"Apa yang sedang kamu lakukan, Nak?" Ibu Yulia melontarkan kalimat tanya secara spontan dengan nada begitu terkejut.
Tentu, beliau rasakan kekagetan yang besar karena tersuguh pemandangan sang menantu tengah memasukkan pakaian ke dalam koper sembari mengisak. Ibu Yulia pun langsung dapat menarik kesimpulan yang kurang baik, beliau berpikiran negatif.
"Ada apa, Nak?" Beliau kembali bertanya sembari menghampiri sang menantu. Perasaan tak tenang mulai melanda juga.
"Kenapa baju-baju ditaruh di koper, Nak? Apakah kamu akan pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaanmu, Nak?" Ibu Yulia bertanya untuk ketiga kali. Beliau benar-benar penasaran.
Kekagetan melanda Ibu Yulia lagi, tepat setelah terima pelukan dari sang menantu dengan erat. "Ada apa, Nak?" Ibu Yulia tetap ingin mengetahui keadaan sebenarnya istri putra sulung beliau.
"Ibu, tolong maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan, Bu."
Ibu Yulia hanya masih diam, tak bisa mengerti akan perkataan sang menantu yang diucapkan sembari terus mengisak. Beliau semakin tidak mampu mengerti. Terlebih, masalah tak tercipta satu pun sebelumnya. Ibu Yulia tentu menjadi begitu heran.
"Kenapa minta maaf dengan Ibu, Nak? Kamu tidak lakukan apa-apa, Wina. Ibu bingung kamu minta maaf secara tiba-tiba. Ibu juga bingung kenapa kamu bisa menangis," ujar Ibu Yulia jujur.
"Aku akan pergi, Bu. Aku akan meninggalkan rumah ini. Aku harus ikut Mama ke luar negeri untuk perjalanan bisnis yang aku sudah janji. Aku harus menepati semua janji yang aku buat."
"Kalau aku nggak menurut, Mama bilang akan membuat Ghesa, suamiku, Ibu, dan Prema susah. Aku nggak mau Mamaku buat masalah yang membuat semuanya di sini harus jadi menderita."
Wina terus memandangi serius sang ibu mertua dengan masih berlinangkan derasnya air mata. Ia ungkapkan secara jujur dan tak ingin menyimpan seorang diri agar nantinya menghindari juga terjadi kesalahpahaman. Ia enggan tambahkan masalah.
"Ibu tolong jaga Ghesa sama Gandhi, ya? Aku mungkin akan pergi selama enam bulan." Wina kian lirih lontarkan kata-kata.
"Kamu sedang tidak bercanda dengan Ibu 'kan, Nak? Kenapa mendadak sekali kamu harus pergi? Ghesa masih kecil."
"Cucu Ibu membutuhkan kamu. Bagaimana dapat kamu pergi dengan begini, Nak?" Ibu Yulia tinggikan suara, tanpa sadar.
Beliau jelas masih rasakan kekagetan. Kekecewaan pun turut melanda. Tak percaya akan pemberitahuan dari sang menantu. Bagi Ibu Yulia sangat terkesan mendadak. Beliau ingin marah. Namun, tak akan bisa. Terlebih, sang menantu tampak sedih.
"Maafkan aku, Bu. Aku juga nggak ingin pergi. Tapi, kayak yang aku bilang tadi. Aku harus tetap pergi supaya Mamaku nggak lakukan apa-apa pada keluarga ini. Aku nggak mau, Bu."
Ibu Yulia semakin bingung akan keadaan yang terjadi. Setiap kata sang menantu ucapkan rasanya enggan dipercaya. Tidak sanggup Ibu Yulia mendengar. Kenyataan pahit yang juga akan memberikan dampak buruk bagi putra beliau dan sang cucu.
"Ibu, tolong jaga Gandhi sama Ghesa, ya? Aku minta maaf ke Ibu, aku bukan menantu yang baik. Tapi, aku janji. Aku segera akan kembali untuk Gandhi dan Ghesa, secepat yang aku bisa."
Gelengan kepala dilakukan oleh Ibu Yulia dengan gerakan kian kaku. Terus dipandang lekat sang menantu. "Tidak, Nak."
"Jangan pernah pergi meninggalkan suami dan anakmu, Wina. Kamu harus tetap di sini bersama kamu. Ibu tidak izinkan kamu pergi. Siapa yang akan mengurus Ghesa? Dia membutuh—"
"Kenapa kamu tidak memperbolehkan anak saya untuk pergi, Yulia? Kamu punya hak apakah untuk melarang anak saya?"
