04

3730 Words
"Ghesa sudah lapar belum? Mau maem bubur?" "Mamahmamahhmahh." "Mau makan,? Tapi, tunggu sebentar dulu. Buburnya masih sedikit panas. Lima menit lagi baru akan Nini suapkan." "Mamahhmahhmahh... Mahamahhmaamah." Gandhi lebih mempercepat kedua kakinya melangkah menuju ke arah ruangan makan, setelah mendengar celotehan sang buah hati bersama ibunya. Gandhi sudah tak sabar ingin cepat melihat sosok kecil Ghesa yang berusia tujuh bulan. Hampir tiga hari dirinya tak dapat bertemu karena pergi kerja ke luar kota. Tidak sampai lima menit, Gandhi telah sampai di dekat meja makan. Ia segera pusatkan pandangan pada sang putri. Bayi perempuan itu sedang duduk dipangku oleh sang ibu. Senyum di wajah, langsung Gandhi ciptakan. Akan secara refleks dapat terbentuk jika sudah melihat sosok kecil putri kesayangannya. "Ibu kira kamu belum bangun, Nak." Gandhi lekas alihkan atensi pada sang ibu. Ia lakukan gelengan pelan sembari tempatkan diri di kursi samping kiri ibunya duduk. Kuluman senyum ditambah oleh Gandhi. "Aku sudah bangun dari tadi, Bu. Aku nggakngantuk. Walau, sebenarnya capek." "Rasa lelahku akan hilang saat bermain dengan Ghesa." Setelah menyelesaikan ucapannya, Gandhi segera saja mengambil alih sang buah hati dari pangkuan ibunya untuk digendong. Bayi perempuan itu pun memandang dalam sorot yang begitu polos. Ditambah pula pameran senyum manis. Membuat hati Gandhi jadi mendapat ketenangan. Ia juga semakin bersemangat. "Hallo, anak cantik Papa." Gandhi menyapa dalam nada yang riang, meski suaranya sedikit serak akibat sakit tenggorokan. "Ghesa apa kabar, Sayang?" Gandhi pun melanjutkan interaksi bersama sang buah hati dengan lontarkan pertanyaan. Walau, sangat tahu bahwa putri kecilnya belum bisa memahami. "Ghesa sehat pasti, ya? Selama Papa pergi, Ghesa nggak jadi cerewet sama Nini, 'kan? Pastinya nggak, ya, Sayang. Papa yakin Ghesa adalah putri Papa yang manis. Nggak cerewet." Selesai luncurkan semua kalimatnya, maka Gandhi pun lekas memberikan ciuman sarat akan kasih sayang besar dan juga kerinduan yang dalam pada kening sang buah hati. Dilakukan cukup lama guna meraih ketenangan. Terlebih lagi, perasaan Gandhi selalu tidak bisa tenang jika sudah memikirkan Ghesa. Kekhawatiran senantiasa membayangi dirinya. Timbul juga rasa takut bahwa tak akan cukup mampu menjadi orangtua tunggal yang baik dan berguna untuk putri kecilnya. Bagi Gandhi, tidak bisa dilupakan begitu saja kepergian Wina yang meninggalkan keluarga kecil mereka. Namun, ia sudah bertekad melanjutkan hidup tanpa wanita itu. Tanggung jawabnya besar pada Ghesa. "Malam ini, bobok sama Papa mau 'kan, Sayang? Selama pergi, Papa sering mimpi Ghesa malam harinya. Papa kangen Ghesa di sana. Jadi, Papa selalu mimpi Ghesa," ujar Gandhi lembut. Hatinya semakin menghangat menyaksikan bagaimana sang putri menyuguhkan senyuman yang semakin manis serta juga lebar.Dan, setiap memandang wajah cantik Ghesa, tak akan Gandhi mungkiri jika ia teringat dengan sosok ibu sang putri. Ya, Wina memanglah masih berstatuskan sebagai istrinya. Ia tidak memproses berceraian, walaupun sudah beberapa bulan mereka berpisah. Gandhi sengaja tak