sama Ghesa karena Mama masih kenyang, Nak. Nggak takut perutnya Mama tambah gede." Wina menjawab dengan suara lembut dan turut berikan afeksinya di kepala sang putri, yakni mengusap-usap dalam gerakan halus.
"Iyahhh, Mamaaa." Ghesa menjawab semangat.
"Sudah ngerti Ghesa, Mamaaa. Hahahah."
Wina jelas ikut tergelak karena tawa renyah yang diluncurkan oleh sang putri cukup kencang. Ia jadi semakin dibuat gemas. Terlebih lag, disuguhkan ekspresi dan senyuman yang begitu manisnya.
Kemudian, Wina mengangkat tubuh mungil sang putri guna dirinya dudukkan di atas pangkuan. Pemberian afeksi berupa ciuman kilat pada kening dan kedua pipi sang buah hati tak akan dilupakan.
"Hahahahaha."
Suara tawa semakin keras diluncurkan Ghesa sudah dapat menjadi petunjuk dan simpulan bagi Wina bahwa sang putri suka akan apa yang dilakukannya. Sudah pasti buah hatinya tidak dapat menolak.
Sikap manja Ghesa, yakni menyenderkan kepala di d**a sembari mendongakkan kepala serta memamerkan senyuman begitu lucu, enggan untuk Wina lewatkan. Akan diladeninya juga, tentu saja.
"Mamaaa...,"
"Apa, Sayang?" tanya Wina dengan suara yang dialunkan riang dan juga terdengar gembira. Wajib baginya untuk menunjukkan semangat selalu kepada putri manisnya.
"Perut Mama isi berapa adek?" Ghesa bertanya dalam nada polos seraya masih terus memandangi wajah cantik sang ibu disayangnya. Ditatap dalam sorot yang lekat.
Kembali, Wina tertawa karena pertanyaan lugu dilontarkan putri kecilnya. "Hmm, jumlah adik yang lagi ada di dalam perut Mama sekarang, ya? Ghesa mau tahu?"
"Yahhh, Mamaaa. Hahahaha."
"Dua, Sayang. Ghesa akan punya dua adik kembar yang ganteng-ganteng nanti kayak Papa. Ghesa senang nggak mau punya ad—"
"Wah, siapa yang bilang Papa ganteng tadi? Mama, 'kah? Serius bilang Papa ganteng? Nggak bohong, 'kan? Mujinya dengan tulus, yah? Nggak ada maksud tertentu Mama?"
Wina segera alihkan pandangannya dari Ghesa ke sosok sang suami yang berdiri tak jauh, sekitar dua meter saja. Bahkan, kedua indera penglihatannya saksikan pria itu sedang berjalan mendekat. Raut wajah sang suami sudah pasti menjadi pusat perhatian Wina. Senyuman semakin dikembangkan.
"Papa gantenggg! Mama bilanggg! Hahaha."
Wina dapat rasakan masing-masing pipinya panas. Ia pun juga menduga bahwa rona merah akan menghiasi. Ingin sekali, Wina sembunyikan. Namun, kondisi dan waktu yang tak memungkinkan. Sang suami pasti tak akan melewatkan. Mengingat sedang memandang dengan begitu lekatnya. Pria itu pasti sudah menyadari, hanya belum saja dikatakan. Ia harus menyiapkan balasan.
Wina menarik alis bagian kanan, saat sang suami melepaskan kontak mata mereka. Tak diucapkan apa-apa. Pria itu justru mendekat ke arah putri kecil mereka. Tidak sampai satu menit sudah digendong Ghesa. Sang suami yang berbisik di telinga kanan buah hati mereka tak luput dari perhatiannya. Ia menjadi penasaran. Namun, enggan untuk bertanya. Lebih memilih diam saja.
………………………………………………………………….
Kegugupan sudah Gandhi rasakan semenjak masuk ke ruang operasi menemani istrinya melahirkan. Semakin menjadi bertambah ketika dokter dan sudah lakukan pembedahan. Tak mampu memberlakukan sikap tenangnya. Gandhi senantiasa cemas. Kala, dua buah hati mereka lahir, ia kian tegang saja.