Wina secepatnya mengalihkan pandangan dari sang ibu mertua selepas mendengar suara ibunya. Tidak sampai sepuluh detik, sudah berhasil ditangkap sosok ibu kandungnya berdiri dekat pintu kamar. Wina sungguh tak sadar kapan sang ibu datang.
"Mama...," Digumamkan dalam nada yang cukup lirih panggilan untuk ibunya bersaman dengan air mata terus menuruni pipi.
"Aku nggak mau pergi, Ma. Tolong mengerti keinginan aku ini, Ma. Aku nggak bisa meninggalkan suami dan juga anakku."
Wina akhirnya menyerah untuk menuruti permintaan dari sang ibu, ia memang tak akan sanggup melakukan. Berupaya kini, membuat ibunya mau memahami apa yang dirinya inginkan.
"Aku mohon, Ma. Aku nggak bisa pergi. Aku ingin tetap ada di sini bersama suami dan anakku. Nggak mungkin aku tinggalkan Ghesa yang masih kecil. Mama, aku mohon tolong mengertilah kali ini saja. Aku ingin bahagia bersama keluargaku." Wina kian lirih ungkapkan kata-katanya. Mata pun semakin berkaca-kaca.
"Tidak, Nak! Tepati semua janji yang sudah kamu buat dengan Mama. Jalankan bisnis dan perusahaan! Utamakan daripada keluargamu di sini!" Ibu Greta berujar dengan penuh amarah.
"Jika tidak dilakukan, Mama juga tidak akan tinggal diam. Kamu sudah tahu apa konsekuensi yang harus kamu terima, Nak?"
........................................................................
"Apakah Wina sudah benar-benar pergi, Bu? Dia meninggalkan Ghesa? Dia lebih mementingkan bisnis dan perusahaannya?"
Ibu Yulia yang tengah memfokuskan pandangan pada sosok kecil cucu cantik beliau, segera dialihkan ke sang putra sulung. Ibu Yulia tidak menyadari kapan tepatnya Gandhi tiba di rumah dan masuk ke dalam kamar jika putra beliau tidak bertanya.
"Iya, Nak. Istrimu sudah pergi." Ibu Yulia menjawab dalam nada suara pelan karena tak ingin sampai bangunkan sang cucu.
"Maaf, Ibu baru memberitahumu, setelah Wina djjemput oleh Ibu Greta. Ibu sendiri masih tidak percaya tadi. Ibu bingung harus lakukan apa. Ibu pun kaget Wina pergi dari sini tiba-tiba, Nak."
Gandhi tak bisa lontarkan satu patah kata untuk menanggapi pemberitahuan sang ibu. Namun, kedua tangannya semakin terkepal kuat. Begitu juga dengan rahang wajah yang tampak mengeras. Tatapan mata Gandhi turut lebih menajam lagi.
Emosinya tentu kian tidak stabil. Rasa kecewa, marah, sedih, dan takut bercampur menjadi satu. Bergemuruh di dalam d**a. Gandhi berupaya tak perlihatkan amarahnya. Dikarenakan, ia tengah bersama sang ibu dan juga buah hati perempuannya.
Gandhi pun memilih keluar dari kamar, tanpa katakan apa-apa. Ia menuju ke dapur. Hendak mengambil air untuk diminum. Tak bisa dimungkiri ketenangannya sudah hilang, untuk bisa diraih rasanya sangat mustahil. Amarahlah yang semakin menguat.
"Mau ke mana, Nak? Apakah akan menyusul Wina? Ibu tidak yakin dia masih di Bali. Wina bilang pada Ibu akan terbang ke luar negeri pukul dua siang, Nak. Sekarang sudah jam empat."
Gandhi seketika hentikan langkah kaki karena perkataan sang ibu. Kedua tangan tambah mengepal kuat. "Nggak, Bu."
"Aku nggak berniat sama sekali menyusul dia agar nggak jadi pergi. Dia sudah memutuskan untuk pergi dariku dan Ghesa."
Gandhi menjeda sejenak untuk mengontrol emosinya. Ia tak ingin semakin dikuasai oleh amarah. Percuma juga untuknya. Sebab, sang istri tidak akan kembali. Gandhi juga tidak berniat membatalkan wanita itu pergi. Bahkan, enggan berkomunikasi.
"Tolong jangan bilang seperti itu, Nak. Wina pergi juga bukanlah karena keinginan dia semata, tapi Ibunya yang memaksa. Ibu lihat sendiri bagaimana dia sedih dan menangis pilu tadi."
"Dia tidak benar-benar mau meninggalkan kamu dan cucu Ibu, Nak. Wina terpaksa melakukannya. Susullah dia sekarang, ajak dia pulang ke sini, Gandhi. Kamu adalah kepala keluarga. Kamu harus bisa membujuk Wina kembali, demi anak kalian, Nak."