mengurus perpisahan. Ia masih berat melepaskan kepergian wanita itu dari hidupnya. "Boleh, Nak. Malam ini, tidurlah dengan Ghesa. Tapi, jangan sampai bangun tengah malam cucu Ibu. Dari kemarin, Ghesa selalu bangun jam dua dini hari. Ghesa pasti akan rewel." "Rewel, Bu? Kenapa bisa?" tanya Gandhi penasaran. Jelas saja ingin tahu. Apa pun tentang sang putri harus dirinya ketahui. "Ibu juga kurang mengerti, Nak. Padahal, Ghesa tidak sakit dan suhu badan normal. Tapi, dari kemarin terus rewel. Tidak mau minum s**u juga. Ibu belum tahu pasti yang menyebabkan anak kamu begitu, Gan. Tapi, Ibu sudah membuat satu dugaan." Alis kanan Gandhi pun seketika terangkat naik, selepas mendengar jawaban sang ibu. Sesungguhnya, ia tidak dapat memahami secara pasti. Dan putuskan bertanya, "Dugaan apa, Bu?" "Menurut Ibu, Ghesa kangen Mamanya. Wina, Nak." Rahang wajah Gandhi langsung mengeras. Tak suka sahutan sang ibu. "Mustahil, Bu. Aku rasa bukan karena itu yang jadi penyebabnya," jawab Gandhi dengan suara yang dingin. "Kalaupun benar, Ghesa punya ikatan batin dengan dia. Aku nggak akan pernah mempertemukan anakku dengan dia. Aku akan bilang pada Ghesa bahwa nggak punya Mama lagi." Gandhi lontaran kalimat lanjutannya dalam suara yang semakin dingin. "Jangan seperti itu, Nak. Ibu tidak suka kamu bersikap begini. Semarah apa pun kamu pada Wina, kalian masih menjadi pasangan suami-istri. Dia juga ibu dari putri kamu, Gandhi. Kamu juga tidak akan bisa mengingkari kenyataan ini. Dewasalah, Nak. Kamu jangan bertingkah egois terus." Gandhi memilih diam saja. Walau sudah ada jawaban yang terpikirkan di dalam kepala. Jika dikeluarkan. Maka, perdebatan dengan sang ibu tidak akan pernah berakhir. Lebih baik, membungkam mulut daripada nanti menciptakan emosi pada dirinya disebabkan mengingat sosok Wina yang masih dalam usaha untuk diabaikan. Bahkan, dilupakan. "Ibu tahu kamu masih mencintai Wina. Ibu tidak akan pernah setuju kalian bercerai. Ego tolong jangan dibiarkan mengendalikan. Ingatlah janji pernikahan kalian dan juga Ghesa. Berikan cucu Ibu, orangtua utuh." Kali ini, Gandhi menggeleng. "Sulit bagiku, Bu. Aku sudah benar-benar kecewa. Walau aku masih mencintai dia. Bukan berarti aku akan mengikuti kata hatiku. Lebih bagus untuk melihat kenyataan sudah terjadi." "Dia tega meninggalkan anak kami masih kecil. Dia lebih mementingkan bisnis. Bukan dia nggak punya hati nurani dan rasa sayang pada Ghesa? Harusnya anakku nggak punya ibu macam dia." Gandhi lanjutkan opininya dengan luapan emosi yang kian besar. "Ibu juga seorang wanita, Nak. Ibu sangat tahu bagaimana berat bagi Wina tinggalkan anak kalian. Dia juga tidak mau. Linangan air mata dia yang deras sudah cukup jadi bukti bagi Ibu jika dia berat melakukannya." Gandhi memandang sang ibu dengan sorot tajam. "Tolong jangan membela dia lagi, Bu. Aku yang anak Ibu. Tolonglah juga Ibu bisa paham bagaimana rasa sakit yang aku alami saat dia ingin pergi. Aku sangat kecewa, Bu." ...................................................................................... "Wah, Ghesa sudah tambah berat sekarang. Kedua pipinya juga semakin gede. Tante jadi dibuat gemas. Boleh cium