Berbeda akan istrinya yang selalu mampu lengkungkan ujung-ujung bibir serta sorot mata tetap teduh, tak terlihat sedikit pun khawatir. Ia tahu bahwa wanita itu terus berupaya untuk berpikir positif dan tidak ingin khawatir. Sungguh, sulit diterapkan.
Sang istri sudah memberitahu berulang kepada dirinya, tepat sebelum operasi dilakukan. Dan, saar semuanya sudah selesai serta berjalan lancar, sepasang mata indah wanita itu menunjukkan kelegaan yang teramat besar. Berkaca-kaca.
"Kenapa diam aja, Pa? Muka juga pucat, ya. Apa masih kepikiran sama yang tadi? Benar bukan? Atau ada yang la—"
"Iya, Sayang. Masih kepikiran. Seperti aku masih ada di ruangan itu dan lihat perut kamu dibedah. Di kepalaku belum mau hilang, terus berputar. Padahal, sudah aku mencoba tidak pikirkan." Gandhi menjawab jujur sesuai dengan dirasakannya.
"Hahaha. Ya, ampun." Wina tak kuasa tahan tawa untuk keluar karena jawaban polos sang suami. Lucu saja baginya. Menggelitik perut juga memang. Sungguh menggelikan.
"Coba perlahan dilupakan. Mungkin buat Papa nggak mudah. Tapi, jangan dibiarkan memori buruk terus tersimpan. Nggak baik bagi pikiran Papa. Mau dicoba, Sayang?"
"Lagipula, semua baik-baik saja." Wina menambahkan. Ia tersenyum penuh arti.
"Semua sudah baik-baik saja, Pa," tegasnya lagi sembari pandangi lekat sang suami.
"Kedua buah hati kembar kita sudah lahir dengan sehat dan juga selamat, tanpa ada kekurangan satu hal pun. Aku bersyukur, Sayang. Kamu juga harus begitu, ya. Jangan cemas terus. Semua sudah baik-baik saja."
"Kalau bayangan aku dioperasi belum mau hilang sekarang. Beberapa hari lagi pasti bisa perlahan-lahan kamu lupakan. Kalau dipaksa nggak diingat. Pasti jadi kebalikan."
Selesai lontarkan kalimat-kalimatnya dalam suara kian lembut, Wina pun lakukan belaian halus pada kepala suaminya. Lalu, berlanjut menuju ke salah satu pipi pria itu. Diusap penuh sayang. Wina ingin berikan sentuhan yang bisa membuat sang suami nyaman dan mampu melupakan kecemasan melingkupi.
"Iya, Sayang. Aku sudah mulai bisa." Gandhi pun cepat menjawab, berupaya terima saran dari sang istri yang baginya memang benar. Harus demikian, ia wajib bisa melenyapkan.
"Iya, Sayang. Bagus. Aku yakin kamu akan bisa." Wina hanya tanggapi singkat. Akan tetapi, senyuman di wajah kian dilebarkan secara sengaja ke arah sang suami.
Masih diberikan usapan-usapan halusnya di rambut ayah dari tiga buah hati mereka itu. Mata saling memandang dengan sorot yang sama-sama lekat. Ia selalu suka akan tatapan teduh diperlihatkan oleh suaminya itu.
Kemudian, atensi Wina terarah ke salah satu buah hati kembar mereka yang sedang digendong sang suami. "Pa...,"
"Kenapa, Sayang?" sahut Gandhi dalam suara sedikit serak dan pelan, selang dua detik. Raut kebingungan tampak di wajah.
"Mama rasa muka Papa mirip sama Triga, terutamanya yang bagian hidung. Sedikit mancung. Haha." Wina santai utarakan penilaian muncul di dalam kepalanya, sejak tadi. Diungkapkan dengan begitu jujur.
"Tapi, lebih mancung hidungnya Ghesa. Gen kamu kuat banget di putri kita itu, Pa."