Gandhi tetap terdiam. Masih berdiri dengan tubuh tegapnya. Ia tak memberikan respons apa-apa. Sebab, pergolakan batin pun belum berhenti. Gandhi tidak bisa memutuskan akan ambil cara dan tindakan apa yang memang sepantasnya ia lakukan.
"Tidak dengar kata-kata Ibumu ini, Nak? Cepat susul istr—"
"Nggak, Bu! Aku nggak akan melakukannya." Gandhi pun cepat memotong ucapan sang ibu sembari membalikkan badan.
"Aku nggak akan mencari Wina. Aku nggak mau mengajak dia kembali ke sini, kalau dia sudah memutuskan untuk pergi."
Gandhi semakin mengepalkan kedua tangan bersamaan juga dengan rahang wajah yang mengeras. Tatapan yang tajam pun diperlihatkan. Sorot mata sarat kemarahan juga ditampakkan, saat memandang sang ibu yang tengah berdiri di depannya.
"Percuma, Bu. Akan percuma saja aku menyusul dia. Wina akan tetap menuruti perintah ibu mertuaku. Seperti yang sudah Ibu bilang tadi, dia melakukan karena terpaksa. Biarkan dia tetap lakukan semua demi kebaikan kami bersama juga nanti, Bu."
Selesai lontarkan kalimat balasannya dengan emosi yang tidak stabil, Gandhi memilih melangkah menuju sofa. Tentu, hendak duduk di sana. Deru napas juga masih tidak normal. Meskipun, sudah Gandhi coba lakukan penetralan. Ia enggan menerus melibatkan amarah untuk menanggapi masalah yang terjadi.
"Kenapa kamu bicara begitu, Nak? Ibu tidak menyangka kamu akan lepas tangan begini. Bagaimana dengan Ghesa nanti?"
Gandhi yang baru satu menit menempatkan diri di sofa panjang pun belum bisa meraih ketenangan, saat mendapatkan kembali pertanyaan-pertanyaan dari sang ibu yang terkesan menuntut. Gandhi jelas tak nyaman. Namun, juga menahan diri untuk tak menjawab dengan kasar. Ibunya harus tetap ia bisa hormati.
"Aku lepas tangan karena Wina yang nggak pernah bilang apa pun tentang masalah ini, Bu. Dia menyembunyikan semua."
"Soal Ghesa, biar aku yang mengurus sendiri. Bukan masalah besar. Aku juga masih punya Ibu yang bisa membantuku di sini menjaga Ghesa. Tolong aku, Bu. Dan biarkan Wina pergi." Gandhi memutuskan.
"Tidak bisa seperti itu, Nak. Memang kamu masih mempunyai Ibu yang bisa mengurus anakmu di sini. Tapi, Ibu tidak akan dapat menggantikan peranan Wina sebagai Mama dari Ghesa, anak kalian. Kamu jangan egois, Gandhi. Cepat susul menantu Ibu. Ajak dia pulang ke sini. Pergi sekaranglah, Nak."
Gandhi menggeleng cepat. Masih diarahkan atensi ke sosok sang ibu. Tatapan kian tajam, bukan ditujukan kepada ibunya. Justru menunjukkan jelas bagaimana rasa marah dan juga kecewa yang berat tengah selimuti dirinya atas sikap Wina. Ia sangat merasa dikhianati. Wanita itu tak memercayainya.
"Keputusanku sudah bulat untuk biarkan dia pergi, Bu. Aku bisa mengurus Ghesa sendiri. Aku akan berusaha menjadi ayah dan ibu yang baik bagi Ghesa. Aku akan juga cepat mengurus perceraianku dengan dia."
Gandhi mengeraskan kepalan kedua tangan bersamaan dengan tatapan yang semakin ditajamkan ke arah sang ibu kini. Ia hendak mempertegas jika keputusan telah diambil sudah mutlak. Tidak akan pernah dirinya ubah. Logika diutamakannya daripada suara hati. Gandhi mengabaikan perasaan sendiri.
"Jangan begini, Nak. Cari istrimu di bandara. Ajak dia pulang. Anak kalian membutuhkan Wina. Ghesa terlalu kecil untuk ditinggal."
Gandhi menggeleng cepat dalam gerakan mantap dan kuat. "Tidak akan aku menyusul dia ke sana, Bu. Sudah aku bilang tadi kalau aku sudah tidak peduli dengan apa yang dia mau lakukan. Dia ingin pergi, aku kasih."
"Aku akan berusaha jadi orangtua tunggal bagi Ghesa. Pasti sulit, tapi aku nggak akan pernah menyerah." Gandhi bertekad.
……………………………………………………………