nggak?" Kemudian, Dahayu loloskan tawa. Tepatnya setelah, saksikan senyuman manis yang dipamerkan sang keponakan. Buah hati dari kakak sepupunya. Ekspresi lucu Ghesa membuat Dahayu gemas. Sudah diberikan beberapa kali, ciuman pada dahi. Ponsel pintar yang berada di dalam tas, segera saja Dahayu ambil. Karena, berbunyi. Menandakan jika ada panggilan yang masuk. Raut keterkejutan seketika tercetak diwajah Dahayu, ketika melihat layar handphone nama dari si penelepon. "Hallo, Kak Wina." Diucapkan salam dengan lembut. "Hallo juga, Dik. Kamu telepon Kakak kemarin, ya? Maaf, Kakak baru bisa menelepon sekarang. Kakak lagi sibuk." Dahayu anggukan kepala secara refleks. "Iya, Kak. Nggak apa-apa. Aku ngerti Kak Wina sibuk. Kakak emang lagi di mana?" "Masih di Italy, Dik. Oh, iya kamu kenapa telepon Kak—" "Hueee... Hueee." Dahayu segera menjauhkan ponselnya dari telinga. Ia lantas beranjak bangun untuk menenangkan sang keponakan yang mendadak merengek. Dahayu berikan tepukan-tepukan halus pada bagian paha kiri Ghesa. Dan tak sampai lima menit, bayi perempuan itu sudah bisa tenang kembali. Bahkan, pamerkan senyuman manjs kepadanya. Membuat Dahayu kian gemas.  "Ghesa tunggu sebentar, ya. Tante masih teleponan dengan Mama Ghesa. Tapi, Tante akan tutup dulu teleponnya. Lanjut nanti saja, Tante telepon Mama Ghesa." Dahayu mengajak sang keponakan berbicara, walau tahu tak akan bisa dipahami. Lalu, diambilnya ponsel kembali yang diletakkan di atas sofa. Dahayu pun sudah duduk lagi dengan sosok kecil Ghesa masih berada di pangkuannya. Ia cepat alihkan pandangan ke layar handphone. Panggilan tetap tersambung, tak diputus kakaknya. "Maaf, Kak. Tadi Ghesa nangis mendadak. Aku harus bu—" Dahayu tak lanjutkan ucapannya, setelah mendengar sangat jelas suara isakan di seberang telepon. Ia pun begitu yakin jika sang kakak sepupu tengah menangis. Dahayutidak tahu apa yang menyebabkan. Ia lantas memilih untuk diam sejenak. "Kak Wina menangis, ya? Kak Wina ada apa? Kenapa Kakak menangisnya begini? Apakah yang lagi terjadi di sana, Kak?" Selesai melontarkan pertanyaan bertubinya, Dahayu pun berlakukan jeda sejenak. Tak berkata apa-apa. Membiarkan sang kakak sepupu menangis pilu. Sudah tentu perasaan Dahayujadi ikutterluka. Seperti dapat memahami bagaimana sakitnya juga. "Da... Hiks." "Iya, Kak. Aku masih di sini. Sambungan telepon belum aku matikan, Kak. Apa Kak Wina sudah merasa mendingan?" tanya Dahayu dalam nada yang sarat tunjukkan kecemasannya. "Nggak, Dik. Kakak nggak bisa baik-baik saja. Hiks. Kakak di sini harus gimana,Da? Kakak kangen banget sama Ayuta." "Hiks. Kakak harus gimana, Dahayu? Kakak rindu banget sama putri Kakak. Ingin sekali Kakak peluk dan ketemu Ghesa." Dahayu tak segera menjawab karena memang bingung mesti menanggapi bagaimana. Ia coba memosisikan diri sebagai sang kakak sepupu. Sangatlah menyakitkan berpisah dengan anak yang sudah kita lahirkan. Hati Dahayu pun ikut jadi remuk. "Kakak kangen banget sama Ghesa. Ba... Bagaimanakah kabar putri kakak di sana, Da? Apakah Ghesa sehat dan baik-baik saja? Dia pasti sudah tambah besar, 'kan? Makin cantik? Kakak mau banget melihat Ghesa, tapi Kakak