"Beda sama Dwiga yang condong mirip ke Mama. Lihat saja hidungnya agak pesek. Tapi, bagi Mama tetap kelihatan tampan. Bulu mata Dwiga lentik kayak Mama."
Gandhi seketika sukses loloskan tawanya mendengar celotehan sang istri. Jelas saja lucu baginya. Terlebih cara wanita itu bicara dengan nada jenaka. Tentu, sangat berhasil mengundang gelakannya untuk keluar.
"Benarkah? Aku nggak memerhatikan yang detail kayak kamu, Sayang. Aku malah lihat Dwiga sama Triga agak mirip. Hidungnya anak-anak kita juga bagiku mancung."
"Mungkin kamu yang benar. Aku kurang peka. Aku harus lebih teliti memerhatikan supaya aku bisa membedakan." Gandhi pun tanggapi dalam nada suara yang santai.
"Iya. Kamu kurang peka. Nggak mau lagi perhatikan detail. Kalau kamu sudah lihat yang teliti. Pasti akan ketemu perbedaan hidung anak-anak kita, Sayang. Anggap saja PR buat kamu. Harus segera diselesaikan."
"Oke, Sayang. Siap dilaksanakan." Gandhi tetap pertahankan gaya bicara santainya.
Tawa diluncurkan kian keras bersamaan dengan senyum kian dilebarkan. Kepala tak lupa dianggukkan guna mempertegas jika tanggapi jawaban sang istri dengan serius.
Kontak mata mereka masih terjadi. Tidak ingin ada yang memutuskan. Gandhi jelas enggan melewatkan ekspresi bahagia sang istri. Apalagi tawa wanita itu. Membuatnya jadi ikut merasakan seperti sang istri.
"Sayang...," Gandhi memanggil dengan nada lembut, walau suaranya masih tak keras.
"Hmm, iya. Ada apa, Sayang? Biar aku tebak, kamu pasti mau bilang makasih kepadaku. Benar bukan, Pa? Baiklah, sama-sama."
"Aku juga senang punya anak dari kamu, Sayang. Dua jagoan ganteng-ganteng."
Gandhi membulatkan kedua matanya. Tak menyangka bahwa sang istri bisa mudah menebak apa yang hendak dirinya katakan beberapa menit lagi. Kepala pun lantas ia geleng-gelengkan guna menunjukkan pada istrinya ketidakpercayaan tengah dirasa.
…………………………………………………………….
Sang suami sedang pulang untuk menjenguk putri kecil mereka, tentu akan diajak ke rumah sakit nantinya guna melihat Dwiga dan Triga. Wina juga rindu dengan Ghesa. Sudah dua hari tak berjumpa. Ingin segera dengar dan tahu reaksi putrinya sudah punya adik-adik kembar. Wina berharap akan gembira Ghesa. Bagaimana pun juga, penting tanggapan dari balita itu.
"Dwiga dan Triga tidak terlalu mirip, Nak. Cukup kontras Ibu kira dari bentuk hidung dan mata. Walau, sama-sama putih cucu-cucunya Ibu. Dwiga dan Triga juga sama wajahnya bulat."
Wina keluarkan kekehan tawa dengar penilaian dari ibu mertuanya. Menganggap lucu saja. "Iya, Bu. Aku juga merasa begitu. Aku kira Dwiga sama Triga akan jadi kembar identik."
"Tapi, cukup beda. Tidak seperti kembar. Mudah untuk dibedakan orang-orang nanti." Wina loloskan jawaban canda.
"Mama belum dapat bedakan. Mereka berdua sama di mata Mama, Nak. Bentuk wajah mirip denganmu saat kecil."
Wina kembali lebih keras tertawa akibat merasa sang ibu juga keluarkan pengutaraan pendapat lucu. "Masa, Ma?"
"Mama benar tidak bisa membedakan? Aku sama Ibu sudah bisa tahu mana Dwiga dan yang mana Triga. Tidak sulit buat aku bedakan." Wina tanggapi berlanjut dengan santai.
"Masih sulit. Mama belum bisa," jawab Ibu Greta jujur.
"Kamu tidak peka, Ta." Ibu Yulia luncurkan guyonan pada sahabat beliau, tak memiliki maksud serius sama sekali.