nggak bisa." Lekas kepala dianggukkan Dahayu. "Iya, Kak. Ghesa baik." "Dia sehat. Dia sudah tambah gede dan cantik ju—" Dahayu tak berhasil menyelesaikan kata yang ingin diucapkan karena secara tiba-tiba saja ponselnya diambil oleh sang kakak ipar, Gandhi. Jelas Dahayu kaget, sambungan telepon pun juga diputus sahabat baik dari suaminya itu. Ia tidak bisa terima. "Ada apa, ya? Kenapa jadi nggak sopan? Handphone direbut, tanpa permisi dahulu atau minta izin. Apa maksudnya?" "Aku tidak suka kamu memberikan akses komunikasi anakku dan dia. Jangan pernah diulangi lagi, aku tidak akan terima." Dahayu tak langsung menanggapi peringatan yang baru sang kakak ipar lontarkan kepadanya. Ia berupaya meresapi kembali setiap kata baru didengarnya. Enggan mengambil kesimpulan secara cepat atau mengedepankan emosi karena tengah kesal. "Oke, aku minta maaf jika sudah melakukan suatu hal yang tidak kamu sukai. Tapi, bukankah Ka Wina adalah ibu dari Ghesa. Biarkan kakakku berkomunikasi sebentar." Dahayu berujar sopan. "Aku tidak bisa memberikan izin. Sekarang ataupun lain kali. Tolong jangan pernah diulangi lagi. Tolong mengerti gimana perasaanku. Sekalipun, dia adalah kakak sepupumu, Dahayu." Gandhi mempertajam tatapan. "Setelah dia memutuskan untuk pergi, tidak akan ada kesempatan lagi untuk dia berkomunikasi."  "Dia tidak akan mempunyai hak pada anak kami." Gandhi menegaskan kembali. "Dahayu, tolong sampaikan juga pada dia. Cepat kembali dari luar negeri. Supaya kami bisa mengurus segera perceraian kami."   …………………………………………………………………..   "Gue mau minta maaf, gue sudah berkata yang sedikit kurang sopan dan nggak menyenangkan ke istri lo, Giri. Lo bisa pukul gue kalau lo mau. Gue akan terima." Selesai melontarkan permohonan maaf dengan serius kepada sang sahabat, maka Gandhi segera menyeruput kopi. Ia enggan anggap tawa diloloskan oleh Giri sebagai ejekan atas ucapannya barusan. "Santai aja, Bro. Ngapain juga gue mesti mukullo? Lagian istri gue biasa-biasa saja. Dahayunggak marah ke lo. Dia bisa ngerti kenapa lo bersikap kayak tadi. Gue pun bisa memaklumi juga, Gan." Gandhi anggukan kepala lemah sembari memandang ke arah sang sahabat yang masih keluarkan gelakan. Ia sama sekali tidak merasa tersinggung. Bukan berarti juga perasaan Gandhi sudah dapat lega. Nyatanya, belum mampu tenang sedikit pun. "Gue yang harus mencemaskan keadaan lo, Bro. Gimana? Apa lo sudah nggak marah? Mata lo kelihatan terus tajam ke gue. Ya, mana mungkin kemarahan lo sudah hilang. Mustahil rasanya." Kembali, digelengkan kepala. Kemudian, dilanjutkan meminum kopi. Tak banyak, satu kali teguk saja. Gandhi lekas menaruh gelas di atas meja. Barulah, sang sahabat dipandang lagi. "Lo tahu jawabannya." "Tapi, lo malah nanya ke gue. Apa sengaja mau mancung gue supaya gue adakan sesi curhat?" Gandhi berujar tak santai. "Hahaha. Bukannya gue ini mau dengar lo curhat, tapi menghibur loBro. Ya, kalau memang ada niatan curhat. Pasti senang hati gue dengar." Untuk ketiga kali, Gandhi menggeleng. "Ckck. Pandai lo memang jawab, Giri. Nggak salah gue menganggap lo sahabat baik gue." "Nah, makanya karena gue adalah sahabat baik lo. Jangan sungkan cerita masalah lo ke gue. Kalau butuh solusi, akan gue kasih. Tinggal lo yang mau menerima apa nggak nanti, Bro. Semuanya mudah." Gandhi segera keluarkan decakan kembali, bahkan lebih mengeras. Perkataan sang sahabat menyinggung, kali ini. Namun, tidak berarti ia akan marah atau menunjukkan kekesalan.Gandhi selalu menyikapi dengan permakluman. Terlebih, masalah kecil. "Paham nggak, Bro? Gue serius ini mau menceramahi lo, Gan." Gandhi pun tak butuh waktu lama untuk menganggukkan kepala. Ia belum memindahkan atensi dari sosok sang sahabat yang sedang memerlihatkan ekspresi iba dan sorot mata iba. Kontras akan nada jahil yang dialunkan oleh Giri barusan mengiringi semua kalimatnya. "Iya, gue berusaha paham untuk setiap ceramah lo kasih ke gue. Tapi, jika itu menyangkut dia, nggak akan gueterima. Gue akan abaikan. Lo nggak akan bisa kasih masukan apa pun ke gue lagi." Gandhi memerlihatkan raut wajah yang semakin serius. "Lo belum pernah ada di posisi gue, Giri. Lo nggak akan pernah tahu persis jadi hancurnya gue ditinggalkan dia dengan cara kayak gini." "Gue nggak mau terus terpuruk untuk masalah begini. Gue masih ada banyak tanggung jawab. Baik, jadi anak dari Ibu gue dan ayah buat Ghesa. Masalah hati akan gue singkirkan. Termasuk, cinta yang gue punya untuk dia. Gue akan melupakan semua secepatnya." Gandhi berujar mantap, sedikit pun tanpa keraguan. "Lo yakin bisa membuang rasa sayang sama cinta lo pada kakak ipar gue, Gan? Gue malah nggak bisa percaya sama kata lo." Gandhi kembali berdecak, bahkan lebih mengeras. "Gue nggak butuh lo percaya atau nggak, Giri. Lagian, gue yang akan menjalankan. Gue yang tahu juga gue akan gimana melupakan perasaan gue ke dia. Gue merasa dia nggak pantas lagi gue cintai." "Lo akan urus perceraian segera? Apa butuh gue pesankan pengacara yang paling baik? Gue ada kenalan beberapa." Gandhi menggeleng pelan. "Untuk perceraian, belum terpikirkan dalam waktu dekat ini. Gue rasanya belum bisa." "Hahaha. Aduh, mau ketawa gue. Lo bilang sudah nggak pantas Kak Wina dapatkan cinta lo lagi. tapi, giliran balas masalah cerai lo belum siap. Gimana gue bisa pegang kata-kata lo, Bro?" "Lo jangan pentingkan ego yang hanya bisa membuat lo menderita. Lo padahal tahu, kepergian Kak Wina juga karena Ibu Greta. Kak Wina juga berat meninggalkan Ghesa, asal lo tahu saja. Gue bilang gini ada alasan yang kuat. Bukan mau membela Kak Wina karena dia kakak sepupunya istri gue." Giri memandang semakin serius pada sosok sang sahabat. "Beberapa kali gue dengarkan obrolannya Dahayu sama Kak Wina lewat telepon. Mereka pasti bahas Ghesa. Kak Wina bakal nangis pas cerita tentang rasa sesal dia. Gue nggak melebih-lebihkan, ya. Gue cuma menyampaikan apa adanya." Gandhi menarik salah satu ujung bibir dan seluruh atensi diarahkan pada Giri. Balas balik menatap dengan sorot sinis. "Gue bisa nggak ambil pusing dia mau gimana. Senang atau menyesal. Bukan jadi urusan gue lagi." "Gue sudah sangat dikecewakan. Apa pun tentang dia. Malas untuk gue pedulikan." ........................................................................ Dahayu menepati janji yang sudah dibuat, yakni menjemput sang kakak sepupu di bandara. Benar, Wina sudah menyelesaikan perjalanan bisnisnya sejak empat hari lalu. Pagi ini, sudah resmi mendarat di Bali. Kembali ke tanah kelahirannya. Menunggu hampir selama dua jam di bandara, bukanlah sesuatu yang menyenangkan bagi Dahayu. Ia dilanda kebosanan dan juga rasa kantuk. Namun, semua sirna ketika telah bertemu dengan kakak sepupu kesayangannya yang sudah lama dirindukan. Memanglah, sang kakak memerlihatkan kondisi secara fisik sehat. Tetapi, tetap saja Dahayu merasakan keanehan. Semangat kakak sepupunya tak tampak, sekalipun lewat sorot mata. Pancaran mendominasi sarat akan luka dan kesakitan. Hati ikut terasa teriris. "Kak Wina, makan dulu sup kepala ikannya. Nanti dingin nggak akan enak disantap. Ok? Kak Wina harus makan sekarang," bujuk Dahayu dalam suara yang lembut sekaligus juga diceriakan.  Dan, kala respons didapatkan berupa gelengan kepala lemah, tak bisa Dahayu memberlakukan pengabaian lebih lagi akan kondisi sang kakak sepupu. "Kak Wina nggak mau makan sup?" "Kenapa nggak mau, Kak? Bukannya Kak Wina belum makan apa pun dari kemarin malam? Kakak bilang sendiri padaku." Dahayu menggenggam kedua tangan kakak sepupunya dengan cukup erat. Mereka berdua sudah saling memandang. Dahayu kian mampu merasakan bagaimana kesedihan yang tengah dirasakan oleh sang kakak sepupu. Ia semakin menjadi tidak tega. "Kak Wina harus makan, ya? Sedikit ajanggak apa-apa. Yang penting perut Kakak diisi dulu. Apa mau aku suapkan, Kak?" Dahayu sengaja menyelipkan canda dalam lontaran kalimat tanya yang ditujukan pada sang kakak sepupu. Dan kembali, ia hanya memperoleh gelengan secara singkat. Kakak sepupunya masih perlihatkan senyuman, namun tak begitu lebar. Tipis saja. "Kakak harus makan, nanti Kak Wina bisa sakit. Aku nggak tega juga lihat Kakak terus kayak gini. Aku ikut sedih dan iba, Kak." Mata Dahayu berkaca-kaca. "Aku tahu Kak Wina pasti sangat jadi terpukul karena harus meninggalkan suami dan anak Kakak. Aku kalau di posisi Kak Wina, akan merasakan hal yang sama berat. Aku nggak akan pernah sanggup pisah sama anak." "Berat, Dik. Berat banget buat Kakak. Rasanya Kakak nggak ada semangat buat hidup, setelah meninggalkan Gandhi sama Ghesa. Kakak berat menjalani hari-hari sejak saat itu, Da." Kepala lekas Dahayugelengkan. "Iya, Kak. Aku tahu. Tapi, Kak Wina jangan terus kayak gini, ya. Kakak harus segera bangkit demi Ghesa. Lagian, Kak Wina sekarang sudah balik ke sini." "Pasti akan ada kesempatan bertemu sama Ghesa. Ya, walau nggak akan mudah karena Gandhi pasti nggak kasih izin. Tapi, aku usaha bantu Kak Wina, ya. Aku akan usahakan Kakak bisa bertemu sama Ghesa. Aku juga akan minta bantuan Giri." Wina tentu merespons cepat dengan anggukan kepala. Tentu ada harapan baru baginya. Wina pasti percaya perkataan adik sepupunya. Dan, sangat memiliki optimistis dapat terwujud. Ia mempunyai juga alasan untuk tetap semangat jalani hidup. "Makasih, Dik. Makasih, kamu sudah mau bantu Kakak." Genggaman tangan yang tengah dilakukan, kian Wina eratkan. Senyuman juga mulai mengembang, meski masih cukup kaku. Namun, perasaan Wina bisa sedikit melega. Tak sabar pula, ia ingin berjumpa