Ibu Yulia keluarkan candaan demikian juga beralasan. Sudah tahu dengan betul sifat dari Ibu Greta karena selama tiga tahun bersahabat, habiskan banyak waktu belajar bersama di SMA. Hubungan tidak terjalin bagus, saat masing-masing telah menikah. Terlebih, anak-anak mereka berdua menjalin kasih.
"Mama bukan tidak peka, Bu. Tapi, memang mungkin belum bisa mengenali. Aku akan membantu." Wina luncurkan pembelaan dalam nada canda. "Atau Ibu yang bantu Mamaku, ya. Ibu yang jelaskan perbedaan Dwiga sama Triga apa aja."
"Tidak perlu, Wina." Ibu Greta cepat keluarkan balasan berupa penolakan. "Jika dia yang memberi tahu Mama. Pasti akan galak dan marah jika Mama tidak paham atau mengerti."
"Siapa yang bilang, Ta? Jangan kaitkan dengan masa lalu kita. Itu dulu, aku galak karena kamu sulit diajarkan Biologi, Matematika, Kimia. Beda kasus dengan cucu-cucu kita," jawab Ibu Yulia mengelak. Beliau berkata santai, terkesan bercanda.
"Harusnya kamu pintar sedikit, dulu. Aku tidak akan galak mengajarimu semua. Aku juga lelah mengulang materi-materi yang tidak kamu bisa mengerti karena aku ingin kamu dapat memahami semua pelajaran."
Ibu Greta mengulas senyuman lebih lebar sembari memandang besan beliau dengan sorot begitu bersahabat. Kemudian, Ibu Greta anggukan kepala beberapa kali dan tawa turut diloloskan, walau tidak keras.
"Berkatmu aku mampu melewati remidial. Kamu memang teman yang sangat dapat aku andalkan. Aku tidak akan bisa membalas semua kebaikan yang sudah kamu lakukan selama kita di SMA dulu, Yul." Ibu Greta berujar dengan sungguh-sungguh.
"Santai saja. Kamu bisa membalas kebaikan yang sudah aku lakukan menggunakan cara paling disukai para wanita kebanyakan."
Ibu Greta mengerutkan kening. Tanda jika beliau tak paham akan apa yang didengar. Ibu Greta jelas hendak mengonfirmasi agar dapat mengerti secara penuh, tanpa ada keambiguan yang timbulkan pemikiran lain.
"Cara apa kamu maksudkan, Yul?" tanya beliau dalam nada ingin tahu kental.
"Ibu mau Mama ajak Ibu berbelanja. Atau istilahnya shopping, Ma. Kebanyakan wanita suka kalau sudah menyangkut urusan yang satu itu. Mama tidak punya bayangan tadi?"
Ibu Greta menggeleng cepat. Beliau sudah pindahkan pandangan ke sang putri. "Tidak ada bayangan Mama, Sayang. Maka tadi, Mama bertanya supaya menjadi lebih jelas."
"Benar yang dikatakan menantuku. Nanti, luangkan waktumu satu hari untuk pergi berbelanja denganku. Cukup jalan-jalan kita bersama. Aku tidak akan memintamu belikan aku barang-barang. Aku masih ada uang. Walau, tidak sebanyak kekayaanmu."
Ibu Greta tentu saja meluncurkan tawa lagi, selepas dengar jawaban sahabat beliau. Dan, kepala dianggukkan beliau tanpa keragua, sudah pasti setuju. Dan telah dipusatkan kembali pandangan ke arah sang sahabat yang duduk di sebelah beliau.
"Akan aku luangkan waktuku berbelanja bersamamu, Yul. Aku bayarkan semua. Kamu bisa bebas membeli apa saja yang mau dibeli. Anggap aku lakukan semua ini untuk membayar jasamu saat kita SMA. Kamu sudah banyak menolongku belajar. Kadang meminjamkanku tugas juga untuk dicontek. Aku akan menebus sekarang."