dengan sosok kecil putrinya yang dirindukan. "Sama-sama, Kak. Aku akan membantu sebisaku. Kakak harus ketemu sama Ghesa. Dia pasti kangen juga seperti Kakak." Air mata Wina semakin deras turun. Sosok kecil sang buah hati terus terbayang di dalam benaknya. Menyebabkan Wina jadi kian merindukan putri kecilnya. Sungguh, ingin segera bertemu dengan Ghesa. "Kak Wina harus tetap semangat, ya. Aku dan Giri akan usahakan bantu Kakak. Kami juga nggak mau lihat hubungan Kak Wina dan Gandhi semakin memburuk. Kami tahu bahwa kalian masih saling mencintai." Wina menggeleng kecil. "Kakak ragu kalau dia masih mencintai Kakak, Dahayu. Kakak sudah mengecewakan dia. Nggak akan bisa dia terus mencintai Kakak," sahutnya lirih. "Kalau Kakak sendiri, Kakak masih sangat sayang dengan Gandhi. Selama pergi, dia selalu Kakak rindukan selain anak kami." "Kak Wina harus mempertahankan rumah tangga kalian bagaimanapun caranya, ya. Jangan sampai kalian bercerai. Kasihan ke Ghesa. Nggak akan bahagia kalau orangtua sampai berpisah. Dia butuh kalian berdua." .................................................................................. Wina terus memusatkan atensi pada layar ponselnya, terutama ke sebuah foto yang ia jadikan sebagai wallpaper. Sosok kecil sang putrid tengah tersenyum dengan lebar. Hanya dengan saksikan foto tersebut saja, sudah sangat bisa membuat Wina sedih. Air mata turun beberapa kali tanpa disadari sendiri. Kesesakan di d**a semakin menggerogoti. Menyebabkan Wina menjadi cukup kesulitan mengatur napasnya agar dapat normal. Oksigen pun tak mampu dihirup sebagaimana mestinya. Wina tak memberlakukan pengontrolan diri. biarkan kesedihan menguasai. "Ghesa, apa kabar di sana, Sayang? Mama kangen banget sama Ghesa. Mama mau ketemu dan gendong Ghesa. Hiks." Gumaman dalam nada begitu lirih terlolos sembari mengisak pilu. Kemudian, Wina menutup wajahnya dengan kedua tangan. Air mata kian deras, membasahi telapak tangan kanan dan juga kiri. Wina ingin menangis sepuasnya. Menumpahkan kegundahan dan juga kesakitan hati yang tengah dirasakan begitu dalam, kini. "Ka... kapan Mama bisa ketemu dengan Ghesa, Sayang? Mama sudah nggak kuat terus kayak gini. Mama kangen banget sama Ghesa. Mama mau ketemu." Wina kembali bergumam. Suaranya tetap terdengar lirih. Sedangkan, intonasi kian mengeras. "Aku rasanya ingin mati saja karena aku nggak bisa bertemu sama Ghesa. Apa lebih baik aku mati dan bunuh diri?" " Aku sudah nggak sanggup menahan semua ini. Kenapa hidupku harus sepe—" "Omong kosong apa yang sedang kamu katakana, Nak?" Wina langsung menyingkirkan kedua tangan dari wajahnya, pasca mendengar suara sang ibu lontarkan pertanyaan yang bernada sinis. Ia lantas mengarahkan pandangan pada sosok ibunya itu, berjalan mendekat. Wina melempar tatapan kian tajam. "Aku ingin mati, Ma!" ujarnya dengan suara sanga tegas, volume pun sengaja ditingkatkan signifikan. Nyaris seperti berteriak. "Apa, Nak? Kamu ingin mati saja? Berani sekali kamu mengatakan hal bodoh begitu! Kamu pikir tidak punya kewajiban di dunia ini yang harus kamu selesaikan dengan sebaiknya, Nak." Wina menggeleng cepat. "Kewajiban apa yang lagi Mama maksud