Ibu Yulia kembali tertawa. Lumayan keras. Dan guna menunjukkan persetujuan beliau atas ajakan dari sang besan, maka anggukan dilakukan beberapa kali dengan gerakan yang mantap. Tanpa keraguan sedikit pun.
"Kamu harus menyiapkan uang banyak jika berani mentraktirku berbelanja. Aku sudah lama tidak membeli barang-barang branded. Terakhir, saat belum aku menikah," jawab Ibu Yulia dalam nada canda yang kental.
"Tenang saja. Aku sudah siapkan uang. Apa seratus juta kurang? Akan aku tambahkan lagi 200 juta. Kamu bebas belanja berapapun yang kamu mau. Aku beri dengan ikhlas."
…………………………………………………………………………………..
Wina sudah pulang dari rumah sakit, tiga hari lalu. Tidak pernah absen setiap malam ia begadang, menyusui dua buah hati kembarnya bergantian. Rasa kantuk menjadi faktor utama Wina sedikit berat untuk kurangi waktu tidur, hanya empat jam.
Walau demikian, wanita itu harus tetap jalankan tugas sebagai ibu yang berikan ASI bagi bayi-bayi kembar gantengnya agar segera berat badan dapat bertambah. Wina sudah bayangkan bagaimana dua putranya akan semakin lucu, ketika bertubuh gembul dan juga mempunyai pipi-pipi besar seperti bakpao.
Tak hanya berfokus pada bayi-bayi kembarnya, Wina pun selalu upayakan beri perhatian yang cukup pada Ghesa. Ia tidak ingin sang putri merasa tersisihkan atau kekurangan kasih sayang mereka sebagai orangtua, komitmen dengan suaminya.
Misalkan pagi ini, Wina tetap bangun pagi guna buatkan Ghesa sarapan, meski sedang mengantuk. Ia tahan demi dapat memasakan nasi goreng dengan campuran sosis serta daging ayam yang jadi makanan paling disukai oleh putri cantiknya.
"Sayang...," Wina memanggil dengan nada lembut sembari mengulum senyum hangat.
"Yahh, Mamaaa."
Tawa Wina pun terlolos lumayan kencang, setelah dengar suara lucu sang buah hati menyahut. Ia telah memusatkan seluruh atensi ke sosok putrinya yang manis.
Ghesa anteng duduk di baby booster seat. Ia tempatkan dekat dengan kitchen set, namun cukup jauh dari kompor. Ada sekitar dua meter. Balita itu asyik minum s**u dan juga biskuit yang diberikan, tanpa berceloteh banyak atau menunjukkan kerewelan.
"Sudah habis belum s**u sama jajan Mama kasih tadi, Sayang? Ghesa suka?" Terluncur kalimat tanya beruntun dengan riang.
"Yahh, Mamahh. Sukahhh."
Wina kian gemas melihat tingkah buah hati cantiknya itu. Ia memutuskan menghampiri guna ingin mendaratkan kecupan di bagian kening Ghesa. Tak sampai hitungan satu menit, sudah berhasil dilakukannya.
Wina juga berikan ciuman di masing-masing pipi sang putri yang kian tembam saja. Lalu, dilanjutkan memeluk erat buah hatinya itu. Memanglah demikian cara-cara Wina untuk tunjukkan rasa sayang besar dimilikinya.
"Wah, sudah habis sama jajan yang Mama kasih. Cepat banget Kakak Ghesa maem. Biar cepat juga gedenya yah, Sayang?" guyon Wina dalam suara masih terjaga gembira.
Anggukan kepala dan senyuman lebar sang buah hati yang manis, sangatlah sukses menghibur dirinya. Dan, menjadi tontonan tak ingin dilewatkan untuk diabadikannya.
"Yahhh, Mamahh."
Setelah dengar sahutan sang putri, maka Wina langsung mengangkat tubuh Ghesa guna digendongnya. Lalu, diberikan usapan halus di rambut buah hatinya itu. Kikikan tawa yang diloloskan sang putri tandakan bahwa senang akan apa yang ia lakukan.
"Aem...aemm, Mamahh."
Wina segera mengangguk, menanggapi permintaan Ghesa. Dan tetap dijaga fokus pandangan, dipusatkan terus pada wajah cantik sang buah hati. Ekspresi ceria dapat dilihatnya dengan begitu nyata.
"Sabar dulu, Sayang. Nasi goreng buatan Mama sudah matang, tapi belum bisa Kakak Ghesa maem. Masih panas. Tunggu lagi sebentar. Kakak Ghesa mau 'kan, Nak?"
Tepat setelah selesaikan balasannya, Wina memperoleh respons dari sang buah hati, yakni gelengan-gelengan kuat beberapa kali. Ditambah dengan munculnya tiba-tiba raut kecemberutan dan pipi-pipi dikembungkan.
Membuat Wina kembali meluncurkan tawa. Tentu saja, berdampak pada kesebalan sang putri yang kian bertambah besar. Ia pun segera berupaya meredamkan gelakan agar tidak sampai sebabkan putrinya menangis.
"Huhuhuhu."
Terlambat bagi Wina. Sang buah hati telah loloskan rengekan dengan kencang. Air mata pun perlahan menuruni pipi-pipi putri manisnya. Jika sudah begini. Maka, Wina harus segera mencari cara menenangkan.
"Aduh, Kakak Ghesa nggak boleh nangis, ya. Nanti hilang cantiknya. Iya, deh. Mama akan kasih Kakak Ghesa maem nasi goreng. Mau sekarang Kakak Ghesa?" tanyanya lembut.
Masih terus ditatap sang putri dalam sorot mata hangat sembari menghapus jejak air mata balita itu. Belum juga dirinya dapatkan respons apa pun atas pertanyaan diucap.
"Huhuhuhu."
Sang buah hati terus merengek, namun tak menunjukkan pemberontakan di dalam gendongannya. Justru memandangi balik dengan pancaran sangat polos dan lugu.
"Kakak Ghesa berhenti nangis, ya. Mama akan kasih maem nasi goreng isi sosis. Kak Ghesa pasti akan suka, Sayang. Mam--"
"Kenapa menangis, Sayang? Diapakan sama Mama, Kakak Ghesa? Cerita sama Papa."
Wina langsung menengokkan kepalanya ke belakang. Begitu juga tubuh dibalikkan agar bisa melihat sosok sang suami yang baru saja memotong ucapannya. Tak sampai satu menit, mata mereka berdua sudah saling bersirobok. Dapat dilihat nyata bagaimana sang suami memerlihatkan seringaian.
Wina pun tak tunjukkan penolakan, ketika pria itu mengambil alih putri cantiknya dari gendongan. Ajaib, Ghesa sudah tidak lagi merengek setelah mendapat dekapan sang suami. Tentu, hal tersebut membuat Wina menjadi keheranan. Ia gelengkan kepala.
"Wow, hebat Papa bikin anak kita diam cepat padahal kayak nggak mau berhenti nangis. Mama salut dengan kemampuan Papa, ya." Wina memuji secara tulus, walaupun nada canda mendominasi suara lembutnya.
"Papa memang hebat, Ma. Papa lebih jauh disayang Kakak Ghesa dibanding Mama."
Wina seketika memelototkan mata karena jawaban sarat kepercayaan diri tinggi yang dilontarkan oleh sang suami. Tawa pria itu turut mengusik ketenangan batin Wina. Ada ejekan yang didengarnya cukup nyata.
"Siapa bilang Kakak Ghesa lebih sayang Papa dibandingkan Papa. Jangan baru putri kita ini cewek jadi lebih suka sama Papa. Nggak bisa begitu, ya. Anak cewek harus kompak sama Mamanya." Wina tanggapi tak santai.
"Hahaha. Iya, deh. Mama sama putri kita sama-sama cantik. Lebih suka sama Mama dibandingkan bareng Papa. Iya, pokoknya. Papa mengalah agar Mama bisa bahagia."
Wina terkekeh sembari menganggukkan kepala. "Bagus, Papa. Memang paling dapat mengerti apa yang Mama mau. Papa yang terbaik," pujinya dengan nada bangga.