padaku? Apakah tentang membesarkan bisnis dan juga perusahaan? Apakah kewajiban utamaku yang Mama maksud?" PLAK! Tamparan keras mendarat pada bagian pipi kiri Wina, selepas dirinya melontarkan kalimat-kalimat pedas. Tentu, sang ibu yang melakukan. Ia sudah tak terkejut menerima perlakuan kasar. Sudah beberapa kali pula dialami. Jadi, Wina cukup kebal. "Jaga kata-katamu, Nak! Kamu kira Mama melakukan semua ini untuk siapa? Demi kamu, Nak. Tolong hargai Mama." Wina menggeleng cepat dengan gerakan yang lemah. Ia terus memandang ke arah ibunya. "Mama minta untuk aku hargai?" "Sementara, Mama nggak pernah mau tahu dan dengar apa yang jadi keinginan aku. Apakah semua juga adil untukku, Ma? Apa Mama sekalipun nggak peduli sama perasaanku ini?" Wina membiarkan air matanya terus mengalir turun. Namun, ia tak sampai mengisak seperti tadi. Ditahannya. Terlihat lemah di hadapan sang ibu, tidak akan berguna. Rasa empati atau belas kasihan yang dimiliki ibunya sudah hilang. Hanya tertinggal ego besar sehingga membuat penderitaan bagi dirinya sendiri. "Kenapa Mama nggak jawab? Bukankah Mama pintar dan juga terkenal sebagai pengusaha sukses? Kenapa untuk menjawab pertanyaanku sulit bagi Mama lakukan? Aku butuh bagai—" "Omong kosongmu jangan dilanjutkan lagi, Nak! Mama tidak akan pernah sudi dengar semua keluh kesahmu yang tidak berguna!" Ibu Greta melayangkan tangan kembali, hendak memberi satu tamparan tambahan pada pipi sang ibu. Namun, beliau memilih mengurungkan. Perlakuan kasar tak akan dapat menyebabkan persitegangan di antara mereka bisa diselesaikan segera. "Kenapa aku nggak boleh bicara, Ma? Aku harus diam terus dan menuruti apa pun yang Mama mau? Padahal, sudah membuat diriku menderita? Aku tidak akan bisa." "Setelah Mama memperlakukan aku seenak Mama saja, apa aku nggak boleh melawan dan mengutarakan keinginanku?" Wina semakin tak kuasa menahan amarah dan emosi. Setiap kalu beradu argumen dengan sang ibu, maka sudah dipastikan akan terjadi pertengakaran yang cukup hebat. Wina biasanya berupaya tak melawan, namun kesabaran sudah menipis. "Berhenti, Nak! Kamu sudah terlalu kurang ajar dengan Mama. Kamu kira kamu tidak akan durhaka karena bersikap begini?" Kepala lekas digelengkan Wina. "Aku nggak peduli harus dicap sebagai anak durhaka. Semakin banyak dosaku ke Mama, akan membuat aku cepat dipanggil Yang Maha Kuasa bukan?" "Daripada aku harus terus tersiksa hidup. Aku nggak bisa melakukan apa yang membuat aku bahagia karena harus selalu menuruti kemauan Mama saja. Aku benar-benar nggak sanggup lagi, Ma. Aku mau mati. Aku hidupku nggak bisa bertemu Ghesa!" Linangan air mata Wina semakin tidak bisa dibendungnya. Isakan pun bertambah keras bersamaan dengan hantaman rasa sesak di dalam d**a yang sebabkan dirinya juga kian tak tenang. Emosi sangat berkecamuk. Tidak berlaku penenangan menghadapi sang ibu. "Mama tidak akan mengubah keputusan Mama, meskipun kamu seperti ini, Nak. Mama tidak akan luluh atau membiarkanmu balik bersama suamimu. Lebih baik kalian segeralah bercerai. Mama yang akan carikan pengacara terbaik untuk mengurus sidang."    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD